Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mentari
🍂🍂🍂
Menjelang berakhirnya jam kerja perusahaan. Ardian kembali ke kantor untuk menjemput Rindu. Kali ini Ardian berencana akan membuat kejutan untuk Rindu. Saat sampai di studio, Ardian tidak melihat Rindu di manapun. Hanya Teo sendiri yang sedang fokus dengan lagu yang baru direkam tadi bersama Rindu.
"Bro… Rindu mana?"
Teo yang tidak sadar dengan kedatangan Ardian pun kaget lalu mematikan audio. Pasalnya Ardian sudah lama tidak seakrab ini bicara dengannya. Selama dua tahun bekerja dengan Ardian Teo tidak pernah lagi melihat sisi Ardian yang dulu. Kali ini Teo akan bersikap biasa-biasa saja, sebenarnya ia senang Ardian sudah mulai berubah seperti dulu lagi.
"Rindu pergi ke toilet," jawabnya santai.
"Mmm… malam ini lo jangan lupa," sambung Ardian lagi masih didepan pintu.
"Ermmm… gue nanti langsung ke sana."
"Rindu gue bawa dulu, pekerjaannya sudah selesai kan?"
"Ya bawa sana… Rindu juga belum gue kasih kerjaan."
"Ok…! Tadi itu lagu siapa? Samar-samar gue dengar seperti kenal suaranya?"
"Bukan siapa siapa!" jawab Teo kemudian.
Rindu memintanya untuk merahasiakan masalah rekaman tadi pada Ardian. Jika waktunya sudah tepat Rindu akan memberi tahunya.
"Kalau gitu gue pergi dulu," kata Ardian kemudian.
"Ok!"
Ardian pun keluar dan segera menuju ke toilet. Dia menunggu Rindu di depan pintu. Sepertinya ini dulu sering terjadi. Apa Ardian memang hobi menunggu di depan toilet perempuan.
Tidak lama Rindu pun akhirnya keluar. Saat ia membuka pintu toilet itu, ia melonjak kaget melihat Ardian sudah di depan matanya. Sejak kapan pria ini berdiri di sini.
"Ardi… mau apa kamu disini?"
"Aku mau jemput kamu."
Tangan Rindu langsung di tariknya menuju lift. Terpaksa Rindu mengikuti kemauan pria itu. Dari dulu Rindu memang sulit untuk menolak keinginan Ardian. Kecuali untuk urusan hatinya.
"Tapi ini belum waktunya pulang."
"Apa ada yang melarang CEO pulang cepat?" tanya Ardian sombong.
"Ciihh… CEO! orang-orang bisa heran dengan CEO balok es mereka jika bersikap seperti ini?"
"CEO balok es?" tanya Ardian kemudian.
Mereka sudah berada di depan lift, menunggu pintu lift itu terbuka dan membawa mereka turun.
"Iya… hampir semua karyawan di sini menjuluki mu begitu."
"Hahahaha… wajar saja, karena sang mentari tidak ada di dekatku."
"Mentari?"
"Ya… kamu! Hanya sang mentari yang mampu mencairkan es. Dan sekarang mentari itu sudah ada disini!" katanya lirih, suaranya melembut.
Jawaban Ardian itu membuat Rindu terdiam. Ada sesuatu yang menggelitik ia rasakan. Ardian sekarang sangat ahli menggombal. Saat pintu lift itu terbuka, Rindu ditarik masuk begitu saja. Setelah masuk Ardian menekan tombol ke lantai 11. Rindu mengerutkan keningnya, bukankah tadi Ardian bilang menjemputnya. Lalu kenapa naik ke atas bukan nya ke bawah.
"Ardi… bukanya kita mau pulang?"
"Aku berubah pikiran, ada hal yang harus aku kerjakan segera."
"Oo… baiklah."
Rindu percaya begitu saja, tanpa curiga hal seperti apa yang dimaksud Ardian. Rindu melirik sekilas ke samping. Muka Ardian tiba-tiba menegang.
Saat sampai di depan pintu kantornya. Ardian menyuruh Mira sang sekretaris untuk pergi. Terserah mau kemana, asal jangan di lantai ini. Begitupun juga dengan karyawan yang bekerja di lantai itu. Dalam sekejap lantai khusus CEO itu pun kosong.
Mereka pun masuk, dan Ejja masih sibuk dengan setumpuk pekerjaan yang Ardian tinggalkan. Dalam pikiran Ardian, ia harus merombak kembali ruang kerjanya. Ruangan kerja Ejja harus dipisahkan darinya. Ini sangat mengganggu. Akhirnya Ejja juga diusir dari ruangan itu. Dengan bersungut-sungut Ejja terpaksa meninggalkan pekerjaan yang masih menumpuk. Bos nya ini memang suka membuatnya kerepotan.
"Ardi… kenapa semua orang kamu suruh pergi?"
"Karena aku tidak butuh mereka."
"Maksudnya apa?"
Rindu diminta untuk duduk. Ardian tersenyum, lalu berjalan ke arah lemari pendingin, dan mengambil dua kaleng minuman coklat. Minuman kesukaan Rindu. Rindu pun kaget saat Ardian berjalan ke arahnya dengan dua buah minuman coklat.
"Coklat…? Sejak kapan kamu suka coklat?"
"Semenjak kamu pergi," jawabnya datar.
Ardian membukakan kaleng minuman itu. Rindu mengambil dan langsung meneguknya. Ardian juga meminumnya.
Setelah mereka meneguk beberapa kali. Ardian mengambil kaleng minuman di tangan Rindu dan meletakkan keduanya di meja.
"Rin…," panggil nya lirih.
"Emm…"
Ardian telah menahan gejolak di dadanya. Setelah banyak bercerita dengan mama Lia tadi siang, ia merasa ingin memeluk Rindu secepatnya. Dan kali ini ia ingin meyakinkan Rindu sekali lagi mengenai perasaanya.
"Aku ingin memelukmu?"
"Hhaaaahhhh?"
Tanpa bertanya lagi, Ardian menarik rindu ke dalam pelukannya. Pelukan yang begitu erat hingga membuat Rindu merasa sesak. Seketika itu Rindu tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Ada apa ini? Kenapa ini sangat tiba-tiba.
"Ardi…!"
"Sebentar saja… aku sangat ingin memelukmu. Hanya sebentar lagi."
Bukan hanya pelukan biasa. Ardian melayangkan kecupan hangat di puncak kepala Rindu. Kecupan bertubi-tubi sekaligus menghirup harumnya aroma rambut wanita itu. Rindu terdiam. Hatinya menghangat tiba-tiba. Perlakuan Ardian padanya sangatlah romantis. Rindu tidak pernah diperlakukan seromantis ini, bahkan oleh mantan suaminya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ardian tiba-tiba. "Aku tidak, aku sangat menginginkan kamu menjadi milikku saat ini."
"Ardi…! "mana mungkin aku bisa bilang aku baik-baik saja sekarang. Kamu berhasil membuatku berdebar Ardi," sambung Rindu dalam hati.
"Kenapa?"
"Aku…!"
Ardian melonggarkan pelukannya. Lalu di tangkupkan kedua tangannya ke pipi wanita cantik itu. Tatapannya tajam menusuk ke dalam mata Rindu, langsung mengarah ke jantungnya. Rindu berdebar sangat hebat.
"Rin… sayang! Izinkan aku untuk menikahi kamu. Aku sungguh sangat ingin melindungi kamu, bahkan dengan nyawaku sekalipun. Kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat ku menggila. Aku ingin sesegera mungkin memberikan kebahagiaan untukmu. Aku ingin membuat mentariku kembali cerah. Aku sanggup jika kamu berada di pelukku setiap saat seperti ini. Semua kesedihanmu akan aku ambil. Semua penderitaanmu akan aku hapus."
"Ardi… apa maksudnya?"
Rindu menurunkan perlahan kedua tangan pria di hadapannya.
"Penderitaan… mama mengatakannya? mama menceritakan tentang penyakitku?"
"Iya… setelah aku menyaksikan ya sendiri kemarin!"
"Apa maksudnya? Aku sudah lama sembuh. Aku sudah melupakan semua kejadian itu!"
Otak Rindu langsung bekerja dengan cepat, ia membantah kejadian kemarin siang.
"Rin…!"
"Mama bercerita tentang apa saja padamu? Kamu tahu semua kejadiannya?"
"Tidak… aku belum sanggup untuk mendengarkan semuanya. Kamu benar, aku ternyata belum siap."
"Hhhh…!"
"Rin… kamu mau menikah dengan pria yang sangat menginginkan mentarinya ini?"
Rindu terdiam. Ardian benar-benar serius dengan ucapannya. Tapi apakah hatinya sudah siap untuk menerima Ardian. Apakah ia harus menolaknya untuk saat ini.
"Rin… sayang!"
Ardian menggenggam tangan Rindu. Lalu mengusap-usap punggung tangannya dengan ibu jari. Perlahan ia mengirim pesan hatinya kepada Rindu. Pesan yang penuh dengan harapan. Sorotan mata pria itu mulai meredup. Sudut kelopak matanya mulai berembun. Rindu belum juga merespon. Seketika Ardian panik, hatinya gundah. Jangan sampai Rindu kembali diam seperti sebelumnya. Hatinya bisa saja hancur.
*
*
*
*
Nah... tombol-tombol yang ada di bawah pencet ya, sampai berubah warna jadi biru atau merah... Terima kasih... 🥰
Komen Yuk ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Dukung terus author ya...
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣