Sejatinya anak adalah Mutiara di dalam sebuah pernikahan. namun tidak demikian dengan Tiara yang justru dianggap pembawa sial oleh wanita yang sudah melahirkannya.
Ia disalahkan sebagai penyebab hancurnya impian sang ibu, yang jelas jelas bukan salahnya.
Bu Nani belum bisa berdamai dengan keadaan dan melampiaskan kekecewaannya kepada Tiara.
Yuk baca kisah Tiara selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"tenang Dea don't panik" menarik dan menghembuskan nafasnya.
dengan mantap ia masuk ke ruang pak Tono kembali.
dari balik kaca matanya, mata elang pak Tono menatap tajam Dea yang berdiri di hadapannya.
"kamu tahu cara bermain Voli yang benar? "
"tau pak" ujar Dea tertunduk.
"lalu kenapa kamu sengaja memukul bola ke arah bapak?" menunjuk kepala plontosnya
"maaf pak, saya tidak sengaja"
"bapak lihat jelas tadi kamu sengaja memukul bola tersebut ke luar lapangan ketika bapak Lewat"
"i.. itu pak saya terlalu bersemangat jadi bolanya terlempar ke luar lapangan dan tak sengaja mengenai bapak" meremas jari-jari tangannya.
"jangan membodohi bapak, katakan sejujurnya"
"saya sungguh tidak sengaja pak"
"gak mungkin lah kalo bilang aku mau nimpuk wahyu pake bola" batin Dea
"oh, masih tidak mau mengaku, baiklah kalau begitu bapak akan telpon ayahmu biar datang ke sini" mengeluarkan ponsel dari sakunya
"jangan pak, saya mohon" rengek Dea
"kalau begitu katakan apa maksudmu melempar bola ke kepala bapak"
"pak saya beneran gak sengaja, saya minta maaf.
saya janji gak akan ngulangin lagi"
"sudah, sudah, gak ada gunanya bicara sama kamu juga terus berkelit" menghubungi ayah Dea.
"tuuut... tuut... tuut... " telpon tersambung.
"mati aku! " batin Dea seraya memejamkan mata
namun telponnya tidak ada jawaban, pak Tono mengulang kembali panggilannya namun hasilnya tetap sama.
"alhamdulillah" batin Dea
"aku rela di hukum apa aja yang penting jangan panggil ayah ke sekolah bisa bisa ia marah dan uang jajanku di potong. tidak.... " batin Dea menggelengkan kepalanya.
"kenapa kamu"
"e.. enggak pak"
"bapak sudah putuskan bapak akan menghukum kamu membersihkan toilet di seluruh sekolah ini"
"apa pak" Dea terkejut
"jangan membantah kalau tidak mau bapak tambahin lagi hukuman kamu"
"ti.. tidak pak"
"sudah cepat kerjakan"
"pak, sebentar lagi jam pelajaran bu Kiki"
"bapak yang izinkan kamu ke bu Kiki"
"ah sial sial sial. sial kamu Wahyu" batinnya
"kenapa masih di sini? "
"iya pak" melangkah ke luar ruangan pak Tono.
ia mulai masuk ke Toilet perempuan untuk menjalankan hukumannya, bau pesing menusuk ke dalam hidungnya.
sementara Tiara, Risty dan Rani sudah kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya.
"Dea gimana ya nasibnya, tau sendiri pak Tono kek gimana? " ujar Risty
" palingan di panggil orang tuanya" jawab Rani
"lagian kok bisa bolanya mendarat sempurna di kepala pak Tono" timpal Tiara
"aduh kasian ya Dea" tambah Rani
"iya tapi mau gimana lagi" sahut Risty
"semoga saja pak Tono lagi baik hati ya" ujar Tiara konyol
"semoga, meskipun kemungkinannya kecil" Rani menjentikkan Jarinya.
bu Kiki masuk ke kelas dan pelajaran pun di mulai.
"tring...." bel tanda istirahat berbunyi.
"aku ke toilet dulu ya udah kebelet dari tadi" pamit Tiara
"barengan aja aku juga mau pipis, Ty kamu tunggu kita di kantin ya" ujar Rani
"ikut aku, gak enak ke kantin sendirian" timpal Risty
Tiara dan Rani berlari kecil karena memang sudah tidak tahan lagi, Risty mengikuti Langkah dua sahabatnya itu.
sesampainya di dalam Toilet mereka mendapati Dea sedang menggosok-gosok Lantai menggunakan sikat Toilet.
"Dea ngapain kamu di sini?" tanya Rani
"aku lagi mandi" sahut Dea
"sudah tau aku di hukum kok masih nanya" tambahnya
"hehe maaf, serius kamu di hukum bersihin Toilet" tukas Rani.
"iya girls, aku di hukum bersihin Toilet di seluruh sekolah ini"
"apa? wah pak Tono kejam banget deh sama muridnya" ujar Risty.
"kok bisa sih Dea bola kamu mengenai pak Tono? " tanta Tiara.
"aku juga gak tahu, namanya juga gak sengaja" Dea beralasan karena ia tidak enak jika mengatakan yang sebenarnya.
"untung pak Tono gak panggil ayah kamu ke sekolah"
"tadi udah di telpon tapi syukur ayahku gak angkat telponnya"
"alhamdulillah" ujar Rani mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"tapi gantinya tetap sadis, bersihin toilet di seluruh sekolah ini. kapan kelarnya? " tukas Risty
"gak apa apa, aku rela dari pada di panggil orang tuaku, kan bisa barabe urusannya"
"iya juga ya" Rani mengangguk-angguk.
"udah berapa Toilet yang kamu bersihin? " tanya Tiara.
"baru dua toilet, abis jorok "
"mendingan ini dari pada Toilet cowok, katanya Toilet cowok lebih parah dari ini" timpal Risty.
"capek gak? " tanya Rani.
"gak, aku senang sekali apalagi aroma terapinya bikin aku sangat sangat sangat rileks" ketus Dea sebal.
"wah hebat, aku aja mau muntah" sahut Rani.
"kamu gimana sih Ran pertanyaanmu aneh, ya pasti capeklah"
"ya udah sini kita bantuin biar cepat selesai" ujar Tiara dan dua sahabatnya.
"makasih ya kalian memang sahabat terbaik, selalu ada dalam suka maupun duka" Dea memeluk ketiga sahabatnya.
"e.. e.. eh, sikat Toiletnya taruh, nanti kena bajuku iuww" Risty merasa Jijik.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨