NovelToon NovelToon
The Privacy Life Of My Secretary

The Privacy Life Of My Secretary

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:188.1k
Nilai: 4.6
Nama Author: Nona Cantik

[Cerita lain dari Me vs Boss]

[Judul Diperbaharui!]

Bagaimana rasanya memiliki boss yang cerewet dan kepo?
Pasti rasanya mengesalkan, bukan?

Dan itulah hal yang dialami Giselle-sahabat Chelsea- yang menjabat sebagai sekretaris baru di sebuah perusahaan gadget dengan cabang terbesar di Indonesia.

Ia harus rela menghadapi pertanyaan aneh tak masuk akal, ketika sang boss menanyai tentang kehidupan privasinya.

Usia kamu berapa?
Gimana kabar mama?
Sehat-sehat aja, kan?
Kamu ada niatan untuk menikah?
Ada seseorang yang kamu suka?
Tipe cowok idaman kamu, seperti apa?
Apa yang kamu sukai dari cowok?

Dan mau tidak mau, Giselle harus menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari bosnya itu. Kadang dia berpikir,

"Apa yang diinginkan si boss?" gumam Giselle, sembari menatap langit-langit di kamarnya.

Start: 29 Maret 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#28. Kebohongan (?)

Bacanya sambil dengerin musik sad, seru tuh:) aku aja ngetik eps ini dengerin lagunya Jungkook BTS Still With You. menurut aku sih, lgunya ngena bgt😄 maklum, kpopers garis kerasss😁

oke, langsung next aja kuy>>>

*****

"Sell, kamu yang sabar ya? Mungkin ini udah takdir dari Yang Di Atas, kalau Tante Kinara harus pulang." Ucap Chelsea. Wanita itu bersama Kenan datang malam-malam, ketika mengetahui sebuah kabar dari Aiden bahwa mamanya Giselle meninggal.

Dan saat ini, Giselle, Chelsea, Aiden dan Kenan, tengah berada di dalam ruang jenazah. Tempat di mana Kinara ditempatkan.

"Hiks... Hiks... Mama tinggalin aku kayak gini, Chel! Dia bahkan pergi tanpa sepatah kata pun. Gimana aku bisa terima? Dia ninggalin aku sendiri, Chel... kamu tau kan, sekarang aku udah gak punya siapa-siapa lagi. Aku sebatang kara!" Giselle masih histeris ditempatnya. Wanita itu saat ini tengah berada dalam pelukan Chelsea. Sahabatnya.

"Iya. Aku tau. Tapi kamu harus kuat, kamu harus ikhlas, kamu harus tabah. Bagaimanapun, sekarang Tante Kinara udah enggak ada. Allah sudah menjemputnya. Ini sudah takdir-Nya, Sell!"

"Tapi kenapa!? Sekarang aku gak punya siapa-siapa di sini! Pertama Papa yang enggak peduli sama aku! Sekarang mama meninggal. Terus sekarang aku sama siapa, Chel?!" Giselle kembali histeris, yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa iba. Apalagi Chelsea yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabat Giselle. Dia merasa ikut merasakan apa yang tengah sahabatnya rasakan.

"Kamu gak sendirian, Sell! Kamu masih punya aku! Aku sahabat kamu! Aku gak akan biarin kamu sendirian!" Ucap Chelsea menjeda.

"Bukan hanya aku. Ada Aiden juga yang akan melindungi kamu. Ada Pak Bos Kenan yang juga peduli sama kamu. Dan jangan lupain mama aku, Sell. Dia udah menganggap kamu sebagai anaknya juga. Kamu gak sendirian! Inget itu! Kami masih ada buat kamu! Kalo kamu butuh apa-apa, kamu datang sama kami. Jangan sungkan! Kita keluarga, Sell!" Lanjut Chelsea. Membuat Giselle tak kuasa untuk tidak menangis saat itu juga.

Sementara Aiden dan Kenan yang berada tepat di belakang kedua wanita yang saling berbagi duka itu, tengah bergelut dengan pikiran masing-masing. Khususnya Aiden.

"Lebih baik, sekarang kita pulang. Besok pagi-pagi sekali kita harus ke pemakaman. Kita pulang yuk, Sell!" Ajak Chelsea.

Aiden dan Kenan yang semula tengah bergelut dengan pemikiran masing-masing, kini fokus mereka beralih menatap kedua punggung milik Chelsea dan Giselle.

"Hiks. Tapi aku mau di sini nemenin Mama. Aku—" ucapan Giselle terjeda, ketika sebuah tangan menyentuh bahunya disebelah kiri.

"Kalo kamu kukuh pengen di sini, kamu gak akan berhenti buat nangis. Lebih baik kita pulang ya? Perawat di sini pasti bakal jagain Mama. Kamu lebih baik pulang dan istirahat. Aku akan anterin kamu." Ucap Aiden. Membuat perasaan dilema dalam hati Giselle mulai menyeruak hingga membuatnya sedikit bingung.

"Tapi—"

"Sell!" Lagi-lagi Aiden menyela ucapan Giselle dan membuat wanita itu kini beralih menatapnya.

"Aku gak mau jadi sakit. Kita pulang, ya?"

Giselle tidak menjawab. Dia hanya menunduk dengan perasaan tidak rela yang masih setia menggerogoti hatinya.

"Aku nginap di apartemen kamu, deh. Biar kamu enggak kesepian. Hm?" Tawar Chelsea, yang membuat Giselle seketika mengangkat wajahnya menatap raut wajah hangat sahabatnya.

"Emang, gak pa-pa?" Tanya Giselle. Nada suaranya terdengar sedikit serak. Mungkin karena terlalu lama menangis, suaranya jadi seperti itu.

Chelsea mengangguk pelan dengan sebuah senyum manis yang terbit di wajah cantiknya.

"Gimana? Kita pulang?" Tanya Chelsea lagi dan pada akhirnya diangguki Giselle.

****

Setibanya mereka berempat di depan gedung apartemen Giselle, mereka mulai keluar dari mobil masing-masing.

Oh ya. Giselle memasuki mobil Kenan dan Chelsea, karena mengingat bahwa wanita itu masih memerlukan Chelsea sebagai obat pereda tangisnya.

Dan Aiden, pria itu memilih memasuki mobilnya sendiri dan mengikuti dari belakang.

"Kamu hati-hati ya, Sayang. Aku pergi dulu." Pamit Kenan pada Chelsea yang pada saat ini masih setia memeluk erat sebelah lengan Giselle dari samping.

"Harusnya kamu yang hati-hati, ini udah malem. Jangan ngebut-ngebut ya, bawa mobilnya," ujar Chelsea yang diangguki Kenan.

"Ya udah. Aku pamit pulang dulu." Kata Kenan. Lalu mengecup dahi istrinya mesra, sebelum pada akhirnya memilih memasuki mobilnya.

"Lo gak pulang, Den?" Tanya Kenan, ketika dirinya baru saja memasuki mobilnya dan menurunkan sedikit kaca mobil.

"Gue mau di sini aja. Walaupun udah ada istri lo yang jagain, gue masih belum tenang. Lo duluan aja, Ken." Kata Aiden, yang hanya diangguki oleh Kenan.

"Ya udah." Ucap Kenan. Lalu mulai menjalankan mobilnya ke jalanan, setelah menyempatkan diri untuk memberikan senyuman manis pada Chelsea.

"Ya udah. Kita langsung ke dalam aja, ya?" Kata Chelsea. Sedikit melirik Aiden yang masih terdiam di samping Giselle.

"Kita duluan, gak pa-pa?" Tanya Chelsea. Tertuju pada Aiden.

"Iya. Duluan aja," balas Aiden. Lalu detik berikutnya, Chelsea mulai menggiring Giselle untuk segera memasuki gedung apartemen di hadapan mereka.

****

"Sell! Kamu gak tidur?" Chelsea bertanya pada Giselle yang terlihat melamun di depan cermin panjang tempat berias.

Giselle yang tengah melamunkan sesuatu pun langsung tersentak kaget, ketika seruan dari Chelsea mulai menyadarkannya.

Giselle tampak tersenyum paksa ke arah Chelsea yang tampak khawatir. Giselle pun memilih untuk menundukkan wajahnya.

"Mending, kita langsung tidur aja, yah? Udah hampir tengah malem lho ini." Kata Chelsea.

Giselles spontan melirik ke arah jam dinding yang menggantung di salah satu tembok kamar apartemennya. Pukul sepuluh lewat lima menit tertera di sana.

Benar kata Chelsea. Ini sudah hampir tengah malam. Dirinya harus segera tidur. Mau bagaimanapun juga, besok adalah hari pemakaman sang mama. Hari di mana Giselle akan benar-benar kehilangan Kinara untuk selama-lamanya.

Tanpa menjawab pertanyaan Chelsea padanya, Giselle hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Lalu setelahnya berjalan menuju tempat tidur yang akan mereka tempati tidur untuk malam ini.

Melihat pergerakan Giselle menuju tempat tidur, membuat Chelsea memasang senyum tipisnya. Dia pun memilih mengikuti Giselle dan merebahkan diri di samping tubuh sahabatnya itu.

"Hoah... aku udah ngantuk, Sell. Aku duluan tidur, ya," ucap Chelsea dan setelahnya, sepasang matanya langsung tertutup. Rasa lelah dan mengantuk telah menguasainya.

Melihat Chelsea yang telah terlelap dengan posisi menyamping menghadapnya, Giselle memilih mengubah posisi tidurnya yang awalnya terlentang, menjadi menyamping memunggungi Chelsea.

Perasaan sakit, sesak dan tidak terima atas meninggalnya sang mama, membuat Giselle kembali menangis pelan. Air matanya kembali luruh.

Seharusnya, Giselle saat ini tengah menunggu sang mama. Jika saja Chelsea dan Aiden tidak memaksa dirinya untuk pulang begini.

Tidak. Lebih bagus jika dirinya pulang begini. Jika tidak pulang, entah apa yang akan Giselle lakukan nanti di sana. Menangis sampai stok air mata habis?

Kamu gak sendirian, Sell! Kamu masih punya aku! Aku sahabat kamu! Aku gak akan biarin kamu sendirian!

Ucapan Chelsea waktu di ruang jenazah, tiba-tiba saja melintas di otak Giselle.

Benarkah aku tidak akan sendirian? Batin Giselle.

Air matanya yang semula terus membasahi wajahnya, perlahan mulai surut dan mengering.

Merasa bahwa air matanya tak lagi mengalir, Giselle lantas menghapus sisa air matanya menggunakan tangannya.

Giselle lalu memutuskan untuk mulai memejamkan kedua matanya yang sudah membengkak akibat terlalu lama dirinya menangis. Namun bukannya terlelap, Giselle malah merasa bahwa dirinya tidak mengantuk sama sekali.

Dirinya malah terus saja mengganti posisi tidurnya, karena dirasa kurang nyaman. Perlahan namun pasti, Giselle kembali membuka matanya. Ditatapnya layar ponsel yang dia ambil di atas nakas di samping tempat tidurnya yang menunjukkan waktu pukul sepuluh lewat tiga puluh lima menit.

Sial. Giselle tidak bisa tidur. Apalagi setelah mengetahui bahwa dirinya hampir setengah jam berguling di atas tempat tidur untuk mencari posisi yang nyaman.

Diliriknya Chelsea yang berada di sampingnya. Wanita itu tengah tertidur pulas dengan posisi membelalangi Giselle.

"Pasti dia capek." Gumam Giselle.

Entah ada angin apa, tiba-tiba dia memilih bangun dari posisi terlentangnya dan memilih untuk keluar dari kamar.

Ketika dirinya baru saja membuka pintu kamarnya, Giselle dikejutkan dengan seseorang yang sepertinya sudah berdiri memunggungi pintu cukup lama di depan pintu kamar itu.

"Pak Aiden?" Sahut Giselle.

Aiden yang tengah bergelut dengan pikirannya pun mulai membalikkan tubuhnya. Kedua matanya terlihat membelalak terkejut.

"Pak Aiden belum tidur?" Tanya Giselle. Suaranya terdengar sedikit berbisik.

Tanpa memilih menjawab pertanyaan dari Giselle, Aiden sontak menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Sebelah tangan Aiden juga tengah mengusap sayang belakang kepala Giselle. Dan tangannya yang lain tampak mengeratkan pelukan itu.

"Pak!? Ada ap—"

"Suttt... biarkan seperti ini. Sebentar saja." Ucap Aiden. Giselle hanya diam tak menjawab.

Terdengar helaan napas berat dari mulut Aiden yang begitu jelas terdengar oleh pendengaran Giselle.

"Kamu gak lagi sendirian, Sell! Aku akan selalu ada untuk kamu," ucap Aiden. Jelas bahwa pria itu tengah mengungkit apa yang sempat Giselle dan Chelsea bicarakan ketika tadi di ruang jenazah di rumah sakit.

Hati Giselle kembali merasakan sesak dan sakit yang luar biasa. Tanpa dirinya inginkan, air matanya kembali merembes keluar dari pelupuk matanya. Isakan-isakan kecil mulai keluar dari bibirnya yang semula terlatup rapat. Kedua tangannya yang semula hanya menggantung di udara, perlahan mulai terangkat dan memeluk tubuh Aiden dengan erat.

Sekali lagi. Tangis Giselle pecah di depan orang lain.

****

Hari telah berganti pagi. Beberapa rombongan orang-orang berpakaian serba hitam, berjalan beriringan menuju pemakaman untuk mengantarkan jenazah Kinara ke tempat terakhirnya.

Setelah memasukkan jenazah Kinara ke dalam liang lahat dan menimbunnya dengan tanah, beberapa orang yang lain mulai memasang papan nisan bertuliskan namanya.

Giselle, Chelsea dan Aiden mulai turut menaburkan bunga sebagai ucapan selamat tinggal.

Mama Lucy dan Mama Amara yang juga berada di sana turut serta menaburi bunga. Isak tangis kedua wanita paru baya itu pecah, untuk menangisi kepergiannya.

Berbeda dengan Giselle. Wanita cantik itu sudah tidak lagi mengeluarkan air matanya. Wajahnya berubah semakin pucat ketika menatap kuburan sang mama yang berada tepat di hadapannya.

Bibirnya mencoba untuk tersenyum, namun nyatanya begitu sulit ia lakukan.

Usai menaburkan bunga dan ritual lain, sang ustadz yang juga turut hadir di pemakaman itu mulai memimpin doa yang diikuti oleh orang-orang yang mengerumuni makam tersebut.

Setelah cukup lama ritual doanya selesai, satu-persatu dari mereka mulai pergi meninggalkan pemakaman. Hingga pada akhirnya hanya tersisa Giselle, Chelsea, Aiden, Kenan, Mama Lucy, Mama Amara dan juga ustadz tadi.

"Giselle! Kamu yang sabar, ya. Bagaimanapun kamu harus ikhlas dengan cobaan ini. Tetap doakan mama kamu yang di sana," ucap ustadz tadi yang penampilannya terbilang masih muda.

Giselle tidak menatap ke arah ustadz itu. Tatapannya masih tertuju pada gundukan tanah basah di hadapannya.

"Terima kasih, Pak Ustadz. Saya akan mencoba untuk ikhlas, walau sebenarnya begitu berat." Ucap Giselle. Sebuah tangan hangat tiba-tiba menyentuh punggungnya.

Dan pemilik tangan itu adalah Chelsea. Orang paling berarti di kehidupan Giselle setelah mamanya.

Sang ustadz tampak mengangguk beberapa kali. Lalu tersenyum simpul.

"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum." Pamitnya, yang dijawab serempak oleh ketujuh orang yang itu.

"Giselle, Sayang. Kamu yang ikhlas, ya? Kamu masih punya Tante. Ada Chelsea juga. Kamu udah Tante anggap anak Tante. Tante sayang sekali sama kamu." Mama Amara tiba-tiba berjongkok lalu memeluk Giselle layaknya tengah memeluk putrinya.

Air mata Giselle yang semula ia pikir habis, kini kembali luruh ketika pelukan hangat dari Mama Amara membuat dirinya seketika rindu sang mama.

"Tante..." Giselle merengek sembari membalas pelukan Mama Amara yang tengah memeluknya. Tangis Giselle kembali pecah, entah untuk yang keberapa kalinya.

****

"Jadi... ibunya Si Wanita Penggoda itu, sudah meninggal?" Hiyumi berujar sinis ketika mendengar kematian seseorang yang tak lain adalah orangtua satu-satunya yang Giselle miliki saat ini. Dan, sekarang wanita itu menjadi sebatang kara.

"Heh, kasihan sekali wanita itu." Ucapnya lagi, terdengar semakin sinis.

"Ibunya pergi meninggalkannya. Tinggal satu orang lagi yang harus meninggalkannya. Kak Aiden." Gerutu Hiyumi, lalu tertawa garing.

"Keluarlah. Aku ingin sendiri." Ucap Hiyumi pada seorang pria yang adalah bawahannya yang berada di hadapannya. Raut wajah wanita cantik itu langsung berubah dingin seketika.

Bawahannya itu langsung pergi setelah membungkuk hormat pada Hiyumi. Dia tidak memiliki niat untuk menjawab perintah dari nonanya.

"Ah. Bagaimana caranya supaya wanita itu benar-benar pergi dari kehidupan Kak Aiden?" Hiyumi bermonolog, sembari bangkit dari sofa single yang dia tempati. Berjalan ke arah kaca besar di kamar hotelnya yang menampilkan pemandangan luar gedung-gedung pencakar langit.

"Atau... membuat wanita itu pergi sendiri dari kehidupan Kak Aiden, sepertinya ide yang sangat bangus." Ucapnya lagi. Otak kecilnya tampak berpikir serius.

"Heh. Sepertinya... aku sudah mendapatkan ide yang cemerlang untuk itu." Hiyumi lantas tersenyum menyeringai ketika sebuah rencana busuk melintasi otaknya.

Wanita cantik itu lalu bersededekap sembari berjalan meninggalkan dinding kaca itu dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur empuk yang berada cukup berdekatan dengan dinding kaca itu.

"Karena wanita itu berani merebut calon suamiku, jangan harap dia akan bahagia. Enak saja. Kak Aiden, dia hanya milikku. Hanya milik seorang Hiyumi Carlotta." Ucapnya telak. Sebelum pada akhirnya, Hiyumi memejamkan kedua matanya dan tertidur.

****

Saat ini, Aiden baru saja mengantarkan Giselle pulang ke apartemen milik wanita itu. Namun, ketika Aiden hendak menjalankan mobilnya ke jalanan, otaknya mengingat sesuatu yang harus segera diberikan pada wanita itu.

Langsung saja, Aiden turun kembali dari mobilnya dan melangkahkan kakinya kembali memasuki gedung apartemen, dan memasuki ruangan lift.

Setelah menunggu beberapa saat di dalam lift, Aiden lantas berlari keluar ketika lift yang dia gunakan akhirnya terbuka juga.

Dan sesaat dirinya di depan pintu apartemen milik Giselle, Aiden mencoba sebisa mungkin untuk menetralkan deru napasnya yang tidak beraturan.

Setelah dirasa cukup tenang, Aiden segera memencet bell apartemen Giselle.

Tak mendapat sahutan dan pintu yang masih setia tertutup dari dalam, Aiden kembali memencet bell tersebut. Hingga pada akhirnya suara langkah kaki dari dalam sedikit terdengar dari luar.

"Eh? Ka-kamu belum pulang?" Seru Giselle. Tepat ketika pintu apartemen itu dibuka olehnya.

"Ehm. Itu– aku boleh ngomong sebentar sama kamu?" Tanya Aiden.

Tanpa ragu, Giselle pun mengangguk lalu mempersilakan Aiden untuk memasuki ruang tengah di apartemnya.

"Aku bikinin minum dulu, ya?" Ucap Giselle. Raut wajahnya masih sama seperti ketika mereka berada di tempat pemakaman tadi. Pucat dan lesu.

"Enggak usah. Aku cuma... mau ngasih sesuatu sama kamu," kata Aiden menjeda. Sebelah tangannya lalu mulai mengambil sesuatu di dalam kantong jas hitam yang dia kenakan.

Sebuah kertas putih yang dilipat-lipat tampak mencurigakan di mata Giselle. "Itu apa?" Tanya Giselle.

"Ini... surat dari Mama yang beliau titipkan ke aku, sewaktu beliau belum meninggal." Ucapan dari Aiden membuat Giselle lantas langsung merebut kertas yang berada di genggaman Aiden.

Lantas, Giselle membuka surat tersebut dengan terburu-buru. Melihatnya sekilas, dan ternyata tulisan tangan itu benar-benar tulisan milik ibunya.

"Aku belum membacanya. Mama nyuruh aku buat kasih surat itu ke kamu dulu, ketika nanti beliau udah gak ada," kata Aiden. Pria itu mulai menarik napasnya dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

"Dan... sekarang adalah waktunya bagi aku buat kasih surat itu ke kamu. Katanya, tolong dibaca baik-baik. Jangan marah, jangan sedih lagi, dan jangan menyalahkan diri sendiri."

Mendengar sedikit penjelasan sekaligus penuturan dari Aiden, Giselle langsung membaca isi surat tersebut dengan perasaan yang bergejolak.

Sesel...

Nak...

Putri Mama satu-satunya yang Mama cintai dan hanya kamu yang Mama miliki, maaf.

Maafkan Mama, ya.

Mama menuliskan surat ini karena tau bahwa hidup Mama sudah tidak lama lagi.

Maaf juga, karena Mama sudah meninggalkan kamu sendirian di dunia ini.

Maaf...

Mama hanya sudah lelah dengan semua penyakit yang Mama derita.

Iya, Mama tau. Kamu pasti kecewa kan sama Mama yang sudah meninggalkan kamu tanpa pamit?

Maaf...

Tapi, Mama sudah menuliskan surat ini sebagai tanda bahwa ini adalah ucapan terakhir dari Mama buat kamu.

Sesel...

Tolong jangan terlalu lama bersedih karena Mama yang sudah meninggalkan kamu, ya...

Karena Mama yakin. Orang-orang di sekitar kamu pasti tidak suka melihat kamu yang terus berlarut-larut dalam kesedihan.

Khususnya, Aiden.

Dia mencintai kamu. Iya, kan?

Menikahlah dengannya. Mama merestui hubungan kalian berdua.

Mama juga yakin. Aiden adalah orang yang tepat untuk kamu. Dia mencintai kamu apa adanya. Jangan kecewakan dia, ya...

Oh iya. Mungkin hanya sampai sini tulisan tangan Mama, Sesel. Tangan Mama sudah mulai keram, hehee.

Selamat tinggal, Putriku...

Mama sangat menyayangi kamu...

Tertanda, Kinara Rastanti.

Tangis Giselle kembali pecah ketika berhasil menyelesaikan membaca surat tersebut. Air matanya lagi-lagi lolos menuruni wajahnya yang sudah pucat.

Aiden yang semulanya terduduk di hadapan Giselle, kini bangkit dan beralih duduk di samping wanita itu. Mengusap lembut punggungnya, lalu membawanya ke dalam pelukan.

Samar-samar Aiden mendengar Giselle mengucapkan sesuatu dari bibir mungilnya itu, "Kalo mama sayang sama Sesel, kenapa mama memilih pergi ninggalin Sesel gitu aja?"

****

Malam harinya, Aiden tampak gelisah dalam posisi duduknya di atas kursi kerja yang herada di sudut ruangan apartemennya.

Entahlah. Sedari tadi otaknya tidak bisa fokus pada pekerjaan yang harus segera dia tuntaskan malam ini juga. Perasaannya tidak enak. Seolah sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang tidak menguntungkannya.

Drtt... Drtt...

Ponsel Aiden berbunyi. Pikiran Aiden yang semula tengah berkelana entah memikirkan apa, kini fokusnya mulai terbagi. Pandangannya spontan beralih menatap layar ponselnya yang menyala, dan sudah ada nomor tak dikenal yang terpampang jelas di layar teratas ponselnya.

Aiden awalnya tidak ingin mengangkat telepon tersebut. Karena merasa bahwa itu tidaklah penting.

Namun tangannya bergerak lain. Jari jempolnya lalu menggeser tombol hijau di layar ponsel itu, lalu menempelkan ponsel tersebut tepat di salah satu daun telinganya.

"Ha–"

"Oniisan... huhuhuu... Yumi takuuutt..." suara cempreng dari seberang sana menghentikan ucapan Aiden yang hendak keluar.

Kedua bola mata Aiden sontak membulat hampir sempurna ketika suara manja dari seberang sana membuatnya menyimpulkan, dari mana wanita itu memiliki nomor ponselnya?

"Hiyumi? Ini kamu?" Tanya Aiden. Hiyumi yang berada di seberang telepon sana mengangguk tanpa Aiden ketahui.

"Kakaaakk... tolong Hiyumi... hiks... Hiyumi dipaksa, Kakk... Hiyumi takuuut... hiks... hiks..."

"Apa!? Dipaksa? Dipaksa apa?!" Aiden lalu bangkit dari kursinya dengan raut wajah kebingungan.

"Orang-orang di klub malam ini terus memaksa Yumi... Yumi takuuuttt..." terdengar suara merengek dari seberang sana yang membuat Aiden lantas berdecak.

"Ya, terus ngapain kamu ke klub? Udah tau tempatnya bahaya untuk wanita seperti kamu." Aiden mulai mengomel, seperti yang sudah Hiyumi bayangkan sebelumnya.

"Memangnya, Yumi wanita seperti apa?"

Mendengus, "Wanita cantik." Ucap Aiden tanpa sadar membuat Hiyumi hampir memekik di seberang sana.

"Di mana tempatnya? Kakak jemput!" Tanya Aiden. Mampu mengenyahkan lamunan Hiyumi.

"Ah, itu. Yumi tidak tau. Tapi, tempatnya tidak terlalu jauh dari hotel yang Yumi tempati. Emm... berseberangan malah,"

"Apa nama hotel sekaligus nama klub malamnya?" Tanya Aiden. Suaranya terdengar begitu ketus.

"Hotel Rosemary–" Jawab Hiyumi. Lantas telepon mereka pun terputus oleh Aiden yang mematikan teleponnya sepihak.

Disisi lain,

"Ya ampun! Tadi Kak Aiden mengkhawatirkan aku kan? Ya Tuhan... apakah Kak Aiden sudah bisa menerimaku? Atau bahkan, menyukaiku?" Hiyumi histeris di salah satu kursi bar yang tersedia di sana.

****

Aiden menghentikan mobilnya tepat di area parkir sebuah klub malam yang dikatakan Hiyumi padanya saat ditelepon.

Dengan langkah gontai dan tergesa, lantas Aiden memasuki klub malam tersebut tanpa rasa ragu.

Setibanya di depan pintu masuk klub, banyak orang-orang khususnya wanita-wanita asing di dalam klub tersebut yang mengalihkan perhatian mereka pada Aiden. Tatapan lapar penuh harap dari wanita-wanita itu tak membuat Aiden lantas menyukainya. Jujur, dia sangat jijik.

"Ck. Di mana wanita itu?" Gumam Aiden, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam klub itu lebih dalam.

Dan benar saja. Ketika dirinya telah masuk cukup dalam ke dalam klub, barulah dia melihat Hiyumi yang tampak menangis sembari tersedu-sedu dengan tiga orang pria asing di sekitarnya.

"Pergi sana! Jangan ganggu aku!" Teriak Hiyumi, ketika salah satu tangan dari ketiga pria asing itu hendak menyentuh tangannya.

"Jangan galak-galak napa, Neng. Makin cantik aja tau gak," ucap pria yang hampir menyentuh tangannya itu.

"Neng? Apa itu Neng? Kalian bicara menggunakan bahasa apa? Aku tidak mengerti!" Teriak Hiyumi, lantas menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

"Pergi!"

Bugh

"AH!!" Hiyumi terkejut sampai dirinya tidak sadar sudah berteriak.

Ya, bagaimana dirinya tidak terkejut? Pria yang baru saja menggodanya itu kini telah dipukuli habis-habisan oleh Aiden.

Tunggu, Aiden?

"Stop, Kak! Di-dia juga tidak apa-apakan Yumi, kok. Sudah ya, Kak!" Hiyumi berusaha menarik lengan Aiden yang hendak kembali melayangkan pukulannya pada pria asing itu yang telah mengganggu Hiyumi.

Aiden awalnya tidak akan mendengarkan permintaan wanita itu. Namun, ketika ketiga pria asing itu berlari pergi sembari bersumpah serapah menyumpahinya, barulah Aiden berhenti.

"Kamu gak pa-pa, hm?" Aiden lalu bertanya penuh kekhawatiran pada Hiyumi.

Dan Hiyumi? Wanita itu tampak membulatkan kedua matanya ketika ternyata Aiden begitu peduli padanya. Mengkhawatirkannya. Apakah itu tandanya, Aiden juga mulai menyukainya?

"Yumi baik-baik saja." Katanya, lantas tersenyum lalu memeluk erat tubuh tegap Aiden.

Aiden sontak saja terkejut dengan aksi tiba-tiba dari Hiyumi saat ini. Apalagi ketika mendengar suara isakan kecil yang keluar dari bibir tipisnya, membuat sudut hati Aiden merasa kasihan.

"Untung Kakak tidak terlambat. Kalau terlambat, entah apa yang akan terjadi pada Yumi." Bisiknya dengan suara yang terdengar parau.

Aiden memilih menghela napas tanpa berniat menjawab apa-apa. Kedua tangannya lalu terulur memeluk tubuh Mungil Hiyumi, dan mengusap lembut punggung wanita cantik itu.

Di lain tempat, seorang wanita dengan pakaian kasualnya dan rambutnya yang hanya digerai lurus, tengah berlarian menuju sebuah tempat terlarang yang sama sekali belum pernah dia kunjungi.

Perasaan wanita itu berubah tidak enak ketika sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya.

Pacarmu baru saja dipukuli banyak orang di sebuah Klub Black And Rose. Datanglah sendiri dan jemput pacarmu.

Pesan itu benar-benar membuat Giselle yang membacanya tidak percaya dan langsung saja mencari taksi untuk menjemput Aiden yang katanya baru saja dipukuli banyak orang.

Ya. Wanita yang tengah berlari tergesa-gesa itu adalah Giselle. Beruntung dirinya tadi sehabis mandi, jadi dia tinggal langsung pergi dan menjemput Aiden ke tempat terkutuk itu, klub malam.

Setibanya Giselle di dalam klub malam yang dikatakan di pesan yang masuk ke ponselnya, dia langsung mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru klub yang terlihat begitu ramai.

Lampu-lampu di sana yang memang hanya remang-remang dan gaduhnya suara musik, membuat Giselle sedikit kesusahan mencari keberadaan Aiden.

Apalagi, beberapa kerumunan orang-orang memenuhi klub membuat Giselle semakin susah saja mencari keberadaan Aiden.

"A– hah!?" Giselle yang hendak menyahut Aiden ketika penglihatannya mampu menangkap sosok itu, terhenti.

Giselle terpaku di tempatnya ketika menyaksikan sebuah pemandangan yang mampu membuat hatinya berdenyut nyeri.

Astaga! Apa yang dia lakukan dengan seorang perempuan di sana? Berpelukan? Bahkan, tangan pria itu juga terlihat tengah mengelus lembut punggung wanita tak dikenal itu.

Tunggu! Dia seperti Hiyumi?

Ketika Giselle menajamkan kedua matanya saat menatap wanita yang tengah berada dalam pelukan Aiden, Giselle seketika tersentak. Dan, benar. Itu Hiyumi!

Aiden. Pria itu telah berbohong padanya!?

To be continue...

+3600 kata:*

Jangan bosen2 ngasih jejak like sma komen yeah... ini udh mau tamat lho! Jgn salahin aku klo end ny tidak sesuai ekspektasi kalian wkwk

Spoiler?

Gaada ah, udh mau tamat juga😁 biarkn kalian menerka2 sendiri okehh😁

1
Suswarina
temuin gisel sm ayahnya dan gisel tidak mau mengakuinya sebagai ayah
Roberto Rino
v
Srieaniez Ñew Srieaniez
aku mau koq dikejar pak🤪🤪🤪🤪🤪,,,,,,

btw met ultah ya thorrrr,,, mga makin sukseeeeeesssss
Yusup Priyono
3
Sena
sedih...
Sena
, seru... like...
Sena
no 2
awal yg menarik, lucu...
punya bos iseng bngt y...
jejak...
k2
aron aron ingat umur, km nikain aja tuh hiyumi ngapain maksa maksa aiden , cucu sendiri disia siain. kena struk tau rasa lo
k2
gisel ma aiden nikah dong
k2
cantik gisel
k2
cantik celsee
k2
semoga baik baik saja
k2
berhasil berhasil
k2
oo km ketauan
k2
berpelukan
k2
kenapa sih den ,tinggal bilang cinta aja susah amat
k2
bayangin hebohnya , senyum senyum sendiri
k2
semangat den
k2
boleh bgt pak
k2
foto dong den ,buat kenang kenangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!