Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28. Pertemuan
Darah kini telah bercucuran dengan derasnya di kepala Aldi begitu juga dengan Rere. Keduanya samar-samar melihat sekitaran. Terdengar suara getar dari bibir Aldi.
"Mei-sa." ucapnya lirih sesaat setelah mengatakannya pria itu tak sadarkan diri.
Kejadian kecelakaan itu tak hanya mengorbankan kendaraan mereka saja, ada beberapa pengendara lainnya yang juga ikut terhampas karena mendadak berhenti dan kekacauan terjadi begitu saja di jalanan itu.
Jika suasa menegangkan terjadi di jalanan, berbeda halnya di sebuah ruangan tepatnya di dalam kamar. "Astagfirullah..." Meisa terkejut saat tasbihnya terputus.
"Mas Aldi, Ya Tuhan lindungi suamiku." ucapnya penuh harap tanpa sadar air matanya sudah menetes begitu saja.
Kepanikan kembali menyerang perasaan wanita itu, tangannya bergetar saat menggenggam butiran tasbih itu. Segera ia mengemasi alat solatnya dan keluar dalam kamar. Wajah Meisa mendadak pucat dan tentu hal itu membuat Bu Nirmala refleks bangkit menghampirinya.
"Mei...ada apa? apa yang terjadi?" tanya Bu Nirmala seraya melangkahkan kakinya cepat merangkul pundak putrinya.
Naina juga sangat antusias mengikuti Bu Nirmala mendekat pada Meisa. "Bu...Mas Aldi-"
Tring
Tring
Tring
Suara ponsel memutus percakapan anak dan Ibu itu, manik mata mereka serentak menoleh ke arah nakas yang terdapat ponsel di sana.
"Sebentar Ibu angkat dulu, kamu duduk saja di sana." pintah Bu Nirmala.
Meski yang berbunyi adalah ponsel milik Meisa, namun karena tubuhnya Mei sangat lemas ia mau tidak mau menuruti perintah sang Ibu.
"Ayo, Mommy." Naina menarik tangan Meisa untuk duduk di sofa.
Bu Nirmala yang terlihat menempelkan benda tipis itu tepat di daun telinganya segera bersuara. "Halo..."
"Iya benar, ini saya ibunya."
Hening, suasana berusaha menerka apa yang sedang di dengar oleh Bu Nirmala dan dengan siapa ia berbicara.
"Ya Tuhan! Aldi." Bu Nirmala bergemetar mendengar penjelasan dari seberang telpon itu.
"Mas Aldi." Meisa yang baru saja duduk di sofa mendadak berdiri ia melangkah gontai mendekat sang Ibu yang sudah menatapnya nanar.
"Bu, siapa?" tanya Meisa gugup.
"Mei, Aldi...kita ke rumah sakit sekarang. Ayo." Bu Nirmala menggandeng tangan Meisa begitu juga dengan Naina yang sudah berlari cepat meraih tangan Meisa agar tidak tertinggal.
Meisa yang tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya melangkah dengan tatapan kosongnya, ia melangkah mengikuti gerakan Bu Nirmala.
Beruntung Bu Nirmala yang panik masih bisa berpikiran jernih dan sigap, ia memesan taksi online sebelum keluar dari rumah menantunya.
Mereka bertiga keluar dari rumah, dan taksi yang di pesan akhirnya datang setelah beberapa saat mereka menunggu di depan rumah. Suasana begitu menegangkan, selama di perjalanan pun Bu Nirmala masih belum menceritakan pada Meisa tentang Aldi.
Sedangkan Meisa juga tidak tahu apa yang terjadi dan tidak siap mendengar hal buruk yang menimpa suaminya saat ini. Mobil taksi melaju dengan kecepatan sedang mengantarkan mereka ke rumah sakit yang tempat Aldi dan Rere di rawat saat ini.
"Naina, nanti Oma telepon Daddy setelah kita sampai di rumah sakit yah, Sayang." Bu Nirmala mengusap lembut kepaa bocah itu. Sementara Meisa hanya terdiam dengan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwanya.
Matanya menatap ke luar jendela mobil tanpa mengeluarkan satu kata pun, terlihat gedung-gedung mewah yang menjulang tinggi satu persatu mereka lewati.
"Mas Aldi, aku harap Mas baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Mas aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Ini semua karena aku, Mas melarangku bekerja dan Mas terpaksa harus pindah bekerja demi keuangan keluarga kita. Tidak, Mas Aldi tidak apa-apa, Mas Aldi baik-baik saja." batin Meisa sembari menggelengkan kepalanya.
"Mei," panggil Bu Nirmala lirih.
Meisa menatap wajah sang Ibu perlahan dengan mata yang sudah tertutupi dengan kristal bening kala melihat tatapan penuh harap pada Bu Nirmala yang meminta dirinya untuk tetap kuat.
"Bu...jangan katakan apa pun. Meisa tidak ingin mendengar apa pun." tangisnya akhirnya pecah setelah masuk ke dalam pelukan sang Ibu.
"Sayang, tenanglah. Ibu tahu kamu wanita kuat, Sayang." Bu Nirmala memeluk Naina dan juga Meisa karena bocah itu berada di tengah-tengah mereka..
Setelah suasana perjalanan sedih itu akhirnya taksi tiba di depan rumah sakit dengan sempurna. Meisa, Bu Nirmala, dan juga Naina segera turun dari taksi.
"Ini uangnya, Pak. Terimakasih yah." Bu Nirmala memberikan uang dan menggandeng Naina dan juga Meisa menuju ruang IGD.
Semakin menjauh langkah mereka masuk ke rumah sakit itu, semakin deras juga air mata jatuh di pipi Meisa. Bu Nirmala bisa merasakan dinginnya genggaman tangan Meisa padanya.
Setelah langkah kesekian kalinya, akhirnya mereka tiba di depan IGD, di sana terlihat seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan. Wajahnya penuh keluh karena gerakan cepat yang ia lakukan di dalam sana. Selain mereka, di sana juga terlihat keluarga lain yang sama khawatirnya dengan Bu Nirmala dan Meisa.
"Dok, bagaimana keadaan anak dan menantu kami?" tanya seorang wanita cantik paruh baya yang terlihat sangat khawatir.
"Dok, bagaimana suami saya?" Meisa bertanya tanpa memperdulikan perkataan yang terucap dari orang asing di hadapannya itu.
Sementara Bu Nirmala terherang setelah mendengar pertanyaan kedua orang di depannya itu. "Em...maaf. Di dalam pasien masih tidak sadarkan diri. Keduanya mengalami luka yang cukup serius. Beruntung semuanya sudah di tangani, sebentar lagi akan segera di pindahkan ke ruang rawat." terang Dokter.
"Mas Aldi." Suara Meisa terdengar pilu.
"Maaf, bapak dan Ibu ini siapa yah? dan boleh saya tahu bukankah pasien di dalam hanya ada satu orang?" tanya Bu Nirmala tidak bisa lagi mengontrol jiwa kekepoannya.
"Iya di dalam anak dan menantu kami. Mereka kecelakaan barusan." sahut wanita itu dengan wajah acuhnya.
Sesaat sebelum percakapan mereka kembali berlanjut, pintu akhirnya terbuka. Beberapa suster terlihat mendorong brankar yang terlihat Aldi dan satu orang wanita, yaitu Rere.
"Rere, Aldi." tangis wanita itu pecah saat melihat keadaan keduanya dalam luka-luka yang cukup serius.
"Mas Aldi." Meisa ikut menangis menahan sejenak brankar itu kemudian ikut mendorongnya ke sebuah ruangan rawat.
Jika wajah mereka semua bersedih, berbeda halnya dengan wajah Bu Nirmala. Ia membulatkan matanya mengingat siapa pria yang di sebut menantu oleh wanita tadi.
"Maaf, apa maksud anda menyebutnya menantu? saya rasa anda salah orang." bantah Bu Nirmala.
"Bu, sudahlah ayo kita antar Mas Aldi." sahut Meisa.
"Kamu Meisa? istri pertamanya Aldi, kan?" sontak pertanyaan wanita itu membuat Meisa sangat-sangat terkejut.
"Anda..."
"Iya, saya Ibu dari wanita itu, istri kedua Aldi."
Mendengar perkataan yang menghantam jantungnya, Meisa menggelengkan kepala. Rasanya kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar dirinya tanpa hujan mau pun mendung.
"Maaf Bu, tolong jika ingin bercanda jangan di waktu seperti ini." bantah Meisa melangkahkan kakinya mengikuti suster yang mendorong brankar suaminya.
"Saya tidak bercanda, Meisa. Kamu itu di madu."
"Hey, jaga bicara anda. Jangan mempermainkan perasaan anak saya. Aldi tidak mungkin bersikap seperti itu." Bu Nirmala pun ikut menimpali ucapan wanita asing itu.
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪