Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Perputaran Roda Bintang
Kubah energi berwarna merah darah yang menyelimuti seluruh pegunungan Akademi Jiannan memancarkan cahaya redup yang mengerikan. Udara di Puncak Bayangan mendadak terasa kental dan pengap, seolah-olah oksigen baru saja diisap habis oleh formasi raksasa tersebut.
Di ruang rahasia Paviliun Pedang Bayangan, Zeng Niu menatap langit melalui celah jendela dengan ekspresi sedatar danau beku, namun urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah murni.
BRAK!
Pintu ruangan didorong terbuka dengan kasar. Tetua Mo Yin melangkah masuk dengan wajah sehitam dasar wajan.
"Formasi Pengunci Langit Darah," desis Mo Yin, suaranya bergetar menahan murka. "Ini adalah formasi pertahanan pamungkas akademi yang hanya bisa diaktifkan oleh Kepala Akademi atau Wakilnya. Begitu formasi ini menyala, bahkan lalat dari ranah Nascent Soul pun tidak akan bisa keluar masuk tanpa menghancurkan fondasi gunung!"
Lin Xiaoyu dan Bao Tu yang baru saja menyusul masuk tampak pucat pasi.
"Tetua Agung Gui Huan sengaja mempercepat Seleksi Garda Depan dan mengunci akademi... Apakah dia tahu bahwa Kepala Akademi berencana untuk disembuhkan di luar sekte?" tanya Xiaoyu cemas.
Zhao Ying, yang berdiri tenang di samping Zeng Niu, menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak. Jika Gui Huan tahu Kepala Akademi akan disembuhkan, dia tidak akan membuat pengumuman terbuka seperti ini. Dia akan langsung menyerang Puncak Langit Utama secara diam-diam," analisis Zhao Ying tajam. "Penguncian ini bukanlah untuk Kepala Akademi. Ini untukmu, Zeng Niu."
Zeng Niu memalingkan wajahnya dari jendela. "Untukku?"
"Gui Huan takut kau melarikan diri setelah mempermalukan Tetua Penegak Hukum dan Tetua Jian Kuang," lanjut Zhao Ying. "Dia tidak bisa membunuhmu malam ini karena Formasi Pedang Bayangan milik Tetua Mo Yin terlalu kuat. Karena itu, dia mengurung kita semua dan memaksamu naik ke atas arena besok pagi, di mana murid-muridnya bisa mencincangmu secara 'sah' di depan mata seluruh sekte."
Bao Tu menggertakkan giginya, mengangkat palu godamnya. "Bajingan tua itu! Dia pikir kita ini babi di dalam kandang sembelihannya?!"
"Jika dia menginginkan tontonan darah di atas arena," Zeng Niu mengusap debu dari jubah hitamnya, matanya memancarkan kilat ungu yang sangat tipis namun mematikan. "Akan kuberikan lautan mayat untuknya."
Mo Yin menatap Zeng Niu lekat-lekat, lalu menghela napas panjang.
"Zeng Niu, aku tidak meragukan kegilaanmu, tapi kau tidak bisa menggunakan Pedang Petir Dewa itu untuk pertarungan beruntun. Kultivasimu baru Foundation Establishment Awal. Pusaka tingkat itu akan mengeringkan Qi-mu dalam tiga tarikan napas," ucap Mo Yin tegas. "Kau membutuhkan senjata fisik yang mampu menahan kekuatan kasar fisikmu."
Di dalam Lautan Kesadaran Zeng Niu, Lei Ling mendengus sombong. "Kakek tua ini benar, Niu! Aku terlalu berharga untuk digunakan membelah kroco rendahan. Cari tongkat pemukul anjing atau semacamnya!"
Zeng Niu menatap tangannya yang kosong. Pedang Penebas Tulang peninggalan Makam Asura telah hancur. Ia memang butuh senjata.
"Ikuti aku," perintah Mo Yin, berbalik menuju ruang bawah tanah paviliun.
Mereka menuruni tangga batu yang sempit hingga tiba di sebuah gudang senjata rahasia yang diterangi batu pijar spiritual. Ribuan pedang berbagai bentuk dan ukuran tertata rapi di rak-rak besi.
Qian Fugui langsung ngiler melihat tumpukan senjata itu. "Leluhurku... Jika aku menjual satu rak saja, aku bisa membeli rumah bordil maksudku, rumah mewah di ibukota!"
"Sentuh satu pedang, dan kupotong tangan lemakmu," ancam Xiaoyu dingin, membuat Fugui langsung memeluk tubuhnya sendiri.
Zeng Niu berjalan menyusuri rak-rak tersebut. Ia mengambil sebuah pedang spiritual tingkat menengah yang berkilau tajam, lalu mengayunkannya pelan.
TRANG!
Pedang indah itu patah menjadi dua hanya karena tak mampu menahan tekanan murni dari otot Tulang Besi Berkarat-nya saat membelah udara. Mo Yin hanya bisa menelan ludah melihat pedang mahal sekte hancur semudah itu.
"Ini semua terlalu ringan," keluh Zeng Niu datar. "Terlalu rapuh."
Mo Yin terdiam sejenak, lalu matanya terpaku pada sebuah kotak besi berkarat di sudut paling gelap ruangan. Ia berjalan menghampiri kotak itu, menendang debu yang menutupi penutupnya, dan membukanya dengan susah payah.
Di dalamnya, tergeletak sebuah balok besi berwarna hitam pekat yang bentuknya sangat kasar. Itu bahkan hampir tidak menyerupai pedang, tidak memiliki mata tajam, dan ujungnya tumpul seperti batu nisan.
"Ini adalah Pedang Nisan Hitam," ucap Mo Yin, suaranya sedikit bergetar karena mengingat sejarah senjata itu. "Benda ini ditempa dari inti meteorit laut dalam oleh pendiri Paviliun Pedang Bayangan ratusan tahun lalu. Niat awalnya adalah untuk membuat pusaka tingkat bumi, namun materialnya terlalu berat dan menolak aliran Qi fana. Beratnya mencapai dua ribu lima ratus kati. Tidak ada satu pun murid, bahkan diriku di ranah Golden Core, yang bisa menggunakannya dengan lincah dalam pertarungan."
Zeng Niu menatap besi hitam pekat itu. Hawa dingin dan bobot mati dari logam itu seolah memanggil insting barbarnya.
Zeng Niu mengulurkan tangan kanannya dan menggenggam gagang kasar pedang tersebut.
WUUUSSSSH!
Begitu Zeng Niu mengangkatnya, udara di gudang itu berdesir keras. Urat-urat di lengan pemuda itu menonjol, dan ototnya menegang sempurna. Ia mengayunkan "pedang" tanpa mata tajam itu secara horizontal.
DUAAAAANG!
Angin dari ayunan itu menghantam dinding batu ruang bawah tanah hingga retak! Zeng Niu tersenyum puas. Beratnya dua kali lipat dari Bilah Penebas Tulang, sangat cocok untuk menahan Tingkat Tiga dari Teknik Naga Tempur. Senjata ini bukan untuk memotong, melainkan murni untuk menghancurkan segala yang menghalanginya.
"Aku ambil ini," ucap Zeng Niu santai, menyampirkan pedang seberat gunung itu ke punggungnya dengan tali kulit tebal.
Melihat muridnya bisa mengangkat balok meteorit itu seolah itu hanya ranting bambu, Mo Yin hanya bisa memutar bola matanya pasrah. "Gunakan sesukamu. Sekarang, kembalilah beristirahat. Besok pagi, kita akan mendatangi neraka yang disiapkan Gui Huan."
Sementara Zeng Niu mempersiapkan senjatanya, di kamar tamu paviliun di lantai tiga, Zhao Ying tengah duduk bersila di atas ranjang giok pualam.
Kamar itu telah disegel dengan tiga lapis formasi kedap suara dan penyembunyi aura yang ia pasang sendiri.
Di telapak tangannya yang seputih salju, terletak Pil Qi Tingkat Tiga yang ia dapatkan dari Kepala Akademi Xuan Ji. Pil berwarna hijau itu memancarkan aura kehidupan yang sangat murni, mengeluarkan aroma embun pagi yang menenangkan pikiran.
Zhao Ying memejamkan mata dan menelan pil tersebut.
Begitu pil itu memasuki perutnya, ledakan Qi murni yang sangat masif menyapu seluruh meridian tubuhnya layaknya gelombang pasang. Bagi kultivator fana biasa, energi ini akan digunakan untuk memperbesar Inti Emas (Golden Core).
Namun bagi Zhao Ying, energi ini memiliki satu tujuan: Menghantam Segel Kutukan Dimensi.
"Di atas langit fana... Roda Bintang Ketiadaan berputar," gumam Zhao Ying melantunkan mantra surgawi yang dilarang di Benua Utara.
KRAAAK!
Di dalam nadinya, rantai hitam kutukan yang membelenggu kekuatan aslinya mulai retak di bawah gempuran energi Pil Qi Tingkat Tiga yang dipadukan dengan Niat Es murninya.
Di belakang tubuh gadis itu, ruang fana mendadak terdistorsi. Sebuah ilusi yang sangat indah namun menakutkan muncul: Siluet lautan bintang yang berputar membentuk sebuah roda raksasa. Ini adalah tanda dari kultivator jenius Domain Surga!
Kultivasi Zhao Ying melonjak drastis, memecahkan batas Golden Core Tahap Menengah, menembus Tahap Akhir, dan berhenti di batas mutlak Golden Core Puncak. Namun, karena kualitas energi Roda Bintang nya, kekuatan tempurnya saat ini setara dengan kultivator Nascent Soul Awal di alam fana!
Napas Zhao Ying tersengal, keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Roda Bintang di belakangnya perlahan memudar dan kembali bersembunyi di dalam lautan kesadarannya.
Zhao Ying membuka matanya yang kini memancarkan pendaran cahaya perak yang sangat kuat. Gadis itu menatap telapak tangannya sendiri, merasakan kekuatan destruktif yang kembali mengalir.
Segelnya tidak hancur sepenuhnya, tapi telah melonggar cukup banyak, batin Zhao Ying, tatapannya menembus jendela menuju arah arena pusat akademi. Zeng Niu... besok, kau tidak akan bertarung sendirian. Jika para tetua fana itu berani ikut campur dalam pertarunganmu, aku akan membekukan seluruh sekte ini menjadi monumen es.
Keesokan paginya.
Sinar matahari pagi kesulitan menembus Kubah Darah Pengunci Langit. Cahaya yang jatuh ke akademi berwarna merah suram, menciptakan atmosfer perang yang mencekam.
Suara gong raksasa bergema sebanyak tiga kali, menggetarkan Puncak Pedang Emas.
TENG! TENG! TENG!
Di pusat akademi, terletak Arena Langit sebuah dataran batu raksasa seluas danau, dikelilingi oleh tribun yang mampu menampung puluhan ribu murid.
Pagi ini, arena itu sesak dipenuhi lautan manusia. Puluhan ribu murid pelataran luar dan pelataran dalam berdiri dengan formasi rapi, wajah mereka dipenuhi ketegangan. Perang dengan Suku Li ada di depan mata, dan seleksi hari ini akan menentukan siapa yang akan dikirim ke garis depan (yang sering kali berarti kematian).
Di tribun kehormatan yang terbuat dari emas dan giok, duduklah jajaran petinggi akademi.
Di kursi paling tengah yang melambangkan kekuasaan tertinggi saat Kepala Akademi absen, duduk Tetua Agung Gui Huan. Pria tua berjubah emas gelap itu memiliki wajah yang licik, dengan sepasang mata sipit yang memancarkan kekejaman. Di sebelahnya, duduk Tetua Jian Kuang yang lengannya masih dibalut perban akibat pertarungan dengan Mo Yin kemarin.
"Apakah bocah liar itu sudah datang?" bisik Gui Huan pada Jian Kuang, memutar dua buah bola besi spiritual di telapak tangannya.
"Dia pasti datang. Mo Yin terlalu keras kepala untuk kabur, dan murid barbarnya terlalu arogan untuk menundukkan kepala," dengus Jian Kuang dingin. "Semuanya sudah disiapkan, Gui Huan?"
Gui Huan tersenyum miring. Ia melirik ke barisan depan murid pelataran dalam yang berdiri tegap di bawah tribun. Di sana berdiri seorang pemuda berotot dengan tinggi nyaris dua tombak, mengenakan zirah besi tanpa lengan, dan memikul sebuah kapak bergerigi ganda.
Ia adalah Kuang Ren, murid utama Jian Kuang, sang monster jenius dari Pelataran Dalam yang kultivasinya berada di Foundation Establishment Puncak.
"Kuang Ren sudah tidak sabar untuk mematahkan setiap tulang di tubuh bocah itu," jawab Gui Huan santai. "Dan jika formasi arena diaktifkan, tidak akan ada satu tetua pun, termasuk Mo Yin, yang bisa menghentikan pertarungan sampai salah satu dari mereka mati."
Tepat saat Gui Huan menyelesaikan kalimatnya, kerumunan puluhan ribu murid di pintu masuk arena barat mendadak terbelah layaknya ombak yang dibelah oleh kapal raksasa.
Suara langkah kaki yang berat, stabil, dan dipenuhi oleh Niat Membunuh murni bergema menembus kebisingan.
TAP. TAP. TAP.
Dari ujung lorong barat, Zeng Niu melangkah masuk ke dalam area arena. Jubah hitam bersulam peraknya berkibar pelan tertiup angin merah. Di punggungnya, bertengger Pedang Nisan Hitam yang memancarkan aura seberat gunung.
Di belakangnya, berjalan Tetua Mo Yin, Bao Tu, Lin Xiaoyu, dan Qian Fugui. Namun, yang membuat napas puluhan ribu murid dan para Tetua seketika terhenti adalah sosok yang berjalan anggun tepat di sisi kanan Zeng Niu.
Seorang dewi bergaun sutra biru, dengan cadar putih menutupi separuh wajah cantiknya yang tak tertandingi, melangkah dengan aura es yang membekukan udara di sekitarnya.
"I-Itu... Dewi Es!" seru seorang murid pelataran dalam, suaranya bergetar. "Tetua Zhao Ying! Dia kembali bersama si pembawa sial Zeng Niu!"
Gui Huan yang duduk di kursi kehormatan seketika mencengkeram tangan kursinya hingga hancur menjadi serpihan kayu. Matanya menyipit penuh kewaspadaan. Ia tidak menyangka faksi Mo Yin akan membawa satu lagi monster Golden Core ke pihak mereka.
Zeng Niu tidak mempedulikan tatapan jutaan pasang mata yang menusuknya. Ia terus melangkah hingga berhenti tepat di depan panggung utama, menengadah menatap langsung ke arah Gui Huan.
"Kudengar kau menyelenggarakan acara hiburan ini khusus untukku," suara Zeng Niu tidak keras, tapi berkat Qi-nya, suaranya menggema ke seluruh telinga yang ada di sana. Pemuda itu mengukir seringai algojo yang membuat darah siapapun yang melihatnya mendidih ketakutan.
Zeng Niu meraih gagang Pedang Nisan Hitam di punggungnya dan menghantamkannya ke lantai batu arena hingga retak.
"Jangan buang waktuku, Tetua Agung," tantang Zeng Niu, mematahkan setiap aturan kesopanan sekte fana. "Kirimkan yang terbaik ke bawah sini. Biar kupotong leher mereka satu per satu."