NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Putih

Pendekar Elang Putih

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Kultivasi / Wuxia / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:5.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adi Kusma

Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.

Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.

Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.

Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Bercadar

"Aku tidak menduga, ternyata Pendekar Topeng Perak adalah kaki tangan Paron Geni. Dia tidak pantas mendapat julukan Pendekar. Dia Penjahat! Jika saja aku mengetahui hal itu, lebih baik aku mati daripada menerima uluran tangannya." Ucap seorang pendekar dengan nada menyesal.

"Sekarang, kau masih hidup. Dan nyawamu itu merupakan hadiah dari Pendekar Topeng Perak. Tidak sepatutnya kau memaki dia ditengah keramaian seperti ini." Temannya menjawab. Mencoba mengingatkan posisi mereka yang sedang berada di kedai.

"Maaf, kawan. Seandainya saja, saat ini Pendekar Topeng Perak ada dihadapanku. Aku mungkin bisa mengucapkan kata terimakasih. Bahkan aku bisa memberikan dia koin emas. Tapi, aku juga tidak akan sungkan jika harus memenggal kepalanya."

Beberapa Pendekar yang sedang makan di kedai sambil membicarakan Pendekar Topeng Perak tidak sadar, hanya berjarak beberapa langkah, ada sepasang pendekar muda yang mendengar pembicaraan mereka. Pasangan muda tersebut tidak lain adalah Elang Putih dan Puspita Dewi.

Elang Putih mengepalkan tangannya mendengar kalimat pendekar yang dulu pernah ditolongnya saat pertempuran di Sumur Batu. Bukan dia menghitung budi. Sebagai sesama pendekar aliran putih, tidak seharusnya pendekar tadi mengumpat orang yang pernah menyelamatkan nyawanya.

Puspita segera menggenggam tangan Elang Putih. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Memaksa Elang Putih untuk meredam emosi yang mulai memuncak.

"Tuan Muda, meski Anda mengutuk peristiwa di sumur batu, jangan sampai Anda terbawa emosi." Puspita berbisik pada Elang Putih. Gadis itu tersenyum  sambil meremas lembut tangan majikannya.

Salah seorang pendekar yang sedang mengobrol menyadari perubahan sikap pemuda didekatnya. Dia memberi kode pada temannya yang lain. Kelima Pendekar tadi meningkatkan kewaspadaan.

"Pendekar muda, apa ada kalimat kami yang menyinggung perasaanmu atau kelompokmu?" tanya seorang pendekar pada Elang Putih yang wajahnya masih merah.

"Ah, Tuan Pendekar, maaf. Kami bukan Pendekar. Kami orang biasa. Bukan kami tidak senang, kami hanya mengutuk perbuatan Paron Geni. Terlalu banyak orang tidak bersalah menderita akibat ulahnya." Puspita cepat menjawab. Walau usianya sangat muda, kecerdasan gadis itu di atas rata-rata. Puspita sadar, para pendekar menaruh curiga pada mereka. Puspita takut. Takut kalau Elang Putih tidak bisa mengendalikan emosi dan mencelakai kelima pendekar tersebut.

"Oh itu kiranya. Paron Geni adalah salah satu tokoh aliran hitam yang kejam. Ini bukan kali pertama dia berbuat keji. Jangan salah, banyak sekali anak buahnya yang berkeliaran. Saya harap kalian selalu berhati-hati." Pendekar itu sangat ramah. Berbeda dengan temannya yang masih sulit mengendalikan diri.

"Terimakasih, Tuan Pendekar. Kami akan mengingat pesan Pendekar. Tapi maaf, kami harus segera pergi." Puspita menarik tangan Mahesa untuk meninggalkan kedai. Puspita tidak ingin Mahesa terlibat masalah, lebih-lebih dengan kelompok aliran putih.

"Terimakasih Puspita. Kau sangat mengerti saya. Satu hal yang paling saya takutkan. Menjadi monster pembunuh." Mahesa menghela napas berulang kali.

"Tuan Muda, saya bisa mengerti perasaan Anda. Wajar kalau Anda marah. Saya juga merasakan hal yang sama. Mereka bicara tanpa tahu hal yang sebenarnya."

"Tidak perduli saya orang Utara atau Selatan, kau selalu menjadi orang yang paling mengerti saya. Saya tidak tahu bagaimana cara saya untuk berterima kasih." Mahesa menghentikan langkah. Dia menatap Puspita yang tersenyum manis padanya.

"Tuan Muda, saya bersama dengan diri Tuan. Bukan masa lalu dan asal-usul Tuan. Kalau saja, mereka mengetahui kebaikan hati Tuan Muda, saya yakin tidak ada alasan bagi Pendekar Selatan untuk memusuhi Anda."

Mahesa tertawa kecil mendengarnya. Sesungguhnya, dia berharap hal yang sama. Pertikaian Utara dan Selatan yang tak kunjung mereda, membuat Mahesa tidak nyaman.

"Puspita, apa kau sadar. Ada seseorang mengikuti kita sejak tadi." Ucap Mahesa.

"Tuan Muda, Maaf." Puspita menyadari kelalaian yang dia perbuat. Setelah beberapa puluh langkah, Puspita baru menyadari.

Keduanya mempercepat langkah. Tidak pulang kepenginapan, melainkan menuju perumahan padat penduduk.

°°

"Mengapa Anda terus mengikuti kami?" pertanyaan Mahesa mengejutkan seorang bercadar yang sejak dari kedai tadi membuntuti.

Kehadiran Mahesa yang tiba-tiba membuat orang itu kelimpungan karena takut ketahuan. Tanpa menjawab, dia melompat kabur. Mahesa tersenyum tipis.

Orang bercadar terus berlari, memasuki jalan-jalan di depan rumah penduduk yang padat. Dia menuju gang sempit yang merupakan jalan tikus (jalan alternatif). Suasana disana sangat lengang dan sedikit gelap. Orang bercadar menghentikan larinya. Sambil menoleh, memperhatikan suasa disekitarnya penuh kewaspadaan, dia mengatur napas sejenak.

"Sepertinya aman." Gumamnya. Dari suaranya, jelas dia seorang wanita.

"Tentu saja aman Nona. Kita tidak berada di daerah konflik." Suara yang sama, kembali terdengar sangat dekat dengan telinga wanita bercadar.

Ketika wanita itu menoleh kearah sumber suara, seorang pemuda tampan tersenyum tipis kearahnya. Jantung wanita bercadar berdegup kencang. Dia tidak mengetahui darimana munculnya si pemuda. Tiba-tiba saja, sudah sangat dekat dengannya.

Wanita bercadar mengibaskan tangannya. Dia melepas serangan jarum beracun. Bagi Mahesa, serangan seperti itu sangat lamban dan terbaca. Dengan mudah, Mahesa menangkap jarum beracun yang mengarah kejantungnya.

"Set, Tok!!" Mahesa bergerak cepat. Tubuhnya tiba-tiba hilang dari pandangan. Ketika terlihat, posisinya sudah berada di depan si wanita. Dengan tangan terjulur menempel di bawah bahu wanita tersebut. Dengan sekali totok, wanita bercadar langsung berdiri mematung.

Wanita baru menyadari, dia telah salah memilih lawan. Tidak diduga, pemuda tampan ini memiliki olah kanuragan yang jauh berada di atasnya.

"Berhentilah menggunakan senjata seperti ini." Mahesa memperlihatkan jarum beracun di tangannya, "jika kau menemui lawan yang memiliki ilmu Kanuragan di atasmu, senjata ini bisa membahayakan nyawamu sendiri."

Mahesa menarik cadar di wajah si wanita. Kemudian tertawa kecil sambil menepuk pundak wanita tersebut.

"Jangan takut. Tidak lama lagi, pimpinan dan teman-temanmu pasti akan datang. Sebaiknya kau pertahanan posisi seperti ini." Mahesa melangkah meninggalkan si wanita. Baru tiga langkah, mendadak Mahesa berhenti.

"Oh ya, saya melupakan sesuatu," Mahesa mundur lagi, hingga posisi mereka berdekatan,  "Sebaiknya kalian cari orang lain saja. Memata-matai kami, kalian melakukan hal yang sia-sia."

Tidak ada jawaban apapun. Karena Mahesa menotok si wanita. Hanya bola matanya saja yang bisa bergerak. Mungkin, wanita itu mengumpat dan melontarkan sumpah serapah. Tapi suaranya tidak pernah keluar.

Mahesa mengembalikan cadar yang tadi dipakai sebagai penutup wajah lalu meninggalkan wanita tersebut tanpa beban. Membiarkan angin mengantar debu pada tubuh wanita yang tidak mampu bergerak.

°°

"Bedebah!! Siapa pemuda itu? Berani sekali dia cari gara-gara." Wanita berusia sekitar 30 tahun terlihat sangat marah.

Dia adalah Kembang Latar. Pimpinan wanita yang tadi siang ditotok oleh Mahesa.

"Maaf, kak. Saya belum sempat mengetahui dimana mereka tinggal. Mereka keburu memergokinya saya." Wanita yang tadi di totok merupakan seorang abdi bernama Seroja.

Kelompok itu beranggotakan hanya lima orang. Mereka bekerja untuk Citra Ningrum. Seorang Pendekar Wanita berusia 28 tahun. Nama Citra Ningrum belum dikenal. Lagipula, bila keluar padepokan, Ningrum selalu memakai cadar. Persis kelima abdinya.

Satu anggota sudah dibuka cadarnya. Meskipun mudah untuk mengganti dengan cadar baru, tapi mereka tidak se-simple itu. Bagi mereka, siapapun lelaki yang telah berani membuka cadar harus bertanggung jawab.

Malam itu, Citra Ningrum ditemani Kembang Latar bergerak menuju kedai dimana Seroja pertama kali bertemu Mahesa.

"Nona, inilah kedai yang di ceritakan Seroja." Ucap Kembang Latar ketika mereka tiba di depan sebuah kedai.

"Sekarang adalah waktu makan malam. Kalau pendekar itu tinggal di sekitar sini, dia pasti akan muncul. Sebaiknya kita tunggu di dalam." Citra Ningrum mengajak Kembang Latar untuk masuk.

Mereka memesan makanan dan memilih tempat duduk yang bisa menjangkau seluruh isi kedai.

Kedai yang ramai dikunjungi berbagai lapisan masyarakat menyuguhkan pemandangan wajah manusia dengan aneka rupa. Hampir tiga jam Citra Ningrum dan Kembang Latar menunggu. Akan tetapi, pemuda dengan ciri-ciri yang disebut Seroja belum menampakkan batang hidungnya.

"Nona, apa pemuda itu sengaja tidak datang?" tanya Kembang Latar seolah sudah ada janji yang terucap.

"Tidak. Saya yakin dia akan muncul. Tidak ubahnya seperti kita, pemuda itu pasti mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi." Citra Ningrum terlihat sangat yakin pada ucapannya. "Kita tunggu beberapa saat lagi. Kalau dia belum muncul, kita akan cari tempat lain untuk mengawasi."

Beberapa waktu kemudian,

"Kita cari tempat lain. Saya takut menimbulkan kecurigaan." Ajak Citra Ningrum.

Kembang Latar memanggil pelayan kedai dan membayar makanan.

Citra Ningrum berdiri kemudian langsung berjalan keluar kedai matanya masih memeriksa pengunjung kedai.

"Bruk." Tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seorang lelaki.

Citra Ningrum terkejut dan berusaha menghindar. Tapi Tindakannya justru membuat tubuhnya hampir terjatuh menghantam sudut meja. Beruntung, lelaki yang bertabrakan dengannya cepat memberi tangan. Citra Ningrum meraih tangan itu dan membuat tubuhnya kembali berdiri.

Saat Citra Ningrum sadar, wajah lelaki tampan itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Citra Ningrum bisa merasakan desah nafas hangat sang lelaki. Jujur, itu merupakan pengalaman pertama Citra berdekapan dengan lelaki.

Kejadian mendebarkan tadi terjadi hanya beberapa detik saja. Lelaki tampan segera menjaukan diri dari Citra Ningrum.

Dia melangkah mundur beberapa tindak. Raut wajahnya sangat TIDAK menikmati kejadian barusan. Lelaki yang tidak lain adalah Mahesa, membungkuk sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada, memberi hormat.

"Mohon maaf, Nona. Bukan maksud saya berlaku tidak senonoh. Mohon untuk dipahami, semua terjadi di luar kendali saya. Saya mengaku salah." Mahesa berbicara dengan lembut, hanya sekilas dia menatap mata Citra Ningrum.

Bila saja Citra Ningrum tidak memakai cadar, pasti pipinya terlihat memerah seperti buah tomat yang sedang mengkal-mengkalnya.

Citra Ningrum jadi salah tingkah. Dia tidak menjawab atau menunjukkan reaksi lain. Dia sadar, tidak ada yang pantas disalahkan atas kejadian tadi. Semua adalah ketidak sengajaan.

Kembang Latar yang menyadari Citra Ningrum bisu mendadak mengambil inisiatif menyambut salam Mahesa, dia membungkuk hormat. "Tuan Muda, maaf. Ini semata-mata bukan kesalahan Anda. Semua tidak sengaja. Terimakasih, sudah menyelamatkan Nona kami."

"Terimakasih atas kerendahan hati Nona berdua. Sungguh saya merasa bersalah. Jika ada kesempatan menebus dosa, saya harap Nona menagih di dunia ini." Mahesa membungkuk sekali lagi. Kemudian dia melangkah meninggalkan Citra Ningrum yang masih merinding, tanpa menunggu gadis itu menjawab.

"Nona ... Nona ...." Kembang Latar menyentuh tangan Citra Ningrum.

"A...aa." Citra Ningrum tergagap. Dia berhasil mengendalikan diri saat Mahesa sudah menghilang entah kemana. Saat itu, puluhan pasang mata seolah semua tertuju padanya.

Citra Ningrum bergegas keluar dari kedai diikuti Kembang Latar. Gadis itu terus melangkah dengan sangat cepat hingga mencapai ujung jalan.

Wajah tampan itu, wangi khas yang terhirup tadi. Ah, Citra Ningrum mencoba menepisnya jauh-jauh. Hatinya berdebar.

"Nona, bukan kah lelaki tampan tadi yang kita cari?" pertanyaan Kembang Latar membuyarkan hayalan Citra Ningrum.

Dia kembali teringat pada tujuan utama mereka. Kenapa bisa dia kehilangan kendali? Tindakan yang sangat berbahaya.

"Kita kembali. Nanti kita cari cara lain. Yang pasti, dia warga sekitar sini." Jawab Citra Ningrum sambil mengayunkan langkah. Secepatnya, dia ingin pergi dari tempat itu.

1
Irwandy Kamal
𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚜𝚊𝚒 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊, 𝚕𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚔𝚞𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚖𝚋𝚞𝚗𝚢𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚠𝚊𝚓𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗𝚗
Irwandy Kamal
𝚙𝚊𝚍𝚎𝚙𝚘𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚊𝚓𝚊𝚠𝚊𝚕𝚒, 𝚓𝚞𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚌𝚊𝚔𝚊𝚛 𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 🤔
merah putih
bagusss...thor....hanya sj msh terlalu banyak ungkapan2. kurangi ungkapan2 terutama saat bertarung.
Hamka Bahri
Luwuk Banggai Parigi Moutong 🤣🤣🤣🤣
Nggenk Topan
mahesa lebay...
Nggenk Topan
galih janda bahenol
Yuniar Hadi
iya
Nggenk Topan
kok bikin bingung...?
Nggenk Topan
tambah hebohhhhh
Mely Kanzafaiz
cerita yg ga jlas
Rivan Zuhri
jadi menikah dengan siapa saja
Rivan Zuhri
Luar biasa
Rizal Sude
Biasa
Yanah Tjan
Luar biasa
Tabri Bong Plaju
ceritanya bagus,typonya gak ada,mudah di ikuti jln ceritanya.... semangat terus tor...
@ ubaydah_*😄
harus kembaran Puspita cewek aja,biar ceritanya tambah seru
Adi Kusma: Mksh kk
total 1 replies
@ ubaydah_*😄
kenapa si Puspita GA bunuhdiri aja biar siluman jahatnya ikutan mati.
Denmas
agak rumit di pahammi
Irhakim
kak permisi mau promo dulu kak tentang fantasi constelasi
Thomas Andreas
ngeri julukannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!