Hidup dalam kepalsuan bukanlah hal yang Safira inginkan. Menjadi sosok gadis yang sombong penuh keangkuhan bukanlah sifat aslinya. Namun keadaan memaksanya untuk menjalani kehidupan penuh manipulatif ini.
Safira jenuh dengan kehidupannya, gadis itu ingin lari dari semuanya, meninggalkan segala kepalsuan ini. Hingga dimana Safira tidak lagi sanggup, gadis itu akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkan keluarganya dan teman-temannya serta kehidupan yang selalu membuat iri semua orang.
Namun siapa yang menyangka, kepergiannya ini justru membawanya kembali ke masa kelamnya. Lelaki itu, sosok bajingan yang telah menghancurkan hidupnya dengan brutal, muncul di saat Safira ingin melupakannya.
Safira sangat membencinya, hingga timbul dalam hatinya ingin membalaskan dendamnya. Ya, Safira memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas kehancurannya.
Cerita ini merupakan sequel dari MY POOR WIFE. Silakan baca dulu agar lebih seri bacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia Butera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bugh...
Bogeman mentah melayang begitu saja di wajah seorang pria matang dari tangan Bara.
"Tidak berguna! Menjaga satu perempuan saja tidak becus!" sentak Bara. Pria itu menggertakkan giginya, penuh amarah hingga wajahnya merah padam. Kemarahan lelaki itu berasal dari kabar hilangnya Safira, saudara perempuannya.
Saat itu dia masih berada di Indonesia, tetapi setelah mendengar kabar itu, Bara dan istrinya langsung pulang ke Jerman.
"Bagaimana bisa kau tidak melihat Safira pergi!" bentaknya lagi.
Pria yang sudah tersungkur itu tidak berkutik, "Saya tidak tahu Tuan. Saya diperintahkan Nona untuk menunggu di mobil, tapi Nona tidak kembali lagi. Saya sudah mencari di setiap sudut rumah sakit, tapi saya tidak menemukannya. Setelah saya cek CCTV rumah sakit, ternyata Nona dibawa kabur oleh seseorang Tuan." tutur pengawal itu cepat, meski rahangnya terasa sakit akibat pukulan Tuannya.
Mata Bara semakin merah, mendengar adiknya dibawa oleh seseorang, pikiran Bara langsung tertuju pada seseorang.
"Bedebah itu!" umpatnya.
Dengan kemarahan yang menggebu-gebu, Bara menelpon seseorang.
"Cari laki-laki bernama Dave Rodriguez dan bawa dia ke hadapanku hidup atau mati!" perintahnya pada kepercayaannya.
Setelahnya, Bara mengusir supir Safira, kemudian duduk di meja kerjanya.
"Berani sekali kau mengusikku! Harusnya aku membunuhmu saat itu!" geramnya.
***
Sementara di belahan bumi lain, sangat jauh dari hiruk pikuk negara kebarat-baratan, Safira mengerjapkan matanya berulang kali. Matanya basah oleh air mata, sementara mulutnya tetap bergerak menelan bubur yang disuapkan oleh Dave.
"Aku ingin pulang!" sesekali bibirnya berkata. Tetapi Dave sama sekali tidak menanggapi. Pria itu menjadikan Safira seperti pasien rumah sakit, yang terus dipaksa makan dan minum obat.
Dave sangat memperhatikan pola makannya, pergerakan dan segala kegiatan yang wanita itu lakukan. Semua itu Dave lakukan selama satu minggu ini, dan itu membuat Safira hampir-hampir gila rasanya.
"Setelah menghabiskan susumu, kau harus berjemur di balkon, agar tubuhmu mendapat sinar matahari yang cukup." ucap Dave sambil membereskan mangkuk dan nampan makannya.
Dave mengusap kepalanya lembut, "Jadilah gadis yang penurut, dan jangan mencoba memancing amarahku." ucapnya.
Safira bungkam, melarikan pandangannya ke luar jendela. Dia benar-benar tersiksa di sini. Dave mengurungnya di kamar, tidak boleh keluar kecuali hanya bersama Dave seorang.
Setiap kebutuhannya, seperti makan atau pun mandi, Dave melakukannya untuknya. Safira membenci pria itu, maka dengan kemunculan Dave setiap saat di depannya, membuatnya teringat peristiwa kelam itu. Safira hampir gila dibuatnya.
Dave tidak peduli Safira mengabaikannya, "Aku akan keluar sebentar. Anna akan menemani dan menyiapkan segala keperluanmu." ucap Dave.
Ketika nama Anna disebut, Safira mengangkat pandangannya, menatap Dave penuh tanya. Dan di saat yang bersamaan, seorang gadis datang di tengah-tengah mereka.
Safira membulatkan matanya, kala melihat pelayannya ketika di rumahnya ada di sini. Safira langsung menyadari semuanya.
"Anna?" Safira penuh kecewa.
Anna menundukkan kepalanya, "Maafkan saya Nyonya." ucapnya penuh hormat.
"Kurasa kau sudah kenal dengan Anna. Jika kau butuh sesuatu, katakan padanya."
Dave mendekatkan wajahnya, mencuri kecupan di kening wanita yang dipenuhi kekecewaan itu.
"Anak Daddy, Daddy pergi bekerja dulu. Jaga Mommy sayang, dan jangan menyusahkannya." sambil mengusap perut bulat Safira. Dave kemudian pergi, meninggalkan keduanya.
"Maafkan saya Nyonya, saya hanya menjalankan tugas." ucap Anna. Anna tahu Safira sangat kecewa padanya, dan dia juga merasa bersalah.
TBC
knpa?
semangaat yaa othor, sehat selalu
kita semua menunggu
lanjut kaaa
penasaran bget jdina tpi g up date,gmana nie thor???