[Disarankan untuk membaca hingga chapter 7]
[BACA BAGIAN BLURB INI SAMPAI BAWAH BIAR GA BINGUNG SAMA CERITANYA!]
[Press Like,Vote,Comment]
[Hati-hati kesel sama ceritanya]
Genre : Action, Adventure, Dark fantasy, Drama, Mystery, Magic, Psychological, Supernatural
Sub-Genre : Romance, Comedy, Mature
Season 1 : Chapter 1-213(END)
Season 2 : Chapter 214-260(END)
Season 3 : Chapter 261 - 348 (END)
Dunia dimana ada ras selain manusia, seperti Elf, malaikat dan lain-lain. Ada sebuah legenda yang ditakuti oleh seluruh ras mengenai malapetaka yang akan dibawa oleh sebuah makhluk, yaitu Soul Reaper.
Legenda yang menghilang untuk menghilangkan keresahan seluruh ras di muka bumi, telah tergerak secara perlahan.
Note :
ini cerita pertamaku, kalau ada kesalahan seperti typo, sulit dimengerti langsung aja komentar aja ya.
Untuk kalian yang bingung, didalam cerita ini tidak akan hanya terbatas di tokoh utama saja. Tetapi saya akan menyorot beberapa tokoh lainnya juga karena mereka mempunyai peran penting(tentu saja seperti beberapa chapter yg MC nya tidak ada).
[Sangat disarankan untuk tidak berharap kepada MC di awal-awal cerita. Karena MC saya dibuat lemah layaknya seekor burung baru lahir dan belum bisa terbang]
Update 23:00 WIB
[/Chapter : 1300-2000 kata]
#WF
*Source Pict : Pinterest
Yang mau follow author boleh lewat :
IG : Irisia_loui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShenJun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Agresif
Raven terkejut mendengar ucapan Elena. Dia langsung berfikir tentang berapa hari dia telah tertidur. Mengingat kejadian yang dialaminya, dia sangat tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Raven pun memegang bahu Elena dan mendorongnya secara perlahan. Elena terkejut saat Raven melakukan hal itu. Dia menatap wajah Elena yang sedang menangis dengan serius.
“Oi, memang apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa tertidur disini?” tanya Raven
“Kamu tidak bangun selama tiga hari! Aku dengar dari tuan Kriss kalau kamu diserang oleh bandit!” ucap Elena
“Tunggu dulu! Kriss?! Bandit?!” ucap Raven
Seingat Raven, dia tidak pernah sama sekali melawan bandit. Yang dia ingat hanyalah melawan assassin, dan tiba-tiba tubuhnya merasa kesakitan. Telebih lagi, dia bingung karena mengapa Kriss menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh dirinya. Dia bahkan tidak ingat bertemu dengan Kriss saat itu.
“Tapi syukurlah kamu tidak apa-apa” ucap Elena sambil mengusap air matanya
“Memangnya aku kenapa?” tanya Raven
“Hah? Kamu ini mengalami patah tulang berat tahu! Bahkan hampir membuatmu lumpuh! Jika saja tidak ada nona Celica, entah apa yang akan terjadi padamu!” ucap Elena
“Cedera? Patah tulang? Apa maksudnya?”gumam Raven
Seketika, Raven langsung mengingat hal yang terjadi di alam sadarnya tepat setelah dia merasa kesakitan. Dia mengingat bertemu dengan sosok besar nan jahat ditengah kekosongan dirinya.
“(Apa karena sosok itu aku jadi mengalami cedera? Jika memang benar, bagaimana caranya?)” batin Raven
Raven terdiam untuk sementara. Dia memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi selama dia tidak sadar. Disisi lain, Elena begitu khawatir terhadap Raven yang baru saja bangun.
“Raven. Memangnya tiga hari lalu kamu sedang pergi kemana?” tanya Elena dengan lembut
“(Sepertinya akan percuma kalau aku berbohong padanya)” batin Raven
“Aku pergi mengikuti seorang bangsawan. Dan saat aku sedang mengintai mereka, tiba-tiba aku ketahuan” ucap Raven
“Lalu kamu diserang oleh bandit?” tanya Elena
“Justru itu yang aneh. Aku tidak pernah ingat bertemu dengan bandit. Berdasarkan ceritamu, aku itu sudah babak belur bukan?” ucap Raven
“Iya. Tuan Kriss bilang begitu” ucap Elena
“Aku bahkan tidak tahu kalau aku bertemu Kriss. Ini sangat aneh!” ucap Raven
“Hah?! Kamu tidak tahu?!” ucap Elena
Raven pun terdiam dan tidak membalas ucapan Elena. Dia melanjutkan untuk berfikir apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Aku akan mencari angin segar dulu” ucap Raven
“Hei, tunggu dulu!” ucap Elena
Raven pun mencoba beranjak keluar dari ranjangnya. Saat dia ingin menapakan kakinya di lantai, tangannya yang menopang tubuhnya diranjang tergelincir. Raven tergelincir didepan Elena dan akhirnya membawa Elena ikut terjatuh kelantai.
“Uwaa!” teriak keduanya
Keduanya terjatuh karena kecerobohan Raven. Kedua tangan Raven berada diantara tubuh Elena yang terbaring dilantai. Wajah mereka berada begitu dekat hingga bisa merasakan nafas masing-masing.
Melihat tubuh Raven yang telanjang dada berada diatasnya, sangat membuat Elena terpukau dan malu. Tubuhnya yang kekar dengan ototnya yang sempurna, membuat hatinya berdetak begitu kencang. Dag dig dug wajahnya memerah karena malu hingga tak bisa berkata-kata.
“Ma-maaf Elena” ucap Raven
Dia pun mencoba untuk berdiri dan keluar dari situasi tersebut. Sebelum selesai mencoba berdiri, tiba-tiba Elena merangkul leher Raven dan menariknya kembali ke posisi sebelumnya.
“He-hei Elena. Apa yang….”
Ucapan Raven terhenti secara tiba-tiba. Dia kehilangan fokus saat melihat tubuh Elena yang sintal dan wajahnya yang menawan. Selama ini, Raven tidak pernah memperhatikan Elena. Dia tidak pernah menyadari bahwa Elena adalah perempuan yang sangat menarik hingga saat itu.
Baik dari wajah hingga tubuh, bisa dibilang Elena hampir menang dalam semua aspek fisik. Sebagai seorang laki-laki yang sedang berada dikondisi seperti itu, langsung membuat dia merasa sedikit gelisah dan canggung.
“Raven….” ucap Elena
Raven terkejut mendengar suara Elena yang tiba-tiba menjadi lebih lembut. Rangkulan Elena juga semakin kuat dan secara perlahan mendekatkan wajah Raven dengannya.
“Raven….aku...aku…” Ucap Elena
Raven semakin kehilangan fokus. Keduanya tenggelam dalam suasana tersebut. Elena yang merangkul Raven secara perlahan semakin mendekati wajahnya. Keduanya menjadi semakin dekat hingga tinggal beberapa inci saling menyentuh bibir.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka. Raven dan Elena secara spontan langsung menengok kearah suara tersebut dan melihat Kriss yang berdiri disana.
“Hei Elena. Bagaimana keadaan…..”
Ucapan Kriss terhenti saat melihat mereka berdua. Situasi terasa sangat canggung saat itu. Dia terkejut melihat posisi mereka yang sangat aneh dan akhirnya menyebabkan kesalahpahaman.
“Ma-maaf menganggu…” ucap Kriss
Kriss pun langsung keluar dari ruangan dengan menutup pintu tersebut.
“Astaga! Siapa sangka dia ternyata sangat ganas masalah perempuan!” ucap Kriss
Tiba-tiba pintu ruangan yang baru saja ditutup oleh Kriss terbuka lagi. Secara spontan, Kriss langsung berbalik dan melihat ada Raven disana. Raven langsung memegang bahu Kriss dengan kuat dan penuh intimidasi.
“Ra….Raven? Aku tidak melihat apa-apa kok….” ucap Kriss dengan suaranya yang bergetar
*****
Raven pun menjelaskan apa yang terjadi. Dari bagaimana dia bangun hingga terjatuh dan berada di posisi tersebut.
“Begitu ya. Aku kira, kalian sedang…” ucap Kriss
“Lanjutin ngomongnya biar kubolongi kepalamu itu!” ucap Raven
“Ampuni hamba!” ucap Kriss
Sementara itu, Elena masih terdiam tersipu malu. Dia terus memegang kedua pipinya dan memikirkan kejadian tadi hingga membuat wajahnya terus memerah sendiri.
Elena pun melirik kearah Raven secara diam-diam. Tetapi, ternyata saat itu Raven juga sedang melirik kearahnya. Kedua mata mereka pun saling bertemu. mereka tersipu malu dan memalingkan wajahnya.
Karena merasa canggung, Kriss pun mencoba untuk mengembalikan suasana menjadi normal.
“Ehem…. Seperti kamu sudah kelihatan sehat” ucap Kriss pada Raven
“Hah? Memangnya apa yang terjadi?” ucap Raven
“Se-seperti yang aku bilang, kalau kamu itu melawan bandit dan terluka” ucap Elena
“Tetapi aku tidak pernah ingat pernah melawan bandit!” ucap Raven
“Kamu memang tidak melawan bandit” ucap Kriss
“Hah?!” sahut Raven dan Elena
“Tapi melawanku” ucap Kriss
“Apa maksudmu?!” ucap Raven
Kriss pun menjelaskan pertarungan dia dengan Raven. Dari cara bertarung, kekuatan, kecepatan serta sifatnya diceritakan secara detail. Raven dan Elena yang mendengar hal itu merasa sangat aneh dan bingung.
“Jadi aku dirasuki oleh sesuatu dan hilang kendali?” ucap Raven
“Tu-tunggu dulu! Kata Iris dan yang lain, kamu bertarung dengan bandit dan tuan Kriss datang membantu” ucap Elena kebingungan
“Itu cerita kebohongan dariku. Kalau aku ceritakan yang sebenarnya, sudah pasti identitas Raven akan terbongkar” ucap Kriss
Raven hanya terdiam setelah mendengar cerita Kriss. Dia melipat silang kedua tangannya di dada dan memejamkan matanya. Kriss yang melihat Raven merasa sedikit aneh dengan sikapnya.
“Hei ada apa?” tanya Kriss pada Raven
“Mungkin ini hanya pemikiranku saja. Tetapi aku rasa….. tidak, lupakan saja” ucap Raven
“Haahh…. Lalu bagaimana denganmu? Kalau kamu tidak ingat bertarung denganku, seharusnya kamu ingat apa yang terjadi sebelumnya” ucap Kriss
“Sebelum itu, aku ingin bertanya padamu” ucap Raven
“Apa?” tanya Kriss
“Apa kamu mengenal Dale? Bawahan Jack dari keluarga Zexter?” tanya Raven
“Aku tahu sedikit mengenainya. Memangnya ada apa?” ucap Kriss
Raven pun akhirnya menjelaskan segala hal yang dia ingat. Mulai dari mengintai bangsawan hingga melawan assassin.
“Sejauh itu yang kuingat. Setelah itu aku merasa kesakitan diseluruh tubuh” ucap Raven
“Tunggu! Kamu bilang Gera Ainsley bertemu dengan Dale di hutan itu?!” ucap Kriss
“Itu yang ku katakan” ucap Raven
“Kamu tahu darimana bahwa itu Dale?” tanya Kriss
Raven menceritakan hal yang dialami di kota Georgia. Dia bercerita tentang percakapan Dale yang dia dengar dengan seseorang di sihir komunikasi hingga bertarung melawannya. Kriss terkejut mendengar ucapan Raven.
“Kamu bertarung dengannya?!” ucap Kriss
“Iya. Tapi aku sudah menutupi wajahku, jadi dia hanya tahu kalau yang menyerangnya adalah dewa kematian” ucap Raven
“Ini sangat membingungkan!” ucap Kriss
Beberapa hari lalu, dia mendengar diskusi dengan Luna dan lain-lain mengenai kasus tersebut. Mereka tahu kalau bawahan Jack yang bernama Dale diserang oleh dewa kematian. Setelah mendengar penjelasan Raven, seluruh cerita menjadi tersambung dan bertemu disatu titik.
“Apa kamu tahu kalau beberapa orang sudah menganggapmu sebagai pelaku penyerangan kota Georgia?” tanya Kriss
“Aku sudah tahu itu. Aku juga sudah membicarakannya dengan Elena” ucap Raven
“Kalau yang kamu bilang itu benar, maka…. Brengsek!” ucap Kriss
“Memang aneh namun inilah kenyataannya” ucap Raven
Kriss seketika langsung terdiam. Dia langsung memikirkan hal yang Jack dan Gera ingin lakukan. Mendengar bahwa para pengawal Gera sendiri dibunuh dan ingin dikumpulkan mayatnya, sudah sangat mencurigakan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Secara spontan, semuanya langsung menoleh kearah sumber suara tersebut. Mereka melihat ada Darius yang sedang berdiri dipintu itu.
“Darius..” ucap Kriss
“Maaf mengganggu” ucap Darius
Darius pun masuk kedalam kamar tersebut. Dia langsung berjalan menghampiri Raven yang sedang duduk diranjang.
“Raven, bagaimana keadaamu? Apa kamu masih ingat denganku?” tanya Darius
“Apa maumu?” ucap Raven dengan acuh
“Aku hanya ingin berbincang saja kok” ucap Darius
“Tidak tertarik” ucap Raven
Elena yang persis sedang duduk dikursi samping ranjang Raven, langsung mensikut badannya.
“Ugh! Apa yang kamu lakukan?!” bisik Raven
“Jaga bicaramu! Tuan Darius yang telah membantu kamu dan mencarikan dokter untuk memulikanmu!” bisik Elena
“Cih! yang benar saja!” bisik Raven
Darius memang tidak mendengar percakapannya. Tapi dia merasa sedikit bingung dengan sikap mereka berdua.
“Kalian kenapa?” tanya Darius
“Tidak apa-apa. Apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Raven
“Sepertinya kamu jadi tertarik ya” ucap Darius
“Langsung ke intinya saja!” ucap Raven
“Kalau begitu, apa kamu tahu Leo Xander?” tanya Darius
Mendegar kata-kata itu yang masuk kedalam telinganya, membuat Raven langsung terkejut hingga terdiam menunduk. Sementara itu, Kriss langsung merasa panik. Dia lupa memberitahu informasi bahwa data dirinya sudah sedikit diketahui.
“(Sial! Aku lupa memberitahu kalau Darius sedang mencari identitasnya!)” ucap Kriss
Raven masih saja terdiam. Elena yang berada disebelahnya, mengetahui persis bagaimana reaksi Raven yang menunduk saat itu. Tentu saja, Elena merasa kebingungan dengan wajah Raven yang tiba-tiba mengkerut marah. Tetapi, Raven mengangkat kepalanya dan menjawab pertanyaan Darius.
“Tidak tahu” ucap Raven
Elena dan Kriss terkejut saat melihat Raven yang membalas ucapan Darius seperti itu. Meskipun pemikiran keduanya berbeda, tapi mereka berdua merasa bahwa Raven akan meledak emosi secara tiba-tiba karena ditanya seperti itu.
“Begitu ya. Aku kira kamu tahu” ucap Darius
“Tidak….” ucap Raven
“A-anu…. Memang ada apa dengan Leo Xander?” tanya Elena
“Hm? Ah tidak apa-apa kok. Kalau begitu maaf sudah mengganggu ya” ucap Darius
Darius pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Raven dan yang lain merasa kebingungan atas kedatangan Darius tadi.
“Kriss” ucap Raven melirik kearahnya
“Iya iya…” sahut Kriss
“Sebenarnya ada apa?” ucap Elena sambil memiringkan kepalanya
Kriss pun menjelaskan arti dari pertanyaan Darius. Dia bertanya seperti itu untuk memastikan apakah Raven mengenal ataupun bahkan punya suatu hubungan dengan Leo Xander. Mengingat kemampuan serta sebagian data diri Raven yang sudah diketahui oleh Darius, dia mempunyai pemikiran bahwa Raven adalah anak dari Leo Xander.
Pemikirannya memang cukup akurat. Karena masih belum yakin, dia pun bertanya kepada Raven. Karena Raven yang menjawab tidak mengetahui tentang Leo Xander, maka Darius pun menjadi sedikit ragu dengan spekulasi yang dia dapat.
“Darius baru saja menemukan data dirimu. Untung saja sebagian kertasnya sobek” ucap Kriss
“Memangnya siapa Leo Xander itu sebenarnya?” tanya Elena
Mendengar pertanyaan Elena, secara perlahan Raven pun melirik kearahnya.
“Dia ayahku” ucap Raven
“Ayahmu?” sahut Elena