Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Taksi kuning itu berhenti mendadak tepat di depan lobi Rumah Sakit Harapan.
Ciiit.
Suara gesekan ban dengan aspal terdengar cukup keras mengejutkan beberapa satpam di sana. Saka langsung menyodorkan selembar uang seratus ribuan ke sopir taksi tanpa meminta kembalian.
Dia membuka pintu dengan tergesa-gesa dan berlari melintasi pintu kaca otomatis rumah sakit.
Tap tap tap.
Langkah kaki Saka menggema cepat di sepanjang koridor lantai dasar yang bernuansa putih bersih. Beberapa orang menoleh melihat pemuda tampan berjaket denim yang berlari seperti sedang dikejar setan itu.
Saka sama sekali tidak mempedulikan tatapan mereka dan langsung masuk ke dalam lift khusus VVIP. Dia menekan tombol lantai paling atas dengan napas yang masih sedikit tersengal.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Saka langsung disambut oleh keheningan lorong lantai VVIP yang sangat eksklusif.
Lantai ini dilapisi karpet merah tebal yang menyerap suara langkah kaki dengan sangat sempurna. Bau obat-obatan yang menyengat sama sekali tidak tercium di sini melainkan digantikan oleh aroma pengharum ruangan beraroma lavender.
Saka berjalan setengah berlari menuju pintu kamar Presiden Suite di ujung lorong sebelah kanan.
Ceklek.
Dia membuka pintu kayu mahoni itu perlahan dan melangkah masuk ke dalam kamar yang luas tersebut. Suara mesin monitor detak jantung langsung menyambut pendengarannya dengan irama yang pelan.
Bip bip bip.
Di dalam ruangan itu ada dua orang perawat berseragam rapi yang sedang memeriksa selang infus ibunya. Mereka langsung menoleh dan tersenyum sangat ramah melihat kedatangan Saka.
"Selamat sore Tuan Saka, kami baru saja mengganti cairan nutrisi untuk Nyonya." Sapa salah satu perawat itu dengan nada sangat sopan dan hormat.
"Sore Suster, bagaimana kondisi ibu saya hari ini." Tanya Saka sambil berjalan mendekati ranjang pasien.
Perawat itu menghela napas pelan dengan raut wajah yang terlihat sedikit bersimpati. "Kondisi Nyonya sangat stabil Tuan, tapi tanda-tanda kesadarannya masih belum menunjukkan peningkatan sama sekali."
Saka mengangguk paham mendengar laporan medis yang memang sudah dia duga sebelumnya itu. Dokter paling hebat sekalipun tidak akan bisa membangunkan ibunya tanpa keajaiban atau campur tangan medis tingkat dewa.
"Terima kasih atas kerja keras kalian menjaga ibu saya sejak semalam." Ucap Saka sambil menatap wajah pucat ibunya yang tertidur damai.
"Ini sudah menjadi tugas kami Tuan Saka, kebetulan ini saatnya kami kembali ke pos jaga depan." Jawab perawat satunya lagi sambil merapikan catatan medis di ujung ranjang.
"Tolong tinggalkan saya berdua saja dengan ibu saya untuk beberapa jam ke depan Suster." Pinta Saka dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit memelas.
"Saya ingin berdoa sendirian untuk kesembuhan ibu saya tanpa ada gangguan dari siapapun." Lanjut Saka memberikan alasan yang sangat masuk akal agar tidak dicurigai.
Kedua perawat itu saling berpandangan sejenak lalu mengangguk mengerti. "Baik Tuan, kami akan berjaga di luar pintu dan tidak akan masuk kecuali Tuan memanggil."
Mereka berdua lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah pelan.
Klik.
Suara pintu ditutup terdengar mengunci Saka dan ibunya dari dunia luar.
Saka langsung mengunci pintu itu dari dalam untuk memastikan tidak ada dokter atau perawat yang tiba-tiba nyelonong masuk. Dia tidak mau aksi penyembuhan magisnya ini terekam CCTV atau dilihat oleh mata orang biasa.
Saka menarik sebuah kursi berlapis busa empuk dan duduk tepat di samping ranjang ibunya. Dia menggenggam tangan ibunya yang terasa sangat kurus dan dingin itu dengan erat.
"Saka datang Bu, Saka janji hari ini ibu pasti bangun dan kita akan pulang ke rumah baru." Bisik Saka dengan suara bergetar menahan tangis yang mendesak di tenggorokannya.
Saka menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai berdebar sangat kencang. "Sistem, aktifkan fitur Transfer Qi Penyembuh sekarang juga dan targetkan ke tubuh ibu saya." Perintah Saka di dalam kepalanya dengan sangat tegas.
[Perintah diterima, fitur Transfer Qi Penyembuh diaktifkan.]
[Memindai kondisi tubuh target untuk menyesuaikan aliran energi kehidupan.]
[Peringatan: Kerusakan saraf otak target cukup parah, proses ini akan menguras sembilan puluh persen stamina Master.]
"Lakukan saja, kuras semua tenagaku asalkan ibuku bisa membuka matanya lagi." Balas Saka tanpa ragu sedikitpun mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Wusss.
Sebuah cahaya keemasan yang sangat terang tiba-tiba memancar dari kedua telapak tangan Saka yang menggenggam tangan ibunya.
Cahaya itu mengalir seperti air hangat yang merayap perlahan menyelimuti seluruh lengan ibunya. Energi kehidupan murni itu terus bergerak naik menuju dada dan akhirnya berpusat di kepala sang ibu.
Saka langsung merasakan efek samping dari transfer energi tersebut detik itu juga. Tubuhnya mendadak terasa luar biasa berat seolah ada gunung batu yang baru saja dijatuhkan ke atas pundaknya.
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan dan mengalir deras membasahi dahi serta lehernya. Pandangan mata Saka perlahan mulai berkunang-kunang dan napasnya menjadi sangat pendek serta terengah-engah.
"Ugh, ternyata rasanya sakit sekali mengalirkan energi kehidupan secara paksa seperti ini." Keluh Saka dengan gigi gemeretak menahan rasa ngilu di seluruh persendiannya.
Namun Saka sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang ibu meskipun tubuhnya terasa ingin hancur. Dia terus memaksakan kehendaknya membiarkan cahaya keemasan itu terus mengalir deras tanpa henti.
[Progres Penyembuhan: Tiga puluh persen.]
Suara mekanik sistem melaporkan perkembangan proses itu di saat Saka mulai merasa kesadarannya hampir hilang. Layar monitor detak jantung di samping ranjang mulai berbunyi sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Bip bip bip bip.
Garis grafik hijau di layar itu mulai menunjukkan lonjakan-lonjakan kecil yang menandakan aktivitas jantung yang semakin menguat. Rona kemerahan yang sehat perlahan mulai kembali mewarnai wajah pucat sang ibu mengusir aura kematian yang selama ini menempel.
[Progres Penyembuhan: Tujuh puluh persen.]
Napas Saka semakin berat dan dadanya terasa sesak seperti kehabisan oksigen di dalam ruangan tertutup. Kedua kakinya mulai gemetar hebat hingga lututnya tanpa sadar merosot dari kursi dan jatuh berlutut di atas lantai.
Bruk.
Saka bertumpu pada pinggiran ranjang sambil terus memegang erat tangan ibunya.
"Ayo ibu bangunlah, Saka tidak akan menyerah sampai ibu membuka mata." Bisik Saka dengan sisa tenaga terakhirnya yang nyaris habis total.
Cahaya keemasan di tangan Saka perlahan mulai memudar seiring dengan tenaga di tubuhnya yang terkuras habis. Detik demi detik terasa sangat lambat dan menyiksa bagi pemuda yang sedang mempertaruhkan segalanya ini.
[Progres Penyembuhan: Seratus persen.]
[Transfer Qi Penyembuh selesai dilakukan dengan sukses.]
[Sel saraf otak target telah diperbaiki secara total dan organ vital kembali berfungsi normal.]
Bersamaan dengan munculnya notifikasi terakhir itu cahaya emas di tangan Saka langsung menghilang tanpa bekas. Saka melepaskan genggamannya dan langsung jatuh tertelungkup di atas kasur dengan napas memburu.
Dia tidak memiliki sisa tenaga bahkan untuk sekadar mengangkat kepalanya sendiri dari atas kasur. Ruangan VVIP itu kembali hening hanya menyisakan suara napas Saka yang berat dan suara monitor detak jantung yang kini berdetak sangat normal.
Satu menit berlalu tanpa ada perubahan apapun dari tubuh sang ibu yang terbaring diam. Hati Saka mulai dilanda kepanikan dan keraguan apakah sistemnya baru saja berbohong kepadanya.
Namun tepat di menit kedua jari telunjuk sang ibu tiba-tiba bergerak pelan.
Sret.
Gerakan kecil itu disusul oleh gerakan kelopak mata yang mulai bergetar pelan menahan silau lampu ruangan. Saka memaksakan dirinya mengangkat kepala dengan susah payah saat melihat pergerakan tersebut.
Kelopak mata sang ibu akhirnya terbuka perlahan menampilkan sepasang bola mata yang terlihat sangat kebingungan. Wanita paruh baya itu menatap langit-langit kamar yang mewah dengan pandangan kosong selama beberapa detik.
"Aku ada di mana." Suara sang ibu terdengar sangat serak dan pelan memecah keheningan ruangan.