Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Tiba-Tiba aku kebangun tengah malem untuk ngetik ini 😂
Selamat membaca 😉
Setelah pertemuanku dengan Andrew dan kami berjanji untuk bertemu di Jakarta senin besok. Saat jam makan siang, kebetulan jarak tempat aku bekerja dengan tempat kerja Andrew yang tidak jauh.
Malam ini kuputuskan untuk pulang.
Pulang ke rumah Bagas. Ku rasa aku masih belum siap bertemu Mama setelah terakhir aku mengabaikannya.
“Re-“
Bagas tampak tak percaya saat aku baru saja memarkirkan mol-mol di garasi rumah.
“Aku lelah, mohon jangan memunculkan wajah di depanku untuk saat ini. Oh iya, salah satu kamar di lantai dua akan ku gunakan sebagai kamarku, kalau kau tidak mengizinkannya aku akan pulang ke rumah orang tuaku.”
Aku meninggalkan Bagas setelah berucap demikian dan masuk ke kamar kami untuk membersihkan diri.
Setelah aku selesai membersihkan diri, aku turun ke lantai dua untuk melihat apakah Bagas menuruti ucapanku atau tidak dan laki-laki itu ternyata menuruti.
“Re, bisa kita bicara sebentar?”
Aku menoleh sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam kamar.
“Ada apa? Katakan dengan cepat,” sanggahku.
“Rumah tangga ini akan baik-baik saja kan?” tanyanya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Aku tertawa kecil.
“Kenapa bertanya padaku? Harusnya kamu tanya pada dirimu sendiri Bagas, karena yang menginginkan dan menghancurkan pernikahan ini adalah dirimu sendiri!”
Setelah berkata demikian aku lantas pergi meninggalkannya.
Kau pikir akan semudah itu, setelah aku tahu semua ini? Lagi pula kalau benar dia mengorbankan dirinya demi menjadi suami bagi Ganesa 6 tahun silam, kenapa dia bahkan tidak menceritakan padaku, meminta pendapatku? Mungkin saat itu aku bisa mencari solusi lain.
Tapi posisiku saat itu benar-benar tidak ada artinya hingga dia pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun, juga keluargaku yang dengan tega menutupi semuanya.
Ah bodoh. Kenapa semua orang begitu kejam padaku?
***
Keesokan paginya aku bangun dan menyiapkan sarapan, sebenci apapun aku pada Bagas aku tak ingin dicap sebagai istri yang tidak tahu mengurus suaminya. Lagi pula rumah tangga ini akan segera berakhir jadi tidak ada salahnya untuk berlaku baik di akhir-akhir episode pernikahanku dengan mantan kekasih, Bagas Adiputra.
“Ayo sarapan,” ajakku.
Bagas yang baru saja tiba di ruang makan malah tersentak melihatku seolah dia baru saja melihat hantu. Apa aku semengerikan itu?
Entah kenapa aku jadi kesal mengingat kalau Bagas menganggapku hantu dan malah takut karena itu.
“Eh? Nggak, aku kaget aja,” sahutnya setelah melihat ekspresi wajahku yang kesal.
“Entar makan siangnya sama-sama ya!”
Nada bicaranya bukan mengajak tapi lebih tepat kalau itu disebut memerintah.
Aku tersenyum samar.
“Maaf, aku udah ada janji,” tolakku.
Aku memperhatikan ekspresi wajah Bagas yang sepertinya tidak suka dengan penolakanku.
“Sama siapa?” tanyanya penuh intimidasi.
“Ada, temanku.”
“Itu bukan pak Yonatan kalau kamu tahu,” tambahku cepat saat melihatnya yang sudah memandang tidak suka dan penuh curiga.
“Laki-laki atau perempuan?”
Bagas kembali bertanya.
“Aku sudah selesai dan Bagas bukan urusanmu tentang itu.”
Aku menjawab sembari berdiri dan membawa piring bekas sarapanku.
“Aku duluan Bagas dan aku tak sengaja menerima telpon dari ponselmu saat kau masih sementara di kamar mandi. Aku tahu itu melanggar privasi tapi ponselmu berada di ruang tamuterus berdering dan membuat telingaku sakit. Perempuan itu menunggumu makan siang, bersama anak kalian.”
Aku memasang heels coklat di kakiku dan pergi begitu saja tanpa berniat mendengar tanggapan laki-laki yang berstatus suamiku itu.
Jangan berharap kecupan di kening dari Bagas atau kecupan di tangan dariku karena hubungan kami sudah hancur untuk melakukan hal-hal yang seperti itu.
***
Hari ini aku ke kantor dengar perasaan dan pikiran yang cukup baik, minggu yang lalu padahal aku sudah berpikir untuk resign dari kantor tapi mengingat kekacauan dalam rumah tanggaku, sepertinya aku perlu cukup modal kalau akhirnya kami berpisah lagi. Meskipun Bagas tidak mungkin lupa memberikan pesangon bagiku ketika nanti akan menjadi mantan istrinya.
“Selamat Pagi Ri,” sapaku pada Riando.
Sahabat laki-laki itu nampak terkejut menyadari keberadaanku, dia mungkin sudah mendengar berita menghilangku.
“Jangan dulu bahas itu, suasana hati gue masih cukup bagus hari ini. Kita bicara nanti pulang aja ya,” pintahku lalu berlalu melewatinya untuk pergi ke meja kerjaku dan mulai mengerjakan sesuatu yang menjadi tugasku.
Bagas Adiputra
Aku ke kantor kamu 20 menit dari sekarang.
Aku tak ingin dibantah, masalah Ganesa, Citra harus kita selesaikan segera
Aku nggak bisa terus-terus menikmati sikap kamu yang seperti ini
Notifikasi pesan di ponselku berbunyi.
Aku tersenyum geli. Bagas, rupanya dia mencoba memperbaiki hubungan kami yang sudah terlanjur rusak ini. Aku membaca tanpa berniat membalas.
Ndrew, Misi pertama kamu hari ini, makan siang bersama dan buat Bagas salah paham.
Tolong ya beb
Aku butuh kamu dalam kurang dari 15 menit dari sekarang
Setelah mengirim pesan itu aku kembali menekuni pekerjaanku.
Andrew
15 menit?
Kamu gila? Pertemuan bareng klienku belum selesai.
Aku terkekeh, membayangkan ekspresi Andrew pasti lucu.
Nggak mau tahu, kamu harus ke sini lebih dulu sebelum Bagas!
Ndrew kamu teman aku kan ya?
Laki-laki itu hanya membaca tanpa membalas membuatku gondok. Aku tak ingin Bagas sampai di sini sebelum Andrew.
“Alysia?”
Aku tersentak setelah mendengar ucapan atasanku, pak Yonatan.
“Iya pak?”
Aku menoleh dan melotot menatap wajah laki-laki itu yang seperti baru saja dicakar kucing garong.
Eh ini kucing garongnya, Bagas Adiputra kan ya? Aku ingat dengan peristiwa dua hari lalu. Sepertinya Bagas benar-benar melakukannya dengan seluruh tenaga.
“Pak wajahnya-“ ucapku prihatin.
“Udah rusak seperti ini, harusnya saya dapat balasan paling tidak cinta dari kamu.”
Aku tertawa pelan. Astaga! Dia masih mengharapkan cinta dariku? Aku tidak percaya kalau aku benar-benar semenarik itu.
Dilihat dari sisi ini aku tahu kesamaan pak Yonatan dan Bagas, mereka adalah jenis laki-laki yang pantang menyerah.
Oh iya aku lupa bahwa dulunya mereka itu bersahabat. Eh iya, aku jadi penasaran apa yang membuat mereka berhenti bersahabat? Bagas hanya cerita alasan kenapa dia jadi anak keluarga adiputra dan alasan kenapa dia pergi meninggalkanku 6 tahun lalu, dia tidak menceritakan bagian Pak Yonatan atau aku yang melewatkannya?
Sepertinya tidak.
Aku saja kenal pak Yonatan sejak bekerja di perusahaannya. Sama sekali tidak tahu bahwa dia sahabat Bagas, sepertinya mereka bersahabat setelah Bagas pergi dariku.
Ataukah Pak Yonatan ada kaitannya dengan Ganesa?
Eh kenapa aku malah jadi mau tebak-tebakan seperti ini?
“Dengan luka ini saya dapat makan siang dengan kamu ngga?” tanya pak Yonatan tiba-tiba.
Aku baru hendak menjawab saat Mesci memanggilku.
“Mbak Al, dicariin bule ganteng!” teriaknya.
Sepertinya Andrew sudah sampai, lebih cepat dari yang ku duga.
“Maaf pak, saya sudah ada janji dengan orang lain.”