Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Entahlah... Tiba-tiba saja anak Pak Baskara pulang dalam keadaan menggigil hebat," cerita salah satu pekerja dengan nada heran.
"Padahal saat dibawa ke dokter, suhu badannya malah tercatat normal dan stabil. Tapi anehnya, anak itu terus mengaku kedinginan sampai badannya membiru. Sudah dibawa ke orang pintar juga, kata mereka... anak itu kena gangguan atau ditegur makhluk halus, mungkin dibawa atau dimasuki roh orang bunian," tambahnya lagi.
Mendengar itu, pria yang bertanya langsung terbelalak kaget.
"Masa sih? Wah, serem juga ya. Terus bagaimana nasibnya sekarang? Apa sudah bisa disembuhkan?"
"Belum dong," sahut Mandor yang lain sambil menggeleng kepala.
"Kata orang pintarnya, roh atau makhluk itu sudah terlalu kuat masuk ke dalam tubuh dan tidak mau keluar. Jadi anak itu sekarang seperti orang linglung dan terus terbaring lemah."
Di kejauhan, Ghaizka yang sedang mengistirahatkan tangannya sebentar, diam-diam mendengar seluruh percakapan itu.
Matanya berkilat tajam, otaknya mulai bekerja cepat.
"Hm... Dimasuki makhluk halus atau gangguan supranatural ya..." batin Ghaizka merenung.
"Jika ini benar adanya, berarti penyakitnya bukan penyakit biasa. Dokter biasa pasti tidak bisa menanganinya. Tapi... kalau aku yang menanganinya? Dengan ilmu pengobatan kuno dan energi dalam yang aku punya... mungkin bisa aku menyembuhkannya," katanya dengan percaya diri.
Sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya.
"Jika aku bisa menyembuhkan anak itu, setidaknya aku bisa mendapatkan imbalan yang lumayan banyak. Uang itu bisa aku pakai untuk mengubah nasib hidupku dan anakku yang susah ini. Dan yang paling penting... ini kesempatan bagus untuk mengasah dan membuktikan kehebatan ilmu pengobatanku!"
Tekad Ghaizka bulat. Ia akan menolong anak itu!
Namun, sebelum pergi, ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ghaizka kembali ke tumpukan janjang sawit.
Dengan tenang, ia mulai mengangkat tandan-tandan besar dan berat itu satu per satu.
Angkat! Taruh! Angkat! Taruh!
Gerakannya begitu cepat dan kuat. Ia tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Ia melakukannya sendirian!
Di dekat sana, para ibu-ibu yang sedang istirahat melihat pemandangan itu dengan mata terbelalak.
"Eh... Itu Ghaizka ya? Sejak kapan dia jadi sekuat itu?" tanya salah satu ibu-ibu penasaran.
Mereka tahu betul beratnya satu tandan sawit. Apalagi untuk mengisi satu mobil truk besar, butuh tenaga ekstra.
"Satu mobil itu isinya bisa sampai 10 ton lho! Dan lihat itu... dia sedang mengisi dua mobil sekaligus! Itu berarti total 20 ton yang dia angkat sendirian?!" seru yang lain tak habis pikir.
"Ghaizka makan apa sih sebenarnya kok bisa sekuat gitu? Badannya kurus tapi tenaganya luar biasa!" gumam mereka berdecak kagum.
Mandor yang melihat kejadian itu juga melongo. Ia mengusap matanya berkali-kali memastikan tidak salah lihat. Tenaga Ghaizka hari ini benar-benar tidak masuk akal, melebihi tenaga manusia biasa!
Tiga jam berlalu begitu saja...
Dug!
Tandan sawit terakhir berhasil dimasukkan. Kedua mobil truk itu kini sudah penuh sesak dan siap diantar ke pabrik.
Ghaizka turun dari bak mobil dengan santai, wajahnya hanya sedikit berkeringat, tidak terlihat terlalu lelah sama sekali, hanya saja tangannya penuh luka-luka karena Duri sawit itu.
"Wah! Mantap betul Ghaizka! Luar biasa kuat sekali tenagamu hari ini!" seru Mandor itu mendekat dengan wajah penuh senang.
Ia langsung merogoh tasnya dan mengambil segepok uang tunai.
"Ini ganjarannya! Karena kerja bagus dan cepat, tambahan buat kamu!" kata Mandor itu sambil menghitung uangnya.
Ia menyerahkan uang tersebut ke tangan Ghaizka.
"Totalnya satu juta rupiah! Cepat pegang, itu hasil keringatmu sendiri!"
Ghaizka menerima uang itu dengan senyum puas. "Terima kasih, Pak!"
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...