Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.
Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.
Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.
Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.
Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.
Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH DELAPAN (MASIH ADA GANGGUAN)
Hari kedua pencarian mayat Bu Tejo berlangsung, semua warga sudah tahu kondisi saat ini. Dan beberapa warga turut membantu, bapak-bapak yang pergi ke ladang berhenti sementara dan ikut dalam pencarian. Sementara ibu-ibu mulai membuat panganan untuk konsumsi rombongan yang pergi ke desa-desa tujuan.
Di hari kedua inipun masih belum ada kemajuan, semua warga yang kembali pada tengah hari melaporkan tidak ada kejanggalan di desa yang mereka datangi. Juga… tak ada laporan diterima dari RT masing-masing.
“Apa mungkin pelakunya orang jauh.” Celetuk Cakra saat rombongan berkumpul di balai untuk istirahat makan siang.
“Atau mungkin pelakunya orang dekat tapi bersembunyi di kota atau bahkan keluar kota?” tambah Mukmin.
“Yah bisa jadi” timpal Pak Mahmud “di desa yang kami datangi memang ada beberapa warganya yang tidak ada di rumah. Keluarganya memberi tahu kalau mereka memang kerja di kota dan sedang ada urusan.” Jelasnya.
“Yah kemungkinannya memang ada pak. Tapi sampai mayatnya ketemu kita belum bisa memastikan kebenarannya.” Tanggap Pak RT.
Semua diam dan termenung, tentu saja mereka bertanya-tanya kemana mayat Bu Tejo dibawa. Dia memang orang yang cukup menyebalkan dan perkataannya sangat tajam, tapi akankah ada yang dendam sampai tega mencuri mayatnya.
Sementara… di rumah Bu Tejo sendiri, Mbah Raminten belum berhenti menangis, tangisannya bahkan sudah mengering. Ia terus memanggil nama anaknya, Kinasih Mayangsari. Mbah Raminten sangat kehilangan anak perempuan satu-satunya itu, dan hari ini kedua kakak laki-lakinya yang tinggal di Ngawi datang setelah sebelumnya mereka mengabari tidak bisa datang di hari pemakaman karena pekerjaan.
Semua anak-anak Bu Tejopun sama berdukanya dengan Mbah Raminten, bedanya mereka tak menangis sepanjang waktu. Mereka menangis dalam hati, apalagi Kania yang baru saja memulai masa dewasa awalnya tanpa ibu. Ia hanya bisa mengurung diri di dalam kamar, sementara Nila dan Rangga lebih banyak diam dan tak bermain dengan teman-temannya.
Pak Tejo sendiri tak bisa terus-menerus berduka, meski hatinya berkabung ia juga tetap ikut dalam pencarian mayat istrinya. Pak Tejo mendapat bagian pergi ke Desa Kaliaren, ia menegarkan diri untuk bisa mendapatkan kembali istrinya meski wujudnya sudah bukan lagi manusia.
“Dianterin ke balai Num.” kata Marni menyodorkan nampan berisi ketimus buatannya.
“Iya bu.” Hanum langsung menerima nampannya.
“Makasih ya.” Ucap Marni sebelum anaknya melewati ambang pintu rumah.
Hanum hanya tersenyum dan kembali berjalan menuju balai. Hari ini Marni sudah memberi tahu bahwa ia akan mengirim camilan untuk para rombongan yang ikut pencarian. Ia membuat puluhan ketimus yang dibungkus daun pisang yang sedang diantar Hanum.
Tak sampai lima menit Hanum sudah ada di balai. Terlihat bapak-bapak yang sedang melahap makan siang mereka, ada yang sedang mengobrol, ada juga yang sedang merokok. Hanum mendekati meja Pak RT, ia menyerahkan nampan yang dibawanya.
“Makasih ya Num.” kata Pak RT yang menerima camilan itu.
“Sama-sama Pak RT. Hanum pamit ya.”
“Nanti nampannya ada yang ngembaliin ya.”
“Gampang, nanti bisa Hanum jemput lagi. Hehe.”
Setelah pamit dan menyapa beberapa warga, Hanum segera pergi untuk kembali ke rumahnya. Masih ada baju pengantin setengah jadi yang menunggunya. Kejadian yang terjadi membuat pekerjaannya terhambat, termasuk Bima.
Otak dan hati Hanum dipenuhi dengan wajah lelaki itu hingga sulit untuk fokus dan menyelesaikan pekerjaannya. Dan wajah dalam otak Hanum kini menjelma nyata, wajah manis itu muncul di hadapan Hanum. Mereka bertemu di halaman balai.
“Aku anterin pulang ya.” Ucap Bima.
“Nggak usah, bentar lagi kan mau pergi.” Sahut Hanum yang tahu jadwal pencarian ini.
“Yaudah kalau gitu. Aku mau isi ulang tenaga dulu.” Kata Bima yang langsung menggenggam tangan Hanum.
Hanum terperanjat kaget, satu tangannya menutup mulutnya untuk menahan agar ia tak berteriak. Hanum melirik ke kiri dan kanan, ia masih khawatir dengan hubungan mereka. Ia belum mau ada yang tahu tentang mereka berdua.
Satu menit berlalu, Bima melepaskan tangannya dan tersenyum sangat lebar. Ia sangat senang bisa bertemu dengan Hanum, bahkan menggenggam tangan gadis pujaannya itu.
“Pulang gih. Nanti aku telepon kalau udah selesai.”
“Hm. Hati-hati ya.”
Tangan Hanum melambai sebelum ia berbalik dan pergi meninggalkan Bima. Mereka tak sadar sepasang bola mata tajam tengah memperhatikan kemesraan keduanya, sepasang mata yang dipenuhi dengan kecemburuan mendalam.
Hanum sudah kembali ke rumah dan segera mengambil baju pengantinnya, ia harus segera menyelesaikannya. Baju itu memang bukan pesanan, tapi itu salah satu baju yang akan disewakan karena yang lain sudah cukup ketinggalan.
“Ibu belum ada jadwal ngerias lagi bu?” Tanya Hanum pada ibunya yang sedang menonton TV.
“Belum ada nih, tumben.” Sahut Marni disusul nafas berat.
“Nggak apa-appa, mungkin ibu disuruh istirahat dulu.” Hanum mencoba menghibur ibunya.
“Iya.” Sahut Marni singkat.
Hanum dan Marni tenggelam dalam kegiatan mereka masing-masing hingga tak sadar matahari sudah merangkak menuju ke pembaringannya. Langit mulai menguning dan rombongan burung beterbangan.
Pekerjaan Hanum sudah menunjukkan hasil meski belum rampung, sementara Marni mulai menyiapkan makan malam mereka. Satu persatu makanan dan peralatan makan sudah ada di atas meja tamu. Dan merekapun makan dengan tenang.
Setelah makan dan membersihkan sisanya. Hanum dan Marni mandi dan solat magrib, lalu mereka kembali ke ruang tamu untuk menonton TV. Suasan terasa hening, hanya ada gemuruh salah satu stasiun TV yang menggema di rumah mereka.
“Num.” Panggil Marni pelan.
“Kenapa bu?” Tanya Hanum tanpa melirik ibunya.
Saat wajah Hanum terangkat yang ia lihat bukan ibunya, melainkan wanita pucat dengan sanggul dan kebaya serta kain jarik yang membuat dirinya berteriak histeris dan bangun untuk berlari.
Jantung Hanum hampir copot, ia sangat panik hinggak menangis histeris. Hanum terus berlari tanpa arah dan tujuan hingga akhirnya tubuhnya ambruk dan tak sadarkan diri.
Cakra yang hendak mendatangi balai sangat kaget saat melihat tubuh yang tergeletak di depan rumahnya, buru-buru ia memanggil ayah dan ibunya. Ternyata itu Hanum, dan mereka segera membawa anak itu ke dalam rumah mereka.
“Minum dulu Neng Hanum.” Kata ibu Cakra yang menyodorkan segelas air putih di tangannya.
“Makasih Bi Isti.” Hanum menerima gelas itu dan menenggak isinya sampai habis.
“Istigfar neng.” Saran ayah Cakra.
Hanum yang sudah sadar buru-buru merapalkan semua ayat-ayat suci yang dihafalnya, ia memejamkan matanya dan memegangi kepalanya yang pening. Telinganya berdenging mengingat namanya dipanggil dengan seram oleh sosok itu.
Di sekeliling Hanum yang berbaring di kursi ruang tamu Cakra, tentu saja sudah ada Bima dan keluarganya. Tapi tidak dengan ibunya.
“Ibu mana?” Tanya Hanum khawatir.
“Num… malam ini kamu nginep di rumah bude lagi ya.” Marini mendekati Hanum dan mengusap kepalanya.
“Ibu?”
Sudah disepakati kalau Hanum akan tinggal di rumah Marini untuk sementara waktu, sementara Marni menginap di rumah Mbah Uti. Itu yang disarankan Mbah Uti untuk saat ini.
Semua orang yang hadir disana kini sudah tahu duduk perkaranya. Sama seperti kabar hilangnya mayat Bu Tejo, gangguan memedi di rumah Hanumpun sudah menyebar dan diketahui warga. Pak RT dan Pak RW pun hadir di rumah Cakra karena memang mereka sedang berkumpul di balai, dan mereka segera datang setelah mendengar kondisi Hanum.
“Neng Hanum biar tinggal di rumah bude Rini ya. Biar tenang pikirannya.” Kata Pak RW menegaskan keputusan para orang dewasa itu.
Marni sudah ada di rumah Mbah Uti sesuai dengan saran nenek tua itu dan diketahui oleh Pak RT Pak RW dan warga. Kini Hanum kembali ke rumah Bima, ada perasaan mengganjal di hatinya karena merasa merepotkan.