Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menahan Cemburu
Perjalanan terasa menyenangkan bagi Jeviza. Dengan adanya Kean di belakangnya, meski harus menahan agar bersikap biasa saja, tetapi seperti pelindung untuknya. Mereka duduk tidak terlalu jauh, tidak juga dekat, tetapi sepanjang perjalanan saling bertukar pesan. Bahkan Jeviza yang berniat melihat ke sekeliling selama di perjalanan jadi terlupakan.
Keandra
Aman kan?
Kalau pusing, bilang
Tidak membutuhkan waktu lama. Jeviza membalasnya dengan senyum yang sesekali dapat dilihat oleh Tevi yang duduk di sebelahnya.
Jeviza
Umm
Balasnya sangat singkat
Kean membaca pesan yang Jeviza kirimkan, sudut bibirnya tertarik ke atas, seakan tidak ingin berakhir begitu saja, Kean kembali membalasnya meski balasan singkat dari Jeviza tadi seperti berakhirnya chat mereka.
Keandra
Love you
Jeviza mendelik membaca balasan Kean, ia ingin membalikan kepalanya, menatap secara langsung bagaimana wajah Kean sekarang, tetapi teramat malu. Bahkan sekedar membalas pesan yang dikirimkan Kean baru saja pun sangatlah teramat berat. Gengsi Jeviza masih setinggi langit. Ia meremat ponselnya, mencoba mengambil napas secara pelan-pelan. Sebelum akhirnya suara Gio di belakang membuat Jeviza semakin merapatkan bibirnya agar tidak tersenyum dan kentara oleh teman-temannya.
"Ke? Napa lo senyum-senyum?"
Setengah yang duduk dan mendengar ucapan Gio menoleh ke belakang. Termasuk Tevi dan kedua tema Jeviza. Tetapi hanya sekilas karena wajah Kean yang kata Gio tadi sedang tersenyum langsung berubah datar, santai dan terlihat sedang menikmati perjalanan yang menyenangkan. Hanya Jeviza yang masih bertahan tidak berani menatap Kean secara langsung, meski ia tahu penyebab senyum Kean ialah dirinya, mungkin.
"Anjir, lagi di bis aja ganteng banget," pekik Sisil lagu-lagi mencuri pandang ke arah Kean.
"Jauhkan kak Kean dari kaos putih plis, gatel banget pengen nyender, peluk, cium." Naura menggigit bibir bagian bawahnya.
Membayangkan jika yang duduk di sebelah Kean bukan Gio, dan Janu, tetapi dirinya. Rela Naura duduk di paling belakang jika yang menemaninya seorang Kean.
Jeviza yang sedari memilih untuk tetap bertahan di posisinya, pada akhirnya menolehkan kepalanya. Melirik Kean yang sedang menyandarkan tubuhnya, matanya terpejam dan sesekali wajah tampannya terkena sinar matahari. Hati Jeviza lagi-lagi berdebar, cowok tampan yang sedang ia lihat sekarang suaminya. Tubuh tegap, dan pundak lebar Kean yang banyak dikagumi teman-temannya bisa saja Jeviza rasakan jika ia mau, lalu lamunan Jeviza tersentak saat sebuah benda dingin menyentuh pipinya. Jeviza mendongak, menatap Janu yang sudah berdiri di depannya dengan senyum manis khas cowok itu.
"Buat lo."
Meski masih ragu dan bingung, pada akhirnya Jeviza mengambilnya. "Makasih."
Janu mengangguk, mengacak rambut Jeviza pelan sebelum akhirnya bersuara dan kembali duduk. "Kalau capek tidur aja, masih 1 jam lagi nyampe."
Jeviza mengangguk, kembali membalikan kepalanya menghadap depan, lalu mengamati minuman yang baru saja diberikan oleh Janu. Hatinya mencelos merasakan rasa bersalah secara tiba-tiba.
Dan tanpa Jeviza ketahui, Kean sedari tadi melihat interaksi Jeviza dan Janu. Ia diam, tetap duduk di kursinya dengan tenang, seakan apa yang baru saja dilihatnya secara langsung tidak berpengaruh apa-apa. Nyatanya hatinya sudah kelewat panas. Ia kembali memejamkan matanya, berniat menyingkirkan pikiran buruk tadi tentangnya dan Jeviza.
"Butuh minum juga enggak? Biar adem?" suara Gio di sebelahnya tidak membuat Kean membuka matanya, tetapi Kean menjawab dengan mata yang masih terpejam.
"Gue bukan lo, yang gampang meledak."
Gio mendengus, tetapi apa yang dikatakan Kean memang benar. Jika Gio diposisi Kean, mungkin seluruh penghuni bis sudah turun dan di dalam bis sudah kacau ia acak-acak, tetapi Kean berbeda. Tetap tenang seperti seorang Kean yang dikenal.
"Anjir lah lo, istri bro, bukan pacar lagi," gumam Gio tidak habis pikir.
Kean yang mendengarnya hanya tersenyum smirk, ia punya cara sendiri untuk mereda amarahnya.
Bis yang mereka tumpangi pada akhirnya berhenti. Semua penumpang yang tadi sempat tertidur mulai membuka matanya dan melihat ke sekitar. Mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Jeviza yang tadi sempat tertidur pada akhirnya membuka mata. Ia melihat ke sekeliling, teman-temannya sudah bersiap untuk turun, lalu ke arah belakang. Kean sudah tidak ada di kursinya. Ia terlalu lelap sampai tidak sadar turunnya cowok itu tadi.
"Ganti baju dulu yuk, biar estetik di foto nanti," ajak Naura diangguki Jeviza.
Tetapi baru saja akan mengambil baju ganti miliknya, salah satu anggota BEM memberitahu untuk berkumpul sebentar sebelum menuju area pantai. Jeviza dan ketiga temannya menurut, mereka turun dari bis dan ikut berkumpul. Di sana, di depan sana sudah berdiri Kean yang sekali lagi sedang memberi arahan, apa saja yang boleh dilakukan dan tidak, mau bagaimanapun mereka harus menjaga nama baik kampus, jadi tidak boleh sembarangan bertindak.
"Pakai kaca mata hitam gitu makin cool nggak sih? Auw," cicit Naura menatap penuh minat pada Kean.
"Hooh, mana kaos putihnya belum diganti, sengaja banget tebar pesonanya," lanjut Sisil tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari seorang Kean.
Kedua teman Jeviza itu tidak mendengar apa yang Kean katakan, visual seorang Kean lebih menarik bahkan dari pantai yang sudah terlihat dari tempat mereka berkumpul sekarang.
"Karena makan malam sepakat tetap di sini, jadi mungkin kumpul lagi nanti jam 9 malam ya guys, ingat tetap bersikap sebagaimana seorang mahasiswa yang baik."
"Siap!" ujar mereka kompak.
"Yes, love!"
Semua menoleh pada Naura. Termasuk Vio yang sedari tadi tidak terlihat karena berbeda bis menyipitkan matanya saat mendengar teriakan Naura yang paling berbeda dan nyaring.
Sorakan dari beberapa anak terdengar, membuat Naura tersenyum dengan wajah merah karena malu.
Sisil menyenggol lengan Naura. "Malu-maluin."
"Bodo, salah siapa ganteng gitu," balas Naura tenpa merasa bersalah apa lagi menyesal.
Jeviza biasa saja, ia memang tahu kegilaan kedua temannya itu pada sosok Kean, salah satu alasan yang membuatnya terus urung memberitahu pada mereka, tidak tega rasanya kalau harus membuat kedua temannya galau secara berjamaah.
Tetapi untuk gadis yang satu ini, pembawaannya sangat tenang hampir seperti Kean. Bahkan jika dilihat dengan seksama, mereka terlihat sangat cocok sekali.
Glek
Jeviza menelan ludahnya pelan saat melihat interaksi Kean dan Kaina saat ini. Mereka dipersatukan karena ketua dan wakil anggota BEM, tetapi entah kenapa kedekatan mereka tidak diterima begitu saja oleh hati Jeviza.
"Je, ayo ganti baju dulu!" Sisil menarik tangan Jeviza.
Membuat Jeviza kembali sadar dari lamunannya dan mengikuti ketiga temannya.
Kean yang sadar akan kepergian Jeviza menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.
"Ini mau pada makan siang dulu kan sebelum voly?" tanya Kaina di sebelah Kean.
"Yoi, kita mulai atur kelompoknya aja, ada hadiah juga biar pada nggak males ikut," balas Gio diangguki Kaina.
"Kean, lo apa gue yang nentuin kelompok?" pertanyaan Kaina membuat Kean menoleh pada gadis itu.
"Bareng-bareng aja, atur pas makan bareng nanti."
Kaina mengangguk setuju, ia menatap punggung Kean yang menjauh karena dipanggil oleh pak Bam.
Sumpah, Ke, perasaan gue nggak sopan banget kalau gini, sorry
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁