NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Sembilan

Vino tidak bisa menyembunyikan ekspresi tegang sekaligus khawatir dari wajahnya. Sesekali ia mengusap wajah dengan kasar.

"Ada apa, Kak?" tanya Olivia lirih. Melihat wajah kusut suaminya, tentu saja membuatnya was was.

"Mama mau ke sini," jawab lelaki itu tidak yakin. Matanya mengamati respons di wajah istrinya. Benar saja, ada keterkejutan di wajah Olivia. Walau hanya sebentar saja, setelah itu Olivia mengubah ekspresinya ke mode biasa saja.

"Tidak apa-apa," balas Olivia lirih.

Sejam menunggu dengan perasaan gugup, wanita yang ditunggu datang juga. Seperti saat bertemu sebelumnya, ibu mertua Olivia itu memasang wajah tidak bersahabat di hadapan menantunya. Sepertinya wanita yang masih tampak cantik di usianya yang mulai sepuh itu tidak peduli jika menantunya tersebut sedang dalam kesedihannya.

"Apa kabar, Ma?" Vino berjalan mendekati sang mama seraya mengulurkan salam meminta salim yang disambut dengan senyum tipis.

Lantas Sekar pun berjalan mendekati ranjang. Tidak lupa, Olivia pun mengulurkan tangan yang dibalas dengan tatapan tajam darinya.

"Kalian pulang ke rumah saja, tidak usah ke kontrakan itu lagi. Biaya rumah sakit biar Mama yang bayar kalau kalian enggak punya uang," ujar Sekar dengan nada tajam.

Olivia dengan Vino saling berpandangan. Olivia tentu saja merasa keberatan jika tinggal di rumah orang tua suaminya itu. Lagi pula, ia tidak merasa cukup kenal sekaligus dekat dengan mereka. Apalagi dengan kondisi sekarang yang tampak sekali jika mertuanya tersebut kurang menyukai dirinya.

Dering ponsel menginterupsi ketegangan dalam ruangan itu. Olivia mengambil ponselnya di nakas. Rupanya, kali ini kekhawatiran semakin menggenggam hatinya sebab telepon itu berasal dari sang ibu kandung.

"Halo, Bu ...."

"Kamu ini kenapa udah lama enggak telepon Ibu, ha? Udah sibuk di sana ngurusin suamimu itu sampai lupa sama orang tua ...." Suara Olivia tercekat di tenggorokan mendengar rentetan kalimat dari sang ibu. Ia menelan ludah susah payah dengan mata yang berkaca-kaca.

"Hm," gumam Olivia menanggapi perkataan ibunya.

"Kamu di mana sekarang?" Olivia menoleh ke arah Vino yang ternyata tengah menatapnya lekat.

Bingung harus menjawab apa, haruskah dirinya berkata jujur jika sedang dirawat di rumah sakit?

Seketika kepala Olivia terasa pusing, jantungnya pun berdegup tidak beraturan dan sangat kencang. Ia kalut. Apa yang akan terjadi jika ibunya tahu bahwa dirinya dirawat?

"Ada apa?" tanya Vino seraya melangkah mendekati ranjang. Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, lelaki itu mengambil ponsel di tangan Olivia.

Sesaat terjadi tarik menarik di antara keduanya, tetapi pada akhirnya Olivia lah yang mengalah dan memberikan benda pipih itu kepada sang suami.

"Halo, Bu. Ini Vino," ujar Vino seraya melangkah jauh keluar ruangan. Ia ingin berbicara dengan ibu mertuanya itu tanpa ada gangguan apa pun.

Sepeninggal Vino, Olivia semakin gugup karena Sekar menatapnya dengan tatapan tajam.

"Kamu tahu kan kalau anakku itu belum ada kerjaan yang mapan. Kenapa kamu tidak hati-hati sampai berakibat masuk rumah sakit dan dirawat begini," ujar Sekar ketus.

"Maaf, Ma," balas Olivia lirih. Ia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa dengan kondisinya yang seperti ini. Pikirannya terlalu kacau untuk mencerna perkataan wanita yang berdiri angkuh di hadapannya itu.

"Untuk makan dan tinggal aja susah, malah harus membayar biaya rumah sakit ...."

"Olivia bisa membayar perawatan Olivia sendiri di sini, jika itu yang Mama khawatirkan," sahut Olivia dengan suara tenang yang sangat diusahakannya.

Kedua netra Olivia membalas tatapan itu, sekuat tenaga ia menahan diri agar air matanya tidak tumpah. Dalam hati Olivia meyakinkan diri jika hal ini bukanlah apa-apa dibanding dengan rasa sakit karena kehilangan calon bayinya.

"Oh, kamu merasa bisa makanya merendahkan anak saya," timpal Sekar tidak terima. Bagaimana pun kelakuan Vino sebelumnya kepadanya, lelaki itu tetap saja menjadi anak kesayangannya. "Jadi begini wanita yang dikejarnya bahkan lebih dipilih dari keluarganya itu. Heh. Tidak ada apa-apanya dibanding Renata calon pilihan Mama ...."

Ah, rupanya sang mama masih berharap agar wanita yang dipilihnya bisa menikah dengan anak lelaki kesayangannya. Permainan ini tidak sesederhana yang Olivia pikirkan.

Olivia memilih untuk tidak menjawab perkataan ibu mertuanya itu. Ia membenahi posisi duduknya menjadi miring sampai kakinya menjuntai ke bawah ranjang.

Syukurlah, akhirnya Vino kembali ke ruangan itu. Lalu mengulurkan ponsel di tangan kepada Olivia.

"Iya, Bu ...," ujar Olivia begitu benda pipih itu diletakkan di telinga kiri.

"Kamu nurut saja sama suami kamu itu, nanti Ibu ke sana lihat kondisi kamu." Rupanya bukan suara ibunya yang terdengar melainkan suara sang ayah.

"I-ya, Yah ...." Ada kelegaan di hati Olivia saat mendengar perkataan lelaki di seberang sana.

"Kamu ini kebiasaan kalau ada apa-apa enggak mau cerita. Jaga kesehatan ya ...."

"Makasih, Yah."

Setelah mengucap salam, sambungan pun ditutup. Namun, sebelum Olivia sempat meletakkan benda pipih itu di atas nakas, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini nama Nadia yang terpampang di layar.

"Ibu, kenapa kemarin enggak datang ke rumah. Aku telepon juga enggak diangkat-angkat," cerocos gadis remaja itu.

"Maaf, Sayang. Ibu sedang berada di rumah sakit ...."

"Ma! Bu Oliv masuk rumah sakit!" Belum selesai Olivia menjelaskan kini suara gadis remaja itu berubah ke suara ibunya.

"Benar yang dikatakan Nadia, Oliv?" tanya Mama Nadia dengan nada khawatir.

"Iya, Ma ...." Olivia melirik ke arah dua orang yang sedang berusaha ia abaikan kehadirannya. Keduanya tampak saling bersitegang. Namun, Olivia berusaha untuk tidak peduli. Toh, itu bukan urusannya.

"Rumah sakit mana, kirim alamatnya. Jangan khawatir, nanti Mama yang akan membayar biaya perawatannya ...."

"Ma, enggak usah repot-repot begitu ...." Olivia merasa tidak enak hati mendengar ucapan mama Nadia itu. Walaupun jika disuruh memilih, tentulah ia akan memilih meminjam uang kepada keluarga tersebut dibanding uang dari mertuanya.

"Udah jangan mikir macam-macam. Sebentar lagi Mama ke rumah sakit. Cerita di sana saja ya. Assalamualaikum." Mama Nadia menutup telepon mereka.

"Siapa?" tanya Vino ketika menyadari Olivia melamun.

"Oh, itu ... Nadia mau ke sini," jawab Olivia pelan.

"Siapa Nadia? Jangan merepotkan orang lain Vino," ujar Sekar dengan jengkel.

"Dia itu anak les nya Oliv, Ma. Dan kami enggak ada mau ngerepotin siapa-siapa kok, Ma," jawab Vino masih dengan suara tenang.

"Kamu ini selalu saja buat masalah, buat repot. Apalagi sekarang, uang sudah enggak punya pakai acara dirawat di rumah sakit segala," keluh Sekar.

"Ma, ini musibah. Lagi pula, enggak tahu juga kecelakaan itu sengaja atau tidak. Soalnya pas banget Olivia lagi nunggu ojek di pinggir jalan. Dia ditabrak lari, Ma ...."

Olivia hanya bisa menunduk, kali ini air mata yang ditahannya sedari tadi tak lagi mampu dibendung.

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!