Warning lembaran ini banyak adegan dewasa nya jadi jangan mampir untuk para bocil 🤭 21+ pasti akan bertaburan di sini seperti lembaran yang sebelum nya 🤭
Tak ada kata kata mustahil bagi cinta, dan tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah menghendaki apa yang terjadi di muka bumi ini.
Menikah dengan laki laki yang tak dicintai adalah hal yang belum pernah terpikirkan oleh wanita cantik itu. Tapi dia tak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran dari laki laki yang menawarkan kebahagian. Dia melakukannya karena sudah tak sanggup berada di rumah yang penuh dengan derita serta tangisan setiap malamnya.
Pernikahan yang di harapkannya adalah menikah dengan laki laki yang dia cintai bukan di landasi dengan sebuah keterpaksaan dan lari dari duka. Duka itu semakin bertambah ketika mengetahui bawa laki laki yang di sodorkan itu adalah laki laki lumpuh. Dia di jadikan perawat agar laki laki gagah itu bisa kembali berjalan.
Mampukah wanita itu mengubah Takdir nya yang penuh derita menjadi Takdir yang penuh dengan kebahagian. Mampukah dia bertahan di sisi laki laki yang lumpuh itu?.
Penasaran mampir dulu di sini 🤭🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Anggii Verina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Restu 1
Cinta itu datang tak bisa disangka sangka, siapa yang tahu bahwa seorang yang sulit melupakan sang mantan nya,
Kini secara tiba tiba membuka hatinya, berniat untuk membuat komitmen baru dengan pasangan yang melabuhkan hatinya.
Takdir Tuhan tak ada yang tahu, hanya suratan Takdir yang mengetahui semua masalah setiap insan di muka bumi ini.
________
Happy Reading 😘😘
Pagi ini kedua insan yang masih terlelap dalam tidurnya masih mencari kehangatan ketika udara pagi yang berhembus kencang. Udara itu seakan sengaja masuk ke dalam kamar untuk membangunkan tulang tulang anak manusia yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Mereka berdua kini menggeliatkan tubuhnya, merasakan ada pergerakan kini mereka saling mengerjapkan matanya dengan pelan pelan. Mata itu secara tidak sengaja saling beradu pandang, saling menatap dengan ketulusan serta ada percikan cinta di sana.
" Selamat pagi…" Sapa Bara dengan suara khasnya baru bangun tidur.
" Selamat pagi…" Bella menjawabnya dengan menahan malu, dia yang belum pernah seintim ini dengan laki laki seakan membuatnya harus merasakan ada semu merah di kedua pipinya itu.
" Bella, kemarin aku sudah meminta izin kepada ayah mu."
" Apa, kau bilang apa?" Bella yang mendengarnya kini langsung terduduk dengan rasa terkejut.
" Meminta izin kepada ayah mu."
" Jangan lanjutkan apa yang dia jawab, aku tak ingin mendengarnya…" Bella kini menyibak kan selimutnya dia langsung bangun dari duduknya, dia berdiri di depan kaca besar itu, membuka tirai dengan pikiran nya yang tak karuan.
Bara kini menghampiri kekasihnya itu dia memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang. Bara tahu kekasihnya mungkin akan terluka jika membahas sang ayah tapi dia tak bisa untuk tak mengatakan kepada kekasihnya.
" Sayang kau harus tahu apa yang ayah mu katakan…" Ujarnya dengan pelan.
Bella melepaskan pelukan itu dengan kasar dan menatap wajah kekasihnya yang ada kerutan kebingungan di sana.
" Sudah aku katakan Bara aku tak ingin mendengarnya, apapun yang dikatakan dia aku tak ingin mendengarnya…" Bella menekan kata katanya agar laki laki itu mengerti.
Bukan sikap Bella yang arogan atau egois tapi dia sudah cukup lelah mendengar apa yang dilontarkan oleh sang ayah. Ayah bukanlah sosok ayah yang dia banggakan tapi sosok ayah hanya untuk sebuah panggilan semata.
" Tapi-"
" Bara jangan berdebat dengan ku, aku sungguh tak ingin berdebat denganmu tentang masalah ini…" Bella meninggalkan Bara yang hanya menatapnya tak percaya.
Wanita yang pendiam itu kini seakan menjadi wanita yang garang ketika hanya mendengar nama ayahnya, padahal ayahnya kemarin seakan menolak pernikahan ini bahkan menolak semua tawaran yang Bara berikan.
Sedangkan dirumah lain Jordan dan Santi kini tengah berdebat hebat disana. Jordan kini sedikit merasakan kehilangan ketika putrinya itu kini tak ada kabarnya selama beberapa bulan ini, dia juga merasakan kasihan kepada putrinya jika benar dirinya ingin menikah dengan laki laki yang dia kenal sepak terjangnya seperti apa.
" Kau itu bodoh pa, kenapa kau tak terima aset aset yang ditawarkan oleh calon menantumu itu, mereka kaya raya lebih kaya dari kita, saham dan aset seperti itu tak ada arti bagi mereka semua pa…" Wanita itu kini berbicara sedikit meninggikan suaranya, dia tak menyangka suaminya malah menolak semua yang ditawarkan oleh calon menantunya itu.
Jordan mengusap wajah kasarnya dia hanya menatap nanar ke arah istrinya itu.
" Jika saja aku menandatangani sebuah surat perjanjian itu aku sama saja aku seperti seorang ayah yang menjual putrinya kepada laki laki kejam seperti Bara itu, kau tak tahu seperti apa dia. Laki laki arogan yang suka bergonta ganti pasangan…" Jawabnya dengan juga tak kalah tinggi.
" Pa itu berbeda dengan menjual putrimu itu. Dia hanya membalas budi kepada kita karena kita sudah membesarkan Bella dari kecil."
" Tidak aku akan tetap menolaknya dengan alasan apapun, aku akan datang ke sana untuk membawa paksa Bella, aku tak ingin dia menikah dengan Bara."
" Sejak kapan kau menjadi ayah yang baik untuk putrimu he?, Kau sekarang seolah olah melindungi putrimu itu padahal kamu sendiri waktu itu yang mendorongnya untuk masuk kedalam rumah orang lumpuh itu…" Langkah Jordan kini terhenti ketika sang istri mengingatkan hal itu.
" Kau lupa bahwa putrimu itu adalah orang yang menyebabkan kematian istri pertama mu, dan kau hampir kehilangan nyawamu jika tidak ada aku waktu itu…" Jordan kini membalikkan badannya dan menatap tajam kearah sang istri.
" Kau mengingatkan aku dalam hal sebesar ini ketika aku mulai mengulurkan tangan kepada putri ku sendiri, dan selama ini aku diam, aku selalu menuruti kata katamu untuk membenci putri kandungku sendiri, dan aku memang bodoh karena selalu menurut apa yang kau katakan. Tapi aku ingatkan aku menikahimu bukan karena cinta tapi karena ucapan terima kasihku, dan asal kau tahu sampai detik ini rasa cintaku tak pernah ada untukmu, meskipun hanya seujung kuku…" Jordan kini yang berucap ketus dibalas dengan tatapan tajam. Perkataan Jordan seakan menusuk ke jantungnya dia tak menyangka bawah apa yang dia harapkan dari dulu tak pernah terwujud.
" Kau tahu setiap hari aku selalu merasakan kesedihan ketika mengingat tangisan putri ku di depan mata ku sendiri, aku selalu merasa jantungku seperti diremas ketika membayangkan wajah mendiang istriku yang selalu memohon untuk merangkul putrimu, tapi kau selalu menjadi penghalang untuk kami berdua. Kau sengaja menjauhkan seorang ayah dan seorang anak hanya karena kau tak ingin rasa kasih sayang ku di bagi dengannya…" Jordan menyemburkan semua amarahnya yang selama ini dipendam.
Dia yang berpikir sedari semalam kini memilih keputusan untuk mengulurkan tangannya kepada putri kandungnya yang mungkin saat ini membutuhkannya.
" Kau tak bisa bersikap seperti ini pada ku Pa, kau tak bisa. Kau juga tak boleh datang kesana untuk menjemput Bella…" Cegahnya dengan cepat.
" Dengar Santi aku bisa melakukan apapun untuk mu, aku bisa menceraikan mu jika kau tetap menghalangi ku…" Ancamnya membuat wanita itu tertegun.
" Minggir dari hadapanku,aku benar benar muak melihatmu…" Jordan kini mendorong wanita itu ke samping hingga membuat wanita itu terjatuh ke kasur dengan kasar.
" Jordan.. kau tak bisa seperti ini, Jordan…" Santi kini berteriak tak terima dia tak bisa untuk mengizinkan suaminya membawa kembali putrinya.
Jordan tak peduli dengan suara istrinya yang berteriak kencang memanggilnya, bahkan Jordan tetap menekadkan hatinya untuk menjemput paksa putrinya itu. Dua puluh delapan tahun sudah cukup untuk membuat putrinya hancur, bahkan cukup membuat laki laki tua itu tak pernah memeluk putrinya itu. Jordan kini melajukan mobilnya sedangkan Santi kini mengejarnya, dia keluar dari kamar berlari untuk menghalangi suaminya untuk datang ke tempat putrinya itu.
krna itu maut kematian dlm rumah tangga.
juga jangan pernah curhat pd teman perempuan!
krna dia akan jd orang ketiga!