NovelToon NovelToon
Aku Mencintai Gadis Unik

Aku Mencintai Gadis Unik

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mei_Mei

(Taka season 2)

Kisah ini lanjutan dari 'TAWAKU TERBALUT LUKA' sebelum membaca kisah ini, harap baca judul itu dulu agar menyambung dengan ceritanya.

Kisah cinta remaja. Sedih, romance.

Seorang pemuda bernama Taka harus berjuang untuk melawan penyakit kanker otak.

Sebelumnya pemuda itu dijuluki sebagai Pangeran Komedi, namun beberapa waktu berlalu julukan itu berubah menjadi Pangeran Kesedihan.
Disaat orang-orang terdekatnya mengetahui penyakit yang diderita, ia tak lagi membawa kebahagiaan. Melainkan kesedihan.

Ketika ia terjatuh dalam keterpurukan, pertama kali bertemu dengan gadis unik yang di panggilannya Hutapea(bukan nama sebenarnya)

Pertemuan pertama mampu tersimpan didalam memorinya. Dua kalimat singkat namun sarat makna yaitu 'Semangat dan Berjuang' membuat semangat dalam dirinya bangkit dan berusaha untuk melawan penyakitnya.

Akankah keduanya dipertemukan kembali? atau hanya satu kali itu saja?

Ayo ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu tidak kenapa-kenapa?

Albert langsung berlari keluar setelah mendengar penjelasan dari security. Pandangannya terarah pada jalanan yang tidak terlalu dipadati orang-orang.

"Kak Albert!!" Nata berteriak.

Albert yang berada dijarak lumayan jauh langsung menoleh. Begitu terkejut sampai melebarkan matanya.

Albert berlari kearah Nata.

Tangan Nata yang putih berubah memerah karna cengkraman tangan dua pria tadi sangat kuat. Tapi begitu Albert datang, tangan Nata dilepas begitu saja.

Ponsel dan tas kecil milik Nata sudah berpindah ditangan salah satu pria tadi.

Rahang Albert mengeras dan menatap tajam kearah dua berandalan itu. "Kembalikan barang berharga miliknya. Atau aku laporkan pada pihak keamanan!" ancam Albert.

"Siapa kamu! datang-datang mau jadi pahlawan?!" salah satu berandal itu mencoba melawan. Tidak mau memberikan barang milik Nata yang dirampasnya.

Albert terlihat mengaktifkan ponsel untuk menghubungi seseorang. Tapi salah satu pria itu menyahut ponsel Albert dan malah terjatuh hingga berserakan. Ulah pria tadi membuat Albert semakin marah.

Tangan Albert mulai melayangkan pukulan demi pukulan untuk menghajar keduanya.

Tubuh Nata yang lemas terduduk dipinggir jalan, entah kenapa orang-orang sekitar tidak perduli dengan perkelahian mereka.

Salah satu dari dua berandalan tadi sudah terjerembab dijalan beraspal setelah terkena tendangan Albert. Begitu melihat cara berkelahi Albert yang sulit untuk dikalahkan satu berandalan itu memilih kabur. Meninggalkan barang milik Nata begitu saja.

Melihat temannya pergi, satu berandalan yang sedang adu kekuatan dengan Albert ikut pergi.

Bruk...

Albert menjatuhkan lututnya didepan Nata. Degub jantungnya berdebar kuat. "Kamu tidak kenapa-napa?" tanyanya dengan napas tersengal. Menatap lekat pada wajah Nata yang masih menyimpan ketakutan.

"A ak u, ta kut." suara Nata bergetar. Kedua tangannya juga masih bergetar.

Albert menyentuh tangan Nata yang memerah. Diusapnya lembut agar tangan itu berhenti bergetar. "Maafkan aku, harusnya aku tidak meninggalkan mu sendirian." ucap Albert.

Nata hanya menggeleng, tapi isak tangis dari mulutnya masih bisa terdengar.

Albert berpindah untuk mengambil ponsel dan tas kecil milik Nata tadi, yang tergeletak tak jauh dari mereka bersimpuh.

Menaruh barang itu diatas pangkuan Nata.

Melihat Nata yang masih shok, Albert mendudukan diri dihadapan Nata. Mengamati wajah Nata yang memerah karna menangis.

Nata menangis tanpa mengeluarkan kalimat apapun. Rasa takut yang teramat tadi belum hilang, bayangan akan hal buruk yang bisa saja terjadi masih memenuhi kepalanya.

Jika Albert tidak segera datang, mungkin dua berandalan tadi sudah membawa dirinya entah kemana.

"Dua pria breng**k tadi sudah pergi. Tenanglah." Albert menenangkan.

Lamanya menangis, Nata mulai tenang. Tangannya masih memerah dia angkat untuk menyusut sudut matanya.

"Aku takut, Kak." ucap Nata lirih. Kini baru mendongak menatap Albert.

Albert mengangguk. "Mereka sudah pergi. Kamu tenang ya,"

Nata mengusap wajah dengan telapak tangan untuk menetralkan rasa takutnya.

"Disini banyak orang. Tapi kenapa mereka tidak menolongku."

"Itulah tadi aku sudah berteriak, disini tidak seperti di negara mu."

"Sudut bibir Kakak bengkak." Nata baru melihat sudut bibir Albert sebelah kiri bengkak dan membiru.

"Tidak pa-pa. Nanti aku obati. Tanganmu juga terluka, lebih baik kita kembali dan membeli obat oles agar lukamu tidak iritasi."

Karna fokus pada ponsel dan tas kecil milik Nata, Albert mengabaikan ponsel miliknya sendiri yang bercecer dijalan.

"Kak, ponselmu." Nata menyadarkan Albert.

Albert segera memunguti ponselnya yang sudah menjadi beberapa bagian. Memasukan semuanya ke dalam tas kecil miliknya sendiri.

"Ayo," ajak Albert. Mengusungkan telapak tangan didepan Nata untuk membantunya berdiri.

Nata menerima uluran tangan itu, meski rasa takut yang tadi belum sepenuhnya hilang tapi disisi hati lainnya merasa aman.

Tangan Albert masih menggenggam tangan Nata untuk dibimbingnya masuk kedalam pusat pembelanjaan untuk kembali bergabung dengan temannya yang tadi.

Setelah masuk kembali kedalam pusat pembelanjaan, Albert mencari depastore penjual obat-obatan. Membeli obat memar untuk nanti mengobati tangan Nata yang memerah.

"Kak," panggil Nata lirih. Mereka telah keluar dan berdiri didepan depastore yang tadi.

Albert terdiam menunggu Nata untuk berucap.

"Tolong jangan cerita pada teman-temanku, juga sama keluargaku." pinta Nata.

Albert, terlihat menimang permintaan Nata. Memang jika mereka semua tahu, mungkin saja kejadian barusan akan menjadi panjang dan rumit. Mengingat Nata bukanlah keturunan dari kalangan biasa seperti dirinya. Bisa saja tuan Arsel akan mengusut semua kejadian dan dia juga terjerat salah karna dia yang menginjinkan Nata menunggu di dalam cafe sendirian.

"Tapi kalau Tuan Besar tau dari orang lain, aku pasti akan habis." kata Albert.

"Untuk itu, jangan kasih tau mereka juga pada Ayah dan Bunda!"

"Tapi kamu nggak pa-pa, kan? apa ada lagi yang luka selain pergelangan tanganmu? nanti kita berobat saja tanpa sepengetahuan mereka."

"Yang penting Kakak jangan cerita-cerita." Nata memohon. Albert mengangguk, menyetujui.

Albert dan Nata berjalan kembali menuju cafe yang ada teman-temannya tadi.

Albert sudah menyimpan bungkusan obat kedalam tas kecil miliknya.

Nata menyembunyikan pergelangan tangannya yang memerah dibalik sweter panjang.

"Nata, kamu darimana aja? kita nungguin dari tadi." sapa Mujirah ketika Nata dan Albert baru datang.

"A aku, dari..." Nata kebingungan. Pikirannya masih dipenuhi kejadian tadi, membuatnya tidak fokus untuk mencari alasan.

"Dia dari toilet yang jauh dari cafe ini. Padahal disini pun menyediakan toilet." Albert tersenyum untuk menyamarkan kegugupan.

Lalu ikut bergabung bersama mereka.

Nata duduk disamping Mujirah.

"Kak, itu kenapa?"

"Kok sudut bibir Kak Albert luka?"

"Bukannya tadi belum, ya?"

"Iya Kak, itu kena apa?"

Pertanyaan bertubi-tubi dari Mujiren, Dudung, Ali baba juga Mujirah.

"Nggak pa-pa, tadi ada sedikit keributan waktu nyariin Nata. Kakak nggak sengaja menabrak orang dan menumpahkan makanan yang dipegang, jadi dapet pukulan mentah dari orang itu." terang Albert berbohong. Nata melirik kearah Albert.

"Wow, sadis amat Kak?"

"Ngeri banget ya, negara ini."

"Kalau digang belokan deket jalan kremang namanya senggol bacok, ya Dung." sambung Ali baba.

"Ho'o... ngeri. Cuma kena angin kita pas lewat aja, mata mereka udah melotot mau keluar. Haha...." Dudung tertawa, Ali baba ikut tertawa.

"Kenapa nggak diobatin dulu, Kak." kata Mujiren.

"Iya, nanti aja kalau kita udah kembali ke rumah sakit." jawab Albert.

"Setelah ini mau kemana?" Albert menambah pertanyaan.

"Ke..." ucapan Dudung terpotong.

"Pulang saja!" sahut Nata dengan cepat. Dudung menutup mulutnya, tidak jadi melanjutkan tujuan selanjutnya.

Dilihat Nata menyimpan keanehan.

"Baiklah, setelah ini kita pulang." jawab Albert setuju.

Mereka menikmati makanan yang sudah terhidang. Tapi tidak dengan Nata, dia hanya mengaduk-aduk makannya.

Diperjalanan pulang pun Nata juga terdiam, tidak ikut bersahutan dalam obrolan teman-temannya.

1
Maria larasati Ulfa
bagus bgt
Muhamad Hasbi
Luar biasa
Sena Fiana
😀😃😄😄😁
Gus Maneli
😭😭😭😭
Gus Maneli
aku ngk kuat baca nya nangis trus😭😭😭
Nurwana
itulah nata, jdi org itw jgn terlalu polos.
Nurwana
thorrrrr........😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Mmh Na Aas Tea
wkkwkkk Taka," ada" aja
Mmh Na Aas Tea
dasar Saritem ganggu aja😤
Mmh Na Aas Tea
lanjut ka makin penasaran Ama cerita nya
Ulum Udin
💔💔💔💔
Risha Aagustynah
ada lanjutannya ndk kk cerita ini
THE END.MD
ngapain sih saritem ada di sana ganggu aja ach.
Syafira Putri
kapan ni akak Mei..buat cerita anak2 nya nata sama Taka..
calon orng sukses
author klo ngasih ujian ga kira kira😭
bnyak bngt pelajaran yg bisa di ambil dri cerita ini
ilanarunnis
semangat akak Mei
nadila karla
kk mei gk lanjut cerita taka?
Sri Mulyani Asis
lanjut dong akak me cerita rumah tangga Taka dan Nata 🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Siska Tambunan Helvini Tambunan
🤣🤣🤣🤣🤣aq senang sekali.....
kembali ke tawa lg ☺
soal nya air mata ku sudah kering 😂

makasih banyak author aq pada mu yg sudah meng obrak abrik hatiku 🤗
tetap semangat...
jaga kesehatan Tor ku
Karmila
aka mei aku tunggu nih cerita taka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!