Setelah terjadinya hujan meteor di penghujung malam tahun 2050, makhluk menyerupai monster serta dungeon yang biasanya hanya ada dalam cerita fiksi mulai bermunculan di Bumi.
Para monster yang terus bermunculan mulai memburu manusia, dan setelah satu tahun berlalu sudah lebih dari 30 persen umat manusia dimangsa oleh para monster.
Disaat umat manusia mulai berputus asa menghadapi monster yang jumlahnya semakin banyak, muncullah sekelompok orang dengan kekuatan khusus yang menjuluki diri mereka sebagai seorang hunter.
Dan sejak kemunculan para hunter, sejak itulah dimulai era baru pertarungan antara manusia melawan para monster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Di Akademi Pusat
“Ibu, nenek, aku berangkat.” tiga hari sudah Hiro tinggal di mansion keluarga besarnya, dan hari ini adalah hari pertama dia masuk akademi yang hanya berjarak 1 kilometer dari mansion keluarga besarnya.
“Nyonya, nona, kami akan berangkat menyusul tuan muda.” dua orang wanita dengan pakaian yang sama dengan Hiro, menyusul dan berjalan di belakang Hiro.
“Entah kenapa aku senang melihat cucu ku berada diantara banyak wanita.” ujar Beatrix.
“Cih, awas saja kalau Ibu melakukan yang tidak-tidak pada putraku.” kata Zizu lalu dia pergi ke markas asosiasi hunter milik keluarganya.
°°°
Tiba di akademi, entah karena sebuah kebetulan, dia bertemu dengan Lux, Nana, dan Yuna di gerbang masuk akademi. Selain mereka bertiga, Hiro juga melihat keberadaan Axel, Olivia, Luna, dan terakhir ada Shana.
Hanya dalam waktu yang singkat, mereka telah berkumpul kembali, tapi Luna dan Shana harus berpisah jalan karena mereka adalah murid senior, sedangkan Hiro dan lima orang temannya mereka adalah murid junior yang belum lama ini diterima sebagai murid akademi hunter.
Karena sudah mendapatkan lokasi kelas dari Zizu, Hiro langsung menuju ke kelas yang juga menjadi kelas kelima temannya.
Baru sampai di dalam kelas, sebuah belati tajam yang entah datang dari mana, melesat dengan sangat cepat ke arah Hiro, tapi dengan mudahnya Hiro dapat menangkis belati itu dengan menggunakan katana miliknya.
“Lumayan untuk seorang murid pindahan dari akademi cabang.” kata pria berambut pirang lalu dia tersenyum sambil berjalan ke tempat belati jatuh.
Beberapa murid yang sudah berada di dalam kelas menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan Leo, si pria berambut pirang. Ini sudah ketiga kalinya Leo melemparkan belati nya ke arah murid baru, dan baru kali ini ada yang berhasil dengan mudah menangkis belati yang dilemparkan Leo.
Wajah dua wanita yang tak jauh dari tempat Hiro terlihat tidak suka dengan apa yang baru Lio lakukan pada tuan muda mereka, dan kalau ini bukan di akademi, mungkin Leo akan dijadikan sebagai samsak hidup oleh mereka berdua.
Setelah mengambil belati nya Lio kembali ke tempat duduknya tanpa mengucapkan permintaan maaf, tapi Hiro sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Dia lebih memilih duduk bersama teman-teman nya di tempat yang memang telah dipersiapkan untuk mereka.
Selain Hiro dan kelima temannya, dalam kelas itu juga ada beberapa murid baru dari akademi yang sama dengan Hiro, termasuklah Edward dan komplotannya, dan jumlah itu bertambah saat seorang wanita dengan topeng polos berwarna putih memasuki kelas. Hiro mengenali wanita itu karena mereka pernah bertemu saat ujian masuk akademi.
Syuut...
Leo kembali melemparkan belati nya, tapi kali ini dia benar-benar sial. Belati yang dia lempar terpental saat berada dalam jarak 1 meter dari wanita itu, dan arah pentalan itu justru mengarah ke arahnya dengan kecepatan 2 kali lebih cepat dari kecepatan saat dia melemparnya.
Belati itu menancap tepat di meja Leo, dan kejadian itu sukses membuat hening suasana kelas, bahkan Leo yang melihat belati miliknya tertancap cukup dalam di mejanya, tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin dan hampir saja dia terkencing di celana.
Hiro hanya tersenyum melihat itu karena dia tahu kalau wanita bertopeng putih bukanlah sosok yang dapat diganggu seenaknya, dan Leo adalah orang pertama menjadi korban dari wanita bertopeng yang tanpa permisi langsung duduk di kursi sebelah Hiro yang kebetulan masih kosong.
Hiro bersikap biasa-biasa saja dengan wanita bertopeng yang sempat memandang ke arahnya dengan seorot mata tajam yang berada di balik lubang topengnya.
“Wanita yang sangat kuat, dari auranya dia mungkin setara dengan Hiro, tapi dia tak lebih kuat darinya.” kata Yuna dalam hati sambil memandang wanita bertopeng yang duduk bersebelahan dengan Hiro.
“Seharusnya dari awal kamu mengambil tempat duduk itu kalau ingin berdekatan dengan Hiro, sekarang kamu pasti menyesal karena tempat itu justru di duduki wanita lain.” ujar Nana yang duduk di sebelah Yuna.
Yuna mengabaikan apa yang dikatakan Nana, tapi tidak dipungkiri kalau dia memang sedikit menyesal karena tidak mengambil tempat duduk itu sejak awal.
Seorang pria bertubuh gempal dengan pedang besar di belakang punggungnya masuk begitu jam tanda dimulainya pelajaran dimulai. “Kalian murid baru cukup memanggilku guru Mort, mulai sekarang aku yang akan menjadi guru kalian. Tapi kalian tenang saja, guru kalian yang cantik itu juga masih akan mengajar kalian.”
Semua murid pindahan menganggukkan kepalanya. “Bagus, untuk memulai pelajaran hari ini, bagaimana kalau kita melakukan latih tanding?.” kata guru Mort sambil memandang murid-murid nya.
“Bagus, bagus... Kalian diam itu artinya setuju, kalau begitu segera persiapkan perlengkapan kalian dan kita akan langsung menuju tempat latihan.” guru Mort langsung pergi meninggalkan kelas begitu dia selesai bicara.
Saat Hiro dan yang lainnya sedang melakukan persiapan, dari kejauhan Edward dan komplotannya datang mendekati Olivia dengan pandangan mata liar yang mereka tujukan kearah tubuh Olivia. Dipandang seperti itu membuat Olivia risih lalu dia memukul salah satu anggota komplotan Edward.
Pukulan Olivia hanya sedikit menggunakan kekuatan, tapi pukulan telak mengenai tubuh orang itu, membuat orang yang Olivia pukul terpental jauh dan seketika orang itu kehilangan kesadarannya.
Murid lama akademi cukup terkejut dengan kekuatan para wanita yang merupakan murid pindahan dari akademi cabang. Mereka tidak menyangka kalau ada wanita sekuat Olivia maupun si wanita bertopeng, dan dalam diam mereka berjanji tak akan menyinggung mereka.
Edwar yang berniat mengklaim kemenangannya dalam pertandingan yang dia lakukan dengan Olivia, dia segera mengurungkan niatnya. “Sial, tidak ada untungnya berurusan dengan wanita seperti itu.” katanya dalam hati lalu dia menyuruh dua anggota komplotannya untuk menyeret rekan mereka yang telah tak sadarkan diri.
Mereka akhirnya berjalan menuju ke tempat latihan, dan kebetulan di tempat latihan juga ada murid dari kelas senior yang juga sedang melakukan latih tanding.
“Bukannya itu senior Luna dan Shana? Hebat, mereka dengan cepat mengalahkan lawannya.” puji Nana saat melihat pertandingan di kelas senior.
Sampai di lapangan latihan, guru Mort menempati lapangan latih untuk murid junior dan dengan santainya dia mengatakan ingin mengadakan pertarungan antara murid lama dengan murid pindahan, tapi belum juga mulai, seorang wanita berpakaian serba putih yang merupakan guru dari murid senior datang menyapa guru Mort.
“Pak tua Mort, daripada mengadu sesama murid mu, bagaimana kalau kamu mengadu mereka dengan murid-murid ku? Tenang saja, aku berjanji akan menyuruh mereka tidak terlalu kasar dengan murid-murid mu.” kata guru wanita sambil menunjukkan senyum meremehkan.
Melihat guru mereka menantang murid junior, murid di kelas senior tersenyum karena biasanya mereka akan dapat hiburan dengan memukuli murid junior.
“Apa kamu yakin ingin menantang murid-murid ku yang sekarang, Fanesa?.” kata guru Mort.
“Aku sangatlah yakin, dan segera siapkan 10 orang murid mu untuk melawan 10 murid terbaikku!.” balas Fanesa yang langsung pergi kembali ke tempat berkumpul para muridnya.
“Yang aku panggil namanya, kalian maju kedepan dan akan mewakili kelas kita melawan murid kelas senior.” guru Mort lalu mulai menggil satu persatu nama yang akan mewakili murid junior, dan dari 10 nama yang dia panggil tujuh diantaranya merupakan murid baru, termasuk Hiro.
“Kalian tidak perlu menang, yang perlu kalian lakukan hanya memberi mereka satu dua pukulan yang mungkin dapat membuat mereka sedikit memar.” kata guru Mort lalu dia membawa seluruh muridnya mendekat ke tempat latihan murid senior.
Hiro dan sembilan orang lainnya bersiap menghadapi murid senior yang akan menjadi lawan mereka. Saat mata Hiro melihat siapa-siap saja yang akan menjadi lawannya, Hiro benar-benar merasa kecewa.
“Apanya yang kelas senior? Dibandingkan dengan senior Luna dan Shana, aku dapat mengatakan kalau mereka hanya sekumpulan murid amatir.” kata Hiro dalam hatinya saat memperhatikan satu demi satu aura yang dikeluarkan oleh 10 murid senior yang akan menjadi lawan kelasnya.
Di sisi lain, Luna dan Shana hanya dapat menggelengkan kepalanya saat melihat lawan yang akan di hadapi oleh teman satu kelas mereka.
“Apa kamu yakin akan menghadapi mereka tanpa menggunakan alat pelindung diri?.” tanya Luna pada seorang pria yang merupakan ketua kelas di kelasnya.
“Menggunakan alat pelindung itu jika bertemu dengan lawan yang sepadan atau lawan yang lebih kuat. Kalau hanya mereka, satu tangan ku ini sudah cukup untuk mengalahkan mereka semua.” balas pria itu.
“Jangan meremehkan lawan sebelum kamu mengenal mereka! Aku tahu sekuat apa mereka, karena 7 dari mereka adalah junior ku di akademi.” ujar Luna.
Pria itu terkekeh mendengar itu, lalu berkata. “Cantik, apa kamu mencemaskan pria tampan ini? Kamu tenang saja, tak akan ada yang mampu menggores wajah tampan pria ini.”
“Cih, siapa juga yang mengkhawatirkan mu? Aku cuma mengingatkan, percaya atau tidak itu terserah padamu.” kata Luna dengan acuh lalu dia mengajak Shana menemui para juniornya.
°°°
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya, terimakasih.