Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tahun Baru
"Bercanda, Sayang. Ayo kita kembali ke hotel." Rifal kembali menggandeng tangan Intan dengan erat, seperti takut ada yang mengambil gadis itu dari sisinya. Menuju ke tempat kasit
Mereka berjalan meninggalkan toko baju tudur itu dengan bergandengan tangan, membuat kaum jomblo meronta-ronta agar mendapatkan pasangan secepatnya. Sesampainya di mobil, Intan duduk di samping kursi pengemudi yang diduduki oleh Rifal. Dan tidak lupa memasang sabuk pengaman agar tetap aman.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu." Rifal mematikan mesin mobilnya, kemudian berlari menuju toko baju yang ia kunjungi.
Masuk ke dalam toko baju itu sendirian membuat kaum wanita siap memotret Rifal diam-diam. Pria itu menyadari bahwa ada kamera yang menyorotinya. Karena sudah biasa, ia abaikan saja. Dan menghampiri pelayang yang telah melayani Intan untuk memilih baju tidur.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Tolong carikan saya baju tidur yang cocok dengan baju tidur istri saya," ucap Rifal masih dengan nada dingin.
"Baik, silahkan tunggu sebentar." Pelayan itu meninggalkan Rifal untuk mencari baju tidur yang diinginkan oleh pria itu.
Sepuluh menit lamanya Rifal menunggu, akhirnya pelayan itu kembali datang dengan baju yang diinginkan Rifal. Kemudian pria narsis itu menghampiri kasir dan membayarnya. Setelah membayar baju tidur, Rifal kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir.
"Maaf, aku lama." Rifal meletakan tas belanjaannya di kursi belakang yang berdekatan dengan tas belanjaan milik Intan.
Jangan bilang itu isinya lingerie yang Abang lihat barusan, batin Intan dengan detak jantung yang berpacu sangat cepat.
Rifal menjalankan mesin mobilnya lalu melaju memenuhi jalanan yang sudah penuh dengan banyak kendaraan yang membuat jalanan itu macet. Intan sibuk memainkan ponselnya sambil tersenyum seperti orang sedang jatuh cinta membuat Rifal penasaran. Pria itu langsung merebut ponsel yang dipegang Intan dan melihat apa yang sedang gadis itu lihat.
Tertera nama 'Mbak Lela' kakak ipar Intan. Mengetahui hal itu, Rifal mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya sambil menyengir bagaikan kuda yang berdosa. "Maaf," kata Rifal.
"Maafin atuh, Sayang. Jangan cemberut gitu, nanti cantiknya bertambah," goda Rifal
"Apaan sih?" Intan mencubit pinggang Rifal yang sedang mengemudi.
Rifal yang mendapat cubitan di pinggangnya justru tertawa lepas karena lucu melihat tingkah Intan yang banyak berubah. Karena hotel masih jauh, Rifal sedikit menambahkan kecepatan mobilnya. Sedangkan Intan masih setia menatap ponselnya.
"Sayang, udah sampai," ucap Rifal menunduk membuka sabuk pengamannya. Intan masih fokus menatap layar ponselanya.
Karena tidak ada jawaban, Rifal melihat Intan yang tidak mendengar perkataannya. Dengan paksa ia mengambil ponsel yanh sedang dimainkan Intan lalu menarunya di saku celananya. Gadis itu memasang wajah yang cemberut.
"Bang, kembalikan ponselnya," kata Intan dengan wajah yang memelas.
"No! Ayo turun, kita sudah sampai." Rifal mengambil dua paper bag itu, lalu turun dari mobil yang ia naiki. Intan mengikutinya.
Mereka berdua berjalan sambil berpegangan tangan, layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Krena suasana tahun baru, hotel itu ramai dipenuhi oleh pengunjung yang akan melanjutkan perjalanan ke kota kelahirannya besok pagi. Intan dengan setia berjalan di belakang Rifal sedikit menundukan wajahnya.
"Kamu cari apa? Apa ada yang jatuh?" tanya Rifal yang menghentikan langkahnya membuat Intan menabrak dada bidang Rifal. "Hahaha, ayo sini. Enggak usah nunduk gitu jalannya." Rifal memegang dagu Intan dan mendongakkannya.
Mata mereka saling bertemu untuk sesaat. Namun sekarang mata Rifal tertuju pada bibir merah muda milik Intan. Gadis itu langsung menutup bibirnya dengan satu tangan. Rifal malah tertawa melihat Intan yanh seakan-akan tahu kalau ia akan menciumnya.
"Ayo, Neng. Kenapa bengong?" Rifal kembali menarik tangan Intan untuk berjalan lebih cepat.
"Beruntungnya dia punya pasangan yang sangat tampan," ucap salah satu penginap hotel.
"Sumpah, ganteng banget. Aku juga mau punya suami kayak dia," seru yang lainnya. Dan banyak lagi celoteh-celoteh yang keluar dari para wanita yang berada di lobi hotel.
Ucapan mereka sangat jelas untuk didengarkan. Rifal yang bodoamat dengan semua celoteh orang yang memujinya, sedangkan Intan, gadis itu merasa inscure ketika mereka bilang calon suaminya masuk kategori suami atau pasangan idaman membuat dirinya merasa tidak pantas. Meskipun jalannya tidak lagi menunduk, terlihat jelas ekspresi Intan yang sedang memikirkan sesuatu.
Sampailah di kamar hotel yang mereka sewa untuk semalam. Satu persatu di cek, namun tidak ada penghuninya. Rifal mengambil ponsel dari sakunya. Menghubungi salah satu sahabatnya.
"Lo di mana?" tanya Rifal saat panggilan terhubung.
"Gue keluar sama yang lain. Habisnya gue pikir lo udah nge-date duluan tanpa tungguin kita," seru Putra dari seberang telepon. Rifal langsung mematikan sambungan telepom itu dengan sepihak.
"Ayo masuk. Katanye mereka lagi jalan-jalan." Rifal membuka pintu kamar hotel.
"Kenapa muka kamu kok ditekuk gitu sih? Ayo sini cerita sama aku," ucap Rifal sambil menaik turunkan alisnya dan menepuk ranjang.
"Abang keluar yah. Aku mau mandi," kata Intan.
"Mandi bareng mau enggak?" goda Rifal yang berhasil membuat wajah Intan merah kembali. "Udah, jangan malu. Ayo." Rifal berjalan mendekati Intan yang masih terdiam.
"Tidak! Keluar, Bang." Intan mendorong paksa Rifal untuk segera keluar dari kamar. Rifal keluar dari kamar yang dipesan khusus untuk para wanita dan keluar dari gedung hotel itu.
Intan melihat dua paper bag yang berisikan baju tidur di masing-masing tas belanja itu. Dengan cepat Intan mengambil handuk yang ada di kamar dan berjalan menuju kamar mandi dengan tangan yang menyangking satu pasang baju tidur yang ia beli tadi. Di dalam kamar mandi, gadia itu masih memikirkan dengan semua perkataan yang dilontarkan oleh penginap wanita.
Sudah lama berada di kamar mandi, berdebat dengan pikirannya. Akhirnya memilih untuk mandi di shower. Selesai dengan ritual mandi, Intab duduk ti tepi ranjang. Menatap sekeliling yang penuh dengan barang-barang milik pasangan para sahabat Rifal. Andai ponselnya tidak direbut oleh Rifal, pasti Intan sudah asik memainkan ponselnya, saling bertukar pesan.
Tapi, ponselnya diambil oleh Rifal membuat Intan benar-benar bete, bosen dan gabut. Hingga akhirnya Intan memilih untuk duduk di balkon menikmati suasana persiapan tahun baru dari atas. Pemandangan yang begitu indah, mengingat kembali kenangan saat ia kecil bersama mama dan papa serta kedua kakaknya.
"Indah sekali," seru Intan yang melihat banyak festival yang diadakan di dekat hotel.
Waktu sudah menunjukan pukul 23:00 malam, semua sebagian para penghinap di hotel menghabiskan sisa-sisa ditahun ini dengan senang hati. Senyum Intan tidak pernah lepas saat melihat ada sirkus yang menghadap balkon. Andai dia tidak pemalu, pasti dengan senang hati ikut bergabung melihat sirkus kesenangannya.
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen, dan vote. Terimakasih.
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor