NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Sinar Pagi yang Berbeda & Kabar dari Balik Dinding Bangsal

​Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden beludru yang sengaja dibuka sedikit oleh Bi Ani dari luar. Di atas ranjang besar, Mireya perlahan membuka matanya. Rasa hangat yang nyaman langsung menyergap kulitnya. Ketika ia mencoba menggeser tubuh, ia menyadari sepasang lengan kekar masih melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuhnya tanpa celah.

​Calix masih tertidur lelap di sampingnya. Wajah pria yang biasanya selalu memasang ekspresi ketus dan mengintimidasi itu kini tampak begitu tenang, guratan lelahnya tersapu oleh kedamaian pagi.

​Mireya menatap wajah suaminya dari jarak beberapa sentimeter. Jemari lentiknya bergerak ragu, hampir menyentuh rahang tegas Calix, sebelum akhirnya ia menariknya kembali karena takut membangunkan pria itu.

​"Sampai kapan kamu mau terus memandangiku seperti itu, Mireya?"

​Suara bariton yang serak khas bangun tidur itu mendadak bergema, membuat Mireya tersentak. Calix perlahan membuka mata elangnya, menatap Mireya dengan kilat mata yang tidak lagi sedingin dulu. Sebuah senyuman tipis yang teramat langka terukir di bibirnya.

​Wajah Mireya merona merah, ia langsung berusaha berbalik memunggungi Calix. "Siapa yang memandangimu? Aku hanya melihat apakah ada bekas sisa kuah bakso pedas semalam di bibir Tuan Besar."

​Calix terkekeh rendah—sebuah suara tawa yang kini terdengar jauh lebih sering di kamar ini. Pria itu justru mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mireya, menghirup aroma sabun mandi yang menenangkan. "Bohong. Kamu menyukai wajah suamimu ini, kan? Akui saja, gengsimu itu menular dariku."

​"Lepaskan, Calix. Ini sudah pagi, aku harus mandi dan mengecek sulamanku di paviliun," cicit Mireya, mencoba melepaskan diri dari dekapan yang teramat posesif itu.

​"Sulamannya tidak akan lari ke mana-mana, Nyonya David," gumam Calix, mengecup sekilas pundak polos Mireya sebelum akhirnya melonggarkan pelukannya dengan enggan. "Mandilah duluan. Setelah itu kita sarapan bersama di bawah. Tidak ada bantahan."

​Ketenangan pagi itu berlanjut hingga ke ruang makan bawah. Tidak ada lagi kecanggungan yang mencekam seperti hari-hari lalu. Mireya menikmati potongan buahnya dengan tenang, sementara Calix duduk di ujung meja sembari sesekali menyesap kopi hitamnya, matanya terus mencuri pandang ke arah gerakan Mireya yang tampak jauh lebih hidup.

​Tepat saat Mireya hendak menghabiskan jus jeruknya, ponsel milik Mireya yang diletakkan di atas meja makan bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat ia kenal—nomor administrasi Rumah Sakit Pusat Kota, tempat adik kandungnya, Aiden, dirawat.

​Jantung Mireya berdesir panik. Ia langsung menyambar ponselnya dan menggeser layar dengan tangan yang sedikit gemetar.

​"Halo, selamat pagi. Benar, saya Mireya, kakak dari Aiden Pradipta," ucap Mireya, suaranya mendadak naik satu oktav karena cemas.

​Calix yang menyadari perubahan raut wajah istrinya langsung menurunkan cangkir kopinya. Netra elangnya mengunci penuh pada sosok Mireya, mendengarkan dengan saksama.

​Di seberang telepon, suara ramah seorang perawat terdengar jelas. "Selamat pagi, Nyonya Mireya. Kami dari divisi perawatan intensif anak ingin mengabarkan bahwa kondisi kesehatan Dik Aiden mengalami perkembangan yang sangat signifikan setelah menjalani terapi obat baru dari tim dokter utama. Pagi ini, Dik Aiden sudah sadar sepenuhnya dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan reguler kelas VIP."

​Air mata kebahagiaan seketika menggenang di pelupuk mata bulat Mireya. Tangannya mencengkeram ponselnya erat-erat, dadanya naik turun karena rasa lega yang luar biasa. "Benarkah, Suster? Aiden... adik saya sudah sadar dan bisa bicara?"

​"Sudah, Nyonya. Dik Aiden bahkan berulang kali mencari kakaknya. Jika Nyonya ada waktu, pihak rumah sakit menyarankan Anda untuk berkunjung hari ini demi membantu proses pemulihan psikologisnya," jelas perawat itu ramah.

​"Baik, Suster! Terima kasih banyak! Saya akan segera ke sana sekarang juga!" Mireya memutus panggilan telepon dengan air mata yang akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia menatap Calix dengan binar mata yang penuh rasa syukur yang teramat dalam. "Calix... Aiden sudah sadar. Adikku sudah melewati masa kritisnya!"

​Calix bangkit berdiri dari kursinya, melangkah lebar memutari meja makan lalu berdiri di depan Mireya. Ia mengulurkan tangannya, mengusap air mata di pipi istrinya dengan jemari besarnya yang hangat. "Aku sudah mendengarnya. Jangan menangis lagi, itu berita bagus untuk kesehatan rahimmu."

​"Aku mau ke rumah sakit sekarang, Calix. Tolong izinkan aku menemui adikku," pinta Mireya dengan nada memohon yang teramat tulus, memegang ujung kemeja kerja Calix.

​Calix terdiam sejenak, menatap mata bulat yang begitu berharap itu. Ego-nya sempat ingin melarang karena mencemaskan kelelahan fisik Mireya, namun melihat binar kebahagiaan itu, Calix tidak tega untuk memadamkannya.

​"Doni akan menyiapkan pengawalan ketat," ucap Calix akhirnya dengan suara bariton yang tegas. "Aku juga akan ikut bersamamu ke rumah sakit sebelum aku pergi ke kantor pusat."

​Mireya tertegun, tidak menyangka pria sekaku Calix rela meluangkan waktu sibuknya demi mengantarkannya menemui sang adik. "Anda... Anda serius mau ikut?"

​"Tentu saja. Aku harus memastikan aset kontrakku ini tidak keluyuran atau diculik oleh orang-orang tidak berguna di luar sana," ketus Calix, memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan rasa pedulinya yang teramat besar. "Cepat ganti pakaianmu yang sopan, Mireya. Aku tidak suka menunggu."

​Mireya tersenyum lebar, menghapus sisa air matanya lalu bergegas berlari menaiki anak tangga dengan langkah yang dipenuhi rasa suka cita.

​Satu jam kemudian, mobil Rolls-Royce hitam mewah milik Calix sudah terparkir di area khusus VIP Rumah Sakit Pusat Kota. Calix dan Mireya melangkah masuk ke dalam gedung, diikuti oleh Doni dan dua pengawal berbadan kekar yang menjaga keamanan dari jarak beberapa meter di belakang.

​Begitu pintu kamar rawat nomor 701 dibuka, mata Mireya langsung tertuju pada sesosok bocah laki-laki bertubuh kurus yang sedang bersandar di atas ranjang rumah sakit dengan selang oksigen kecil yang masih terpasang di hidungnya. Itu Aiden.

​"Aiden..." panggil Mireya lirih, suaranya bergetar hebat.

​Bocah itu menoleh, matanya yang sayu seketika berbinar terang saat melihat kakaknya melangkah masuk. "Kak... Kak Reya..." panggil Aiden dengan suara lemahnya yang serau.

​Mireya langsung berlari kecil, memeluk tubuh ringkih adiknya dengan teramat hati-hati, menumpahkan segala rasa rindu dan beban berat yang selama ini ia pikul sendirian demi mempertahankan napas bocah tersebut. "Kakak di sini, Sayang... Kakak di sini. Kamu hebat sudah bangun..."

​Calix berdiri diam di ambang pintu kamar rawat, bersedekap dada sembari menyaksikan interaksi emosional di depannya. Ada rasa hangat yang aneh mengalir di dadanya melihat bagaimana Mireya memperlakukan adiknya dengan penuh cinta yang teramat murni.

​Aiden perlahan melepaskan pelukan kakaknya, lalu pandangan matanya beralih menatap sosok tegap Calix yang berdiri kokoh di dekat pintu. "Kak Reya... Kakak ganteng itu... siapa?" tanya Aiden dengan kepolosannya.

​Mireya sempat tertegun, lidahnya mendadak kaku untuk menjawab. Ia melirik Calix, bingung status apa yang harus ia katakan pada adiknya yang masih kecil tentang hubungan kontrak rahim mereka.

​Calix yang menyadari kekikukan Mireya langsung melangkah maju dengan langkah yang tegap. Ia berdiri di samping ranjang Aiden, lalu mengulurkan tangannya yang besar untuk mengusap puncak kepala bocah itu dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah pemandangan yang membuat Mireya sempat terpaku tidak percaya.

​"Namaku Calix," ucap Calix dengan suara baritonnya yang sengaja diredam agar tidak menakuti sang bocah. "Aku... adalah suami dari Kakakmu. Mulai hari ini, kamu tidak perlu cemas lagi soal biaya pengobatan atau apa pun. Cukup fokus pada pemulihanmu agar bisa segera bermain bersama Kak Reya lagi."

​Aiden menatap Calix dengan mata bulat yang berbinar kagum, lalu beralih menatap kakaknya. "Kak Reya... Kakak ganteng ini baik sekali. Dia seperti pahlawan di buku ceritaku."

​Mireya tersenyum dengan air mata yang kembali mengalir, namun kali ini adalah air mata penuh kebahagiaan. Ia menatap Calix, menatap lurus ke dalam netra elang pria itu yang kini memancarkan rasa kepemilikan yang teramat mutlak atas dirinya dan keluarganya. Di balik dinding bangsal rumah sakit yang dingin ini, selembar kontrak rahim yang semula terasa menyeramkan, perlahan mulai bertransformasi menjadi sebuah ikatan pernikahan yang nyata di dalam hati mereka masing-masing.

1
Aditya Rian
mantap
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Aditya Rian: matap👍
total 2 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!