"Apa lo takut?"
"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."
Kalimat itu membuat Agnesa membeku.
Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.
Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.
Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.
Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:
Tatapan Agnesa.
Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.
Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—
Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding transparan
Lampu jalanan di depan warung kopi pinggir jalan berkedip-kedip, menciptakan ritme visual yang tidak sinkron dengan deru kendaraan yang melintasi aspal basah.
Bandung malam itu masih menyisakan sisa hujan; bau aspal yang menguap bercampur dengan aroma minyak goreng dari tukang martabak di seberang jalan.
Naren duduk di kursi kayu panjang yang permukaannya sudah halus karena gesekan celana ribuan orang.
Di depannya, segelas kopi hitam plastik masih mengepulkan uap tipis.
Slruup.
Naren menyesap kopi itu. Rasanya terlalu manis, seolah si abang warung menuangkan setengah botol sirup gula ke dalamnya.
Ia meletakkan kembali gelas itu ke atas meja yang sedikit bergoyang karena salah satu kakinya diganjal sobekan kardus.
"Bos, beneran nggak ikut ke sirkuit?" Abyan bertanya sambil mengunyah kacang kulit.
Krak.
Kulit kacang itu terlempar ke lantai semen yang penuh puntung rokok.
"Nggak. Gue lagi males narik," jawab Naren singkat.
"Tumben. Biasanya kalau abis baksos gini lo paling semangat nyari angin. Capek ya ngurusin si Ibu Negara?" Arion menyeringai, menyikut lengan Naren.
Naren tidak membalas seringai itu.
Ia justru memperhatikan seekor laron yang terbang rendah, berputar-putar di sekitar bohlam lampu warung sebelum akhirnya jatuh terkapar di atas meja, tepat di samping gelas kopinya.
Warung ini terletak di sudut perempatan yang cukup strategis.
Di balik punggung Naren, terdapat tumpukan ban bekas yang ditutupi terpal biru yang sudah robek-robek.
Bunyi klakson angkot—tiiit tiit—bersahut-sahutan dengan suara radio butut milik pemilik warung yang sedang memutar lagu dangdut koplo dengan volume rendah.
Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk pori-pori, namun Naren hanya mengenakan kaus hitam polos dan jaket denim yang kancingnya dibiarkan terbuka.
Di bawah meja, ia terus menggerakkan kaki kanannya, menciptakan bunyi duk... duk... duk... yang konstan pada kaki kursi kayu.
"Byan, lo tadi liat nggak si Agnesa pas pulang?" Arion membuka obrolan baru.
"Mukannya tegang bener pas dijemput sedan item itu. Kayak mau dibawa ke kantor polisi."
"Ya emang tiap hari gitu kan? Mana pernah dia senyum kalau sama kita," Abyan tertawa, lalu menoleh ke Naren.
"Tapi tadi dia sempet ngomong apa sama lo di parkiran, Ren? Gue liat lo buka kaca helm."
Naren terdiam sebentar. Ia meraih bungkus rokoknya yang tinggal tersisa dua batang.
Srek.
Ia mengeluarkan satu, menyelipkannya di telinga, tapi tidak menyalakannya.
"Nanya soal paraf," bohong Naren.
"Cuma paraf? Masa nanya paraf sampe mukanya merah gitu? Marah-marah lagi ya dia?"
"Emang kapan dia nggak marah?" Naren memutar gelas kopinya.
Naren menatap butiran gula yang tidak larut di dasar gelas.
Ia teringat dulu ayahnya pernah bilang kalau kopi itu ibarat hidup; pahitnya nyata, manisnya cuma tambahan.
Tapi ayahnya sendiri sekarang lebih suka minum jus sayuran hijau yang baunya seperti rumput lapangan bola hanya karena istri barunya bilang itu sehat untuk jantung.
Naren bertanya-tanya, apa rasanya punya jantung yang harus dijaga dengan meminum sesuatu yang rasanya seperti tanah? Agnesa mungkin juga sama.
Dia makan steak mahal tapi mungkin rasanya seperti kertas karena dia harus mengunyahnya sambil mendengarkan ceramah tentang masa depan.
Naren lebih suka kopi plastik ini. Pahit, manis, dan bikin deg-degan, tapi setidaknya tidak ada yang memaksanya untuk menghabiskannya.
"Eh, liat tuh. Siapa tuh yang lewat?" Abyan menunjuk ke arah jalan raya.
Sebuah mobil sedan hitam yang sangat dikenal Naren melintas perlahan karena arus lalu lintas yang padat di perempatan.
Naren mengenali plat nomornya. Itu mobil Agnesa.
Kaca mobilnya tertutup rapat dan gelap, tapi Naren bisa melihat siluet dua orang di kursi belakang
Naren melihat mobil itu berhenti tepat di depan lampu merah. Ia bisa melihat bayangan Agnesa melalui kaca samping yang sedikit memantulkan lampu warung.
Tiba-tiba, tenggorokan Naren terasa sangat kering, seolah ia baru saja menelan segenggam pasir panas.
Ia mencoba menelan ludah, tapi terasa sulit. Ia meraih gelas kopi plastiknya, hendak meminumnya lagi, tapi tangannya berhenti di udara.
Ia hanya memegang gelas itu erat-erat sampai plastiknya sedikit melesat ke dalam.
Krak.
"Wuih, si Tuan Putri mau kondangan ya?" Arion berkomentar.
"Rapi bener bayangannya di dalem. Ada cowoknya nggak tuh?"
"Palingan si Mahendra. Kan mereka udah kayak paket bundling," sahut Abyan enteng.
Lampu merah berubah hijau. Sedan hitam itu melaju pergi, hilang di antara kerumunan lampu rem kendaraan lain yang berwarna merah menyala.
Naren meletakkan gelas kopinya yang masih sisa separuh.
"Gue balik duluan," kata Naren sambil berdiri.
"Lho, kopinya belum abis, Ren!" seru Abyan.
"Udah nggak enak. Kemanisan."
Naren berjalan menuju motor Ninjanya yang terparkir agak menjauh dari keramaian warung.
Ia memakai helmnya dengan gerakan yang cepat, hampir kasar.
Cklek.
Suara kunci helmnya terdengar tajam.
Naren tidak langsung menyalakan mesin. Ia duduk di atas jok motor, membiarkan kedua tangannya menggenggam stang motor tanpa sarung tangan.
Ia menarik napas panjang berkali-kali, seolah sedang mencoba mengatur ritme jantungnya yang tiba-tiba berpacu tak beraturan.
Ia merogoh saku jaketnya, memastikan ponselnya masih ada di sana. Ia tidak mengeluarkan ponsel itu untuk mengecek pesan, ia hanya memegang permukaannya yang keras melalui kain jaketnya selama beberapa detik.
Naren menyalakan mesin.
Vrooom!
Suara knalpotnya memecah kebisingan malam di perempatan itu. Ia melaju bukan ke arah rumahnya, melainkan ke arah berlawanan, menyusuri jalanan yang dilewati mobil Agnesa tadi.
Di sebuah kafe mewah bergaya kolonial yang terletak di jalan utama, Naren memperlambat laju motornya. Ia melihat mobil sedan hitam itu terparkir di depan lobi.
Di sana, Agnesa turun didampingi oleh seorang laki-laki sebaya yang mengenakan kemeja batik rapi. Mahendra.
Naren memarkir motornya di seberang jalan, di bawah bayangan pohon angsana yang rimbun.
Ia mematikan lampu motor tapi membiarkan mesinnya tetap menyala stasioner.
Dug-dug-dug-dug.
Dari seberang jalan, Naren menatap lurus ke arah pintu masuk kafe.
Agnesa tampak berhenti sebentar di depan pintu kaca yang besar. Ia tidak langsung masuk.
Mahendra mengulurkan tangan, hendak menyentuh punggung Agnesa untuk membimbingnya masuk, tapi Agnesa tiba-tiba bergeser sedikit ke samping, menghindari sentuhan itu.
Agnesa menoleh ke arah jalan raya, matanya menyapu deretan kendaraan yang lewat selama beberapa detik.
Naren tetap diam di atas motornya, tubuhnya tidak bergerak sedikit pun, matanya terpaku pada sosok gadis berbaju biru pucat itu sampai ia menghilang di balik pintu kaca.
"Cuma paraf, ya?" Naren bergumam pada diri sendiri.
Suaranya hilang ditelan suara bus kota yang lewat di depannya.
Ia merogoh sakunya lagi, kali ini ia mengeluarkan ponselnya. Ada notifikasi masuk dari grup Zentrix, tapi ia mengabaikannya.
Ia membuka kontak 'Agnesa'. Tidak ada pesan baru. Terakhir adalah percakapan singkat soal susu stroberi tadi siang.
Naren mengetik sesuatu di layar.
Lo di mana?
Ia menghapusnya.
Batik lo jelek.
Ia menghapusnya lagi.
Naren kembali melakukan hal yang sama seperti di parkiran panti siang tadi. Ia meniup gelembung dari sisa permen karet yang masih ada di mulutnya.
Pop.
Ia teringat bagaimana Agnesa menatapnya saat ia melakukan hal yang sama di depan aula panti. Tatapan yang tidak tahu harus disebut marah atau bingung.
Naren mengusap bekas permen karet di bibirnya dengan punggung tangan, lalu ia mematikan mesin motornya sepenuhnya.
Kesunyian mendadak terasa mencekik.
"Ayo dong, Ren. Lo kan Zentrix. Masa kalah sama cowok yang pake minyak rambut kebanyakan," gumam Naren lagi.
Ia turun dari motor, berjalan menyeberang jalan dengan langkah santai, meskipun tatapan satpam kafe mulai mengawasinya karena pakaiannya yang kontras dengan pengunjung lain.
Naren tidak masuk ke dalam. Ia berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan.
Di sana, ia bisa melihat meja tempat Agnesa duduk. Ada empat orang dewasa di sana, dan Mahendra duduk tepat di samping Agnesa.
Agnesa terlihat sangat rapi. Terlalu rapi. Rambutnya disanggul modern, menyisakan leher jenjang yang kini dihiasi kalung mutiara kecil. Wajahnya dipoles riasan tipis, tapi matanya terlihat... kosong.
Agnesa memegang gelas air mineralnya dengan kedua tangan, bukan dengan satu tangan seperti biasanya.
Ia tidak ikut bicara saat kedua orang tua di meja itu tertawa lebar.
Sesekali, ia melirik ke arah jam tangan peraknya, lalu merapikan letak sendok dan garpu di depannya yang sebenarnya sudah sejajar sempurna.
Setiap kali Mahendra mendekatkan kursinya, Agnesa akan sedikit memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan, seolah ada dinding transparan yang tidak terlihat di antara mereka.
Naren mengeluarkan ponselnya lagi. Kali ini dia benar-benar mengirim pesan.
Naren: Ubur-ubur kalau dipaksa makan di darat bisa mati kering.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku dan berbalik. Ia tidak menunggu Agnesa membaca pesan itu. Ia berjalan kembali ke motornya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki cepat dari arah pintu kafe.
"Naren!"
Naren berhenti. Ia tidak menoleh segera. Ia memejamkan mata sebentar, merasakan detak jantungnya yang berdentum di telinga.
Dug-dug. Dug-dug.
Ia memutar badannya.
Agnesa berdiri di teras kafe. Wajahnya sedikit memerah, mungkin karena pendingin ruangan yang terlalu dingin atau karena hal lain.
Mahendra muncul di belakangnya dengan wajah bingung.
"Ada apa, Nes?" tanya Mahendra.
Agnesa mengabaikan Mahendra. Ia menatap Naren dari kejauhan. "Kamu... ngapain di sini?"
Naren mengangkat bahu, tangannya masuk ke saku jaket. "Cari angin. Kenapa? Jalanan ini punya bokap lo?"
"Kamu ngirim pesan aneh lagi," kata Agnesa, suaranya sedikit bergetar.
"Pesan apa? Gue cuma bilang fakta biologi," sahut Naren datar.
Ia mulai berjalan menuju motornya, memunggungi Agnesa.
Namun, langkahnya sangat lambat, jauh lebih lambat dari biasanya.
Ia sengaja memainkan kunci motor di jarinya, menciptakan bunyi klenting... klenting... yang nyaring di keheningan malam itu, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu tanpa mau mengakuinya.
"Naren, tunggu!" Agnesa melangkah turun dari teras, mengabaikan panggilan Mahendra yang menahan lengannya.
Agnesa berhenti tepat di pinggir trotoar, dipisahkan oleh deretan kendaraan yang terparkir.
"Saya nggak suka kamu ganggu acara keluarga saya," kata Agnesa, tapi matanya tidak menyorotkan kemarahan yang biasa.
"Gue nggak ganggu. Gue cuma lewat. Lo-nya aja yang baperan,"
Naren sudah sampai di samping motornya. Ia naik ke atas jok tapi tidak menyalakan mesin.
"Agnesa, ayo masuk. Papa sudah nunggu," Mahendra menghampiri, mencoba menarik lembut lengan Agnesa.
Agnesa menepis tangan Mahendra. Tindakan itu cukup keras hingga membuat Mahendra tertegun.
"Sebentar, Mahendra. Saya mau bicara soal... laporan baksos besok," alasan Agnesa terdengar sangat lemah, bahkan untuk telinganya sendiri.
Naren terkekeh. Sebuah kekehan kering yang tidak sampai ke mata. "Laporan baksos jam setengah delapan malam? Rajin bener ya Ketua OSIS kita."
Naren mengeluarkan sebatang rokok dari telinganya. Ia menyalakannya dengan pemantik api.
Ctek.
Asap pertama ia embuskan ke udara, matanya menatap langit hitam tanpa bintang.
"Sana balik masuk. Entar dicariin Papa lo. Kasihan Mahendra udah pake batik mahal gitu dicuekin," kata Naren sambil menghisap rokoknya lagi.
Sikapnya sangat santai, seolah ia sedang bicara dengan orang asing, bukan dengan gadis yang tadi siang ia belikan susu stroberi.
Agnesa mengepalkan tangannya di samping gaun birunya. "Kamu benar-benar menyebalkan, Naren."
"Gue emang menyebalkan. Baru tau?"
Agnesa berbalik dan masuk kembali ke dalam kafe dengan langkah yang dihentak-hentakkan.
Mahendra mengikuti di belakangnya dengan tatapan tajam ke arah Naren sebelum pintu kaca tertutup.
Naren membuang rokoknya yang baru dihisap dua kali ke aspal. Ia menginjaknya sampai padam.
Srek.
Ia menyalakan mesin motornya.
Vroooom!
Kali ini ia benar-benar melesat pergi, memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju jalanan yang lebih sepi.
Di dalam kepalanya, bayangan Agnesa yang menepis tangan Mahendra terus berputar-putar seperti laron di sekitar bohlam warung tadi.
Naren sampai di rumahnya yang besar tapi sepi.
Ia memarkir motornya di garasi tanpa merapikan posisinya.
Ia masuk ke rumah, melewati ruang tengah yang gelap tanpa menyalakan lampu.
Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan diri di atas kasur tanpa melepas jaket atau sepatu.
Ia menatap langit-langit kamar, lalu merogoh ponselnya.
Ada satu pesan baru dari Agnesa.
Jangan lewat sini lagi.
Naren tidak membalas. Ia hanya menaruh ponsel itu di samping bantalnya dan memejamkan mata rapat-rapat.
Malam semakin larut di Bandung.
Di kafe kolonial itu, Agnesa duduk kembali di mejanya, memegang garpu dengan jari yang masih sedikit gemetar.
Di depannya, steak mahal yang tadinya terlihat menggiurkan kini benar-benar terasa seperti tumpukan karet yang dingin.
Di bawah meja, ia terus mengusap punggung tangannya yang tadi sempat disentuh Mahendra, seolah ada noda bensin yang tertinggal di sana, padahal yang ada hanyalah aroma parfum mahal yang kini terasa menyesakkan.
Tik... tok... tik... tok...
Jam di dinding kafe terus berdetak, menghitung detik-detik menuju hari Jumat yang mungkin akan membawa lebih banyak kerikil di sepatu masing-masing.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Dari siapa, Bi?"
"Enggak tahu, Non. Tadi dititip ke Pak Jaka sama anak laki-laki pakai motor berisik, katanya buat Ketua OSIS yang galak."
Naren Kirim Sate Misterius? Cari Tahu Kelanjutan Cerita Mereka di Bab 19: Hadiah Malam Hari