Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Seorang Pimpinan Kejam
"Sa-saya ... terlambat datang, Tuan, saya mohon maaf." Kepalaku menunduk, menghadap Tuan Asland ketika menyampaikan permohonan maaf.
"Kenapa kamu bisa datang terlambat? Padahal tugasmu membawa dokumen penting itu saat rapat hari ini, kan!" sergahnya tidak memberi ampun.
"I-iya Tuan, maafkan saya. Saya bangun kesiangan."
"Hahaha...." Suara gelak tawa dari semua peserta rapat refleks terngiang di telingaku. Mereka semua menertawaiku. Hanya Tuan Asland dan Pak Rudy saja yang tidak melakukannya, tetapi wajah mereka berdua ketat menatapku.
"Bangun kesiangan? Kamu pikir perusahaan ini sekolah TK! Dengan jawabanmu seperti itu!" ketus Tuan Asland yang langsung menghentikan semua tawa yang ricuh tadi.
"Ma-maaf, Tuan." Aku pun semakin menunduk tak punya nyali.
"Kamu tahu ini sudah jam berapa? Kamu tahu rapat dimulai jam berapa? Kamu membawa dokumen penting untuk rapat hari ini tapi seenaknya kamu menjawab bangun kesiangan! Di mana tanggung jawabmu, hah! Kenapa tidak mendisiplinkan diri sebelumnya? Dan kamu masih karyawan magang, kan? Haruskah aku memecatmu? Perusahaan ini sudah salah besar memperkerjakan orang malas dan bodoh sepertimu!"
Glek!
Aku menelan saliva dalam. Tanpa disadari mataku mulai berkaca-kaca. Pedih sekali hatiku ini mendengar makiannya.
"Pergi dari sini! Kamu hanya membuang waktu penting di perusahaan dengan keberadaanmu dan membuang uang perusahaan dengan membayar gajimu!"
"Ba-baik, Tuan."
Kepalaku tertunduk lesu sambil berjalan keluar dari ruangan rapat. Aku tidak langsung kembali ke kantor bagian pemasaran. Aku ingin menenangkan diri sejenak di toilet.
Kulihat dari cermin wastafel, mataku agak sembap. Kelopak bawahnya pun sedikit menggembung dan memerah. Aku mulai sesenggukan lalu menangis di sana.
Sadar, aku salah. Tahu itu salah, tetapi hatiku sangat sakit. Baru beberapa hari berlalu, aku masih bisa merasakan kehangatan genggaman tangan Tuan Asland. Dan sekarang yang kudengar hanya kata-kata kasarnya padaku.
Kuhapus air mata dengan tisu. Menepuk-nepuk pipi beberapa kali agar sesenggukanku reda. Setelah yakin aku stabil, barulah aku kembali ke ruangan kantor bagian pemasaran.
**
Sekarang sudah pukul 05.01 sore. Awan mendung nampak menggumpal dan menghitam di langit luas. Angin kencang menggoyangkan daun-daun pohon mahoni di pinggir jalan. Kumpulan daun kering yang telah jatuh berserakan, disapu angin.
Aku duduk di sebuah halte sedang menunggu taksi online pesananku. Biasanya aku naik ojek online. Namun, karena cuaca kurang mendukung saat ini, akhirnya kuputuskan naik taksi saja.
Sendiri, diam dan melamun. Pikiran serta perasaanku masih dirundung sedih. Kata-kata kejam Tuan Asland masih seperti baru kudengar. Terngiang-ngiang terus di telinga.
Sampai sebuah mobil mercedes warna hitam berhenti tepat di depanku. Perlahan kaca jendela mobil itu terbuka. Memunculkan wajah orang yang berada di dalamnya. Ya, itu adalah Tuan Asland.
"Andy!"
Dia memanggilku dari dalam mobilnya, tetapi aku tidak menjawab. Hanya berdiri lalu mengangguk singkat untuk memberi salam hormat.
"Ayo, masuk!" ajaknya.
Meski sakit hati, kupaksakan bibirku untuk tersenyum tipis. "Maaf, Tuan. Terima kasih, tapi aku pulang naik taksi saja. Sudah kupesan, tinggal menunggu taksinya datang."
"Batalkan. Ayo, masuk!"
"Tapi sebentar lagi taksinya sampai, Tuan. Jaraknya sudah dekat, kok."
Tuan Asland yang nampak tidak senang karena aku tidak mengindahkan titahnya segera turun dari mobil. Berjalan menghampiriku.
"Ayo, masuk!"
Tuan Asland mencoba memegang tanganku. Secepat kilat aku menjauhkan tanganku darinya. Tahu ditolak mentah-mentah, ia berubah menjadi gusar dan mulai marah. Di saat itu, seorang pria paruh baya berseragam kuning menghampiriku.
"Mbak, yang pesan taksi online ya?"
"Iya, Pak."
"Mobilnya di sebelah sana, Mbak." Pria paruh baya itu menunjuk sebuah mobil warna putih yang terparkir tidak jauh di belakang mobil Tuan Asland.
"Oh, iya Pak," sahutku ramah kemudian berjalan di belakang pria paruh baya tadi menuju taksinya.
Tuan Asland yang melihatku pergi dengan cepat mengambil dompet dari saku celananya. Mengeluarkan beberapa lembar uang yang cukup banyak, lekas mengejar kami.
"Pak, maaf. Pesanannya dibatalkan. Ini uang ganti ruginya." Seraya mengambil tangan pria paruh baya itu dan langsung meletakan uang yang barusan dikeluarkannya.
"Eh, kenapa? Tapi aku tidak batalin."
"Terima kasih banyak, Tuan." Pria paruh baya itu malah kesenangan saat melihat kumpulan uang yang cukup banyak ada di genggamannya.
Tuan Asland sendiri mengangguk pelan. Setelah berterima kasih, pria paruh baya tadi pergi begitu saja, melupakan aku.
"Eh, Pak, Pak, aku masih mau naik mobil Bapak...." Aku setengah berlari mendekati taksi pria paruh baya itu, tetapi langkahku terhenti karena Tuan Asland menarik tanganku.
Tuan Asland nampak puas setelah berhasil menghentikanku dan membuat pergi supir taksi online tadi.
"Tuan, kenapa seperti ini?" Aku mencoba menarik tanganku dari pegangan Tuan Asland.
"Kenapa kamu membantah? Aku sudah bilang naik ke mobilku."
Gluduk! Gluduk! Gluduk!
Dan hujan pun turun.
"Oh, tidak!" Tuan Asland menggerutu kesal saat menatap langit. "Lihatlah! Sekarang hujan sudah turun. Ini semua salahmu, karena mengulur waktu!"
Tuan Asland kembali memarahiku. Asisten June yang berlari dari kejauhan berhasil mencapai posisi kami. Dia memberikan sebuah payung pada Tuan Asland.
"Tuan, ini payung anda."
Tuan Asland segera mengambil payung itu.
"Ayo, pergi!" ajak Tuan Asland lagi padaku, tetapi kali ini nada suaranya sudah lebih rendah.
Aku kesal, bukankah ini penjajahan namanya?
"Aku mau pulang sendiri, Tuan."
Melihatku yang masih keras kepala membuat Tuan Asland geram. Kesabarannya sudah habis. Dengan kasar dia mencekram tanganku lalu menarikku agar mengikutinya.
"Tuan, tolong lepaskan aku, Tuan!"
Aku meronta. Tubuhku basah terkena guyuran air hujan, tetapi Tuan Asland tidak menggubrisku. Ia terus berjalan cepat dan tidak melepaskanku.
Sampai di pintu mobil yang dibukakan oleh Asisten June, Tuan Asland memegang kedua lenganku. Lalu dengan kasar dia mendorongku masuk ke dalam kabin belakang mobil. Aku pun jatuh tersungkur ke dalam.
Buk!
"Akkhhh...." Mengerang sakit sebab kepalaku terbentur pintu mobil. Kupegangi kepalaku seraya membenarkan posisi duduk.
Tuan Asland pun masuk. Ia duduk di sebelahku. Mobil yang kami naiki kemudian melaju pergi menuju apartemen Blue Tower Building.
Beberapa kali kuusap kepalaku yang terbentur. Hidungku jadi tersumbat dan menimbulkan bunyi saat bernapas. Mataku berkaca-kaca. Sepertinya aku mau menangis lagi.
"Ini...."
Tiba-tiba kulihat kumpulan tisu. Ternyata Tuan Asland-lah yang menyodorkannya.
Mungkinkah dia tahu hatiku sedang sendu? Mungkinkah dia tau air mataku hampir jatuh?
Kuambil tisu itu dan mengelapkannya di pipi.
"Itu bukan untukmu!"
Eh, aku tersentak, segera menghentikan sapuan di pipiku.
"Itu untuk mengelap wajahku yang kena air hujan. Lakukan!"
Astaga! Sudah sampai seperti ini pun dia masih saja bersikap kejam padaku. Padahal kalau dibandingkan, wajah dan tubuhku yang lebih basah. Karena Tuan Asland terlindungi payung. Dia tahu itu, tetapi tidak memperdulikannya.
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz