Andhera adalah pria yang dingin dan terkesan tidak mempedulikan apapun disekitarnya. namun, semua itu perlahan berubah.
semua berawal dari seorang wanita cantik yang datang ke perpustakaan untuk menemui Andhera, ia meminta Andhera untuk menjadi pacarnya selama 30 hari.
ia meminta hal tersebut lantaran ayahnya yang akan menjodohkannya dengan orang yang tidak dikenalnya.
perlahan menyadari akan Andehra yang tidak pernah berekspresi, wanita tersebut membuat janji pada Andhera. janji tersebut adalah membuat Andhera tertawa, marah, dan menangis selama 30 hari.
apakah wanita itu dapat menepati janjinya? akankah hubungan mereka berakhir setelah 30 hari? ayo baca untuk menjadi saksi janji ini!
genre: romantis, comedy, drama, teen
berlatar di london, tidak membuatnya berbahasa inggris ya. Tapi, bisa dibayangin aja kalo semua dialog memakai bahasa inggris ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astradan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rangga Azur
Andhera terkejut akan namanya yang tidak disebutkan. Ia merasa mungkin ada yang salah atau namanya tidak sengaja terlewatkan.
Apa Karel tahu dan orang tuanya sudah membayarnya? Andhera dalam hati.
Andhera menoleh ke arah Hikari yang duduk jauh dari tempatnya. Hikari mengacungkan jempolnya seraya tersenyum pada Andhera.
"Apa dia yang membayarnya?" gumam Andhera.
Setelah waktu istirahat tiba, Andhera berjalan dengan santai menuju perpustakaan sambil membaca bukunya. Secara tidak sengaja, ia berpapasan langsung dengan Hikari yang sedang berbincang dengan Hareta.
Andhera dan Hikari mulai saling melirik satu sama lain sebelum mereka pergi menjauh. Saat sampai di dalam perpustakaan, Andhera duduk di kursi yang biasa ia tempati, dan mulai membaca buku yang telah diberikan oleh Ibu Karel.
Perpustakaan sudah kembali sepi seperti biasanya. Penggemar Hikari yang sebelumnya telah mengambil alih perpustakaan sudah tidak tersisa disini.
Saat sedang serius membaca, seseorang duduk persis di depan Andhera. Andhera yang mengira itu Hikari lantas melihat ke arah orang tersebut.
"Apa kau yang telah memba …." ucap Andhera terpotong.
Andhera terkejut melihat orang yang berada di depannya bukanlah Hikari, melainkan Rangga Azur. Andhera dari awal melihat Rangga sudah merasa tidak menyukainya.
"Yo, An-dhera," sapa Rangga.
Andhera menaikkan alisnya. "Apa yang kau perlukan?"
"Tidak .…" -Rangga berdiri dan mendekati Andhera sambil tersenyum- "Santai saja. Jangan melihatku dengan sinis seperti itu. Aku hanya ingin bertanya."
"Apa denganku menjawabnya kau bisaa pergi dari sini?" tanya Andhera dingin.
"Tentu saja!" -Rangga berdiri di belakang Andhera dan memegang pundak Andhera- "Apa … Kau berpacaran dengan Hikari?"
Andhera yang mendengarnya menjadi sedikit terkejut. Ia tetap diam untuk beberapa saat.
"Apa maksudmu?" tanya Andhera.
"Ayolah. Jawab saja. Aku hanya penasaran saja!" jawab Rangga.
"Apa jika aku menjawab 'tidak' kau bisa mempercayainya?" tanya Andhera.
"Eh, apakah itu tidak benar?" tanya Rangga dengan senyuman yang dibuat-buat.
"Tidak." jawab Andhera dengan dingin.
Wajah Rangga menjadi terlihat serius. Ia bergumam setelah mendengar perkataan Andhera. "Oh, jadi kau tidak mau berbohong?"
"Apa yang kau gumam kan?" tanya Andhera dengan wajah datar.
"Tidak, tidak ada. Baiklah, sampai jumpa lagi!" Rangga membalikkan badannya dan pergi keluar perpustakaan.
Andhera hanya melihat Rangga yang berjalan keluar melalui pintu perpustakaan. "Aku merasa dia adalah orang yang berbahaya."
Saat sudah waktunya memulai kembali pembelajaran, Andhera keluar dari perpustakaan dan hendak menuju ke kelasnya. Saat dalam perjalanan, ia tidak sengaja melihat Hikari dan Hareta yang sedang berbincang dengan Rangga di lorong.
Andhera yang melihatnya secara tidak sengaja merasa sedikit penasaran. Andhera menguping pembicaraan mereka dari kejauhan.
"Yo, Hikari!" sapa Rangga tersenyum penuh.
Wajah Hikari kembali pucat seperti yang Andhera lihat sebelumnya. Hikari tampak ketakutan seperti sedang ketakutan melihat hantu di depannya.
"Apa yang kau perlukan?" tanya Hareta dengan tatapan sinis.
"Astaga … Apa seperti ini yang kalian sebut reuni?" seloroh Rangga.
"Reuni? Apa maksudmu?" tanya Hareta.
Hareta merubah wajahnya menjadi kebingungan. sebaliknya, Hikari sedari awal menggunakan wajah ketakutan yang dibalut dengan kebencian.
"Kau tidak mengingatku ya, Hareta?" -Rangga membalikkan badannya dan hendak pergi meninggalkan Hareta dan Hikari- "Baiklah, cepat atau lambat kalian akan mengingatku. Aku akan berbicara dengan Hikari lain kali saja deh."
Saat Rangga pergi, ia tidak sengaja melihat Andhera yang sedang duduk tidak jauh darinya. Ia menatap Andhera sambil tersenyum.
Andhera hanya menatap dingin Rangga yang tersenyum padanya, sampai Andhera berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Rangga yang berdiri di depannya.
Saat setelah bell waktu pulang berbunyi, Andhera dan Karel bersiap untuk pulang.
"Kau tidak ada kegiatan basket?" tanya Andhera pada Karel.
"Tidak ada," jawab Karel sambil tersenyum.
Saat mereka berjalan beriringan di lorong sekolah, tiba-tiba saja Andhera merasa ingin buang air kecil.
"Kau duluan, aku ingin ke toilet sebentar," ucap Andhera yang bergegas menuju toilet.
"Ok, baiklah!" Karel pergi ke arah gerbang sekolah.
Setelah Andhera selesai buang air kecil, ia bergegas menuju keluar sekolah. Tapi saat ia sedang berjalan melewati kelas-kelas lain, ia tidak sengaja melihat Hareta dan Rangga berbincang di dalam suatu kelas. Terlihat dak ada Hikari di sana, hanya ada Rangga dan Hareta yang sedang mengobrol.
"Apa yang mau kau bicarakan?!" tanya Hareta pada Rangga.
Rangga tersenyum dan mendekat ke arah Hareta. Ia mendekatkan mulutnya di telinga Hareta dan terkesan sedang membisikkan sesuatu pada Hareta.
Setelah Rangga membisikkan sesuatu, terlihat Hareta yang terkejut dengan wajah yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Hareta terjatuh sambil menatap penuh kebencian ke arah Rangga.
"Jadi …." gumam Hareta.
"Ya. Hanya itu yang mau aku beritahu. Mari kita lihat apa kau berani menggangguku atau tidak." ucap Rangga yang tersenyum dan hendak keluar dari ruang kelas itu.
Sesaat Rangga akan menuju keluar kelas, Andhera dengan santainya pergi meninggalkan apa yang telah ia lihat barusan. Ia pergi menuju keluar sekolah tepat sebelum Rangga keluar dari ruangan kelas.
Saat sudah sampai di gerbang sekolah, Andhera memasuki mobil yang dikendarai oleh Pak Bobby. Karel dan Bram juga terlihat berada di dalam mobil.
"Yo, Andhera. Kau lama sekali!" sapa Karel
"Benarkah?" tanya Andhera dingin.
"Ya …" ujar Karel, "oh ya, aku masih tidak percaya jika pewaris grup Azur akan sekolah di sekolah kita."
"Grup Azur?" gumam Andhera.
"Eh Kak Dhera tidak tahu? Grup Azur adalah salah satu pebisnis terkenal. Toh, ibu dan ayah sering membicarakannya," ungkap Bram, "Dia sekolah disini?! Aku tidak tahu!"
"Ya, dia satu kelas dengan kami. Dan dia adalah pemegang saham terbesar di grup Azur," jawab Karel.
"Masih SMA tapi sudah menjadi pemegang saham terbesar?" tanya Pak Bobby.
"Yah, begitulah … Grup Azur mungkin bisa disetarakan oleh grup Forlade. Keluarga dari Hikari," tutur Karel.
Andhera yang mendengar obrolan itu langsung memikirkan tentang alasan wajah Hikari selalu terlihat ketakutan setelah melihat Rangga. Menurut Andhera mungkin ini ada hubungannya dengan dunia perbisnisan."
Setelah Andhera sampai di kamarnya, ia langsung melanjutkan membaca buku pemberian ibu Karel. Sesekali ia melihat ke arah ponselnya.
Tiba-tiba ada notifikasi masuk ke ponsel Andhera. Andhera lantas membukanya dengan sigap, tetapi kemudian ia meletakkan ponselnya karena notifikasi itu bukanlah hal yang penting.
Entah mengapa, Andhera tanpa di sadari oleh dirinya sendiri sedang menunggu pesan dari Hikari. Ia berulang kali mengecek notifikasi di ponselnya. Untuk pertama kalinya Andhera mengharapkan pesan masuk dari seseorang.
"Apa yang telah kulakukan? Mengapa jadi seperti ini?" gumam Andhera yang melempar ponselnya ke arah sofa dan kembali membaca bukunya.
Tiba-tiba saja ponselnya kembali berbunyi tanda pesan masuk. Andhera dengan buru-buru melihat pesan itu yang ternyata dari Hikari.
Hikari: Andhera, kamu besok ada waktu kan?
Hikari: aku ingin jalan-jalan besok.
Hikari: kau tidak mempunyai alasan untuk tidak ikut!😝
Andhera yang melihat pesan dari Hikari menjadi tersenyum kecil dan cukup merasa senang dalam hatinya.
Maaf thor baru mampir.
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
slam hangat dari The Crazy Testament
bawa boom like 🤭💪💪