"Tugasmu mengambil hati anakku, bukan hatiku."
Aqeel Hafshan, seorang Mafia yang menjadi incaran para penjahat di dunia kriminal. Demi melindungi istrinya, Aqeel merahasiakan keberadaan istrinya dan menyembunyikannya di negeri asal sang istri, Indonesia.
Aqeel tidak mau memiliki anak dari siapapun, termasuk dari Maura, istrinya. Saat Maura hamil, Aqeel menyuruh istrinya menggugurkan anaknya. Karena mendapati penolakan dari sang istri, Aqeel yang kesal memutuskan untuk tidak pernah melihat wajah sang anak, sampai sang anak berusia 5 tahun.
Maura hilang secara misterius dan dikabarkan terbunuh. Setelah terpuruk selama dua tahun Aqeel memutuskan untuk menjadi Daddy yang baik untuk Aqilah, putrinya yang sudah dia telantarkan selama tujuh tahun karena benci dengan kehadiran seorang anak.
Karena Aqilah kecil kesepian, Aqeel ingin mencarikannya seorang Ibu. Hanya seorang Ibu untuk Aqilah, tanpa Aqeel nikahi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olla304, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tubuh Aqeel bangkit berdiri, lelaki itu memunggungi Maura. Maura tersipu malu saat Aqeel melepaskan ikat pinggangnya, Maura kira Aqeel akan melorotkan celananya. Terlalu mengkhayal, ternyata Aqeel menggunakan ikat pinggang keras itu untuk mengikat kedua pergelangan tangannya sendiri. Aqeel sangat kesusahan untuk itu.
“Aman,” Aqeel menghembuskan napas lega. Lelaki itu menjatuhkan diri ke ranjang, berbaring di sebelah Maura yang kecewa karena terlalu menanti.
“Apa-apaan tatapanmu itu, Maura?” Mata Aqeel menyipit.
Maura mengangkat kedua alis, meminta penjelasan.
“Padahal kita sudah ML empat kali, kenapa matamu menatapku seperti kelaparan?” Aqeel menuduh tanpa berkaca.
Maura menyembunyikan wajahnya, wanita itu terlihat malu. “Kamu akan pergi besok malam, wajar ‘kan jika aku merasa kesepian untuk sebulan ke depannya saat kamu tidak ada?”
“Iya juga ya,” Aqeel menyeringai geli. Lelaki itu membelakangi Maura, sambil bergumam. “Apa kamu bilang tadi, wajar, ya?”
“Iya, wajar. Kamu akan pergi lebih dari sebulan.”
Jika Aqeel pikirkan kembali. Wajar, dong. Aqeel sudah berhasil meminimkan birahi selama ini. Nasehat jitu Dr. Fadli tidak berlaku untuk mereka, karena Maura akan libur melayaninya sampai sebulan ke depan.
Aqeel berusaha melepaskan ikatan ikat pinggang di pergelangan tangannya. Lelaki itu berdecak kesal, “sayang, bantu aku melepaskan benda si*lan ini.” Maura membantunya, karena lemahnya tenaga wanita itu dan ikatan tangan Aqeel terlalu kuat, Maura tidak bisa melepaskannya. Aqeel berusaha membukanya dengan menggigit, tapi percuma. “Ambil pisau, cepat.” Aqeel memerintah. Maura langsung turun dan mengambilkan golok yang cukup tajam. Sengaja disembunyikan di kamar Maura oleh Aqeel, jika ada lelaki asing yang memasuki kamarnya, Maura bisa membela diri menggunakan golok itu.
“Hati-hati, jauhkan ujung goloknya dari dadaku.” Aqeel mengingatkan, nyaris saja ujung benda tajam itu menembus dadanya yang terbuka tanpa balutan kemeja.
Maura menggeseknya dengan sekuat tenaga, setelah kedua tangan Aqeel bebas lelaki itu mengusap wajah Maura yang kotor oleh bedak tabur dan coretan spidol. Aqeel berdecak kesal, “aku tidak sadar, spidol yang kuambil permanen.” Maura tertawa mendengarnya. Karena ulah suaminya, coretan di wajah Maura tidak bisa dihapus.
***
“Ini suamimu?” Maura bertanya kagum saat Elma memamerkan foto suaminya kepada wanita itu. Elma mengangguk, “namanya Aefar. Dia tampan sekali ‘kan.” Maura mengangguk setuju. Wanita itu
tidak akan segan mengangguk dan memuji lelaki jika tidak ada Aqeel.
“Dimana dia sekarang?”
Elma meliriknya sendu, “di Jerman. Kami ini tawanan suamimu, Tuan Aqeel.”
“Tawanan?” Maura terlihat bingung.
“Tapi kami bersyukur diperlakukan dengan baik.”
“Apa maksudmu tawanan?” Maura menatapnya dalam, menuntut penjelasan.
“Ini bisnis mereka, aku maupun kamu tidak akan mengerti. Suamimu menawan kami agar suamiku mau bekerjasama, sebagai gantinya juga, kami akan diberi perlindungan agar tidak diapa-apakan Bos asli suamiku. Itu yang Aefar jelaskan padaku. Aku saja shock saat diberitahu pekerjaan aslinya dan keluarga kecil kami malah terlibat.” Elma menoleh ke ketiga putrinya yang berlarian kecil sambil bermain ditemani oleh Bu Nata.
“Maafkan suamiku,” Maura meminta maaf menggantikan Aqeel.
“Tidak apa, Maura. Suamimu tidak sepenuhnya salah. Malah dia cukup baik. Alih-alih menyiksa kami, dia memberikan kami perlindungan di sini. Bos asli suamiku itu mengerikan. Banyak keluarga bawahannya yang berkhianat sedikit saja sudah dibantai. Andai suamimu tidak berbaik-hati membawa kami kemari, mungkin kami bereempat sudah tewas atau ditawan di tempat yang tidak layak.” Meskipun Aqeel bersalah, Elma terlihat begitu berterimakasih. Melihat binaran di matanya, Maura urung memupuk ocehan untuk suaminya. Sekalipun untuk urusan pekerjaannya, Maura tidak berani untuk komplain sedikitpun.
“Yang kucemaskan, keselamatan suamiku di sana, Jerman. Aku takut Aefar terbunuh, karena bosnya pasti mengincar nyawanya sekarang. Aku harap, suamimu bisa melindunginya. Aku yakin, Aefar pasti berguna untuk suamimu.”
“Suamiku akan menjaga apa yang akan berguna untuknya. Aku percaya suamiku bisa melindungi suamimu, jika dia sudah menjanjikannya.”
Elma mengembangkan senyum. Haru terlihat di mata dan wajahnya.