Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah di Atas Tanah yang Terluka
Waktu seolah-olah kehilangan porosnya. Di dalam ruang pasanggrahan yang remang itu, detik demi detik merenggang, berubah menjadi untaian waktu yang bergerak teramat lambat, menyiksa setiap pasang mata yang terpaksa menyaksikan takdir bergulir. Angin malam yang menyusup dari celah dinding kayu tak lagi terasa dingin; ia membawa keheningan absolut yang membekukan atmosfer.
Nyai Kencana menatap tanpa berkedip. Dalam pandangannya yang seakan terbingkai oleh gerak lambat yang menyakitkan, ia melihat jemari halus Putri Dyah Pitaloka Citraresmi mencengkeram hulu Patrem dengan kemantapan yang mengerikan. Keris kecil berlekuk lima itu memantulkan seberkas cahaya obor yang bergoyang, membentuk garis perak tipis di udara malam. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan yang tersisa pada rahang tegas sang putri yang biasanya memancarkan kelembutan tatar Sunda. Yang ada hanyalah keagungan yang membatu, sebuah kepasrahan yang lahir dari harga diri yang menolak dicabik-cabik.
Lalu, gerakan itu terjadi.
Tangan sang putri bergerak menghujamkan mata logam tajam itu lurus ke arah dadanya sendiri. Ujung Patrem merobek kain kemben sutra putih bersih yang membungkus tubuhnya, memutus benang-benang halus dengan suara robekan lirih yang terdengar begitu nyata di telinga Kencana. Logam dingin itu terus melesat menembus kulit, memotong pembuluh darah, dan menusuk tepat di hulu jantung sang putri.
Kencana ingin berteriak. Tenggorokannya tercekat, melontarkan lolongan tanpa suara yang tertahan di balik rahangnya yang kaku. Tubuhnya yang terpatri di atas lantai kayu seolah seberat bongkahan batu gunung, menolak mematuhi perintah otaknya untuk melompat dan merebut senjata mematikan itu. Ia dipaksa menjadi saksi bisu, terjebak dalam kelumpuhan fisik yang paling jahanam.
Pada wajah Putri Dyah Pitaloka, ekspresi rasa sakit yang hebat sempat menggores gurat-gurat kejelitaannya selama sekejap mata. Alisnya bertaut erat, dan sepasang bibirnya yang sewarna delima merekah terbuka, melepaskan embusan napas terakhir yang tipis. Namun, rasa sakit fisik itu dengan cepat digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih luhur: kedamaian yang mendalam. Sebuah senyuman tipis, yang teramat samar namun sarat akan kebanggaan, terukir di sudut bibirnya. Beliau tidak menangis. Beliau tidak meratap. Dengan bertindak demikian, beliau telah merebut kembali kendali atas takdirnya dari tangan Mahapatih Gajah Mada. Beliau tidak akan pernah menjadi piala kemenangan yang diarak di jalanan Wilwatikta.
Bagaikan tangkai bunga teratai yang patah ditiup angin badai, tubuh agung Putri Dyah Pitaloka perlahan-lahan limbung. Gaun pengantin putih yang melambangkan kesucian janji pernikahan itu berkibar lambat saat tubuhnya merosot, sebelum akhirnya ambruk ke atas lantai permadani dengan kelembutan yang menyayat hati. Darah segar, sewarna merah murba yang pekat, seketika merembes dari balik robekan kain sutra di dadanya, meluas dengan cepat bagaikan kelopak bunga mawar yang mekar di atas hamparan salju putih.
Saat itulah, mental Nyai Kencana runtuh sepenuhnya hingga ke dasar paling kelam. Dunianya, yang selama puluhan tahun dibangun di atas fondasi kesetiaan tunggal kepada sang putri, pecah berkeping-keping menjadi debu yang tak berarti. Rasa bersalah yang teramat besar, seolah-olah seluruh gunung di tatar Sunda diruntuhkan di atas dadanya, menghujam jantungnya dengan rasa sakit yang jauh lebih jahanam daripada sabetan pedang atau tikaman tombak mana pun.
Gusti... Kebisingan batin Kencana berteriak histeris dalam kesunyian. Hamba telah membiarkan darah suci itu tumpah. Hamba telah gagal menjadi perisai. Mengapa bukan nyawa hamba yang kaubawa lebih dulu, Sanghyang? Mengapa hamba dikutuk untuk melihat kehancuran ini?
Setiap impian, setiap janji untuk membawa sang putri pulang dalam keadaan selamat, kini menjelma menjadi hantu yang mencabik-cabik kewarasannya. Kencana meratapi ketidakberdayaannya, merasakan jiwanya terkoyak dalam duka yang tak akan pernah bisa disembuhkan oleh waktu.
Kesadaran Nyai Kencana mulai mengambang. Efek dari kehilangan darah yang teramat banyak dari luka-luka di sekujur tubuhnya mulai menagih janji kematian. Pandangannya tidak lagi tajam; tepian matanya mulai dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat, dan seisi ruangan pasanggrahan dalam seolah bergoyang lambat, seperti bayangan yang terdistorsi di atas permukaan air yang bergolak.
Namun, Kencana menolak untuk membiarkan kegelapan menjemputnya di tempat ia bersujud. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang diperas dari sumsum tulangnya, ia memaksakan tangannya yang gemetar untuk bertumpu pada lantai kayu yang licin. Setiap inci pergerakan terasa bagai menarik beban beratus-ratus kati. Ia merangkak. Lututnya menyeret kain sinjang megamendung yang telah basah oleh darahnya sendiri, meninggalkan jejak merah yang panjang dan pekat di atas lantai permadani.
"Gusti... Putri..." bisik Kencana, suaranya parau, hampir menyerupai desis angin malam yang kehabisan tenaga.
Ia merangkak mendekati jasad yang terbujur kaku itu. Jarak yang hanya beberapa jengkal terasa bagai perjalanan menyeberangi samudera luas yang tak berujung. Ketika jemarinya yang gemetar akhirnya berhasil menjangkau ujung kain kemben sutra milik sang putri, Kencana mencengkeramnya dengan kelembutan yang teramat sangat, seolah takut gerakan kasarnya akan mengusik tidur abadi sang majikan.
Tangan Kencana beralih menyentuh jemari tangan kanan Putri Dyah Pitaloka yang masih memegang hulu Patrem. Kulit yang biasanya hangat dan sehalus sutra itu kini mulai terasa dingin, sedingin lantai kayu pasanggrahan yang mereka pijak. Darah hangat dari dada sang putri mengalir, bertemu dan bercampur dengan darah dingin dari lengan Kencana, menyatu di atas lantai sebagai lambang takdir mereka yang tak terpisahkan. Air mata Kencana, yang berbaur dengan debu pertempuran dan coretan darah di wajahnya, menetes satu demi satu, jatuh di atas punggung tangan sang putri.
Di luar tenda agung, dunia luar seakan berada di dimensi yang berbeda. Suara sorak-sorai kemenangan pasukan Bhayangkara Majapahit yang berhasil mendobrak barisan terakhir prajurit Sunda terdengar samar-samar, meredup seperti gema di balik dinding air yang tebal. Gemuruh tawa kepuasan para penyerbu yang merasa telah menaklukkan tatar Sunda terdengar begitu menjijikkan, namun bagi Kencana, semua itu tak lagi memiliki arti. Kebisingan perang itu telah mati, digantikan oleh kesunyian duka yang absolut di dalam ruangan ini.
Kencana mendekatkan wajahnya ke samping telinga sang putri, berbisik dalam rintihan yang menyayat. "Hamba memohon ampun, Gusti... Hamba bersumpah akan menyusulmu. Namun di tempat baka nanti, hamba tidak tahu bagaimana harus menghadap baginda raja dan leluhur kita dengan tangan yang berlumur kegagalan ini..."
Batinnya meratap, merindukan kematian secepatnya agar ia tidak perlu lagi menanggung beban visual dari jasad suci yang terbujur tanpa nyawa di hadapannya.
Pandangan Kencana kini hampir sepenuhnya gelap. Obor di dinding pasanggrahan tampak seperti titik cahaya kecil yang kian menjauh ke dalam pusaran kegelapan. Di luar, alam seolah-olah ikut merasakan runtuhnya pilar kehormatan Sunda; petir menyambar dengan suara menggelegar, membelah langit Bubat yang kelabu, disusul oleh curahan hujan lebat yang langsung menghantam atap tenda dengan irama yang magis dan ritmis. Langit sedang menangis, meratapi kepunahan para kesatria terbaik Pajajaran.
Di ambang batas antara hidup dan mati, ketika napasnya hanya tersisa satu-satu di ujung tenggorokan, jiwa kesatria Kencana menolak untuk padam begitu saja. Ia mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang terakhir, menguncinya ke dalam satu titik fokus spiritual yang teramat khusyuk. Dalam kegelapan batinnya, ia tidak lagi melihat musuh atau darah; ia melihat altar leluhur dan keagungan tatar Sunda yang tak boleh mati begitu saja.
Kencana mengarahkan sisa batinnya ke atas, melampaui atap pasanggrahan, melampaui awan badai, menuju ke hadapan Sanghyang Tunggal, penguasa tertinggi jagat raya, sang perajut takdir para kesatria kuno.
"Wahai Sanghyang Tunggal... Penguasa napas dan pengikat kutuk..." bisik Kencana di dalam sanubarinya, sebuah rapalan doa yang tidak lagi diucapkan oleh lidah daging, melainkan oleh getaran jiwanya yang sekarat. Diksi yang digunakannya terasa begitu sakral, berbobot, dan bergaung kuat di dalam rongga dadanya. "Saksikanlah sisa darah yang tumpah di tanah Bubat ini. Saksikanlah pengkhianatan yang meremukkan sumpah suci pernikahan ini."
Kencana menarik napas terakhirnya yang teramat berat, seolah mengunci seluruh esensi kehidupannya ke dalam sumpah mati yang akan ia bawa melintasi zaman.
“Seandainya... seandainya Sanghyang Tunggal memberikan kesempatan kehidupan kedua pada hamba yang hina ini... Seandainya roda reinkarnasi mengizinkan raga ini kembali berpijak di atas bumi... hamba tidak meminta kejayaan, hamba tidak meminta kemewahan. Hamba hanya memohon satu hal: izinkan hamba mengabdi kembali sebagai pengawal yang tak lengah. Berikan hamba kekuatan untuk membalas kegagalan ini, menjadi perisai yang takkan pernah bisa ditembus oleh pengkhianatan apa pun, kepada jiwa yang sama, di mana pun ia dilahirkan kembali...”
Sumpah itu terucap dengan getaran magis yang dahsyat. Udara di dalam ruangan pasanggrahan dalam mendadak berdesir hangat, seolah-olah semesta alam telah mendengar, mencatat, dan mengunci setiap baris kata yang keluar dari batin sang pengawal kuno. Sebuah ikatan gaib berkilau keemasan seakan terjalin di antara jiwa Kencana dan jasad sang putri, sebuah janji darah yang melintasi batas kematian.
Tepat setelah kata terakhir dari sumpah itu mengendap di dalam takdir, dada Nyai Kencana berhenti bergerak. Jantungnya memberikan satu detakan terakhir yang lemah, sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya. Kepala Kencana perlahan terkulai, jatuh berbaring di samping lengan Putri Dyah Pitaloka.
Pada detik kematian itu, proses lepasnya jiwa Kencana terasa begitu luar biasa. Jiwanya tidak sekadar lenyap, melainkan ditarik keluar dari raganya yang hancur dan bersimbah darah. Kencana merasa kesadarannya melesat menjauh dari Lapangan Bubat yang berdarah, meninggalkan tangisan hujan dan sorak-sorai musuh di belakang. Pandangannya menggelap sepenuhnya, namun itu bukan kegelapan akhir yang hampa.
Jiwanya terlempar, ditarik oleh kekuatan magis yang tak berdasar ke dalam sebuah pusaran ruang dan waktu yang mahaluas. Sumpah sakral yang baru saja ia rapalkan bertindak sebagai jangkar besi yang tak tergoyahkan, membungkus jiwanya, menjaganya tetap utuh saat ia terombang-ambing, menembus kabut waktu, melewati ratusan tahun malam yang sepi, melintasi pergantian peradaban yang runtuh dan bangkit, menuju sebuah titik takdir di masa depan yang jauh di mana janji setia itu menuntut untuk ditepati.