Suara tangisan bayi menyita perhatian seorang pemuda yang sedang duduk di taman. kakinya melangkah mendekati sumber suara. Ia meraih bayi mungil itu dan menggendongnya dengan penuh kelembutan. "Alesya." gumamnya membaca ukiran kalung berlian di leher bayi cantik itu.
Bayi kecil itu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan Alex sebagai orang tua tunggalnya. Rasa sayang pada anaknya telah berubah menjadi cinta pada seorang wanita. Alex berusaha menepis namun tidak bisa. Pria itu ingin memiliki Alesya. Menjadikan gadis itu sebagai ratu di hatinya.
Mampukah Alex mempertahankan Alesya untuk tetap di sisinya di tengah pencarian keluarga kandung gadis itu?
Bisakah Alex membuat gadis itu menerima perasaannya?
Ikuti terus cerita menarik ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Askar
"Akh.." Teriak Alesya ketika Ia sedang merapikan dasi suaminya. "Sayang." Pria itu panik setengah mati melihat sang istri memegangi perut. "Kita ke rumah sakit." Lanjutnya dengan cepat menggendong istrinya.
Alex selalu menggenggam tangan wanita yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit sementara keluarga menunggu di luar. "Sakit Mas." Keluh Al sembari menguatkan tautan jemarinya pada tangan sang suami. Alex tidak bisa berkata apa apa. Ia juga sangat cemas sekaligus kasihan melihat kondisi istirnya seperti ini. "Sudah pembukaan akhir. Dorong Bu." Dokter mengintruksi dan Alesya melakukan sesuai apa yang di katakan wanita paruh baya itu.
Beberapa menit berjuang. Suara tangisan bayi membuat Al meneteskan air matanya. Persalinannya berlangsung lancar dan cepat. Ia sudah menjadi seorang Ibu sekarang. "Terimakasih Sayang." Ucap Alex mengecup kening sang istri dengan lembut.
Semua orang tak berhenti tersenyum sedaritadi menyambut anggota baru dalam keluarga. Bayi tampan itu diberi naman Askar Alexander Geraldi oleh sang Ayah. "Lihat dia sangat tampan." Kata Mami mengamati cucunya yang sedang lahap minum ASI dari Ibunya. "Iya. Sangat tampan." Gumam Al membenarkan.
"Biar sama Mami. Kamu istirahat saja." Wanita itu mulai menggendong cucunya yang sedang terlelap dengan tenang lalu duduk di sofa diikuti Papi dan anak sulungnya. "Mau makan sesuatu?" Tanya Alex lembut sembari mengelus pipi istrinya. Alesya menggeleng pelan. "Tidurlah. Kamu pasti lelah." Kata pria itu. Al mengangguk kemudian memejamkan mata dengan tangan yang masih di genggam suaminya.
Alex ikut bergabung dengan bersama mertuanya. Mereka tak meletakkan Baby Askar dalam box. Mami terus menggendong cucu pertamanya itu tanpa lelah. "Letakkan di box saja Mi. Mami pasti lelah." Kata Alex namun wanita itu dengan cepat menggeleng. "Sudah Papi suruh. Dia keras kepala." Papi menyahuti menantunya. "Tinggal di rumah kami saja. Nanti biar ada yang membantu mengurus Askar." Lanjut papi membuat Alex kesulitan. Ia hanya ingin hidup mandiri dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan sang istri. "Nanti Alex bicarakan dengan Al dulu Pi." Jawab pria itu berusaha tidak menyinggung mertuanya.
"Kapan boleh pulang?" Tanya Al ketika makan disuapi suaminya membuat Alex tersenyum. Istrinya sedaritadi menanyakan hal itu namun jawaban Alex masih tetap sama. "Nanti. Aku tanyakan dokter dulu Sayang." Kata Alex sembari terus menyuapi sang istri. "Kamu daritadi belum tanya?" Alex menggeleng pelan. "Belum bertemu dokter. Setelah ini aku akan bertanya." Al mengangguk pelan. Ia tak sabar ingin pulang ke rumah dan merawat bayi mungilnya. Suasana di rumah sakit membuatnya tak nyaman. "Sayang. Tadi papi bilang kalau kita disuruh tinggal bersama mereka agar ada yang membantu kamu merawat Askar. Kamu mau?" Tanya Alex meminta pendapat istrinya. "Tinggal di rumah saja Mas. Aku ingin lebih mandiri. Aku bisa kok rawat Askar. Ya meskipun belum terlalu mahir. Tapi aku akan belajar." Jawab Al membuat Alex mengangguk sambil tersenyum. "Kalau kamu tidak bisa menjelaskannya ke Papi. Biar aku saja." Lanjutnya lagi karena tau suaminya itu pasti merasa tidak enak untuk menyampaikan penolakan.
"Sayangnya Bunda." Al begitu bahagia menggendong buah hatinya. Menjadi seorang Ibu di usia muda tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun kehadiran malaikat kecil ini membuat Al sangat bersyukur. Kebahagiaannya sudah lengkap sekarang. Hidup bahagia dengan suami anak dan keluarga yang belum lama berada di sisinya. "Rambutnya coklat lebat. Alis, mata, bibir dan hidung mirip kamu dek." Kata Alvin mencolek pipi keponakannya. "Tanganmu itu. Bisa diam tidak. Nanti terbangun." Kesal Mami mencubit tangan putranya yang sedaritadi menggoda sang cucu. "Haish Mami. Ibunya saja tidak masalah. Kenapa Mami yang galak." Kesal Alvin. "Sudah. Kok jadi ribut kalian. Berisik." Papi menengahi perdebatan keduanya. "Lex." Panggil Papi. "Ya Pi." Jawabnya menatap sang mertua. "Ayo ngopi di caffeshop depan. Kamu sekalian Vin." Ajak Papi dan keduanya mengangguk. "Sebentar saja ya Pi." Kata Alex sebelum pergi. Papi mengangguk sambil tersenyum Ia tau menantunya itu ingin menemani sang istri. "Aku pergi dulu sayang." Alex mencium pucuk kepala Al kemudian pergi dengan mertua dan iparnya.
typo Thor...