NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C004: Ungkapan Cinta

...Selamat Baca...

Di ambang pintu, atau lebih tepatnya sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya, ada sosok pria jangkung dengan jas hitam elegan yang selalu dikenakannya.

Wajahnya dingin, tatapannya tajam namun tenang, dan aura misteriusnya memenuhi seluruh ruangan itu.

Alexander Sterling.

Liana benar-benar terkejut. Dia sama sekali tidak mendengar langkah kaki atau suara pintu terbuka. Pria itu seolah muncul begitu saja dari balik bayang-bayang.

"Tuan... Tuan Alexander..." Liana bergumam pelan, buru-buru menundukkan kepalanya memberi hormat,

Berusaha menyembunyikan kekagetannya sekaligus sisa-sisa air yang ada di wajahnya. "Maafkan saya... saya tidak tahu ada orang di sini. Saya... saya hanya ingin menenangkan diri sebentar."

Alexander menggeleng pelan, melangkah perlahan mendekat namun berhenti di jarak yang cukup sopan,

Tidak terlalu dekat namun cukup untuk membuat Liana merasakan kehadirannya yang kuat.

"Jangan minta maaf," ucap Alexander dengan nada suara yang sangat lembut, jauh berbeda dari apa yang orang-orang katakan tentangnya sebagai pria yang kejam dan dingin.

"Justru akulah yang mengganggu ketenanganmu. Aku juga memilih menjauh dari pesta itu. Banyak suara berisik di luar sana yang tidak penting didengar."

Liana diam saja, dia kembali membalikkan badan menghadap wastafel, menatap pantulan dirinya dan Alexander di cermin itu.

Ada rasa aneh yang ia rasakan. Biasanya, semua anggota keluarga Sterling membuatnya merasa kecil dan tidak berharga, tapi berdiri di dekat Alexander... rasanya berbeda.

Ada rasa aman yang aneh, seolah dia tidak sedang dihakimi.

"Tapi jujur saja..." suara Alexander terdengar lagi, kali ini nadanya sedikit lebih lembut dan penuh perhatian, matanya menatap lekat-lekat pantulan wajah Liana di kaca.

"Sangat disayangkan kamu bersembunyi di tempat sepi ini. Padahal malam ini kamu terlihat sangat... sangat mempesona."

Liana tertegun, matanya mengerjap tak percaya menatap bayangan pria itu.

"Gaun yang kamu kenakan itu... warnanya sangat pas dengan kulitmu, sederhana namun memancarkan keanggunan yang tidak dimiliki wanita lain," lanjut Alexander pelan,

Matanya menelusuri sosok Liana dengan pandangan kagum yang tulus, tanpa ada niat buruk sedikit pun.

"Dan kecantikanmu... itu bukan sekadar cantik biasa. Ada cahaya lembut di wajahmu yang membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa tenang."

"Lebih dari itu... sikap dan tingkah lakumu yang selalu sopan, rendah hati, dan anggun dalam keadaan sesulit apa pun... itulah hal paling indah yang kamu miliki, Liana."

"Jauh lebih berharga dibandingkan kemewahan apa pun di pesta luar sana."

Pujian itu keluar begitu saja, mengalir tulus dari lubuk hatinya yang terdalam, membuat pipi Liana yang tadinya pucat kini perlahan memerah karena malu sekaligus tersentuh.

Sudah sangat lama, sangat lama sekali, tak ada satu pun orang yang mengatakan hal seindah ini padanya.

Tak ada yang melihat betapa indahnya dia berusaha bertahan, betapa anggunnya dia menahan rasa sakit.

"Tuan... anda berlebihan Tuan," jawab Liana pelan, mencoba menutupi rasa harunya dengan senyum tipis yang sedih.

"Saya hanya... berusaha bersikap sewajarnya saja. Dan jangan memanggil saya Tuan, kamu bisa memanggilku Alex atau Paman, senyamanmu saja." Katanya tersenyum tipis, kemudian lanjut berkata lagi sambil menatap sosok Liana.

"Bagi mereka yang buta, mungkin terlihat biasa saja," sahut Alexander tenang namun tegas.

"Tapi bagi mereka yang bisa melihat... setiap gerak-gerikmu, setiap senyum yang kamu paksa, dan setiap kesabaran yang kamu tunjukkan... semuanya sangat indah. Sangat indah hingga menyakitkan."

Keheningan sejenak melanda, namun kali ini bukan keheningan yang kaku, melainkan keheningan yang hangat dan penuh pengertian.

"Apakah anda tidak ikut bergembira di sana?" tanya Liana pelan, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan karena pujian-pujian itu.

"Ini kan acara penting untuk keluarga." Alexander tersenyum tipis, senyum yang hampir tak terlihat.

"Penting bagi mereka, bukan bagi aku. Bagi mereka, yang penting adalah siapa yang punya anak, siapa yang punya kekuasaan, siapa yang punya nama besar. Aku tidak tertarik pada hal-hal itu."

Dia berhenti sejenak, lalu menatap punggung Liana lewat pantulan cermin itu dengan tatapan yang jauh lebih lembut, tatapan yang tak akan pernah diduga oleh siapa pun.

"Kalau kamu, Liana... apa yang membuatmu lari ke sini? Bukan hanya karena keramaian, bukan?"

Panggilan namanya itu terdengar begitu halus di telinga Liana, membuatnya sedikit tertegun.

Selama ini jarang ada orang yang memanggil namanya dengan nada sedemikian rupa.

Dia menghela napas panjang, rasa sesak di dadanya kembali naik ke tenggorokan.

"Aku... aku hanya merasa tidak punya tempat di sana, Paman," jawab Liana jujur, suaranya bergetar sedikit.

"Semua orang membicarakan kebahagiaan Seraphina, membicarakan bayi yang akan lahir... dan di sela-sela itu, mereka selalu membicarakan aku."

"Bahwa aku mandul, bahwa aku tidak berguna, bahwa aku hanya beban bagi suamiku. Rasanya... rasanya berat sekali memikul semua pandangan itu."

Dia menundukkan kepalanya, membiarkan kebenaran itu keluar.

"Aku dulu... aku pernah punya mimpi, Paman Alex," lanjutnya pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.

"Dulu, sebelum semua ini terjadi, sebelum ayah berutang, sebelum aku dijual untuk pernikahan ini... aku ingin sekali kuliah."

"Aku ingin belajar banyak hal, aku ingin bekerja, aku ingin membangun karierku sendiri. Aku ingin bebas."

"Bebas pergi ke mana saja, bebas melakukan apa saja, hidup tanpa harus menjadi milik orang lain atau barang jaminan."

Ada genangan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, namun Liana berusaha menahannya agar tidak jatuh.

"Aku ingin hidup untuk diriku sendiri. Tapi mimpi itu mati saat aku melangkah masuk ke gerbang kediaman ini lima tahun lalu."

Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Hanya terdengar suara napas mereka berdua.

Alexander diam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Liana dengan sangat saksama. Tangannya terulur, dan menghapus air mata disisi mata Liana dari belakang.

Di dalam hatinya, setiap kalimat itu terasa seperti tusukan tajam, membuat rasa sakitnya ikut terasa.

Lalu, Alexander berbicara lagi, suaranya tenang namun penuh keyakinan, melontarkan sebuah kalimat yang membuat darah Liana serasa berhenti mengalir.

"Kalau begitu... kenapa kamu tidak bercerai saja?"

Liana mendongak cepat, menatap pantulan Alexander di cermin dengan mata terbelalak kaget.

Dia berpaling menghadap pria itu, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Paman... apa yang Paman katakan?"

"Aku mendengar keinginanmu," ucap Alexander tenang, menatap lurus ke dalam mata cokelat muda Liana.

"Kamu ingin bebas. Kamu ingin punya karier. Kamu ingin hidup untuk dirimu sendiri."

"Di sini, bersama Alistair dan keluarga ini, kamu tidak akan pernah mendapatkan semua itu."

"Kamu hanya akan terus dikurung, terus disakiti, dan terus dianggap tidak ada sampai kamu tua nanti."

"Jadi... kenapa kamu masih bertahan di sini? Kenapa kamu tidak bercerai saja?"

Pertanyaan itu menghantam pikiran Liana begitu keras. Selama lima tahun ini, di benaknya tertanam kuat bahwa pernikahan ini adalah takdir yang harus diterima,

Ikatan yang tidak boleh diputus. Bahwa seorang istri harus setia apa pun yang terjadi. Bahwa dia adalah milik Alistair, betapa pun buruknya perlakuan suaminya.

Tapi kalimat Alexander... kalimat itu membuka pintu yang selama ini tertutup rapat di kepalanya.

"Kenapa aku tidak bercerai saja?" batinnya bergema.

Dia mulai berpikir, memutar kembali semua kejadian selama lima tahun. Tahun pertama yang manis namun bersyarat,

Tahun kedua yang mulai dingin, tahun ketiga yang penuh kebosanan, tahun keempat di mana Alistair menikah lagi, dan tahun kelima ini di mana dia benar-benar sudah dianggap tak ada.

Ditambah lagi tuduhan mandul yang tidak benar, hinaan, dan kesepian yang menusuk tulang.

Benar juga. Untuk apa dia bertahan? Apa gunanya dia tetap menjadi istri pertama jika posisinya sudah diambil sepenuhnya? Jika suaminya sudah tidak menginginkannya? Jika dia menderita setiap hari?

Liana diam, matanya menatap lantai, pikirannya mulai kacau namun perlahan menemukan titik terang. Wajahnya yang sedih perlahan berubah menjadi ekspresi berpikir yang serius.

"Mungkin... mungkin Paman benar..." gumam Liana pelan, hampir tak terdengar.

"Mungkin memang tidak ada gunanya lagi aku bertahan di sini. Aku sudah mati rasa. Aku sudah lelah."

Dia mengangkat wajahnya, tatapannya kini sedikit lebih tegas, sedikit lebih berani.

"Terima kasih, Paman. Kata-kata Paman... membuka mataku akan sesuatu yang tidak pernah berani aku pikirkan sebelumnya."

"Ya... mungkin bercerai adalah jalan keluar terbaik. Aku akan memikirkannya. Aku akan mempertimbangkannya dengan matang."

Liana mengangguk pelan pada dirinya sendiri, merasa ada beban berat yang sedikit terangkat dari bahunya.

Dia menyeka sisa air mata di sudut matanya, lalu mengubah posisi berdiri, bersiap untuk kembali keluar menuju lorong.

"Aku harus kembali sekarang. Nanti mereka mencariku," ucap Liana sopan sambil menundukkan kepala sebagai tanda pamit.

"Sekali lagi terima kasih, Paman Alexander."

Dia baru saja melangkah satu langkah melewati tubuh jangkung itu, ketika tiba-tiba lengan kanannya tertahan lembut namun tegas oleh tangan besar Alexander.

Sentuhan itu ringan, sangat sopan, namun cukup untuk menghentikan langkah kakinya seketika.

Liana menoleh kembali, terkejut bukan main. Dia menatap tangan Alexander yang menahan lengannya, lalu beralih menatap wajah pria itu.

Dan saat itulah, dia melihat perubahan besar di wajah sosok yang terkenal dingin itu.

Tatapan mata Alexander yang sedari tadi tenang dan sopan, kini berubah dalam sekejap.

Ada rasa sakit, ada rasa rindu, ada rasa cinta yang begitu besar, dan ada ketegasan yang luar biasa terpancar dari sana.

Wajah dingin itu luluh, menampakkan sisi yang belum pernah dilihat siapa pun di dunia ini.

"Jangan hanya berpikir dan mempertimbangkannya, Liana..." ucap Alexander dengan suara yang berubah,

Menjadi lebih berat, lebih dalam, dan bergetar menahan segala gejolak hatinya yang selama lima tahun ini dikurung rapat.

Dia perlahan melepaskan lengannya, namun berdiri menghalangi jalan Liana, menatap wajah wanita itu lekat-lekat seolah ingin menghafal setiap inci wajah indah itu.

"Dan ketahuilah satu hal... sebelum kamu mengambil keputusan apa pun, atau pergi ke mana pun..."

Alexander menarik napas panjang, menatap mata Liana dalam-dalam, lalu akhirnya melontarkan kalimat yang akan mengubah seluruh hidup wanita itu selamanya.

"Selama ini... semua yang kamu butuhkan, semua perlindungan, semua bantuan... semuanya bisa aku berikan untukmu."

"Liana, Aku... aku sudah mencintaimu sejak hari pertama kita bertemu di hari pernikahanmu itu, Liana. Dan aku akan mencintaimu sampai kapan pun."

"Tapi... bisakah kamu membalasnya? Aku benar benar sudah lama menunggumu... Liana... Maukah Kau Menerimaku apa adanya? Tanpa harta, tanpa status, tanpa halangan keluarga?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!