SELAMAT MEMBACA🤗🤗🤗
Tentang perjodohan konyol yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka membuat Raffa dan Kaila tumbuh dewasa lebih cepat
Raffa Arsenio mau tak mau menyetujui permintaan papanya untuk menikah karena terlibat janji dengan sahabatnya.
Kaila Leteshia diam-diam menyukai Raffa namun ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Raffa dan entah keberuntungan apa yang ia dapat hingga suatu hari orang tuanya menjodohkannya dengan laki-laki yang ia cintai.
Awal pernikahan mereka saling berusaha untuk terbiasa satu sama lain dan Raffa berusaha untuk mencintai Kaila dengan hatinya.
Namun apakah cinta keduanya akan berjalan mulus? apa saja masalah yang akan dihadapi oleh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Listri Amanda Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganti Panggilan
"La?"
"I-iyaa?"
Raffa mengulurkan tangannya kepada Kaila, "Yuk turun, lo gak mau makan siang?" tanyanya.
"Oh iya!" buru-buru Kaila bangkit dari duduknya, ia meletakkan boneka kelincinya dikursi yang ia duduki tadi.
"Muka lo kenapa La kok merah?" tanya Raffa.
Sontak Kaila memegangi wajahnya sendiri, 'Terasa panas'.
"Gak! gak papa kok, udah yuk turun pasti ditungguin sama bunda." ajak Kaila, ia membuka pintu kamar dan turun lebih dulu diikuti oleh Raffa dibelakangnya.
"Sayang, kok lama?" tanya Devi begitu melihat Kaila di ujung tangga.
"Emm.. iya mah, Raffa ganti baju dulu." jawab Kaila.
Raffa dan Kaila berjalan mendekat, duduk bersama dengan ayah dan bunda yang sudah menunggu di meja makan.
"Emangnya kenapa sampe Raffa ganti baju segala?" tanya Devi lagi penasaran.
Kaila melirik ke arah Raffa sejenak, namun yang dilirik hanya duduk diam tanpa berbicara apapun layaknya anak kecil sehabis diomeli.
"Emm.. oh itu tadi Raffa kena ciprat air kolam karna ikannya bandel."
Raffa melirik Kaila, "Kenapa Kaila bilang begitu? jelas-jelas gue nyebur ke kolam ikan." gumamnya.
"Oo begitu, ya udah yuk sekarang kita makan." ajak Devi, akhirnya mereka pun berhenti berbicara dan mulai mengisi perut yang terasa lapar.
"Oh ya, ayah dengar tadi kalian berdua saling memanggil dengan panggilan apa?" tanya Bram tiba-tiba.
Kaila dan Raffa saling pandang, Raffa mengisyaratkan menggunakan kedua bola matanya yang ia gerakkan ke kanan dan ke kiri.
"Emm, aku kamu?" cicit Kaila pelan.
"Ayah dengar tadi bukan itu deh."
Kaila dan Raffa kembali saling berpandangan, Raffa menghela nafasnya pelan. "Maaf ayah.." ucapnya.
"Emangnya mereka berdua saling manggil gimana yah?" tanya Devi.
"Mereka pakai panggilan anak gaul bun." jawab sang ayah dan bunda langsung menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau begitu bunda gak mau tau kalian harus ganti nama panggilan! emangnya ada suami istri yang mangginya begitu?" tanya bunda.
"Ada bun, kami berdua." jawab Kaila dalam hari.
Namun kenyataannya Kaila dan Raffa hanya mampu menggelengkan kepalanya saja tanpa berkata apapun.
Devi menghela nafasnya pelan dan Bram langsung mengusulkan nama panggilan untuk anak dan menantunya itu.
"Bagaimana kalau panggilannya bee dan honey? kan lucu tuh." celetuk sang ayah disertai dengan kekehan kecil dari bibirnya.
"Enggak yah!" kompak Kaila dan Raffa menjawab.
"Ya sudah kalian pikirkan sendiri tapi ayan gak mau denger kalian manggil seperti itu lagi." titah sang ayah.
Kaila dan Raffa mengangguk patuh, tigas baru bagi mereka 'memikirkan panggilan baru untuk diri mereka masing-masing.'
...💜💜💜...
Esok harinya Kaila dan Raffa kembali menjalani aktivitas sebagai murid biasa si sekolah, aktivitas rutin yang dilakukan oleh remaja seusia mereka.
Kaila berjalan menuju ke toilet, tadinya Elisa ingin menemaninya namun Kaila menolaknya dan meminta Elisa untuk menunggunya saja di depan lapangan.
Hari ini guru sedang rapat di sekolah dan merupakan satu kebahagiaan terbesar bagi murid di sekolah, artinya tidak ada pembelajaran apapun hari ini dan mereka bebas untuk bermain.
Karena itulah, anak basket dan juga sepak bola tengah unjuk bakat mereka masing-masing di lapangan sekolah dan Elisa sangat tertarik sekali untuk melihat permainan basket karena salah satu pemainnya adalah gebetannya.
"Hai!" sapa seseorang dari belakang.
Kaila yang baru keluar dari kamar mandi langsung memekik kaget, "AAAA!"
"Eh tenang-tenang, gue bukan singa kok jangan teriak-teriak entar orang lain mikir gue macem-macem sama elo." ucapnya.
Kaila membelalakkan matanya saat melihat siapa yang baru saja menyapanya itu, entah mengapa Kaila malas melihat wajahnya.
"Elo lagi?" tanya Kaila.
Al tersenyum menampilkan deretan gigi putih nan rapi miliknya, "Wah ternyata lo inget ya sama gue, bagus dong berarti gue termasuk spesial karena bisa lo inget." ucapnya.
Kaila memutar bola matanya malas, "Ck, apaan sih lo! udah sana pergi gue males liat muka lo." usir Kaila.
Namun bagi Al apapun yang ia lakukan akan bertentangan dengan apa yang Kaila pinta, jila.Kaila memintanya untuk pergi maka jawabannya adalah Al akan berada di samping Kaila terus-menerus.
"Kalo gue gak mau gimana?" tanya Al balik.
Kaila memutar bola matanya jengah, "Terserah lo!" ucapnya ketus.
Kaila berlalu begitu saja meninggalkan Al yang berdiri di dekat toilet namun ia langsung berjalan menyusul Kaila dengan senyuman manis yang terpantri diwajahnya.
"Kaila! tunggu dong.." ucapnya.
Beberapa murid yang ada di lorong sekolah melirik ke arah Alvaro, most wanted di sekolah idaman para gadis-gadis, sontak mereka terlihat kaget saat nama seorang gadis terucap dari bibir Alvaro.
"Siapa Kaila?"
Begitulah mereka berbisik, bertanya-tanya siapa gadis beruntung yang bisa dekat dengan Alvaro, incaran para gadis berhati dingin.
"Kaila!" panggil Elisa, ia duduk di salah satu kursi panjang di dekat lapangan basket.
Kaila langsung berlari menghampiri sahabatnya itu dan duduk disampingnya, melihat para idola sekolah bermain basket di tengah teriknya matahari.
"Begitu doang? ck, gampang!" celetum seseorang di belakang Kaila.
Sontak Elisa langsung melirik tajam ke arahnya, namun ia langsung membelalakkan matanya kaget saat melihat Alvaro tengah duduk disana.
"Al-alvaro?" pekiknya, buru-buru Elisa mengambil kaca di kantongnya dan memastikan riasan di wajahnya tetap cantik.
Berbeda dengan Kaila yang terkejut dan langsung melirik ke belakang, dan Al langsung melambaikan tangan kearahnya.
"Hai Kaila!" sapanya.
"*Siapa dia? kenapa Alvaro bisa kenal?" gumam siswi di dekat mereka.
"Dia gebetan Alvaro ya?"
"Alvaro suka sama cewek itu ya?"
"Ck, pasti cewek itu ngegoda Alvaro makanya Alvaro bisa nyapa dia begitu*."
Begitulah beberapa gumaman yang Kaila dan Elisa dengar tak terkecuali Alvaro, ia juga mendengar gumaman para siswi didekat mereka namun memilih diam dan bodo amat.
"Omongan mereka bukan urusanku."
Begitulah moto Alvaro, ia tidak perlu bersusah payah memikirkan omongan ataupun komentar orang lain sama sekali, jalani saja kehidupanmu sendiri.
"La, elo kenal sama Alvaro?" bisik Elisa, ia terkejut saat Alvaro menyapa sahabatnya itu.
"Enggak, gue gak kenal sama dia!" jawab Kaila, ia menatap sinis Alvaro yang kini tersenyum miring kepadanya.
"Yakin lo gak kenal sama gue? padahal kan kita pernah makan bareng di cafe. celetuk Al.
Elisa membolaka kedua matanya, "SERIUS? KAILA! Kalian deket?"
Kaila menggelengkan kepalanya cepat, "Engga La, serius! dia aja yang sok kenal sama gue lagipula kan lo tau kalo gue... "
Elisa langsung menepuk jidatnya, "Astaga gue lupa!"
Alvaro mengernyitkan dahinya mendengar percakapan dua orang di depannya itu, "Lupa apa?" tanyanya.
"Kepo!" jawab Kaila dan Elisa berbarengan.
Alvaro menghela nafasnya kasar, "Ternyata most wanted kaya gue bisa diginiin juga sama cewek." dengusnya.
btw siapa yg d'pesan raffa TF uang yyyy 🤔
moga aja celine g'ada niatan n rencana jahat buat misah'in kaila n raffa 😏