Reina Firdausya Atmaja
Seorang wanita yang tegar. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya yang nyaris bangkrut.
Ketika ada jalan, dia harus bertemu dan menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasihnya 10 tahun yang lalu, yang kini sudah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Seorang CEO kaya raya dan playboy?
🌸
Erlan Fabian, mantan pacar Reina saat SMA dulu. Kini telah menjadi executive muda yang sukses, mengidap penyakit psikis akibat trauma di masa kecilnya.
Misinya adalah menikahi Reina, dan balas dendam pada ibu kandungnya sendiri.
Mampukah Reina bertahan?
Dan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?
Apakah Reina mampu mengobati kehidupan Erlan yang kelam dan penuh dengan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aditya
Setelah satu minggu kepergian Surya, suasana di rumah Aditya terasa sepi. Kehilangan sang ayah, membuat Aditya semakin terpuruk. Dia pun banyak menghabiskan waktu di dalam kamar dan merenungkan langkah apa yang harus ia lakukan. Kali ini, ia harus berpijak seorang diri, menjalankan perusahaan tanpa ada dukungan dari sang ayah.
Aditya memejamkan matanya sejenak, sambil menikmati segelas wine yang baru saja ia tuangkan ke dalam gelas. Matanya nanar menatap ke luar jendela.
Hamparan rumput hijau di halaman rumahnya yang luas, terlihat rapi dan terawat. Beberapa tukang kebun, sedang menjalankan tugasnya di bawah sana.
Kemudian... mata Aditya juga menangkap sosok ibu tirinya, yaitu Rianti.
Wanita itu sedang menyiram beberapa bunga kesukaannya, dengan di temani pelayan yang membantu pekerjaannya.
Ingatan Aditya melayang ke beberapa hari lalu. Saat Erlan dan Reina hadir ke rumah duka. Rianti yang menangis sesenggukan karena sikap Erlan, juga suasana rumah duka yang berubah ricuh.
Tring.
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Aditya. Nama Tante Reni tertera di sana. Dahi Aditya mengernyit memandang nama itu.
Tante Reni?
Untuk apa wanita itu menghubunginya?
Reni adalah adik dari almarhumah ibu kandung Aditya. Setelah kepergian ibunya, Aditya sama sekali tidak pernah bertemu dengan keluarga mereka.
"Halo?" ucap Aditya.
[ .... ]
Kedua alis tebal Aditya mengerut, ketika mendengar suara Reni di seberang sana. Entah apa yang di katakan adik dari mendiang ibunya itu, hingga membuat raut wajah Aditya berubah.
"Baiklah." ucap Aditya akhirnya. Dia pun langsung mematikan sambungan telepon begitu saja.
"Apa lagi ini?" gumam Aditya pada dirinya sendiri. Setelah itu, Aditya berjalan menuju walk in closet yang pintunya tersambung dengan kamarnya, lalu mengganti pakaiannya di sana.
Tidak berapa lama, Aditya keluar dari kamarnya yang terletak di lantai atas, berjalan cepat menuruni anak tangga satu persatu. Penampilannya sudah rapi, dengan setelan celana dan kemeja branded yang terlihat mahal. Di bandingkan dengan Erlan, dalam hal penampilan Aditya memang jelas berbeda. Jika Erlan lebih suka berpakaian kasual saat tidak sedang bekerja, Aditya selalu berpakaian rapi kemana pun ia pergi.
"Aditya? kamu mau pergi?" Rianti yang baru saja masuk ke dalam menyapanya. Meski terkejut, tetapi Rianti senang akhirnya Aditya mau keluar dari kamar, setelah beberapa hari mengurung diri karena kematian sang ayah.
"Ya.. aku harus pergi, Bu." jawab Aditya.
"Hemm apa lama? Pak Sadam mau datang hari ini. Dia ingin..."
"Ibu wakilkan saja. Aku ada perlu penting hari ini." pangkas Aditya. Dia sudah paham apa yang akan dikatakan Rianti. Maka ia menyerahkan semua urusan dengan Pak Sadam, pada ibu tirinya itu.
Pak Sadam adalah pengacara keluarga Surya. Kedatangan Pak Sadam pasti ingin membacakan surat wasiat dari Surya. Namun ada yang lebih penting dari itu sekarang. Aditya harus pergi menemui Reni hari ini juga.
"Oh begitu. Baiklah. Nanti kamu bisa tanyakan detailnya pada Pak Sadam."
"Ya, aku pergi dulu." kata Aditya, seraya berlalu meninggalkan Rianti yang masih menatapnya dengan bingung.
Ada apa dengannya? Kenapa Aditya terlihat buru-buru sekali. Batin Rianti.
____________
Tiga puluh menit kemudian, Aditya sampai di depan sebuah rumah, dengan bangunan antik dan asri. Rumah itu terbuat dari kayu jati dengan halaman yang cukup luas.
Aditya berdiri mematung di depan pintu sampai seorang wanita muda berumur sekitar tiga puluh lima tahunan, keluar dari dalam dengan menggendong seorang anak berumur tiga tahun.
Wanita itu adalah Reni, ia tersenyum dan menyapa Aditya dengan ramah.
"Masuklah."
Aditya mengangguk dan mengikuti langkah Reni masuk ke dalam rumah. Bahkan ruang tamunya pun terisi dengan barang-barang antik. Dengan kursi dan meja tamu yang juga terbuat dari kayu jati, serta pajangan beberapa guci antik dengan ukiran yang indah.
"Kamu mau minum apa?" tanya Reni.
"Tidak perlu."
Reni tersenyum menurunkan anaknya dari gendongan. Anak perempuan itu pun duduk di atas kursi sambil menatap Aditya dengan wajah polosnya.
"Jangan begitu, ini pertama kalinya kamu datang setelah sekian lama. Mau teh hangat?"
Aditya terdiam sebentar, menatap sosok anak kecil yang sejak tadi menatapnya.
"Boleh." sahut Aditya.
"Nayla tunggu di sini dulu ya. Mama mau siapkan minum buat om." ucap Reni.
Gadis kecil bernama Nayla itu pun mengangguk dengan riang. Matanya yang bulat terliha cantik dan menggemaskan, rambut kuncir duanya bergerak mengikuti anggukan kepalanya.
Reni pun beranjak pergi menuju ke dapur, meninggalkan Nayla bersama dengan Aditya di ruang tamu. Aditya yang tidak tahu bagaimana menanggapi anak kecil, tersenyum canggung ketika tatapan matanya bertemu dengan Nayla.
"Om siapa?" pertanyaan itu meluncur dari bibir mungil Nayla.
"Hemm.. panggil saja Om Adit." jawab Aditya kikuk. Nayla pun mengangguk dan menatap Aditya dengan alis yang berkerut. Gadis kecil itu juga mengamati penampilan Aditya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seperti sedang menilai sesuatu.
Apa semua anak kecil akan berlaku seperti ini? Batin Aditya. Merasa aneh melihat perilaku Nayla.
"Nah ini minumnya. Silakan di minum." Reni datang dari arah dapur, dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat beraroma melati.
Aditya pun meminumnya sedikit. Aroma melati yang khas, mampu membuat perasaannya tenang. Suasana hening sejenak, sampai akhirnya Aditya kembali membuka suara.
"Jadi... mana peninggalan ibu, yang ingin Tante berikan padaku?" tanya Aditya tanpa basa-basi lagi.
***