Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. Kekhawatiran Opa Johan
Setelah kepulangan Devan beberapa saat yang lalu, Mala kembali menggambar beberapa model pakaian yang belum sempat ia selesaikan.
Rasa tak sabar melingkupi hatinya, ia begitu excited menanti pameran fashion yang diselenggarakan oleh anak perusahaan Daddy Arthur yang sekarang dikelola oleh kakak iparnya.
"Mala, siapa namanya tadi?." Pertanyaan itu dilayangkan Kinan. Sambil membereskan beberapa tumpukan kertas diatas meja kerja Mala.
Gadis itu tersenyum menggoda, sedari tadi Kinan menanyakan tentang kakak iparnya.
"Kenapa? Kamu suka dengan Kak Devan?" Godanya jahil seraya menyenggol bahu Kinan.
"Nggak, tapi dia itu.. berbeda." Sahutnya tersipu malu.
Mala setuju dengan argumen temannya itu, pria itu seolah punya magnet tersendiri yang otomatis membuat wanita yang didekatnya terpesona. Bukan karena wajah tampannya saja, namun lebih tepatnya sikap dan wibawa Devan yang mencerminkan pria bermartabat.
"Kamu mau aku bantu kenalan dengan dia?" Kinan sontak menggeleng, ia hanya kagum saja. Tak ada niat lain. Apalah dirinya jika dibandingkan dengan keturunan Fernandez yang merupakan pebisnis ulung daridulu. Ia hanya gadis desa yang memperoleh kesempatan bekerja guna menyambung hidupnya.
"Nggak, Mala. Kamu ada ada saja."
Mereka berhenti membicarakan pria yang mereka kagumi dan kembali membahas pameran yang akan datang seminggu lagi. Mempersiapkan apa saja yang sudah dijelaskan oleh Devan supaya kegiatannya nanti berjalan dengan lancar tanpa kendala.
****
"Pak, meeting dalam satu jam lagi. Anda tidak bisa pergi begitu saja." Pria yang ditugaskan sebagai sekretaris Danzel itu mengejar bosnya yang sudah berdiri di depan lift.
Pandangan Danzel cuek, ia berdecak kesal saat tahu sekretaris nya itu mengikutinya sampai kedepan pintu lift.
"Aku juga ada pertemuan penting, bisakah kau yang gantikan?"
"Maaf pak, pertemuan ini adalah dengan pemimpin langsung dari perusahaan klien. Kalau saya yang menggantikan, takutnya beliau tersinggung dan kita gagal mendapatkan dananya." Masih berusaha menjelaskan pada atasan barunya itu walaupun ia tampak acuh.
"Dia pasti akan tanda tangan, tenang saja. Dia akan rugi jika tak bekerjasama dengan kita." Putusnya. Kaki Danzel lalu melangkah menuju lift dan segera menutup pintunya supaya pria yang mengekor padanya tersebut tak bisa masuk.
Pria itu menghela napas kasar.
"Roy!" Panggil seseorang mendekat.
"Bagaimana pak Danzel, beliau bisa datang kan ke meeting nanti." Sambungnya lagi seraya menepuk bahu temannya.
Sekretaris baru Danzel yang bernama Roy itu menggeleng lemah. Menatap pintu lift dengan kesal.
"Waktu masih dipimpin bos yang lama semuanya lancar lancar saja, entah apa yang akan terjadi pada hotel ini kalau dikelola oleh cucu tuan Johan itu."
Teman sejawatnya itu turut prihatin. "Sabar, beliau memang masih muda dan labil. Kita lihat beberapa bulan kedepan, semoga beliau cepat belajar cara mengelola hotel dengan baik."
Ia hanya mengangguk menanggapi temannya. Pada akhirnya dia juga yang harus menghadiri meeting penting tersebut.
Meeting berjalan tak sesuai rencana. Presentasi yang dilakukan Roy memang sangat bagus dari segi materi. Namun hanya satu hal yang kurang dari pertemuan kali ini ialah tak hadirnya pemimpin perusahaan. Klien dari Jepang yang sudah cukup berumur itu merasa kurang dihargai dan akhirnya menolak tanda tangan kontrak.
"Kacau Roy, kalau pak Danzel begini terus lama lama hotel ini bisa bangkrut."
"Padahal kita tengah membutuhkan suntikan dana besar untuk pembangunan."
"Sekarang Mr. Reinhard adalah satu satunya harapan. Jika beliau menolak kerjasama juga, maka kita harus melakukan sesuatu."
Para karyawan kantor itu saling berdiskusi saat jam makan siang. Membahas masa depan perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup.
Memang Johanes Fernandez memiliki banyak usaha diberbagai bidang, hotel ini hanyalah anakan saja. Tapi tetap saja nasib para karyawan itu bergantung padanya.
***
Hari sudah menjelang malam saat Mala dan para sahabat perempuannya itu membereskan butiknya yang seperti kapal pecah. Pasalnya siang tadi mereka harus merampungkan semua pekerjaan yang tersisa sebelum hari pameran tiba.
"Mala, semua dokumen sudah aku siapkan di meja. Gaun yang belum selesai kita lanjutkan besok saja ya, sudah mau malam." Vivi berujar, tangannya sibuk menyapu lantai yang kotor.
Mala mengiyakan perkataan temannya.
"Mala, diluar ada tamu." Kinan berjalan bergegas mendekati Mala. Wajahnya tampak terkejut melihat siapa yang datang.
"Siapa?"
"Kamu lihat sendiri." Balasnya.
Dahi gadis itu itu mengernyit heran, ia mengayunkan kakinya memasuki ruang tamu dan langsung tersenyum cerah saat tahu siapa yang datang.
"Opa!" Mendekat dan mencium punggung tangan opa dengan senang. Senyum Mala merekah, sudah lama ia tak bertemu pria tua itu.
"Bagaimana kabarmu, nak? Opa sengaja lewat sini agar bisa mampir ke tempatmu." Mengelus kepala cucu menantunya itu dengan sayang. Pandangan penuh kasih terpancar dari matanya yang lelah.
"Aku baik opa, terimakasih sudah mampir." Ayu memasuki ruangan dan menyajikan minuman. Tersenyum ramah dan kembali ke belakang.
Pria tua itu menarik sudut bibirnya yang sudah termakan usia. "Langsung saja, opa ingin mengatakan sesuatu padamu."
Jantung Mala berdetak lebih intens kala melihat raut wajah opa berubah.
"Ada apa, opa?"
"Beberapa orang kantor mengeluhkan tentang Danzel yang kurang bertanggung jawab mengurus salah satu hotel opa."
Mala menunduk, ia tahu hal tersebut. Tapi memang tak bisa melakukan apapun untuk merubah suaminya sendiri.
"Opa hanya ingin bertanya, apa selama pernikahan kalian, Danzel bersikap buruk padamu dibelakang opa?" Tatapan opa Johan menusuk, ia seolah mencari kebenaran dalam manik mata cucu dari sahabat lamanya itu.
Mala tak dapat menutupi kegugupan yang ia rasakan. Tatapan opa menguncinya hingga ia sulit berkata - kata. Memang awal - awal lelaki yang berstatus suaminya itu sangat menyebalkan. Namun entah mengapa belakangan ini sikapnya berubah drastis. Menjadi lebih manis dan pastinya ia selalu lengket dengan Mala.
Mala rasa, ia mulai menyukai lelaki menyebalkan itu.
"Danzel sudah lebih baik sekarang, dia memperlakukan Mala dengan baik." Tersenyum lembut.
"Namun untuk urusan pekerjaan, Mala tidak tahu, opa. Danzel mungkin belum mampu bertanggung jawab penuh untuk itu. Tapi tiap pagi dia selalu pergi ke kantor."
"Apa dia benar - benar pergi ke kantor setiap hari."
"Iya, opa. Mala yakin. Dia baru akan pulang malam atau sore hari. Sekarang mungkin dia juga belum pulang."
Opa Johan tampak menghela napas berat. Guratan wajahnya yang termakan usia itu tampak lelah dan banyak pikiran. Tersirat kegelisahan dalam wajahnya.
"Opa selalu khawatir pada Danzel. Dia adalah pewaris terbesar untuk Fernandez Groub. Bagaimana kalau nanti opa meninggal tanpa berhasil mendidiknya. Opa takut saat hari itu tiba Danzel belum siap mengemban segala tanggung jawabnya."
"Kamu tahu, Aisha dan Arthur sudah menyerah mendidik Danzel dan mengirimnya ke Indonesia dengan harapan ia bisa berubah dalam pengawasan opa. Opa takut-"
"Opa, jangan berkata begitu." Gadis itu menggeser tubuhnya mendekat. Menggenggam tangan tua itu dengan lembut. Sorot matanya seolah memberikan semangat dan harapan. Mala benar benar tak tega melihat pria tua di depannya.
Padahal di usianya seharusnya sudah bersantai menikmati masa tua. Namun masih harus memikirkan banyak hal.
"Aku yakin Danzel akan berubah suatu saat nanti. "
"Itulah harapan opa saat menikahkanmu dengan Danzel. Semoga dengan beristri dia menjadi lebih dewasa dan memikirkan masa depan. Tapi agaknya susah sekali merubah anak itu."
Mala mengeratkan genggamannya, menyalurkan keyakinan.
"Aku yakin Danzel akan menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab sehingga bisa mengelolah Fernandez Groub dengan baik."