NovelToon NovelToon
Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.

Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.

Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.

Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.

Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Evelyn, perkenalkan. Ini adalah Jaksa Lu yang mulai hari ini akan bergabung dengan kita," kata Komandan Chen.

Damien berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Evelyn.

Tatapannya tertuju pada wanita yang telah lima tahun tidak ia temui.

"Namaku Damien Lu," ucapnya tenang sambil mengulurkan tangan. "Harap kita bisa bekerja sama dengan baik."

Ruangan langsung hening.

Kapten Wong, Wesley, dan anggota Tim A lainnya tanpa sadar menoleh ke arah mereka.

Semua menunggu reaksi Evelyn.

Namun wanita itu bahkan tidak melirik tangan yang terulur di hadapannya.

Dengan wajah datar, ia berjalan melewati Damien begitu saja.

"Paman, mari kita lanjut," ucapnya kepada Kapten Wong seolah tidak ada yang terjadi.

Tangan Damien masih menggantung di udara selama beberapa detik.

Suasana menjadi sangat canggung.

Beberapa detektif muda saling bertukar pandang. Mereka tidak tahu sejarah antara keduanya.

Akhirnya Damien menarik kembali tangannya.

Ekspresinya tetap tenang, seolah tidak terpengaruh oleh penolakan itu.

Namun tatapannya sempat mengikuti punggung Evelyn selama beberapa saat.

Evelyn sudah duduk di kursinya di samping Wesley.

Ia membuka map yang dibawanya dan langsung mengalihkan perhatian ke papan investigasi.

"Aku menemukan sesuatu di lokasi korban terakhir," katanya.

Seketika seluruh anggota tim kembali fokus.

Evelyn menunjuk beberapa foto yang baru ditempel di papan.

"Awalnya aku mengira bekas jejak ini tidak penting. Tapi setelah membandingkannya dengan laporan korban sebelumnya, ternyata ada pola yang sama."

Wesley segera berdiri dan mendekat. "Jejak ban?"

Evelyn mengangguk.

"Meskipun pelaku selalu berpindah lokasi, ukuran dan pola tapaknya hampir identik."

Kapten Wong langsung terlihat tertarik. "Artinya kita akhirnya menemukan petunjuk yang bisa ditelusuri."

"Benar."

Kapten Wong segera mengambil beberapa foto dari tangan Evelyn lalu menempelkannya di papan investigasi.

"Perbesar gambar ini," perintahnya.

Andy segera mengoperasikan komputer dan menampilkan foto tersebut di layar besar.

Semua orang memperhatikan dengan serius.

Evelyn berdiri di depan papan sambil menunjuk salah satu foto.

"Jejak ban ini ditemukan sekitar tiga puluh meter dari lokasi pembuangan korban terakhir."

"Awalnya aku mengira ini hanya kendaraan biasa yang lewat. Tapi setelah membandingkannya dengan foto-foto lokasi korban sebelumnya, aku menemukan pola yang sama."

Wesley mengangguk.

"Ukuran dan bentuk tapaknya identik."

"Benar."

Evelyn membalik beberapa halaman laporan.

"Setidaknya ada empat lokasi korban yang memiliki jejak serupa."

Kapten Wong menyipitkan mata. "Kenapa tim forensik tidak menemukannya lebih awal?"

"Karena jejaknya tidak lengkap dan sebagian besar sudah rusak akibat hujan," jawab Evelyn. "Tapi jika seluruh lokasi dibandingkan bersamaan, kemiripannya cukup jelas."

Damien yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara, "Apakah sudah dipastikan berasal dari kendaraan yang sama?"

Semua orang menoleh ke arahnya.

Evelyn juga menatapnya untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan.

Namun tatapannya tetap dingin.

"Belum. Karena itu aku tidak memasukkannya sebagai bukti utama."

Damien mengangguk.

"Itu keputusan yang tepat."

Evelyn tidak menjawab dan langsung kembali mengalihkan pandangannya ke layar.

Kapten Wong segera melanjutkan rapat.

"Kalau petunjuk ini valid, berarti pelaku menggunakan kendaraan yang sama selama bertahun-tahun."

"Atau setidaknya jenis kendaraan yang sama," tambah Wesley.

Damien membuka berkas korban. "Lalu bagaimana dengan waktu pembuangan korban?"

Ah Fei menjawab, "Hampir semuanya terjadi antara pukul satu hingga empat pagi."

Damien kembali melihat foto-foto korban.

Tatapannya menjadi semakin tajam.

"Pelaku sangat disiplin. Dia memiliki jadwal yang stabil. Dan kemungkinan besar memiliki pekerjaan yang membuat aktivitas malamnya tidak mencurigakan."

Kapten Wong perlahan mengangguk.

"Itu masuk akal."

Damien melanjutkan, "Selama lima tahun dia tidak pernah membuat kesalahan besar. Orang seperti itu biasanya memiliki kontrol diri yang sangat tinggi."

Wesley menyilangkan tangan.

"Jadi menurutmu dia bukan pembunuh impulsif?"

"Bukan."

Damien menjawab tegas.

"Dia merencanakan semuanya, setiap korban, setiap lokasi dan setiap langkah pelariannya."

Bahkan Evelyn yang sejak tadi tampak tidak peduli mulai memperhatikan analisis Damien.

Meskipun ia membenci pria itu...Ia harus mengakui bahwa kemampuan analisis Damien memang luar biasa.

Saat itulah Damien membalik halaman terakhir berkas korban terbaru.

Tatapannya tiba-tiba berhenti.

"Aneh."

Kapten Wong mengangkat kepala. "Apa?"

Damien menggeser foto tersebut ke tengah meja.

"Korban keenam belas berbeda."

Semua orang langsung memperhatikan.

"Berbeda bagaimana?" tanya Wesley.

Damien menunjuk salah satu bagian foto. "Luka ini."

Setelah itu ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan papan investigasi.

Kapten Wong langsung memberi ruang.

Damien mengambil sebuah pena penunjuk lalu mengarahkan ujungnya ke foto korban terakhir yang terpampang di layar.

"Lihat bagian leher korban."

Semua orang memperhatikan.

"Pada lima belas korban sebelumnya, luka sayatan selalu berada pada posisi yang sama."

Damien kemudian menunjuk beberapa foto korban lain yang berada di papan.

"Sudut sayatan hampir identik, tekanan yang digunakan juga sama. Ini menunjukkan bahwa pelaku memiliki kebiasaan yang sangat konsisten."

Kapten Wong mengangguk pelan. "Itu sesuai dengan laporan forensik."

"Tapi korban keenam belas berbeda."

Damien memperbesar foto di layar.

"Luka sayatan ini lebih dalam sekitar satu sentimeter dan sudut masuk pisaunya sedikit bergeser.

A Fei yang merupakan ahli forensik segera berdiri."Tunggu sebentar."

Ia mendekati layar dan memperhatikan lebih seksama.

Beberapa detik kemudian matanya membesar.

"Benar. Aku tidak menyadarinya sebelumnya."

Wesley mengernyit.

"Apa artinya?"

Damien menyilangkan tangan di depan papan.

"Artinya ada dua kemungkinan."

"Pertama, pelaku sedang terburu-buru saat melakukan pembunuhan."

"Atau?" tanya Kapten Wong.

Damien menatap seluruh ruangan.

"Atau kondisi emosinya sedang tidak stabil."

Damien kembali menunjuk foto korban.

"Pembunuh seperti ini biasanya sangat perfeksionis..Sekali pola terbentuk, mereka jarang mengubahnya. Karena itu, perubahan sekecil apa pun tidak boleh diabaikan."

Evelyn yang sejak tadi memperhatikan akhirnya membuka suara.

"Kalau pelaku kehilangan kendali emosinya, berarti ada sesuatu yang terjadi sebelum korban keenam belas dibunuh."

Damien menoleh ke arahnya.

Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, mereka benar-benar membahas hal yang sama.

"Benar."

Evelyn lalu mengambil beberapa foto lain dari meja.

"Korban keenam belas menghilang tiga hari lebih lama dibanding korban sebelumnya. Kalau begitu ada kemungkinan sesuatu mengganggu rencana pelaku."

Kapten Wong langsung mengangguk.

"Lanjutkan."

Evelyn menempelkan foto-foto itu di papan.

"Jika kita mencari semua kejadian yang terjadi selama tiga hari tersebut, mungkin kita bisa menemukan alasan mengapa pola pembunuhan berubah."

Damien memperhatikan susunan foto yang dibuat Evelyn.

Lalu tanpa sadar ia berkata,

"Analisis yang bagus."

Damien memperhatikan foto-foto di papan beberapa saat sebelum kembali membuka berkas korban.

"Laporan ini belum lengkap."

Kapten Wong mengangkat alis.

"Bagian mana?"

"Kita terlalu fokus pada korban."

Damien menunjuk peta kota yang ditempel di papan investigasi.

"Kalau teoriku benar, maka perubahan pola pada korban keenam belas pasti disebabkan oleh sesuatu yang terjadi sebelum pembunuhan."

Evelyn menyilangkan tangan.

"Jadi?"

"Kita harus kembali memeriksa lokasi penemuan korban terakhir."

Beberapa detektif langsung saling pandang.

"Bukankah lokasi itu sudah diperiksa tiga kali?" tanya Wesley.

Damien mengangguk.

"Benar. Tapi aku ingin melihatnya sendiri."

Kapten Wong berpikir sejenak.

"Itu masuk akal."

Damien melanjutkan, "Selain lokasi pembuangan korban, aku juga ingin melihat tempat korban terakhir menghilang. Kalau ada sesuatu yang membuat pelaku keluar dari polanya selama lima tahun, kemungkinan petunjuknya masih ada di sana."

Komandan Chen yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mengangguk, "Usulan yang bagus."

Kemudian ia menoleh ke arah Kapten Wong.

"Siapa yang paling memahami seluruh detail kasus ini?"

"Evelyn dan Wesley," jawab Kapten Wong tanpa ragu.

Komandan Chen lalu melihat ke arah Evelyn. "Kalau begitu, Evelyn akan mendampingi Jaksa Lu."

Wesley mengernyit.

"Komandan—"

Namun Komandan Chen mengangkat tangan menghentikannya.

"Jaksa Lu baru bergabung hari ini. Ia membutuhkan seseorang yang memahami kasus ini dari awal. Evelyn adalah pilihan terbaik."

Kapten Wong juga tampak memahami alasan tersebut.

"Evelyn memang menangani sebagian besar investigasi lapangan dalam kasus ini."

Komandan Chen mengangguk.

"Kalau begitu sudah diputuskan."

Ia menoleh kepada Evelyn.

"Kau dan Jaksa Lu berangkat setelah rapat selesai."

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya Evelyn menjawab dengan tenang.

"Baik."

1
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
wow thor bacanya sambil tahan nafas
Kinara Widya
lanjut kak
Umi Kolifah
apakah Evelyn sebenarnya bukan anak Ronald tapi anak steve
lin sya
koq saling cinta tp saling bnci, tdk saling trbuka dan tdk saling prcya satu sama lain, tp diprtemukan lgi dlm satu krjaan, damien butuh extra keras kalo mau luluhin evelyn, ibaratnya kalo sudah trluka dan membekas akan sulit lgi prcaya
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
penasaran memang thor knp smpe Damien pergi disaat-saat peristiwa penting
Dian Fitriana
update
kitty ❤
lanjut Thor 🔥
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
aq setuju sama Evelyn ngpn bantu eve
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
double update ya thor🫶
Rini Yusnani
rasa rasanya pingin kirim santet ke damian
Rini Yusnani
bertemu gundul mu itu👊
Rini Yusnani
sok peduli lu damian,ganti aja namamu jadi siluman jijik liat kamu dah buat evelyn sampai depresi😠
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
Anonim
Harus tunggu 2-3 hari baru up 1 bab dan ternyata pendek😃
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
masih penasaran thor kenapa Lu pergi disaat mau nikah
Kinara Widya
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!