Cyra Purnama, 17 tahun, seorang gadis barbar dan merupakan seorang trouble maker baik dirumah maupun disekolah, terpaksa dinikahkan oleh ayahnya dengan seorang pemuda bernama Aditya Nugraha, 22 tahun, merupakan pemuda yang ditolongnya karena suatu masalah. Ayah Cyra sangat berharap gadis itu mau berubah menjadi lebih baik.
Namun, bukannya semakin baik justru Cyra semakin liar. Pertengkaran demi pertengkaran pun kerap terjadi didalam kehidupan rumah tangganya bersama Ditya, sang suami yang dibenci dan juga membencinya.
Mampukah Ditya menjinakkan sang gadis barbar dengan caranya? Ataukah perlakuannya terhadap gadis itu justru berujung perceraian?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N La Uta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Ditya menghidupkan saklar lampu untuk melihat bagaimana reaksi Cyra mengetahui keberadaanya yang berdiri bersandar ditembok pembatas antara ruang tamu dan ruang makan.
"Eh, Kak Ditya! Ka-kamu ss-sudah pulang?!" tanya Cyra terbata.
Gadis itu tidak mengira jika Ditya sudah berada dirumah. Padahal, seharusnya hari ini Ditya shift dobel dan baru akan pulang pukul satu dini hari seperti biasanya.
"Kenapa kaget?!" tanya Ditya datar.
"I-iya!"
"Darimana kamu, jam segini baru pulang?!" tanya Ditya sekali lagi.
"Itu, anu, Kak! Aku ...," Cyra bingung mau jawab apa.
"Mau cari alasan apa lagi?!"
"Aku habis nengokin temen di rumah sakit," jawab Cyra akhirnya.
Memang dia sempat pergi ke rumah sakit tadi sore. Namun, dia hanya sebentar disana. Setelahnya dia pergi ke tempat lain dan baru pulang sekarang.
"Rumah sakit mana yang jam besuknya sampai jam sebelas malam?!" cecar Ditya.
"Se-sebenarnya aku cuma sebentar disana. Selebihnya aku ketempat lain, Kak!"
"Ke tempat yang kemarin kamu datangi menjemput Nita, kan?!" todong Ditya mulai kesal.
"Eh, da-darimana Kakak tahu aku kesana??"
Cyra terkejut.
Gadis itu penasaran, darimana dan dari siapa Ditya mengetahui hal yang sudah sengaja dia sembunyikan selama seminggu ini.
"Darimana aku tahu itu bukan hal penting! Yang terpenting, benar atau tidak kamu ke tempat hiburan itu lagi?!" hardik Ditya keras.
Awalnya Ditya mengetahui hal itu dari Zizi.
Namun, malamnya begitu dia sampai dirumah dan mendapati Cyra belum pulang, akhirnya dia memutuskan akan menunggui istri kecilnya pulang sambil merebahkan tubuhnya disofa ruang tamu.
Baru juga Ditya memejamkan matanya karena lelah dan mengantuk, ponselnya diatas meja berdering nyaring.
Tertera nama Dimas disana. Dengan cepat Ditya pun mengangkatnya.
Matanya membelalak mendengar laporan dari Dimas yang melihat Cyra berada disebuah tempat karaoke yang terkenal sebagai tempat hiburan plus itu.
Rasa kantuknya seketika hilang entah kemana.
Dimas memberitahunya jika Cyra ternyata bekerja disana selama seminggu menggunakan nama Rara, atas rekomendasi dari Nita, tetangga sebelah kontrakannya.
" Kalau iya, kenapa??"
Cyra pun tersulut emosi mendengar hardikan dari Ditya.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menginjakkan kaki ketempat itu lagi. Kenapa kamu langgar? Apa yang kamu lakukan ditempat seperti itu?! Tempat itu bukan tempat nongkrong yang bagus, Ra! Apalagi kamu masih belum cukup umur untuk datang kesana," berondong Ditya.
"Apa hakmu melarangku, hah??! Mau apa aku ditempat itu jadi urusanku. Bukankan diperaturan yang kita sepakati, kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing?! Peraturan nomer satu, kamu ingat?!" sentak Cyra marah.
"Lagipula siapa yang kamu bilang belum cukup umur? Aku sudah tujuh belas tahun lebih dan sudah mengantongi KTP sekarang," lanjutnya.
"Oh! Kalau aku melupakan peraturan nomer satu, kau juga sepertinya melupakan peraturan nomer empat, yang berisi bahwa kita harus pamit kemanapun dan memberitahukan dengan siapapun kita pergi pada masing-masing pihak. Apa sekarang kau ingat ?!"
"Oh, eh, itu ..., aku lupa!" cicit Cyra lirih.
Gadis itu rupanya benar-benar melupakan peraturan nomer empat, karena terlalu fokus pada peraturan nomer satu.
"Maaf!"
Cyra menunduk dalam. Dia sadar sudah melakukan kesalahan.
"Segampang itu kamu meminta maaf, tanpa memikirkan apa akibatnya jika hal ini sampai terdengar oleh telinga papamu Cyra Nugraha, atau Cici Meong atau ... oh, ya RARA?!"
Ditya sengaja menekankan kata RARA diakhir kalimatnya.
Cyra yang awalnya menunduk itu sontak mengangkat wajahnya begitu Ditya menyebutkan nama RARA dengan penekanan.
"Jangan melotot! Dan jangan bertanya darimana aku tahu nama itu serta apa yang sudah kamu lakukan ditempat karaoke plus itu."
Ditya menatap tajam manik mata Cyra yang kebetulan mendongak menatapnya.
"Aku sudah memperingatkanmu beberapa hari lalu, Ra! Jangan lagi datang kesana. Itu bukan tempat yang bagus untukmu. Tapi kenapa kamu melanggar perintahku, bahkan nekad bekerja disana?! Jadi apa kamu disana? Penuang minuman, atau tukang kosek wc yang seringkali direm*t bok*ngnya karena berusaha menggoda laki-laki ketika mereka sedang di toilet?!"
"Cukup, Kak! Cukup sudah kau menghinaku! Aku memang bekerja disana. Aku bekerja disana sebagai penyanyi, bukan bekerja sebagai yang Kakak bilang barusan. Aku juga masih punya harga diri," sentak Cyra murka.
Gadis itu tidak terima dikatai seperti itu oleh suaminya sendiri.
"Tapi, kenapa kau harus bekerja ditempat seperti itu?! Masih banyak pekerjaan lain yang jauh lebih baik dan lebih terhormat dsri itu. Itulah kenapa kemarin dulu aku mengingatkanmu untuk tidak terlalu dekat dengan Nita, Ra."
" Kenapa kamu tidak suka? Harusnya kamu senang sekarang aku bekerja, jadi akuntidak melulu meminta uang padamu. Paling tidak aku sudah meringankan bebanmu. Ya, kan?!"
"Aku senang soal kamu mau bekerja part time disela kesibukanmu sekolah. Tapi, bukan dengan bekerja seperti itu juga, Ra! Kamu bisa bekerja ditempatku atau kakakmu. Kak Fian pasti mau menerimamu dengan baik disana."
"Tapi aku suka kerja disana. Teman-teman kerjaku disana semuanya baik-baik saja, terutama Mbak Nita dan Bang Seno!"
"Tapi belum tentu dengan pelanggannya. Bisa saja ada dari mereka yang berani mengerjaimu. Dan aku tidak mau kau terkena masalah jika terus bekerja ditempat seperti itu, karena ... ."
Ditya menggantung kalimatnya.
"Karena?!"
Cyra menunggu kelanjutan kalimat suaminya.
" Karena aku tidak mau kalau mata-mata Papa Bayu sampai tahu hal ini dan melaporkannya. Aku harus membelamu seperti apa?!"
"Eh, ma-mata-mata?! Ma-maksudmu apa??!"
Cyra kembali terkejut mendengar pernyataan Ditya. Mata-mata Papa Bayu?!
"Ya! Selama ini ternyata diam-diam papa mengirimkan mata-mata pada kita. Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu."
Ditya pun akhirnya menceritakan semuanya pada Cyra dengan jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Ditya berharap, dengan dia jujur pada Cyra, gadis itu akan berubah.
" Jadi, selama ini Papa mengirimkan mata-mata untuk mengawasi kita berdua?? Untuk apa?!"
lebih bagus lagi cepat di up.
kok gak pernah up lagi????