Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Keluarga Han
Tiga bulan telah berlalu sejak malam Darren bertemu dengan nenek peramal di pojokan tempat nongkrong itu. Durasi tersebut memang bukan waktu yang singkat, namun juga tidak lantas cukup lama untuk mengubah seorang pria biasa menjadi pengusaha yang mapan. Itu semua karena Darren dipaksa belajar segalanya dari nol. Pada pagi hari, dia akan berkeliling meninjau lokasi properti. Siangnya, dia harus duduk di ruang rapat sembari menganalisis deretan angka yang memusingkan, dan malamnya dia habiskan untuk membaca laporan keuangan sampai matanya terasa perih.
Darren berdiri di tengah lapangan tanah kosong yang luas di pinggiran Jakarta. Sepatu pantofel mahalnya kini berlumur lumpur kecokelatan. Jas rapinya terkena cipratan air dari genangan yang tidak sengaja terinjak. Proyek pertama mereka adalah pembangunan perumahan kelas menengah, dan sejauh mata memandang, segalanya masih terlihat sangat berantakan.
Setelah hari apesnya itu, Darren beralih ke meja kantor kecilnya. Duduk dengan tumpukan dokumen yang menggunung di hadapan wajah sampai pantatnya kesemutan. Bahkan keringat mengalir di pelipisnya karena pendingin ruangan yang tidak mampu meredam panasnya tekanan kerja. Kalkulator berada di samping kiri, sementara laptop menyala menampilkan grafik yang seolah tidak mau bergerak naik. Seo yeon sempat lewat dan berhenti di depan pintunya, lalu pergi tanpa berujar sepatah kata pun. Kendati demikian, Darren tahu bahwa wanita itu selalu mengamati setiap gerak-geriknya.
Darren juga belakangan ini sering melakukan presentasi di hadapan sekelompok klien potensial. Bagaimana tangannya sedikit gemetar saat memegang laser pointer karena grogi yang ia tahan-tahan. Suaranya juga terdengar tersendat pada awalnya, bahkan tidak ada satu pun klien yang terlihat menaruh perhatian serius. Namun, begitu presentasi usai, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari Seo yeon.
“Tanganmu gemetar. Lain kali jangan minum kopi terlalu banyak sebelum presentasi dimulai,” tulis Seo yeon dalam pesan itu.
Seo yeon memang terus mengamati. Jelas karena dia melihat ambisinya sendiri terpantul dengan jelas di dalam diri Darren. Pria itu sudah berubah total. Dari seorang karyawan yang hanya tahu cara patuh, kini dia bertransformasi menjadi seseorang yang haus akan kemenangan. Bisnis Darren akhirnya menyatu dengan kepentingan Seo yeon. Darren menduduki jabatan sebagai founder karena sebagian besar modal memang berasal dari wanita itu. Kendati demikian, Darren tidak pernah lupa diri. Dia bekerja keras untuk membuktikan bahwa dirinya memang layak berada di sana.
Setelah rutinitas baru yang melelahkan itulah, sekarang Darren terpaksa berdiri di belakang Seo yeon sembari menunggu di lobi sebuah restoran mewah yang berada di jantung Jakarta. Jas hitam yang dahulu dibelinya kini terasa sangat pas di tubuh, tidak lagi memberikan sensasi gatal di leher. Namun, seluruh otot tubuhnya terasa tegang. Restoran itu telah ditutup untuk umum malam ini hanya demi satu meja panjang di tengah ruangan yang dikelilingi oleh anggota keluarga besar Han dari Korea dan Indonesia.
Han Jin Ho, ayah Seo yeon, duduk di ujung meja dengan wibawa yang mengintimidasi. Pria itu memang bisa dibilang tampan meski usianya sudah tidak muda. Berambut hitam klimis, wajah yang sangat tegas, serta sorot mata yang tajam adalah alasannya. Dia juga tidak banyak bicara, namun setiap kali suaranya terdengar, seluruh ruangan mendadak menjadi senyap. Adapun Ibu Seo yeon yang bernama Maria, duduk di samping suaminya. Wanita asal Surabaya itu kini lebih fasih menggunakan bahasa Korea daripada bahasa asalnya sendiri.
Di sisi lain meja, adik perempuan Seo yeon yang bernama Han Wonyoung tampak sedang asyik dengan dunianya sendiri. Gadis itu sangat cantik dengan riasan wajah yang sempurna dan pakaian bermerek dari ujung rambut sampai kaki. Wonyoung adalah anggota grup idol terkenal di Korea Selatan. Selama makan malam berlangsung, dia lebih sering memotret hidangan untuk diunggah ke sosial media daripada terlibat dalam percakapan keluarga.
Teruntuk Darren, dia hanya berdiri membisu di belakang kursi Seo yeon layaknya asisten pada umumnya. Dia bertugas mengambilkan air atau mencatat pesanan sembari mengatur napas agar tidak terdengar mengganggu. Seluruh anggota keluarga di meja itu berbicara menggunakan bahasa Korea. Darren sama sekali tidak mengerti sepatah kata pun yang mereka ucapkan, alhasil dia hanya bisa membaca bahasa tubuh mereka. Bagaimana dirinya melihat tatapan merendahkan yang ditujukan kepada Seo yeon dan mendengar nada bicara yang meninggi dari arah sang ayah. Wonyoung hanya tersenyum manis ke arah kamera ponselnya, seolah tidak peduli dengan keberadaan kakaknya di sana.
Suasana semakin memanas hingga akhirnya Darren mendengar namanya disebut dalam percakapan itu. Seo yeon menjawab dengan suara datar namun dengan sorot mata yang menantang. Tidak butuh waktu lama bagi Darren untuk menyadari bahwa mereka sedang meremehkan keberadaannya sebagai asisten yang tidak bisa berbahasa Korea.
“Ini adalah urusan pribadiku, Ayah,” jawab Seo yeon dalam bahasa Indonesia yang tiba-tiba.
Lantas kebisuan menyergap meja makan itu. Han Jin Ho meletakkan sendoknya di atas piring, sebelum melepaskan kata-katanya yang terasa lebih tajam daripada pisau daging di atas meja.
“Kau adalah pewaris utama keluarga ini. Kau tidak memiliki hak untuk bersikap semau sendiri. Keluarga Han sudah membangun kerajaan ini selama puluhan tahun. Tugasmu adalah melanjutkan kejayaan ini, bukan merusaknya dengan membawa orang-orang tidak kompeten ke dalam lingkaran kita.”
Darren memperhatikan Wonyoung yang duduk di sisi lain meja. Gadis itu hanya tersenyum simpul, menyadari bahwa seluruh tekanan berat keluarga hanya ditimpakan kepada Seo yeon. Wonyoung mendapatkan kebebasan penuh untuk menjadi idol dan bergaul dengan kalangan artis tanpa pernah dituntut untuk memikul beban nama besar keluarga. Padahal usia mereka tidak terpaut jauh.
Oleh sebab itu, Darren mulai merasa tangannya yang memegang botol air mineral mulai berkeringat dingin. Perbedaan perlakuan ini sangat jelas terlihat di depan matanya. Saat itu juga, dia mengaktifkan sistem secara diam-diam hanya untuk mengumpulkan informasi.
Target terdeteksi. Nama Han Jin Ho. Utang Keberuntungan Rp340 miliar. Utang Umur 41 tahun.
“Wih anjir, angkanya bener-bener gak masuk akal. Ini orang nyolong nasib orang lain buat bangun dinasti atau gimana?” Batin Darren sembari menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat angka ratusan miliar itu. Namun, dia memutuskan untuk tidak melakukan penagihan. Menghancurkan ayah Seo yeon saat ini sama saja dengan menghancurkan hidup Seo yeon sendiri.
Seo yeon tiba-tiba berdiri dari kursinya. Ekspresi wajahnya tetap terlihat tenang, namun Darren bisa merasakan ada sesuatu yang hancur di dalam diri wanita itu. “Aku rasa makan malam ini sudah selesai.”
Mobil pun melaju meninggalkan restoran dengan kecepatan sedang. Budi yang berada di belakang kemudi tetap diam. Sementara di kursi belakang, Seo yeon dan Darren duduk berdampingan tanpa sepatah kata pun yang terucap.
Setibanya di penthouse, mereka segera masuk ke ruang utama yang luas. Seo yeon berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, lalu kembali keluar dengan mengenakan kemeja tidur yang kebesaran. Tubuhnya yang kurus terlihat sangat rapuh saat dia berdiri membelakangi Darren sembari menatap titik-titik cahaya lampu jalanan dari jendela besar.
Lantas Darren mendekat dengan jarak sekitar empat meter, meletakkan secangkir teh hangat yang baru saja dibuatkan Shinta di atas meja samping tempat Seo yeon berdiri.
“Kau sebenarnya beruntung karena tidak mengerti bahasa Korea tadi,” ucap Seo yeon tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela. “Apa yang mereka katakan akan terasa sangat menyakitkan bagi telingamu.”
Darren pun menyunggingkan senyuman tipis. “Aku sudah terbiasa dengan hal semacam itu, Nona. Diremehkan, dicurigai, bahkan dihina adalah sarapan harian bagiku sejak lama. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari sekadar omongan.”
Seo yeon berbalik dan menatap Darren dengan pandangan yang dalam.
“Bisnis kita sudah resmi berjalan beberapa hari yang lalu. Proyek pertama pun sudah dimulai. Itulah yang memenuhi pikiranku saat ini, bukan ucapan orang-orang yang sama sekali tidak mengerti bagaimana perjuangan kita membangun ini dari bawah,” lanjut Darren.
Mulut dan tatapan Seo yeon sempat terkunci, sebelum meraih cangkir teh itu dan menghirup aromanya perlahan. “Kau tahu, Darren? Dari sekian banyak asisten yang pernah bekerja untukku, hanya kamu yang tidak pernah mencoba menjadi sosok yang bukan dirimu sendiri.”
Darren sedikit terkejut mendengar pengakuan itu. “Aku hanya berusaha melakukan pekerjaanku sebaik mungkin.”
“Nggak juga. Kau melakukan jauh lebih banyak daripada sekadar pekerjaan,” kata Seo yeon sembari menatap cairan teh di dalam gelasnya, kemudian beranjak menuju kamarnya. “Selamat malam, Darren.”
“Selamat malam, Nona,” balas Darren sembari melihat pintu kamar itu tertutup rapat.
Darren kini duduk sendirian di meja kerjanya yang penuh dengan dokumen dan laptop yang masih menyala. Segelas kopi sudah menemaninya di sana. Namun pikirannya masih dipenuhi oleh kalimat terakhir Seo yeon tadi.
“Maksudnya melakukan lebih dari itu apa ya? Apa dia mulai sadar soal hoki yang gue tarik?” Gumam Darren sembari menggelengkan kepala untuk mengusir spekulasi yang tidak perlu.
Kini dia harus kembali fokus pada target-target baru yang telah dia susun. Setelah menelusuri data mentah dari Seo yeon, sebuah nama muncul di posisi teratas daftar prioritasnya. Seorang pria tampan bernama William. Pengusaha tambang yang dikenal tidak kalah kejam dari Priyo Tan Wijaya.
Darren membuka sebuah file di laptopnya yang menampilkan foto seorang pria yang lebih muda darinya itu berdiri angkuh di depan deretan truk tambang batu bara. Ekspresi datarnya tidak mampu menyembunyikan sorot mata yang penuh dengan kelicikan.
“William,” gumam Darren sembari menatap layar dengan tajam. “Maaf, tapi sekarang giliranmu untuk merasakan bagaimana rasanya jatuh ke dasar.”