Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Langkah Sephia dan Sagara akhirnya memasuki kawasan komplek.
Matahari mulai condong ke barat.
Suasana komplek sore itu cukup tenang. Beberapa anak kecil terlihat bermain sepeda di ujung jalan, sementara beberapa warga duduk mengobrol di teras rumah.
Tak butuh waktu lama...
Rumah bernomor 04 akhirnya terlihat.
Rumah Alan.
Sagara menghentikan langkahnya di depan pagar.
"Kayaknya sepi."
Sephia ikut memperhatikan.
Gorden ruang tamu masih tertutup.
Mobil yang biasa terparkir di garasi juga tidak terlihat.
Sagara meraih bel di samping pagar.
Ting tong...
Suara bel menggema pelan.
Mereka menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Tak ada jawaban.
Sagara kembali menekan bel.
Ting tong...
Masih sama.
Sunyi.
Sephia melangkah sedikit mendekati pagar.
"Alan?"
Panggilnya pelan.
Tentu saja...
Tidak ada yang menjawab.
Sagara mengembuskan napas pelan.
"Kayaknya emang nggak ada orang."
Sephia menatap rumah itu beberapa saat.
"Pagarnya juga dikunci."
"Iya."
"Mobilnya juga nggak ada."
Mereka kembali terdiam.
Sephia menggigit bibir bawahnya.
Entah kenapa...
Perasaannya justru semakin tidak tenang.
"Ya udah."
Sagara akhirnya membuka suara.
"Kalau emang lagi ada urusan..."
"...kita juga nggak bisa ngapa-ngapain."
Sephia mengangguk pelan.
"...Iya."
Sebelum benar-benar pergi...
Ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah Alan.
Tetap sama.
Sepi.
Tak ada tanda-tanda seseorang berada di dalam.
Dengan perasaan yang masih dipenuhi tanda tanya...
Sephia dan Sagara akhirnya melanjutkan langkah menuju rumah masing-masing.
Namun di sepanjang perjalanan...
Bayangan wajah Alan yang berlari panik siang tadi...
Terus terulang di benak Sephia.
Sesampainya di rumah, Sephia langsung melepas sepatunya.
"Ma... aku pulang."
"Iya, Sayang."
Suara mamanya terdengar dari dapur.
Sephia berjalan masuk sambil meletakkan tas di atas sofa.
Mamanya yang sedang menyiapkan camilan sore menoleh.
"Gimana sekolah hari ini?"
Sephia terdiam sejenak.
"Ma..."
"Hm?"
"Tadi Alan pulang cepet."
Mamanya mengernyit.
"Alan?"
"Iya."
"Tiba-tiba dia lari keluar sekolah."
"Katanya sih izin karena urusan keluarga."
"Mama tahu nggak ada apa?"
Mamanya tampak berpikir.
"Lho..."
"Nggak ada, tuh."
"Tadi Mama juga nggak lihat siapa-siapa."
Sephia sedikit menundukkan kepala.
"Rumahnya juga kosong."
"Tadi aku sama Kak Sagara sempat ke sana."
"Mau lihat siapa tahu Alan udah pulang."
"Tapi nggak ada orang."
Mamanya mulai ikut merasa heran.
"Biasanya kalau ada apa-apa..."
"...Mama Olive pasti ngabarin."
"Atau paling nggak ketemu Mama pas berangkat kerja."
"Tapi hari ini nggak ada."
Sephia mengangguk pelan.
"Iya..."
Suasana mendadak hening.
Entah kenapa...
Perasaan tidak enak itu justru semakin terasa.
"Ya udah."
Mamanya akhirnya tersenyum tipis.
"Mungkin memang lagi ada urusan yang mendadak."
"Nanti juga kalau udah selesai, Alan pasti pulang."
Sephia mencoba mengangguk.
"Iya, Ma."
Meski begitu...
Ucapan itu belum cukup untuk menenangkan pikirannya.
Sephia berjalan menuju kamarnya.
Baru saja duduk di tepi kasur...
Ia kembali mengambil ponselnya.
Jarinya berhenti tepat di kontak Alan.
Ia menarik napas pelan.
"Semoga aja..."
"...lo nggak kenapa-kenapa."
Dengan sedikit ragu...
Ia akhirnya menekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Tut...
Namun...
Tak ada jawaban.
Malam mulai menyelimuti langit.
Suasana komplek yang sejak sore masih ramai kini perlahan berubah tenang.
Lampu-lampu teras rumah mulai menyala satu per satu.
Di kamar...
Sephia baru saja selesai merapikan buku untuk pelajaran besok.
Namun pikirannya masih belum lepas dari satu orang.
Alan.
Ia melirik ponselnya yang tergeletak di samping bantal.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Sephia mengembuskan napas pelan.
"Mungkin emang lagi sibuk..."
Gumamnya lirih.
Ia mematikan lampu kamar.
Baru saja hendak merebahkan tubuhnya...
Bzzzt...
Ponselnya bergetar.
Sephia buru-buru meraihnya.
Matanya langsung tertuju pada nama yang muncul di layar.
Alan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Perlahan ia membuka pesan itu.
Alan: Sori, telepon lo nggak sempat gue angkat.
Tanpa sadar Sephia mengembuskan napas lega.
Setidaknya...
Alan baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama, jarinya mulai mengetik balasan.
Sephia: Gak apa-apa.
Lo kenapa? Tadi tiba-tiba lari. Gue sama Hana sampai kaget.
Beberapa detik berlalu.
Tanda sedang mengetik... muncul di layar.
Lalu menghilang lagi.
Muncul.
Lalu menghilang.
Seolah Alan berkali-kali menghapus kalimat yang ingin ia kirim.
Tak lama kemudian...
Ponsel Sephia kembali bergetar.
Alan: Nyokap gue lagi di rumah sakit.
Mata Sephia membelalak.
Tangannya langsung berhenti di atas layar.
Dadanya mendadak terasa sesak.
Tanpa berpikir panjang, ia segera membalas.
Sephia: Hah?
Sekarang gimana keadaan tante Olive?
Kali ini...
Balasan dari Alan tak kunjung datang.
Layar ponsel tetap sunyi.
Sephia hanya bisa menatap pesan terakhir itu.
Sephia masih menatap layar ponselnya.
Pesan dari Alan sudah terkirim beberapa menit yang lalu.
Namun...
Entah kenapa, rasa khawatir itu justru semakin besar.
"Apa gue ganggu, ya..."
gumamnya pelan.
Ia menggigit bibir bawahnya.
Kalau memang Alan sempat membalas pesan...
Berarti kemungkinan besar ia sedang memegang ponselnya.
Tanpa berpikir panjang lagi...
Sephia menekan ikon panggil.
Ponsel itu mulai berdering.
Tut...
Tut...
Tut...
Di sisi lain...
Lorong rumah sakit tampak jauh lebih lengang dibanding siang tadi.
Alan duduk sendirian di kursi tunggu, tepat di depan ruang rawat tempat mamanya beristirahat.
Kedua sikunya bertumpu di atas lutut.
Tatapannya kosong mengarah ke lantai.
Hingga...
Bzzztt...
Ponsel di genggamannya bergetar pelan.
Alan menunduk.
Di layar ponselnya tertera sebuah nama.
Sephia.
Tanpa sadar...
Sudut bibir Alan terangkat membentuk senyum tipis.
Senyum pertama yang muncul sejak ia menerima kabar tentang mamanya siang tadi.
Ia mengembuskan napas pelan.
Lalu mengusap wajahnya sebentar.
Beberapa detik ia hanya menatap layar yang terus berdering.
"Sephia..."
gumamnya lirih.
Akhirnya...
Alan menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo..."
Suaranya terdengar pelan.
Sedikit lelah.
Namun jauh lebih tenang dibanding beberapa jam yang lalu.
Di sisi lain telepon...
Sephia langsung mengembuskan napas lega.
Setidaknya...
Alan mengangkat teleponnya.