WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Sekali lagi, Winda memberikan surat gugatan pada Tama. Tama langsung merobek surat tersebut lalu pergi ke kamar mandi. Dengan bodohnya Tama tiba-tiba saja menenggak cairan pembersih lantai.
Winda syok, panik berusaha menghalangi tapi sudah terlambat. Hanya beberapa menit dari menenggak cairan pembersih lantai, Tama langsung keracunan.
Gaduh lah Winda, wanita ini meminta bi Marni untuk memanggil beberapa karyawan Tama untuk membantunya membawa Tama ke rumah sakit.
"Dasar lelaki bodoh!" umpat Winda dalam hati.
Winda langsung menghubungi kedua orang tuanya dan adik iparnya untuk memberitahukan tentang Tama.
Weni dan Anwar tiba terlebih dahulu di rumah sakit lalu di susul Diana, Herman dan Cindy.
Plak,.....
Tiba-tiba saja Diana menampar wajah Winda, menjambak rambut menantunya itu.
"Kau apa kan anak ku hah?" Diana emosi.
Winda yang masih syok hanya diam saja, Weni terus membela anaknya, menarik Winda agar menjauh dari mamah mertuanya.
"Mah, mas Tama mau bunuh diri," lirih Winda benar-benar syok.
"Kok bisa?" tanya Anwar penasaran.
"Aku menggugat mas Tama lagi. Dia tidak mau bercerai dari ku!"
"Perempuan jahat kau Winda. Kau ingin membunuh anak ku!" ucap Diana tidak terima.
"Semua bukan salah ku!" seru Winda membela diri, "Tama saja yang tidak mau menceraikan ku."
"Seharusnya kalian bisa bicara baik-baik. Ini sangat berbahaya, jangan bermain soal nyawa!" ujar Herman.
"Tama sendiri yang tidak mau menceraikan ku. Dia yang menyakiti tapi dia sendiri yang merasa tersakiti. Lucu sekali...!"
"Kau saja yang jahat jadi perempuan!" seru Diana terus menyudutkan Winda.
"Terus saja menyalahkan anak ku, anak mu itu adalah raja yang tidak pernah salah," sahut Weni emosi.
Tak berapa lama Dokter yang menangani Tama keluar. Diana yang hendak menerobos masuk langsung di tahan oleh Dokter.
"Pasien hanya ingin bertemu dengan istrinya," ujar Dokter memberitahu.
"Tapi aku mamahnya lebih berhak!" kata Diana semakin emosi.
"Mah, bisa tenang tidak?" Cindy gemas sendiri dengan sikap mamahnya.
Winda acuh, tidak peduli pada Diana. Winda langsung masuk kedalam ruangan mengikuti Dokter.
Winda hanya memejamkan mata sejenak, menghela nafas panjang lalu menghampiri suaminya yang terbaring lemas tak berdaya. Bibir Tama tampak membiru, wajahnya pucat matanya merah.
"Dasar bodoh!" umpat Winda.
"Aku tidak mau bercerai dari mu," ucap Tama dengan nada pelan bergetar.
Huft,....
Winda hanya diam saja, merasakan tangan suaminya yang erat menggenggam tangannya. Tangan dingin dan sedikit bergetar.
"Terserah kau lah mas, aku pusing dengan keadaan kita ini," ucap Winda.
Winda hanya duduk di samping suaminya, Tama masih erat menggenggam tangan Winda bahkan sampai Tama terlelap tidur.
Ada rasa iba melihat keadaan suaminya, tapi hati yang sakit sudah membuat Winda mati rasa.
"Aku harus apa sekarang?" batin Winda terus bertanya-tanya.
Setelah keadaan Tama mulai membaik baru lah pria ini di pindahkan ke ruang rawat. Masih tetap sama, Diana terus mengomel menyalahkan Winda hingga membuat Winda semakin jengah dan membenci ibu mertuanya ini.
Sementara itu, Weni dan Anwar sudah pulang sejak tadi. Jadi, tidak ada yang membela Winda selain Tama itu sendiri.
"Mah, berhenti menyalahkan Winda. Aku yang salah!" ucap Tama membela istrinya.
"Perempuan seperti ini bisa-bisanya kau nikahi dan kau pertahankan. Dia sudah hampir membunuh mu!"
"Aku tidak ada niatan membunuh Tama!" tegas Winda.
"Heleh,...ini apa buktinya?"
"Mah, sudah cukup. Biarkan Tama istirahat!" bentak Herman.
"Mamah ini apa-apa menyalahkan kak Winda. Mamah sadar gak sih kalau mamah sendiri benalu dalam rumah tangga mereka?"
Cindy angkat bicara.
"Tetap saja dia yang ingin membunuh anak ku!"
Winda jengah, pusing dan stres. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Winda langsung keluar dari ruangan tersebut lalu pergi entah ke mana.
Satu dua tiga hari Tama di rawat di rumah sakit Winda sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Winda tidak merawat Tama, hatinya sangat sakit atas sikap mertuanya.
Winda lebih memilih menghabiskan waktu bersama Nita dan om Anton di sebuah Villa yang selama ini menjadi tempat mereka berkumpul. Tanpa memperdulikan kedua anak dan suaminya, Winda hanya sibuk pada dirinya sendiri.
"Cerai Winda, mamah tidak mau tahu. Kau harus menceraikan perempuan jahanam itu." Diana terus menakan Tama.
"Mah, lebih baik mamah pergi dari rumah ku. Aku muak, aku bosan mendengar suara mamah!"
"Keterlaluan kau Tama, demi perempuan itu kau hampir kehilangan nyawa bahkan kau tega melawan mamah."
"Rubahlah sikap mamah agar Winda bisa berlaku baik mah. Jangan apa-apa menyalahkan Winda, semua ini aku yang salah. Winda tidak salah apa-apa."
"Bela terus, terus saja kau membela perempuan tidak tahu balas budi itu. Lebih baik kau menikah dengan Nadia, dia yang terbaik untuk mu!"
"Mah, silahkan pergi....!" sekali lagi Tama mengusir mamahnya.
"Istri macam apa dia, sudah mau menghilangkan nyawa suaminya, tiba-tiba menghilang tanpa kabar."
"Mah pergi....!" teriak Tama mengejutkan Diana.
Diana mendengus kesal, mau tidak mau ia langsung keluar dari rumah anaknya. Tama terduduk lemas, dadanya masih suka terasa nyeri. Untung saja kedua anaknya di asuh oleh sang mertua. Hanya mamah Weni yang mau mengasuh kedua cucunya karena Diana sama sekali tidak peduli.
"Minum dulu mas," kata bi Marni yang membawakan segelas air putih.
"Terimakasih bi," ucap Tama.
Tama mencoba menghubungi Winda tapi tetap saja ponsel Winda mati. Hanya bisa menahan sabar atas sikap Winda yang sangat jauh berubahnya.
Sementara itu, Winda yang jauh entah di mana sedang asyik menikmati party kecil-kecilan yang di buat Nita.
"Kau tidak pulang kah Win?" tanya Nita.
"Tidak, aku stres kalau pulang."
"Kasihan anak-anak mu. Suami mu pasti pusing sekarang."
"Bodoh amat, ada mamahnya yang bakal ngurus dia."
"Pulang lah Win, jangan buat suami mu khawatir."
"Om Anton lebih asyik di banding Tama!" ucap Winda kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Nita.
Om Anton, meskipun sudah tua tapi jiwa mudanya masih menggebu. Bisa-bisanya Winda selingkuh dengan teman dekat dari papah mertuanya sendiri.
Di hari keempat baru lah Winda pulang, rumah tampak sepi Winda juga tidak peduli. Tama keluar dari kamar, Senyumnya lebar saat melihat sang istri.
"Kau kemana saja, kenapa baru pulang?"
"Suka-suka aku mau kemana dan jangan banyak tanya!" sahut Winda berlalu masuk ke dalam kamar dan langsung membaringkan diri di atas tempat tidur.
"Win, aku sakit kenapa kau sama sekali tidak peduli hah?"
"Hanya fisik mu yang sakit, kenapa kau manja sekali?" ketus Winda, "lalu bagaimana dengan hati ku yang kau dan mamah mu hantam terus sampai hancur. Kenapa kau tidak peduli?" Winda malah balik bertanya, membuat Tama mati ucap dan hanya bisa duduk diam di tepi ranjang.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi