Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAK KEPALA
Tok Tok Tok
"Masuk..." Ketukan Taufiq terdengar disahuti dari dalam. Dia saat itu baru saja mengetuk ruang kepala Polisi.
CEKLEK
"Selamat siang, Pak..." Sapa Taufiq hormat kepada seorang lelaki paruh baya yang ditemuinya di ruangan itu.
"Eh... Kamu, Fiq. Mari duduk..." Ucap Bapak itu seraya bangkit dari meja kerjanya dan mempersilakan Taufiq duduk di sofa ruangannya yang cukup luas.
"Terima kasih, Pak kepala." Taufiq mengangguk dan mengikut duduk.
"Dengar-dengar, kamu baru saja melangsungkan pernikahan. Apa itu benar?" Tanya Bapak Kepala terdengar menggodanya pula.
"Benar, Pak." Sahut Taufiq membenarkan.
"Selamat... Selamat..." Ucap Pak Kepala sambil mangut-mangut. "Seharusnya kamu memberitahukan pernikahanmu kepada kami, Fiq. Biar ada karangan bunga yang berjejer di depan rumahmu." Ucap Pak Kepala itu lagi mengguyunya.
"Ah, Pak Kepala. Acaranya sederhana saja kok, Pak. Yang penting sah menurut agama dan hukum." Jawab Taufiq malu-malu.
Taufiq mengatur nafasnya pelan. "Sebenarnya saya mau minta izin serta mengundang Bapak Kepala untuk datang ke rumah saya nanti. Selepas isya, kawan-kawan ingin berkenalan dengan istri baru saya." Ujar Taufiq menyampaikan maksudnya menemui Pak Kepala.
"Istri baru?" Pak Kepala mengerinyitkan alisnya.
"Iya, Pak... Ibu sambung untuk anak-anak..." Ujar Taufiq membenarkan.
"Owh..." Polisi itu kembali mangut-mangut. Dia terlihat tidak percaya ketika mendengar pengakuan Taufiq tentang istri baru. "Baiklah... Insya Allah, Saya akan usahakan untuk datang." Ucap Pak Polisi itu lagi.
"Terima kasih, Pak Kepala... Kalau begitu, saya permisi, Pak..." Pamit Taufiq dengan wajah sumringah.
Pak Kepala menyahuti pamitan Taufiq, dan ikut berdiri mengantarkan Taufiq keluar dari ruangannya dengan pandangan matanya yang sayu.
Kamu juga menyembunyikannya dari saya, Piq... Kamu tidak mengizinkan seorang pun ikut campur dalam kehidupanmu, dan kamu juga tidak membiarkan seorang pun mengetahui statusmu kecuali Zaif dan Lian.
Saya penasaran... Siapa betul istrimu. Perempuan yang kata Zaif telah kamu taksir dari semenjak SMA.
Pak Kepala itu membathin. Dia seakan memiliki banyak pengetahuan tentang Taufiq dan keluarganya, sehingga ia terlihat sedih melihat keadaan Taufiq saat itu.
*****
Raniya telah berkeliling sambil membawa tentengan belanja di kedua tangannya. Sementara, dia menyuruh Samudra untuk terus menggenggam lengan bajunya yang longgar agar mereka tidak terpisah di antara keramaian umat di pasar yang saat itu mereka kunjungi.
"Samudra mau beli apa, Nak?" Tanya Raniya lembut seraya menghentikan langkahnya.
"Sam nggak mau beli apa-apa kok, Mom." Sahut Samudra menggeleng.
"Loh, kenapa? Samudra capek, Ya?" Tanya Raniya lagi sambil menatap lekat wajah Samudra yang kelelahan.
"Tidak kok, Mom... Sam cuma pengen cepat-cepat pulang. Sam kasihan lihat Mommy bawa belanjaan seberat itu." Ujar Samudra lirih melihat urat-urat di punggung tangan Raniya menegang dan jelas.
"Ya ampun, Samudra. Mommy tidak apa-apa, Sayang. Mommy kan udah besar. Jadi, Mommy kuat membawanya." Jawab Raniya merasa terharu mendengar penuturan Samudra yang memikirkan dirinya.
"Iya... Tapi kan berat, Mom... Kita pulang saja, ya. Sam tidak mau apa-apa kok, Mom." Paksa Samudra.
"Ya sudah... Kalau gitu, Mommy belikan balon gas karakter saja ya. Nanti Samudra sama Sunny bisa main bareng di rumah. Mommy kan nanti mau nyiapin hidangan untuk tamu-tamu Daddy..." Bujuk Raniya mengalah. Dia tahu betul sifat bocah itu. Penurut dan selalu menjadi kakak yang baik untuk Sunny dan Langit.
"Baiklah, Mom... Biar Sam yang pilih ya..." Sahutnya girang.
Mereka mendekat ke arah bapak-bapak yang tengah menjajakan balon terbangnya di depan pasar.
"Balonnya, Nak..." Ucap Bapak itu menawarkan balonnya kepada Samudra ketika telah hampir mendekatinya.
"Iya, Pak." Sahut Samudra cepat.
"Yang mana, Nak?" Tanya bapak itu lagi dengan ramah.
"Yang frozen Elsa, Satu. Terus... Motor GP, Satu. Buat Langit... Hmmm... Apa ya?" Samudra tampak kesusahan ketika memilihkan karakter balon gas untuk Langit.
"Gimana kalau ikan Nemo saja? Warnanya bagus, Terus dia juga ikan yang baik." Usul Raniya.
"Ok deh, Mom... Sam juga suka Nemo." Jawab Samudra cepat.
Setelah menerima dan membayar balon-balon itu, Raniya dan Sam memilih untuk segera pulang. Raniya memang belum pernah mencoba melahirkan. Akan tetapi kasih sayangnya kepada ketiga anak itu, membuat dirinya seperti ibu kandung mereka.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍