NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP

"Empat bulan."

"Itu baru empat bulan nikah, kan?"

"Iya."

"Lho kok sudah lahiran?"

"Makanya..."

Suara tawa kecil terdengar dari warung depan jalan.

Tidak keras.

Tetapi cukup untuk membuat orang yang dibicarakan merasa ditampar.

Pagi itu langit mendung.

Awan hitam menggantung sejak subuh.

Udara terasa lembap.

Angin berembus pelan di sela-sela pepohonan.

Di rumah Bu Sri suasana justru jauh berbeda.

Panik.

Ramai.

Penuh suara langkah kaki.

Seline sedang menahan kontraksi.

Keringat membanjiri wajahnya.

Tangannya mencengkeram sprei.

Sementara Bu Sri mondar-mandir seperti orang kehilangan arah.

"Aduh Ya Allah..."

"Ini bidannya mana?"

Kontraksi datang lagi.

Seline menjerit.

"Bu!"

"Aduh sakit!"

Wisnu yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung menghampiri.

"Line!"

Seline memegang tangannya erat.

Sangat erat.

Sampai kuku-kukunya menancap ke kulit Wisnu.

"Aku takut..."

Bisiknya.

Untuk sesaat.

Wisnu merasa iba.

Bagaimanapun juga.

Perempuan ini sedang mengandung anaknya.

Anak laki-laki yang selama ini ditunggunya.

"Tenang."

"Aku di sini."

Namun di luar rumah.

Beberapa tetangga sudah berkumpul.

Bukan karena khawatir.

Melainkan penasaran.

Seperti biasa.

Kampung kecil selalu punya cara sendiri untuk menikmati drama.

"Sudah mau lahiran katanya."

"Iya."

"Cepat juga."

"Cepat apanya?"

"Hitung sendiri saja."

Lalu mereka tertawa.

Seline mungkin tidak mendengar.

Tetapi gosip itu terus berputar.

Dari mulut ke mulut.

Dari rumah ke rumah.

Seolah tidak akan pernah habis.

Mobil akhirnya berangkat menuju klinik bersalin.

Sepanjang jalan.

Seline terus menangis.

Sesekali menjerit.

Sesekali mengatur napas.

Wisnu duduk di sampingnya.

Sedangkan Bu Sri terus membaca doa.

Meski begitu.

Jauh di dalam hatinya.

Ia tahu.

Ketika anak ini lahir nanti.

Orang-orang akan kembali menghitung bulan.

Menghitung tanggal.

Menghitung usia kandungan.

Dan kembali membicarakan mereka.

Di saat yang sama.

Ratusan kilometer dari sana.

Nandin sedang duduk sendirian di sudut halaman pondok rehabilitasi.

Matanya kosong.

Tangannya memainkan rumput liar.

Seorang pengurus lewat.

"Nandin."

Perempuan itu tidak menjawab.

"Nandin."

Masih tidak menjawab.

Tatapannya tetap lurus ke depan.

Seolah tubuhnya berada di sana.

Namun pikirannya berada di tempat lain.

Tempat yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu.

Empat bulan.

Empat bulan sejak ia dibawa ke pondok.

Empat bulan sejak hidupnya runtuh.

Empat bulan sejak ia kehilangan semuanya.

Namun luka itu tidak membaik.

Justru semakin dalam.

Kadang ia menangis semalaman.

Kadang tidak tidur dua hari.

Kadang berteriak memanggil ayah dan ibunya.

Kadang memanggil nama yang tidak dikenali siapa pun.

Kadang bahkan melukai dirinya sendiri.

Para pengurus mulai memahami.

Bahwa Nandin bukan sekadar sakit.

Ia sedang tenggelam.

Dan belum menemukan alasan untuk kembali ke permukaan.

Menjelang siang.

Tangisan bayi akhirnya terdengar di klinik.

Nyaring.

Kuat.

Panjang.

Membuat semua orang langsung tersenyum lega.

Wisnu yang sejak tadi mondar-mandir langsung berdiri.

Pintu ruang bersalin terbuka.

Seorang bidan keluar.

"Selamat."

"Anak laki-laki."

Wajah Wisnu langsung berubah.

Bahagia.

Bangga.

Lega.

Semuanya bercampur menjadi satu.

"Laki-laki?"

"Iya."

"Sehat."

Wisnu tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Ia benar-benar terlihat bahagia.

Bu Sri langsung menangis.

"Alhamdulillah..."

"Cucu laki-laki."

Kalimat itu terus diulang.

Seolah seluruh dunia baru saja menghadiahinya sesuatu yang sangat berharga.

Bayi itu diberi nama Raka.

Tubuhnya kecil.

Wajahnya merah.

Tangisnya keras.

Dan sejak hari pertama.

Ia langsung menjadi pusat perhatian rumah itu.

Saat Seline pulang membawa Raka.

Rumah Bu Sri kembali ramai.

Tetangga berdatangan.

Saudara berdatangan.

Semua ingin melihat bayi baru.

Namun seperti biasa.

Setiap ucapan selamat selalu diselipi sesuatu.

Sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.

"Lucu ya bayinya."

"Iya."

"Mirip ayahnya."

"Haha."

"Lahirnya cepat juga."

Dan percakapan itu pun dimulai lagi.

Seline awalnya berusaha tidak peduli.

Ia memilih fokus pada anaknya.

Pada kehidupannya.

Pada keluarga kecil yang kini dimilikinya.

Namun semakin lama.

Bisikan itu semakin mengganggu.

Karena setiap kali ia keluar rumah.

Ia merasa orang-orang sedang membicarakannya.

Dan sering kali.

Perasaannya benar.

Di pondok rehabilitasi.

Hari-hari Nandin berjalan lambat.

Sangat lambat.

Pagi.

Dzikir.

Makan.

Minum obat.

Terapi.

Tidur.

Lalu mengulang semuanya lagi.

Namun ada satu hal yang berbeda.

Ia mulai sering bermimpi.

Mimpi tentang dua anak kecil.

Dua anak perempuan.

Yang selalu memanggil seseorang.

Mama.

Mama.

Mama.

Suara itu terdengar sangat dekat.

Sangat akrab.

Namun setiap kali ia bangun.

Wajah anak-anak itu menghilang.

Seperti asap.

Suatu malam.

Nandin terbangun sambil menangis.

Dadanya sesak.

Jantungnya berdetak cepat.

Seorang pengurus langsung menghampiri.

"Nandin?"

Perempuan itu terisak.

"Ada yang hilang..."

"Apa?"

Nandin menggeleng.

"Aku gak tahu."

Tangisnya semakin keras.

"Tapi ada yang hilang..."

Pengurus itu hanya bisa memegang tangannya.

Karena bahkan mereka pun tidak tahu.

Bahwa yang hilang adalah dua anak yang setiap malam masih menunggu kepulangannya.

Waktu terus berjalan.

Raka tumbuh sehat.

Wisnu terlihat semakin sayang kepada anak laki-lakinya.

Ia sering menggendongnya.

Mengajaknya bermain.

Membelikannya berbagai keperluan.

Hal yang dulu jarang ia lakukan ketika Shella dan Sherly masih bayi.

Dan itu diam-diam membuat Bu Sri semakin memanjakan Raka.

"Cucu laki-laki Nenek."

"Anak ganteng."

"Calon penerus keluarga."

Kalimat itu terdengar hampir setiap hari.

Sementara itu.

Shella dan Sherly mulai terbiasa hidup tanpa ibunya.

Setidaknya di mata orang dewasa.

Namun kenyataannya tidak.

Mereka masih sering bertanya.

Masih sering mencari.

Masih sering menangis diam-diam.

Suatu malam.

Sherly memeluk boneka lusuhnya.

"Kak."

"Hm?"

"Mama lupa sama kita ya?"

Pertanyaan itu membuat Shella terdiam.

Anak sekecil itu seharusnya tidak perlu memikirkan hal seperti ini.

Namun mereka terpaksa.

Karena kehilangan terlalu cepat datang dalam hidup mereka.

"Aku gak tahu."

jawab Shella pelan.

"Aku kangen Mama."

Sherly mulai menangis.

Dan malam itu.

Dua anak kecil tertidur sambil memeluk foto lama yang diam-diam mereka simpan.

Foto seorang perempuan bernama Nandin.

Perempuan yang mereka rindukan setiap hari.

Perempuan yang saat itu sedang duduk sendirian di bawah langit malam.

Menangis karena merasa kehilangan sesuatu.

Namun tidak tahu apa.

Dan di sanalah takdir mulai bergerak perlahan.

Mempersiapkan jalan panjang yang suatu hari akan mempertemukan kembali seorang ibu dengan anak-anaknya.

Meski sebelum hari itu tiba.

Mereka semua harus melewati lebih banyak luka.

1
sunaryati jarum
Semoga Shela dan Sherly diserahkan Nandin karena keadaan Wisnu dan keuangan ibunya
Wawan
1 iklan dan mawar buatmu Thor
sunaryati jarum
Bu Sri dan Wisnu semoga tidak bisa membiayai kehidupan dan pendidikan Shela dan Sherly karena toko sepi dan uang Wisnu untuk berobat,maka diserahkan Bu Rini dan diserahkan Nandin
차니 Chani🇰🇷🇲🇨
Semangat Ibu Nandin, jaga kesehatan♡
차니 Chani🇰🇷🇲🇨
Kalau lebih nafkah apa salahnya bagi ke istri yg sdh dihamili, kembar lagi. Memangnya uang jatuh dari langit? Bahkan di Korsel itu disebut 'pria sundel' lho 😑😆😂
차니 Chani🇰🇷🇲🇨
Wah.. ini orang harus digoreng jadi kerupuk aja deh. Ga pantas jadi manusia 😑
차니 Chani🇰🇷🇲🇨
dicuekin sdh spt dikhianati rasanya ya.. wkt pacaran aja gitu apalagi kalau sdh menikah, hamil lg..🤧
차니 Chani🇰🇷🇲🇨
Aku juga mampir kak 😆
sunaryati jarum
Semoga memang mereka berjodoh
sunaryati jarum
Sangat bagus Is the best
Dhatu Lukita: terimakasih banyak atas dukungannya😉😍.
jangan bosen2 yaa😉❤️
total 1 replies
sunaryati jarum
Sepertinya orang tua Nak Iqbal sudah memberi lampu hijau.Ayo Nandin buka hatimu untuk Nak Iqbal, Semoga hidupmu nanti bahagia bersamanya serta kedua putrimu.Wisnu kena HIV putrimu masih kecil ambil saja agar tidak ketularan.
D. Nightshade
cepetin part iqbalnya lahh
sunaryati jarum
Jika Seline tertular berarti Raka yang kena.
Wawan
Iklan dan kembang buat si Kembar ✍️
Dhatu Lukita: terimakasih banyaaakk 😍
total 1 replies
Zanahhan226
huhu..
semangat pejuang rupiah..
semangat pejuang garis dua..
dan semangat untuk menulisnya, kak..
🥰🥰🥰
Dhatu Lukita: semangat untuk kita semua hehehe 😍
total 1 replies
Zanahhan226
halo, kak..
aku mampir lagi..

cerita yg bikin aku sadar, jgn trlalu percaya ke siapapun meski itu suami sndiri..
🥲🥲🥲
Zanahhan226
lelaki macam apa dia ini, kn dia yg ngehamilin hm..
sunaryati jarum
Bab ini Authoor banyak memberi bawang merah,namun ikut senang dan terharu.Sepertinya Wisnu kena HIV
차니 Chani🇰🇷🇲🇨
Aku pingin ada jiwa pemberontak dalam jiwa Nandin kak 😂 "Pokoknya ga bisaaa ibuuu Sriii!!" 🤭
Dhatu Lukita: hehehhe🤭
total 1 replies
차니 Chani🇰🇷🇲🇨
Hmm harusnya diajak bicara lagi ibu mertuanya.. kalau ga nanti Nandin diperlakukan spt sampah.. semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!