Ini kelanjutan cerita Tumbal Cinta Tuan Muda (Season 1 dan 2).
Harap membaca season 1 dan 2 nya dulu.
Karena kesalahpahaman dimasa lalu dan sebuah alasan yang menjadi rahasia Vie, gadis cantik bin somplak itu harus terpisah dari Andra, lelaki yang sebenarnya dia cintai.
Begitu pun dengan Andra, merasa tak pantas mencintai anak majikannya dan sebuah kesalahpahaman, dia memutuskan untuk mengubur rasa cintanya kepada Vie.
Namun apa yang terjadi jika mereka dipertemukan lagi empat tahun kemudian? Saat Vie sudah menjadi kekasih Davin. Akankah Andra memperjuangkan cintanya setelah tahu alasan Vie dan rahasia besar itu terbongkar atau malah merelakannya untuk Davin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Hari ini Reino mengajak Vie untuk ikut meeting bersamanya di salah satu restoran mewah di kota itu sekalian makan siang, dia ingin Vie mulai belajar memimpin rapat.
Tapi wajah gadis ajaib itu masam karena masih kesal kepada Reino.
"Kau masih kesal dengan Papa?" Reino memandang Vie yang duduk disampingnya.
"Tidak!" Jawab Vie ketus.
"Tapi kenapa wajahmu seperti itu?"
"Sudah bawaan lahir, mau bagaimana lagi?" Jawab Vie sekenanya.
"Bukan itu maksud Papa! Kenapa wajahmu cemberut begitu? Tidak baik kalau klien kita melihatnya, kau harus terlihat ramah dan sopan." Ucap Reino.
"Iya nanti kalau kliennya datang, aku berhenti cemberut." Jawab Vie seenaknya.
Reino hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu, bagaimanapun juga sifat sang putri banyak yang menurun dari sifatnya, jadi Reino harus sabar menghadapinya. Sementara Radit hanya menghela nafas, dia selalu menjadi korban dari tingkah laku Vie. Dan jika Vie lagi bad mood begini, bisa-bisa Radit mendapat apes akibat ulah gadis somplak itu.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berjalan menghampiri Reino, Vie dan Radit.
"Selamat siang, Tuan Reino." Lelaki itu mengulurkan tangan dan Reino menyambutnya.
"Selamat siang, Tuan Heru Sanjaya."
"Ini siapa? Asisten baru Anda?" Lelaki yang bernama Heru itu memandang Vie.
"Dia putriku. Aku sedang mengajarinya cara memimpin rapat. Karena dia akan menggantikan ku menjadi CEO." Ucap Reino.
"Waow ... dia masih muda tapi sudah memikirkan bisnis, Anda pasti bangga mempunyai putri seperti dia." Heru memuji Vie.
"Iya, dia memang kebanggaanku." Reino merangkul Vie, membuat wajah gadis merona.
Setelah berbasa-basi, akhirnya mereka memulai meeting. Vie memperhatikan Reino dan Radit mempersentasikan cara kerja perusahaan mereka dan pemasaran produk yang mereka sponsori. Heru tampaknya tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan Reino.
Satu jam berlalu, meeting pun selesai dengan kesepakatan kerja antara perusahaan Reino dan perusahaan Heru.
"Kalau begitu saya akan segera mengirim contoh produk saya ke kantor Anda." Ucap Heru.
"Baiklah, saya akan tunggu." Jawab Reino.
"Oh iya, lusa saya akan mengadakan acara syukuran untuk istri saya. Saya bermaksud ingin mengundang Tuan Reino dan keluarga, saya harap Anda bersedia untuk datang." Heru memandang penuh harap.
"Saya akan usahakan untuk datang."
"Terimakasih, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat siang." Heru pamit.
"Selamat siang." Balas Reino.
Setelah Heru pergi, Reino memandang Vie yang sudah terlihat bosan dan mengantuk, terlihat dia berulang kali menguap.
"Bagaimana Nona Muda, kau sudah paham cara memimpin rapat?" Tanya Reino.
"Hmm ... bisa kita ulangi lagi lain waktu? Aku mengantuk, Pa. Mana bisa aku menyimak rapat tadi kalau aku tidak fokus." Vie berbicara dengan wajah malas.
"Anak ini memang benar-benar ya!" Reino kesal.
"Kita pulang sekarang ya?" Vie memelas.
"Ya sudah, mari kita pulang!" Pinta Reino tegas.
Mereka beranjak meninggalkan restoran itu sebelum memesan makanan, padahal ini sudah lewat jam makan siang. Radit yang sedari tadi sudah kelaparan, hanya bisa menghela nafas pasrah sambil memegangi perutnya yang keroncongan.
"Cacing-cacing di dalam perutku sudah pada sakaratul maut. Bisa-bisa setelah ini aku yang menyusul." Batin Radit.
Benar dugaannya, selalu karena Nona Muda itu, dia yang terkena apesnya.
Rupanya gadis ajaib itu benar-benar mengantuk, begitu berada di dalam mobil, tak butuh waktu lama, dia sudah tertidur.
***
Setelah pulang kantor, Vie menjenguk Davin lagi. Dia berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit, namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Hai ... Nona Muda Vie!!!" Seseorang memanggil Vie dan membuat gadis itu berbalik memandang kearahnya.
"Om Kenan? Sedang apa disini?" Vie terkejut melihat seseorang yang tak lain adalah Kenan. Selama ini Kenan berada di Singapura, dia menjadi kepala direktur rumah sakit Medica yang berada di Kota Singa itu dan bertemu jodohnya disana.
"Harusnya pertanyaan itu untukmu? Bukan untuk Om. Sedang apa kau disini? Siapa yang sakit?" Kenan memandang penuh tanya.
"Hehehe ... iya juga ya, Om kan dokter, wajar kalau berkeliaran di rumah sakit. Tidak mungkin di Taman Kanak-Kanak."
"Kau ini." Kenan geleng-geleng kepala.
"Aku ingin menjenguk temanku, Om." Jawab Vie.
"Oh ... Bagaimana kuliahmu?"
"Lancar, Om. Aku sekarang sudah mulai belajar di kantor Papa." Vie tersenyum bangga.
"Wah ... bagus dong! Kau harus lebih hebat dari Papa mu dalam berbisnis, biar si bucin itu tidak merasa besar kepala." Kenan meledek Reino dan disambut tawa Vie.
"Hahaha ... iya, Om. Hmmm ... Om, maaf ya, waktu Om nikah, aku tidak bisa datang soalnya aku tidak dapat cuti." Vie merasa tak enak hati.
"Haaa ... telat sekali kau minta maaf, itu sudah tiga tahun yang lalu. Bahkan anak Om sudah mau dua." Kelakar Kenan.
"Kan kita baru jumpanya sekarang."
"Iya juga. Baiklah, Om sudah memaafkanmu." Ucap Kenan sambil menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Vie. "Ya sudah, Om masih ada urusan lagi. Kau hati-hati ya. Titip salam untuk Papa dan Mamamu."
"Iya, Om..."
Kenan meninggalkan Vie, lelaki itu berjalan memasuki ruangan dokter spesialis penyakit dalam. Dan Vie melanjutkan langkahnya menuju ruang perawatan Davin.
Namun baru beberapa langkah, ponselnya berdering, ternyata Andra yang menelepon. Vie buru-buru menjawab panggilan dari Andra.
"Hallo, Ndra." Sapa Vie.
"Hallo, kau sedang dimana?" Andra.
"Aku baru saja tiba di rumah sakit, mau jenguk Davin. Kenapa?" Jawab Vie.
"Kenapa tidak bilang? Kan aku bisa mengantarmu ke rumah sakit?" Andra.
"Tidak usah. Aku tidak ingin merepotkan mu."
"Tidak sama sekali. Kalau begitu, aku akan menyusulmu." Andra.
Sejujurnya Andra cemburu jika Vie khawatir dan memperdulikan Davin. Tapi dia tak ingin egois dengan melarang Vie, dia sadar, Davin dan Vie pernah dekat. Saat ini Davin sedang dalam kondisi tidak baik dan membutuhkan Vie
"Ya sudah, terserah kau saja deh. Sudah dulu ya, aku sudah tiba di depan kamar Davin ini. Bye ..." Vie mengakhiri panggilan masuk dari Andra sebelum lelaki itu menjawab apa-apa.
Vie membuka perlahan pintu ruang perawatan Davin, terlihat lelaki itu sedang terlelap dan Alvin duduk di samping ranjangnya.
"Selamat sore, Om." Sapa Vie pelan dan Alvin langsung menoleh kearahnya.
"Selamat sore, Vie. Kau datang lagi?" Tanya Alvin. Penampilan duda ganteng itu sangat berantakan, dia terlihat lesu dan lelah. Semalaman dia tak tidur dan terus memandangi Davin yang tak bangun-bangun sejak kejang kemarin.
"Om baik-baik saja? Om terlihat kelelahan." Tanya Vie cemas.
" Om baik-baik saja kok, hanya kurang tidur saja."
"Sebaiknya Om pulang dan beristirahat, biar aku yang menjaga Davin disini." Vie menawarkan diri.
"Tidak usah, Om tidak ingin merepotkan mu." Alvin sungkan.
"Tidak apa-apa, Om. Kalau Om tidak istirahat, Om bisa sakit. Om juga harus menjaga kesehatan agar bisa merawat Davin." Ucap Vie logis.
"Baiklah, Om akan pulang sebentar. Om titip Davin ya? Kalau ada apa-apa, segera kabari Om." Alvin akhirnya menurut.
"Siap, Om."
"Om, pergi dulu." Alvin mulai beranjak dan melangkah keluar.
"Iya, Om."
Selepas kepergian Alvin, Vie mendekati ranjang Davin dan duduk di sisinya. Vie memandang wajah Davin dengan perasaan sedih, tanpa terasa air matanya jatuh menetes.
"Vin, kamu kok tidak bangun-bangun sih? Aku kangen senyum dan suaramu, aku kangen semua canda dan nasihatmu. Ayolah, Vin ... bangun dong!" Ucap Vie sambil menyeka air matanya. Gadis itu tertunduk sedih.
"Vin, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongi dan mempermainkan perasaan mu, aku hanya ingin kau kembali bersemangat menjalani hidupmu. Maaf, karena aku telah melukai perasaanmu." Vie semakin terisak.
"Kenapa kau datang lagi?" Tiba-tiba suara lemah Davin menyambar indera pendengaran Vie. Gadis itu sontak mengangkat kepalanya dan memandang Davin yang sudah sadar. Ternyata suara Vie telah membuat Davin terbangun.
"Vin, kau sudah bangun?"
"Sekali lagi aku tanya, kenapa kau datang lagi?" Davin mengulang pertanyaannya dengan suara yang lemah dan mengabaikan ucapan Vie.
"Aku ingin minta maaf. Aku tak bermaksud membohongi dan mempermainkanmu." Vie memelas.
"Tapi kenyataannya, kau sudah membohongi dan mempermainkanku." Jawab Davin dingin.
"Vin, aku benar-benar minta maaf. Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?"
"Menikahlah denganku! Maka aku akan memaafkanmu." Jawaban Davin membuat Vie tersentak kaget dengan mata yang membulat dan mulut yang ternganga.
Tanpa Vie dan Davin sadari, Andra yang baru saja datang dan hendak masuk ke ruang perawatan Davin mendengar semuanya.
Hati lelaki itu bergemuruh dan jantungnya berdetak tak karuan.
***
Like nya dong guys ...😭
tapi panggilan nya cuma Al....🤭🤭🤭
Makasih ya thor... Tetap semangat dan slalu jaga kesehatan ya thor...
sukses....semangat
mksh