NovelToon NovelToon
Mayang Dan Bima

Mayang Dan Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Cintamanis / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:100.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rumaika

[[ TAMAT ]]

IG : @rumaika_sally

Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Tenda Bersama

Bibir Bima sobek sedikit.

Mereka agak telat melerai karena tak pernah menduga Bagas akan senekat itu. Edo dan yang lainnya memegangi Bagas.

Bima diam di tempat tanpa melawan. Ia hanya menyeriangi sambil menyeka mulutnya dengan jari. Ia berdarah. Tapi itu hal biasa dan tak seberapa baginya. Ia pernah lebih dari babak belur. Satu tonjokan tak berarti baginya.

Mayang membekap mulut dengan kedua tangannya, matanya terbelalak. Ia ketakutan, ia terkejut. Sebelumnya tak pernah ia saksikan hal seperti ini. Papa tak pernah sekalipun marah, menggebrak meja atau membanting pintumu tak pernah.

"Mas Bima kenapa? Mas Bima nggak papa?" Katanya panik. Ia pegang muka Bima yang berdarah. Tak sadar ia menangis. Air matanya kemana-mana. Ia ketakutan.

Susi memegangi kepalanya, pusing ia dibuatnya. Ia merasa kalau ialah yang bertanggungjawab atas segala keributan. Tak disangkanya akan begini jadinya.

"Bagas udah Gas," dia berteriak kesal ke arah Bagas. Bagas hendak melepaskan diri dari pegangan teman-temannya. Ingin rasanya memukul Bima sekali lagi. Ia makin kesal Mayang membelanya.

Ada 9 anak yang masih terjaga. Mereka duduk di bangku kayu depan api unggun. Mayang tampak ketakutan. Bima menggenggam tangannya. Bagas tampak lebih tenang. Ia duduk diapit Edo dan Bani. Susi berdiri tampak berpikir keras, mukanya kesal.

"Kalian kenapa sih?" Ia memandangi Bima dan Bagas bergantian.

"Ya lu pikir dong, Sus. Lu nggak denger tadi Bima ngomong apa?" Bagas tampak berapi-api lagi. Edo memegangi pundaknya. Takut Bagas naik lagi amarahnya.

"Emang gue ngomong apa?" Bima berkata santai. Ditatapnya Bagas yang makin kesal.

"Jelas lo yang mulai duluan. Nih, lo yang nonjok gue. Lo yang nyerang gue. Gue diem aja dari tadi." Bima memegangi bibirnya yang sobek.

"Emang Mas Bima ngomong apa. Dia cuma bilang biar Mayang tidur di tenda dia," Mayang berkata polos.

Susi tak mengerti lagi. Ia bingung menyusun kata-katanya.

"Emang Mayang nggak apa-apa tidur sama Bima?" Susi berkata ragu. Kata-katanya sedikit terbata.

"Ya nggak papa. Emang kenapa sih?" Mayang nampak bingung. "Mayang sering kok tidur sama Mas Bima. Iya kan Mas Bima?"

Suasana hening. Mereka nampak salah tangkap. Susi kebingungan lagi hendak menyusun kata-katanya.

"Mmm...Maksud Mayang gimana? Mmm...gimana? Tidur berdua? Di...dimana?"

"Ya di rumah. Kadang di studio kalau Papa kemaleman jemputnya. Kadang di depan TV kalau abis nonton terus ketiduran." Mayang tak mengerti. Semua menatapnya heran.

"Oh...Oke...Oke..." Susi mulai paham. Mayang sepolos ini. Tapi Susi sempat di Jakarta beberap tahun. Ia tahu benar pergaulan di sana sangat jauh dari kepolosan Mayang. Apalagi Bima, ia pindahan dari Jakarta kan. Usianya juga di atas teman-temannya.

Semuanya hening lagi. Bima akhirnya membuka suara, "Oke Bima tidur di luar aja kalu gitu. Kalau Mayang takut, Mas Bima di tidur di depan tenda. Ada tikar kan tadi yang buat main kartu?"

"Jangan, Mas. Dingin. Kenapa sih emnganya kalau tidur di dalam tenda?" Mayang nampak tak mengerti.

"Ok," Bima mengangkat bahunya. Ia tegaskan sambil sengaja menatap Bagas. "Bima  buka jendelanya," Bima lalu beranjak.

Si samping kiri dan kanan tenda ada jendela yang bisa dibuka dan ditutup. Bima menggulungnya dan memasang talinya. Di dalamnya nampak transparan, ada plastik tebal berwarna bening. Tenda tetep hangat, udara juga tak akan masuk, tapi tetap akan kelihatan dari luar.

Bima berkacak pinggang. Ia tatap Bagas lekat-lekat. "Transparan, bisa kelihatan dari luar. Lu bisa tengok semalaman atau kalau perlu lu tidur depan tenda."

Bagas menatap nanar, tangannya terkepal. Tapi ia bisa menahan diri.

"Udah deh, udah," Susi menengahi. Takut terjadi keributan lagi. Cowok-cowok itu membuatnya pusing.

"Maaf ya. Gara-gara Yasmin jadi kemana-mana ributnya," Yasmin tampak merasa bersalah. Elena di sampingnya, mengamit lengannya.

"Udah-udah. Nggak papa Yasmin. Bukan salah siapa-siapa. Pelajarannya, kita jangan emosian, apa-apa diomongin dulu. Jangan ribut. Semua acara yang tadinya mau seneng-seneng malah rusak kan?" Perkataan Susi diamini semua orang. Meraka mengangguk-angguk setuju.

"Sekarang udah ketemu solusinya. Jangan ribut lagi, kasihan yang lain nanti kebangun. Udahlah kita tidur. Besok mau menyusur sungai kan sesuai rencana? Tapi Susi usul kalau nginepnya malam ini aja. Daripada bikin ribut lagi. Besok sebelum sore kita pulang ke rumah. Nanti Bagas bilang Pak Yanto. Nah, yang bawa kendaraan sendiri di bawah tinggal pulang. Yang butuh dijemput, besok bisa langsung ngabarin sorenya. Besok pagi kita umumin ke yang lain juga kalau ada perubahan rencana."

Dalam keadaan apapun, Susi tetap menemukan ketenangannya. Kata-katanya terdengar mantap, tanpa ragu. Membuat semua orang paham dan tak bisa membantah lagi. Bagas diam saja, ia sudah kesal sedari tadi. Ia memendam. Sekarang pasti Mayang tak menyukainya karena ia menyerang Bima tadi. Ah, ia mendengus kesal dan menjadi orang pertama yang meninggalkan api unggun. Disibaknya pintu tendanya keras-keras. Semua bubar. Susi yang paling akhir. Ia menatap Bima dan Mayang bergantian.

"Oke. Selamat istirahat. Kita jumpa besok lagi. Jangan ada yang berantem lagi," ia tersenyum ke arah Mayang dan menepuk pundak Bima. Ada isyarat di balik tepukan pundaknya. Bagaimanapun Susi merasa belum tenang.

***

"Sakit ya, Mas Bima?" Mayang menyentuh bagian bibir Bima yang memar. Matanya berkaca-kaca. Ia berhati rapuh. Ia tak pernah melihat orang berkelahi sebelumnya. Apalagi ini Bima.

Bima menggeleng. Ia membenarkan selimut mayang sekali lagi. Mereka tidur berhadapan. Dielusnya rambut Mayang. Ia tahu anak itu begitu mudah menangis. Disekanya air matanya.

"Udah jangan nangis. Cuma luka sedikit. Besok juga udah nggak papa."

"Kenapa sih Mas Bima musuhan terus sama Bagas?" Ia merajuk. Matanya memamdang Bima dengan penuh tanya.

"Siapa yang musuhan? Mas Bima diem aja tadi. Bagas yang mukul."

"Enggak. Bukan itu. Mayang tahu kok Mas Bima selalu ketus ke Bagas. Di parkiran juga. Nggak pernah baik-baik."

"Soalnya Bagas yang mulai duluan."

"Ah, Mayang tahu kok. Pasti ada yang Mas Bima sembunyikan sama Bagas. Iya kan?"

Deg...!

Jantung Bima berdetak keras. Surat itu.

Bima menggelang pelan. "Perasaan Mayang aja kali."

"Enggak. Emang ada apa Mas Bima sama Bagas? Sebelum Mayang pindah, kalian pernah berantem juga?"

"Enggak."

"Terus kenapa?"

"Soalnya Mas Bima nggak suka sama dia?"

"Kenapa nggak suka?"

"Soalnya Bagas....Mmm...Udahlah. Nggak papa kok. Beneran. Mayang tidur deh. Besok Mas Bima mau turun pagi-pagi duluan."

"Mau kemana?"

"Mau ambil footage buat sunrise. Di belakang gudang ada jalan buat turun. Kayaknya matahari terbit kelihatan dari situ."

"Mayang ikut ya."

"Nggak usah. Nanti jatuh. Mas Bima belum lihat jalannya susah atau enggak."

"Yahhh..." Mayang terlihat sedih.

"Nanti rekamin Mayang nyanyi ya. Mayang ikut. Kan kalau pagi anak-anak belum bangun. Terus kita cuma berdua kan turunnya?"

Bima mengangguk. "Beneran Mayang nggak takut? Mas Bima belum pernah ke situ. Takut nyasar."

"Enggak takut. Kan ada Mas Bima."

Bima memandanginya tertidur pulas.

Mayang, ia sesayang itu. Tanpa ia sadari perasaanya makin besar. Apa ini cinta-cintaan yang seperti orang-orang bilang? Ia tersenyum-senyum sendiri. Perasaan ini, belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya sering berdebar. Yang ia ingin adalah kebahagiaan Mayang. Ia senang membuatnya tertawa. Ia begitu sedih membuatnya cemas.

Masa usia belasan Bima agak berbeda dengan anak-anak lainnya. Pengalaman trauma masa kecilnya tentang Papanya membuatnya agak tertutup. Di masa pubertasnya, ia mengalami hantaman keras lagi dalam hidupnya. Ini soal Mamanya dengan Om Adam. Tahun-tahun masa emas remajanya kalut dan hancur. Ia berjanji tak akan menikah dan punya anak. Ia hanya peduli dengan dirinya dan Mamanya. Mamanya tak boleh sakit lagi. Tak boleh ada yang menyakiti Mamanya.

Perhatian Bima jauh dari gadis-gadis. Bahkan ia tak tertarik. Kini umurnya 20. Agak terlambat. Tapi ini cinta pertamanya. Ia yakin perasaan itu cinta namanya.

1
Qaisaa Nazarudin
Penuh liku2 banget hubungan mereka,tapi mengambil waktu yg lama juga nuat mereka nikah sungguhan ya..
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹
Qaisaa Nazarudin
Menurutku cara mayang ini salah,Tempat istri adalah disisi suaminya apapun keadaannya,apalagi sekarang keadaan Bima yg madih terpuruk dan tergoncang,Mayang harus menjadi kekuatan utk Bima,Bukannya malah ninggalin suami,,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Astaga Mayang ingat status kamu,kamu gak bisa lg seenakbya ngadih nomor kamu ke pria lain..apalagi Reza terang2 an bilang alesannya utk apa..🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Makanya seharusnya bilang aja tunangan,apa susahnya sih kalo gak mau jujur udah suami istri..
Qaisaa Nazarudin
Udah sakit baru mau cari MANTAN ISTRINYA.. kalo aku jadi Asti ogah ambil tau soal mantan suami lagi,,Aku bukan orang yg sabar dan terlalu pemaaf orgnya,.Jadi sekali di selingkuhin,Seumur hidup akan ku ingat,aku langsung dikte kalo kamu itu org yh gak ku anggap lagi,,
Qaisaa Nazarudin
#Udah SAH gitu..
Qaisaa Nazarudin
Tunangan aja,jgn adek atau sepupu lah,sekurang2 nya mereka harus jgn menutupi ikatan mereka sepenuhnya,sekurang2 nya irg tau mereka ada hubungan spesial gitu,takutnya ada yg ganggu..
Qaisaa Nazarudin
#Ibu angkat
Qaisaa Nazarudin
Kenapa Mayang masih manggil TANTE Asti?? Udah jadi Mertua juga inu angkat juga, Harusnya panggil MAMA juga dong..
Qaisaa Nazarudin
KARMA buat papanya selingkuhin istrinya sendiri,ninggalin anak dan istri,Nah sekarang dia yg di tinggalin,, Mantoopp👍🏻👍🏻
Qaisaa Nazarudin
Nyesek aku thor🥹🥹🥹😫😫😫😫😫😭😭😭😭😭
Qaisaa Nazarudin
Mengambil alih pengasuhan Mayang?? Bukannya Mayang mmg udah istrinya Bima ya,, jadi Mayang udah jadi tanggungjawab nya Bima,walaupun umur mayang masih dibawah standar umur utk menikah tp tetap pernikahannya dlm agama itu SAH..
Qaisaa Nazarudin
Lho kok papanya Mayang meninggal?bukannya td udah sadar ya saat Bima ngadih minum..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan,ku bilang juga apa!!! Hadeeuuhh..Rumit..
Qaisaa Nazarudin
Apa papanya Mayang dan mamanya Bima mulai ada hubungan?? Dan nyata nya Bima juga suka sama Mayang..
Qaisaa Nazarudin
Papanya Mayang dan mamanya Bima tuh pekerjaan mereka apa? kok mereka harus pindah ke sini,daerah terpencil,pantesan Bima gak suka,dia itu anak kota,,
Qaisaa Nazarudin
#Dendam mu
Qaisaa Nazarudin
Kasihan sama mama kamu Bim,Dendam ku sama papa kamu,terus kenapa mama kamu yg jadi mangsa nya,harusnya kamu banggain tuh mama kamu,Tunjukkan ke papa kamu,kalo kamu bisa sukaes tanpa beliau..
Nita Yulianita
ceritanya bagus.. tiap bab di like.. semangat thor
Rumaika Sally: thankyou, Kak. baca cerita aku yang lain juga yuk
total 1 replies
Nita Yulianita
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!