"Caca gadis cantik pemilik toko bakery yang sangat mencintai seorang abdi negara namun berkali kali di buat kecewa dan memberi harapan dan menghilang selamanya.."
tidak itu saja kehidupan Caca selalu di kecewakan pria yang juga gagal menikah dengannya.
Caca terjatuh dan lagi-lagi di sakiti...
tapi siapa sangka takdirnya sangat lah beruntung.
Caca di temukan dengan orang orang yang salah dengan berbagai kekecewaan lalu di pertemukan dengan cinta yang sesungguhnya..
namun kesabaran seseorang dan keikhlasannya membuat Caca bertemu dengan seorang pria tampan, terhormat, dan memiliki perusahaan
yang besar".
Pria itu bukan orang asing baginya tetapi temannya di masa dulu..
takdir seseorang tidak pernah salah dan tertukar sama halnya dengan jodoh.
yuk dikepoin cerita hidupnya Caca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lili oktarina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Perdebatan Singkat
Satu bulan sudah usia pernikahan Ardi dan Caca membuat hubungan mereka semakin erat dan romantis. Siapa pun yang melihatnya akan merasa iri tersendiri.
Pagi itu Ardi mengantar Caca ke toko. Tak begitu lama mobil yang melaju dengan cepat itu berhenti tepat di depan toko bakery milik Caca.
"Terima kasih, assalamualaikum" salam yang di berikan Caca seraya mencium tangan suaminya.
"Apakah hanya itu sayang" goda Ardi.
Caca menarik tangan Ardi kembali dan memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri. Ardi langsung memeluk istrinya itu dan memberikan ciuman yang hangat di bibirnya.
"Ayo hentikan, nanti ada yang melihat" pinta Caca sembari melepaskan pelukan erat suaminya dan membuka pintu mobil.
"Biarkan orang melihat. Aku kan mencium istriku bukan istri tetangga" jawabnya.
"Iya sayang, sana pergi nanti terlambat. Assalamualaikum.." ucap Caca tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan suaminya.
"Wa'alaikum salam. Nanti malam aku akan melanjutkannya" jawab Ardi melajukan mobilnya.
Caca hanya tersenyum dan mempercepat langkahnya masuk ke dalam toko.
"Mbak Caca" teriak Nadin.
"Assalamualaikum" ucap Caca.
"Wa'alaikum salam mbak, Nadin kangen banget sama mbak. Terakhir kali bertemu mbak waktu itu. waktu mbak pinjam kunci rumah Nadin" jawabnya.
"Iya, oh iya Din bagaimana keadaan toko? Mbak sangat merindukan suasana di toko ini" tanya Caca.
"Baik mbak, malahan semakin meningkat penghasilan kita. Oh iya mbak apakah masalah kemarin sudah selesai" jawabnya sembari bertanya karena merasa penasaran dengan kejadian yang waktu itu menimpa Caca.
"Iya itu hanya salam paham mbak saja. dan sekarang alhamdulillah sudah membaik dan semoga tidak ada masalah kedepannya" Caca tidak ingin membahas lebih detail peristiwa itu.
"Kasihan Pak Ardi, Mbak. dia seperti orang buta yang kehilangan tongkatnya. Pak Ardi terlihat gelisah sekali, Nadin tidak tega melihatnya jadi Nadin beri tahu keberadaan mbak. Maaf ya mbak" ucap Nadin seraya meminta maaf kepada Caca.
"Iya iya Mbak sudah melupakan itu semua Din, sekarang semuanya semakin membaik. hubungan Mbak dengan Ardi semakin erat, mungkin inilah hikmah yang dapat Mbak petik dari peristiwa waktu itu. Mbak juga ucapkan terima kasih kepadamu. Kamu telah banyak membantu mbak."
"Mbak kan sudah seperti kakak bagiku. Jadi aku hanya melakukan tugas seorang adik" jawab Nadin dan memeluk Caca.
"Mbak jadi terharu ni" membalas pelukan Nadin.
"Oh iya mbak, Mas Mansur itu sudah menikah apa belum sihh" tanya Nadin.
" Mansur, siapa itu Din" jawab Caca penasaran.
"Itu loh mbak seketaris pak Ardi" ucap Caca lagi.
"Oh Man. Hahahhaha....." Caca tertawa keras mendengar nama lengkap dari laki-laki itu.
"Loohh kenapa mbak ada yang lucu ya" tanyanya.
"Nggak, cuma heran aja. Seketaris itu nama aslinya Mansur. Terus coba ulangi lagi, kamu memangilnya mas Mansur. Panggilan yang sangat romantis" canda Caca kepada Nadin.
"Mbak, Bukan begitu sewaktu pak Ardi menuju rumahku untuk mencari mbak. Ia meninggalkan mas Mansur disini, laki-laki itu pun menemaniku hingga sore dan juga aku mengantarnya pulang. Apakah dia masih lajang?" Nadin bertanya kembali kepada Caca untuk rasa penasarannya.
"Kalau soal itu mbak nggak tau Din."
"Rumahnya searah dengan rumahku. Kan kasian di tinggal begitu saja sama pak Ardi" gumamnya.
"Kasian atau suka ayo ngaku. Kalau Man masih lajang terus mau apa coba" Caca menggoda Nadin.
"Aahhh mbak, Nadin masih banyak kerjaan " ia meninggalkan Caca karena rasa malunya.
Bukankah Nadin memiliki pacar, masa menyukai Man juga. Bagaimana dengan Man? siapa sebenarnya laki-laki itu. Dia masih lajang atau sudah menikah?
Caca tidak terlalu memikirkan hal itu, ia melanjutkan pekerjaannya. Seperti biasa mereka menata kue dan membersihkan toko. Pembeli pun datang bergantian. Pembeli sangat lah ramai membuat Caca dan Nadin begitu lelah. Setelah semuanya selesai mereka memesan makan siang lewat aplikasi. Nadin melihat-lihat setiap sudut toko dan merapikan yang terlihat berantakan.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri tokonya.
"Permisi" ucap pria itu.
Suara yang tak asing lagi di telinga Caca.
"Ada apa kamu kemari" suara Nadin mengeras setelah melihat pria di hadapannya.
"Ca aku ingin mengatakan hal yang sangat penting kepadamu. Aku mohon beri aku waktu" kata Yudha dengan berteriak.
"Maaf bang sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku bukan Caca yang sama tapi, aku adalah istri Ardi. Kamu harus tahu batasan mu" jawabnya tegas.
"Ca, Abang ingin menjelaskan kejadian waktu dulu. Ada hal yang lebih penting daripada itu. Ini mengenai pernikahanmu yang gagal saat itu dan pernikahanmu yang saat ini" ucapnya.
"Maaf bang, Caca tidak tertarik dengan kehidupan masa lalu sebaiknya Abang pergi tinggalkan tempat ini dan kehidupan Caca. Aku menghargaimu karena kamu adalah teman masa kecil suamiku. Jangan pernah kembali" jawab Caca.
"Suami yang kamu sebut itu. Ia adalah..." suara Yudha terhenti.
"Buat apalagi kamu datang kemari, mbak Caca sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang ini. Kamu tidak ada hentinya datang kemari. Selalu memberi luka. Apa kamu ingin menghancurkan kebahagiaan mbak caca? sebaiknya menjauh dari tempat ini untuk selama-lamanya" ucap Nadin pada Yudha dan mengusirnya.
"Sudah Din, biarkan dia pergi. Cepat bang pergi dari sini. Tempat ini telah di pasang CCTV oleh Ardi. Jadi kedatanganmu disini sudah diketahui Ardi. Sebaiknya kamu pergi" peringatan yang di berikan Caca yang sebenarnya tidak ada satupun CCTV di tokonya.
"Ca kamu harus tau. Ardi bertanggung jawab atas gagalnya pernikahanmu" ucapan terakhir Yudha yang beranjak pergi.
"Apa maksud perkataannya ya mbak" tanya Nadin.
"Mbak juga tidak tahu Din. Mbak tak ingin memikirkannya" jawab Caca tak mengubris ucapan Nadin.
"Sebenarnya Nadin penasaran dengan perkataan itu. Apakah Mbak tidak ingin menyelidikinya" tanya Nadin kembali.
"Mbak tidak ingin mengetahui hal itu, Bagaimana jika nanti hal itu membuat Mbak sakit atau mungkin akan menghancurkan hubungan Mbak dengan Ardi. Mbak tidak ingin ada keretakan di dalam rumah tangga Mbak, hanya karena sebuah masa lalu" Caca memberi sedikit penjelasan kepada Nadin agar gadis itu tidak mempertanyakan banyak hal lagi.
"Baiklah Mbak, maafkan Nadin. Nadin hanya penasaran dengan ucapan laki-laki itu. Oh ya mbak, kapan pak Ardi memasang CCTV di toko kita."
"Tidak ada CCTV di sini, mbak hanya membohongi laki-laki itu agar ia segera pergi dari sini. Mbak sangat muak melihat wajahnya. tidak ada tempat untuk laki-laki seperti dia di tempat ini" ucap Caca kepada Nadin dengan tegas.
"Oh begitu, Nadin mengira tempat ini telah dipasang CCTV."
Tak begitu lama Makan siang yang mereka pesan akhirnya tiba. Nadin berjalan ke depan toko mengambil pesanan dan membayarnya.
salam dari IKYD
semangat!
mmpir balik yah,
slm dr " Rendra dan Dalia "
Karyaku juga udah up nih kak! Jangan lupa mampir ya! 🤗💖