"Turuti atau aku tembak!" Suara lembut namun menusuk yang terucap dari bibir seorang wanita cantik dan anggun.
Sebuah kisah pasangan unik, dimana Dimas yang pecicilan mendapatkan jodoh Anita, seorang mantan mafia yang super galak dan selalu mengancam dengan senjata api.
Sanggupkah Mr.Pecicilan menjinakkan Monster Betina?
Ada rahasia apa dibalik kisah hidup Dimas dan Anita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERBONGKAR
Kenzo baru saja tiba di sebuah rumah tempat Marco membawa Anita. Dengan langkah terburu-buru, lelaki yang terlihat sangat garang itu segera memasuki rumah itu. Dibukanya sebuah kamar tempat Anita terbaring tak sadarkan diri. Anita belum juga tersadar dari pengaruh obat bius yang diberikan kakaknya.
Kenzo melangkah mendekati tempat Anita berbaring. Dia memandangi wajah Anita dengan senyum liciknya, menjatuhkan tubuhnya di bibir tempat tidur itu.
"Kau memang wanita yang sangat cantik. Kenapa dulu aku tidak menyadarinya," gumam laki-laki itu.
Tangan kanannya telah menyentuh kulit wajah Anita yang baginya selembut sutera. Sungguh tak ada wanita yang lebih cantik dari Anita bagi mafia kejam itu. Sehingga keinginannya untuk merebut kembali Anita dari Dimas sangat besar.
Perlahan, Anita mulai tersadar ketika merasakan sesosok tangan membelai wajahnya. Dan ketika membuka mata, Anita tersentak melihat siapa yang ada di sana. Seluruh tubuhnya tiba-tiba gemetaran menahan rasa takut. Sekuat tenaga, Anita mencoba melepas tali yang mengikat tangannya.
Kenzo hanya tersenyum, lalu kembali memainkan tangannya di wajah Anita. "Cobalah untuk tenang, Kinara Marissa!"
"To-tolong lepaskan aku!" pekik Anita dengan mata dipenuhi cairan bening, namun Kenzo seakan begitu menikmati ketakutan mantan istrinya itu. Anita mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan itu, ketakutannya bertambah ketika tidak melihat siapapun di sana.
"Kak Marco... tolong aku!"
Marco yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon tersentak kaget ketika mendengar suara teriakan Anita dari dalam sana. Laki-laki itu segera berlari menuju kamar tempatnya mengikat adiknya itu.
"Kak Marco, tolong lepaskan aku!" lirih Anita diikuti isakannya. "Kenapa kau lakukan ini padaku?"
Marco terdiam. Matanya hanya menatap tajam pada Kenzo. Sedangkan Anita terus berusaha melepaskan ikatannya. Sesaat kemudian, tawa menggelegar Kenzo terdengar di ruangan itu. Laki-laki itu bangkit dari duduknya, kemudian menepuk tangannya sehingga beberapa anak buahnya ikut masuk ke ruangan itu. Marco menatap beberapa orang laki-laki bertubuh tinggi besar yang sudah memegangi lengannya, salah satunya menodongkan senjata di kepalanya.
"Kenzo, tolong jangan menakutinya. Adikku sudah ada bersamamu. Setidaknya tolong jangan membuatnya ketakutan."
Kenzo tertawa sinis, lalu mendekat pada Marco yang sudah dipegangi oleh beberapa anak buahnya. Dengan penuh kemarahan, Kenzo melayangkan tinjunya ke perut Marco.
Terlihat jelas bagaimana Marco berusaha menahan rasa sakit di perutnya. Belum hilang rasa sakit itu, Kenzo kembali menghadiahinya kepalan tinju di wajahnya beberapa kali.
"Kau ingat apa yang pernah kau lakukan pada kakakku? Apa kau tahu kalau akibat perbuatanmu dia sampai bunuh diri? Sekarang lihat apa yang akan kulakukan pada adik kesayanganmu itu. Kau akan lihat bagaimana dia dilecehkan di depan matamu!" Ucapan Kenzo semakin membuat Anita ketakutan. Dalam hati terus memanggil nama Zian dan Dimas.
"Tolong jangan lakukan itu. Aku tidak pernah melakukan apapun pada kakakmu. Aku..."
BUGH!
Marco belum menyelesaikan kalimatnya, Kenzo sudah kembali memukulinya. "Kau masih sama bodohnya seperti dulu, Marco. Dulu kau menjual adikmu itu padaku. Dan sekarang, demi uang kau kembali melakukannya. Apa kau pikir aku akan memberimu uang yang kau inginkan?" Kenzo berdecak seraya menggeleng. "Tentu saja tidak! Karena aku hanya memanfaatkanmu!"
Kenzo mendekat pada Anita, dengan senyum penuh kepuasan. Lalu melirik Marco dengan ekor matanya.
"Bereskan dia!" perintahnya pada para pengawalnya. Marco pun diseret keluar dari ruangan itu, meninggalkan dirinya dan Anita berdua di ruangan itu. Ketakutan yang dirasakan Anita sudah berada di puncaknya.
"Kinara. Sekarang kau hanya milikku. Bagaimana kalau malam ini kita habiskan malam bersama."
"Tidak! Aku mohon lepaskan aku," lirih Anita.
Kenzo menarik rambut Anita, membuat gadis itu meringis kesakitan. "Kau jangan coba-coba membantahku. Kau ingat kartu as suamimu masih ada di tanganku. Bagaimana kalau Maliq tahu siapa yang menculik adiknya. Dimas pasti mati di tangannya.
"Bunuh saja aku!" teriak Anita memberanikan diri.
Kenzo kembali tertawa sinis. "Membunuhmu? Tidak, Sayang. Aku menginginkanmu. Jadi aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan membunuh kakakmu saja. Lalu besok, kita akan pergi dari kota ini."
Anita berusaha menggeser posisinya menjauh, seiring dengan Kenzo yang semakin mendekat padanya. Dan, saat tangan lelaki bejat itu hendak menyentuh wajah Anita, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka oleh dobrakan tiga orang laki-laki.
Kenzo pun tersentak kaget melihat siapa yang ada di sana. Zian, Dimas dan Marco ada di ambang pintu. Wajah Anita yang tadinya penuh ketakutan berubah berbinar.
"Pengkhianat!" Kenzo menatap geram pada Marco. Segera mengeluarkan senjatanya dan menodongkan pada Anita.
"Berhenti di situ atau aku akan menebaknya!" Kenzo berdiri dari duduknya, meraih tubuh Anita dan melingkarkan tangannya di leher Anita.
Dimas, Zian dan Marco pun mematung di ambang pintu. Mencari celah untuk bisa menyelamatkan Anita. "Kalian tetap tenang! Jangan terpancing emosi. Biarkan dia melakukan apa yang dia mau!" Zian berbicara dengan suara pelan, sehingga hanya Dimas dan Marco yang mendengar ucapannya. Tangannya tetap menahan kedua lelaki yang berada di sampingnya.
Anita menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca, seolah ingin mencari perlindungan disana. Sementara Dimas hanya mengangguk pelan.
"Mundur kalian!" bentak Kenzo sambil sesekali mengancam seperti akan benar-benar menembak Anita. "Maliq... Kau ingin menangkapku? Bukankah kau ingin tahu siapa penculik dan pembunuh adikmu? Aku akan beritahukan padamu siapa orangnya!"
Zian terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Kenzo. Laki-laki itu mematung di tempatnya. Sementara Anita menatap Dimas dengan berderai air mata. Khawatir jika Kenzo mengatakan pada Zian bahwa Dimas lah pelaku penculikan Elsa. Kali ini, Dimas pasti akan mati di tangan Zian. Anita masih mengingat dengan jelas, ketika Zian mati-matian mencari pelaku penculikan adiknya.
"Pelaku penculikan Elsa? Siapa? Cepat katakan!" teriak Zian penuh emosi. Rahangnya terlihat menggeram dengan mata berkaca-kaca.
"Tanyalah pada orang kepercayaanmu itu. Dimas, katakan pada bosmu itu bagaimana kau menculik seorang anak perempuan berusia delapan tahun, dan menjualnya padaku!"
Zian mematung, belum dapat berkata apa-apa. Laki-laki itu menatap Dimas bagaikan menunggu jawaban. Sementara Dimas menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah sang bos.
Tawa menggelegar kembali terdengar. "Ya, itu benar, Maliq! Dimas adalah orang yang kau cari-cari selama ini. Dia adalah pelaku penculikan adikmu." Kenzo terlihat sangat puas melihat raut wajah Zian yang penuh kemarahan itu. Merasa rencananya akan berhasil. Dia sedang berusaha menghasut Zian sambil mencari celah agar bisa keluar dari tempat itu.
Tanpa banyak bicara, Zian mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya pada Dimas. "Katakan padaku! Bahwa apa yang dikatakan laki-laki itu salah! Katakan padaku bahwa bukan kau manusia bejat yang sudah menculik Elsa!" teriak Zian seraya menodongkan senjata pada Dimas.
"Maliq aku mohon! Jangan bunuh suamiku. Kau tahu betapa aku sangat mencintainya, kan? Demi aku, tolong jangan bunuh dia." Anita menyela di tengah-tengah ketegangan itu.
"Diam kau Anita!" bentak Zian. Anita tersentak mendengar Zian membentaknya. Untuk pertama kalinya lelaki yang sudah dianggapnya bagai kakaknya sendiri itu mengeraskan suara padanya. "Jangan coba-coba membela pembunuh ini!"
Senyum licik terbit di sudut bibir Kenzo. "Kau ingat, bagaimana jasad adikmu yang ditemukan dalam keadaan sudah membusuk dan tidak dikenali lagi? Coba kau ingat! Bagaimana kau berusaha mencari pelakunya. Sekarang, pelakunya sudah ada di depanmu!"
"Maliq, cobalah untuk tenang!" Marco mencoba menenangkan Zian yang sedang dikuasai emosi.
"Aku tidak minta pendapatmu! Diamlah!" Sambil menodongkan senjata, Zian melirik Dimas dengan tatapan membunuh. "Kenapa kau diam saja, Dimas? Beri aku jawaban!" Zian kembali berteriak dengan geramnya membuat Dimas menundukkan kepala.
"Maafkan aku, Bos! Memang benar, aku adalah orang yang kau cari selama ini," ujar Dimas.
Zian menjatuhkan setitik air matanya, seolah belum mempercayai apa yang didengarnya dari Dimas. "Selama ini aku begitu mempercayaimu. Aku bahkan memintamu menikahi Anita. Tapi apa yang kau lakukan! Kau adalah penyebab Elsa terbunuh. Aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang telah menculik adikku!"
Dimas menutup matanya, pasrah jika Zian benar-benar menembaknya. Sementara Anita hanya dapat menangis. Memohon agar Zian mengampuni suaminya.
Dengan penuh kemarahan, Zian menarik pelatuk senjatanya.
DOR DOR DOR!!!
terdengarlah tiga kali suara tembakan.
*
*
*
BERSAMBUNG