NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 28 : KESEPAKATAN RAHASIA DI BAWAH GEMERLAP PASAR MALAM

Gemerlap lampu warna-warni dari bianglala raksasa yang berputar lambat membelah kegelapan malam di kawasan pinggiran Jakarta. Suara riuh rendah musik dangdut koplo dari pengeras suara wahana, deru mesin komidi putar, aroma harum arum manis, serta canda tawa ratusan pengunjung yang memadati area pasar malam itu menciptakan atmosfer yang begitu hidup. Di tengah lautan manusia yang saling berdesakan, Raditya Evan Baskara berjalan beriringan bersama Kalea Azzahra Putri.

Padahal, baru kemarin sore mereka berdua sepakat di depan monitor ICU untuk berpura-pura putus dan saling menjauh demi meredam amarah Ambarwati dan serangan genit Natasha. Namun malam ini, seolah menantang seluruh batasan logika, Radit justru nekat menjemput Kalea secara sembunyi-sembunyi dari hotel untuk melarikan diri sejenak ke tempat paling merakyat yang tidak akan mungkin didatangi oleh kaum sosialita seperti ibunya ataupun Natasha.

Tangan kanan Radit yang besar dan hangat sejak tadi sama sekali tidak melepaskan genggaman eratnya pada jemari tangan mungil Kalea. Pria setinggi 185 sentimeter itu mengenakan kaos oblong hitam santai dan celana jins, terlihat sangat maskulin namun membumi. Sementara Kalea tampil imut dengan balutan tunik kasual bermotif kotak-kotak yang dipadukan dengan jilbab voal segiempat hitam instan yang membungkus rapi kepalanya.

"Heh, Mas," panggil Kalea setengah berbisik sambil mendongak tinggi menatap profil samping wajah tampan Radit. Dia mencoba menyentak pelan tangannya yang terkunci. "Kamu nggak takut apa kalau tiba-tiba ada jajaran dokter atau direksi rumah sakitmu yang kebetulan lagi ajak anaknya main ke pasar malam ini, terus mergokin kita gandengan tangan begini? Bisa jatuh itu wibwamu sebagai Direktur Utama yang super kaku!"

Radit menoleh ke bawah, lalu sebuah senyuman manis yang sangat tulus langsung terukir lebar di bibirnya, memamerkan keindahan kedua lesung pipinya secara utuh. "Ngapain harus takut, Kalea? Di sini rame banget, lagian jajaran direksiku mana ada yang tahu tempat merakyat kayak gini. Mereka tahunya cuma restoran bintang lima di mal. Lagian, malam ini aku bukan Direktur Utama rumah sakit, aku cuma Radit... cowok yang lagi kangen banget sama pacar rahasianya yang galak ini."

"Ih! Mulai deh gombalnya!" ketus Kalea dengan wajah yang mendadak langsung merona merah merona sangat tebal, persis laksana kepiting rebus di bawah terik lampu neon pasar malam. Dia memutar kedua bola mata birunya dengan sangat malas untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa dahsyat. "Katanya mau ngomongin strategi sandiwara pura-pura putus kita, kenapa malah ngajak aku ke tempat berisik begini, hah?!"

"Urusan strategi itu gampang, bisa dibahas nanti," sahut Radit santai, malah semakin mempererat kuncian jemarinya di tangan Kalea, membimbing langkah kaki wanita itu menerobos kerumunan menuju ke arah stan permainan ketangkasan. "Sekarang kita fokus bersenang-senang dulu. Liat tuh di depan, ada permainan lempar gelang ke botol. Kamu mau coba?"

"Wah! Boleh banget! Jangan remehin kemampuan lemparanku ya, Mas! Kaca mobil Mercedes-Benz-mu aja bisa pecah seribu cuma gara-gara lemparan sepatu high heels-ku, inget kan?!" tantang Kalea dengan binar mata biru jernihnya yang berkilat jenaka penuh percaya diri, sifat bar-barnya mendadak bangkit kembali.

Radit langsung meledakkan tawa renyah pertamanya malam itu, tawa lepas yang terdengar begitu merdu mengundang beberapa pengunjung wanita di sekitar mereka untuk menengok terpesona. "Hahaha! Iya, iya, aku inget banget kejadian sepatu terbang itu, Kalea sayang. Itu namanya trauma paling mahal dalam sejarah hidupku. Ayo, kita buktiin seberapa akurat lemparanmu sekarang."

Mereka berdua akhirnya membeli satu paket gelang bambu kecil dari penjaga stan. Selama hampir tiga puluh menit, sudut stan permainan itu dipenuhi oleh rentetan dialog penuh candaan, adu mulut yang jenaka, dan tawa lepas dari kedua anak manusia ini. Kalea berkali-kali melempar gelang dengan gaya hebohnya yang menggemaskan, namun selalu meleset tipis di bibir botol, membuat dia merengut kaku sambil menghentakkan kakinya sebal.

"Yah! Meleset lagi! Ini botolnya pasti udah dilem, licik banget yang punya stan!" sungut Kalea mengerucutkan bibirnya gemas.

Radit terkekeh geli melihat wajah cemberut imut Kalea. Pria itu mendadak melangkah maju, memajukan tubuh jangkungnya berdiri tepat di belakang punggung Kalea. Radit melingkarkan kedua lengan kekarnya dari belakang, membungkus tubuh mungil Kalea seutuhnya, lalu tangan kanannya memegang jemari tangan Kalea yang sedang memegang gelang bambu terakhir.

DEG! DEG! DEG!

Jantung Kalea seketika berdegup sangat kencang dan liar di dalam rongga dadanya akibat kontak fisik yang mendadak romantis ini di tempat umum. Hembusan napas hangat maskulin Radit terasa begitu nyata menerpa permukaan kulit lehernya yang terbalut jilbab. "M-Mas... mau ngapain kamu?!" gagap Kalea salah tingkah setengah mati.

"Fokus, Kalea. Ikutin gerakan tanganku," bisik Radit lembut tepat di dekat daun telinganya. Dengan satu gerakan tangan yang mantap dan terarah bersama, Radit melempar gelang tersebut.

TING!

Gelang bambu itu meluncur mulus dan masuk sempurna mengunci leher botol kaca di tengah. Penjaga stan langsung bersorak memberikan hadiah sebuah boneka beruang kutub berukuran kecil berwarna putih bersih.

"Horeee!!! Masuk, Mas! Kita menang!" teriak Kalea kegirangan laksana anak kecil, melupakan rasa malunya sambil langsung memeluk erat boneka putih itu di dadanya dengan senyuman manis yang paling tulus terpancar di wajah cantiknya.

Radit menatap keindahan penuh senyuman manis Kalea sore itu dengan binar kekaguman yang teramat sangat mendalam di balik matanya. Rasanya seluruh beban pikiran mengenai penyakit ibunya dan kelicikan Natasha menguap lenyap tak berbekas hanya dengan melihat bidadari bermata birunya kembali tertawa lepas tanpa beban di sampingnya. Mereka berdua bener-bener bertingkah seolah tidak terjadi masalah apa-apa di dalam kehidupan nyata keluarga mereka yang sedang hancur lebur.

Setelah puas bermain di berbagai wahana, perut mereka mulai mengeluarkan suara keroncongan yang lapar. Radit menuntun Kalea menuju ke salah satu sudut stan kuliner pasar malam yang menjajakan jagung bakar arang tradisional. Aroma harum mentega dan bumbu pedas manis langsung menggugah selera.

Radit memesan dua buah jagung bakar ukuran besar, lalu mengajak Kalea berjalan menjauh menuju ke area rumput terbuka di belakang pasar malam yang suasananya jauh lebih teduh, sepi, dan menghadap langsung ke arah langit malam yang bertabur banyak bintang jernih malam ini. Mereka berdua duduk lesehan di atas tikar sewaan kecil yang digelar di atas rumput.

Kalea menerima jagung bakarnya dengan binar mata senang, lalu menggigitnya perlahan dengan gerakan anggun. "Hmm... Enak banget, Mas! Menteganya berasa banget. Makasih ya udah ajak aku ke sini."

Radit tersenyum manis, mematikan putung rokoknya yang sempat dia nyalakan sekilas, lalu ikut menikmati jagung bakarnya sambil menatap lekat-lekat wajah imut Kalea dari jarak dekat di bawah siraman pendar rembulan. "Sama-sama, Kalea sayang. Aku sengaja ajak kamu ke tempat kayak gini karena aku tahu batinmu pasti lagi cape banget setelah diteror Natasha di parkiran hotel siang tadi."

Kalea menghentikan kunyahannya sejenak, menghembuskan napas panjang yang cukup kasar dari lubuk dadanya, menatap lurus ke arah taburan bintang di langit malam. "Natasha emang tahu semuanya, Mas. Dia tahu kalau hubungan kita cuma pura-pura. Dia juga yang ngadu ke Mommy kamu kemarin."

Radit mengangguk tegas, wajah tampannya kembali kaku sesaat menahan geram. "Iya, aku udah tahu dari tim IT-ku kalau Natasha emang nyewa orang buat nyari tahu rahasia kita. Tapi kamu nggak usah cemas ya, Kalea. Seperti janji aku... taktik pura-pura putus kita di depan mereka ini cuma buat sementara waktu. Aku nggak bakal pernah membiarkan cewek genit kayak Natasha itu beneran masuk ke dalam hidupku. Pernikahan kontrak gila yang dipaksakan Mommy itu nggak bakal pernah terwujud, aku jamin."

Radit meletakkan jagung bakarnya, lalu dengan gerakan tangan yang luar biasa lembut, dia meraih kembali tangan kanan Kalea dan menggenggamnya erat-erat di atas pangkuan mereka. Radit menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata biru jernih Kalea dengan intensitas getaran asmara yang luar biasa manis meluap-luap.

"Dengerin, Kalea sayang..." bisik Radit dengan nada suara bariton yang rendah, dalam, dan dipenuhi ketulusan romantis yang terdengar begitu seksi di telinga Kalea. "Mau seberapa banyak rintangan dari Mommy, mau seberapa licik ancaman dari Natasha, atau mau seberapa hancur pun kondisi silsilah keluargamu di rumah Wijaya... hatiku saat ini udah sepenuhnya terkunci dan terbelenggu sama kamu. I love you, Kalea sayang... I love you so much, my beautiful blue eyes... Cuma kamu satu-satunya wanita yang aku mau buat jadi istri sahku di masa depan. Berjanjilah buat tetep bertahan di sandiwara rahasia ini bareng aku, ya?"

DEG!!!

Mendengar ungkapan cinta 'I love you kalea sayang' keluar kembali secara langsung dengan begitu tulus dan romantis dari mulut pria sedingin Radit di bawah taburan bintang malam ini, seluruh pertahanan ego Kalea runtuh berhamburan tak tersisa sepeser pun. Rasanya tubuh mungil Kalea mau terbang melayang menyentuh awan saking bahagianya mendengarkan pengakuan cinta semanis itu setiap hari dari pria yang dia puja. Kedua pipi mulusnya kembali merona merah merona sangat tebal persis seperti kepiting rebus akibat salah tingkah luar biasa.

Kalea menundukkan kepalanya, meremas boneka beruang kutub putih di pangkuannya dengan wajah malu-malu kucing yang sangat menggemaskan. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Kalea terdiam dalam sunyinya, meratapi kondisi batinnya sendiri yang masih diliputi kebingungan romansa.

"Ya Allah... Debaran jantung ini rasanya makin kencang dan manis setiap kali dekat Mas Radit... Apakah ini tandanya aku juga udah mulai mencintai dokter sombong ini dengan seutuhnya? Aku... jujur aku masih takut buat ngakuin perasaan ini karena luka trauma masa laluku di rumah Papa Hermawan... Tapi perlakuan hangat Mas Radit malam ini bener-bener bikin aku merasa sangat berharga di dunia ini..." batin Kalea bingung menimbang rasa cintanya.

Radit yang seolah bisa membaca kebingungan dan kegugupan di balik mata biru jernih Kalea, hanya bisa tertawa renyah penuh rasa gemas yang luar biasa besar. Radit mengulurkan tangan kirinya, mengusap pelan puncak kepala Kalea yang terbalut jilbab hitam dengan gerakan penuh kasih sayang yang mendalam. "Hahaha! Nggak usah bingung mikirin jawaban sekarang, Kalea sayang. Aku nggak bakal pernah memaksamu buat langsung membalas mencintaiku malam ini juga. Sesuai janjiku kemarin... biar waktu dalam jalinan takdir rahasia kita ini yang bakal menumbuhkan benih cintamu buat aku. Tugasmu sekarang cuma satu, nikmatin jagung bakarmu dan senyum yang manis buat aku."

Kalea langsung mendongakkan kepalanya, melotot tajam menutupi rasa salah tingkahnya sambil memukul lengan kekar Radit gemas pakai boneka beruangnya. "Iihh! Mas Radit!!! Diam nggak kamu?! Suka banget ya bikin orang jantungan malam-malam begini?!" bentak Kalea dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, membuat Radit kembali meledakkan tawa lepasnya memenuhi area rumput terbuka itu dengan kehangatan getaran asmara mereka berdua.

...****************...

Di sudut lain area pasar malam yang masih bising oleh suara musik komidi putar dan aroma harum arum manis, suasana absurd yang berbeda justru sedang tercipta. Di depan stan penjual komedi putar, berdiri Zaskia Murni Lestari (24 tahun) bersama tunangan tercintanya, Aditya pranata (26 tahun). Aditya adalah seorang pria berkacamata dengan pembawaan yang sangat rapi, cerdas, dan berwibawa karena pekerjaannya adalah seorang Dosen Muda Spesialis Hukum di salah satu universitas negeri terkenal di Jakarta. Masalahnya, menghadapi sifat Zaskia yang absurd, konyol, dan tidak waras, ketenangan Aditya sebagai dosen sering kali diuji sampai ke batas maksimal.

"Aduh, Mas Adit sayang! Cepat dong jalannya! Itu stan arum manisnya keburu antre panjang laksana antrean sembako!" seru Zaskia dengan nada suara delapan oktavnya yang cempreng, menarik-narik kasar lengan kemeja kasual yang dikenakan Aditya.

Aditya menghela napas panjang penuh kesabaran akademis, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot ke pangkal hidung akibat ditarik-tarik. "Zaskia sayang, dengerin Mas dulu. Kita ini udah jalan muterin pasar malam ini tiga kali cuma buat nyari arum manis warna merah muda. Kapasitas oksigen di paru-paru Mas ini udah mulai menipis gara-gara desak-desakan, tolong pelan-pelan jalannya, Nona Manajer Humas."

"Nggak bisa pelan-pelan, Mas Dosenku yang tampan!" ketus Zaskia sambil berkacak pinggang, memutar bola matanya malas dengan ekspresi super absurd yang dramatis. "Arum manis itu adalah sumber inspirasi ide kerjaku buat rilis konferensi pers hotel besok pagi! Kalau aku kekurangan gula malam ini, otak humasku bisa mogok kerja?!"

Aditya langsung terkekeh renyah, sebuah tawa hangat seorang dosen yang sangat memaklumi tingkah konyol tunangannya. "Hahaha, ada-ada aja alasan logis kamu ya. Ya udah, ayo kita antre sekarang sebelum—"

Kalimat Aditya mendadak terputus karena Zaskia tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya. Pandangan mata jeli sang Manajer Humas itu mendadak terpaku laksana melihat diskon besar-besaran di mal, menatap lurus ke arah area rumput terbuka sepi di belakang pasar malam. Di sana, di bawah pendar rembulan, tampak sepasang anak manusia sedang lesehan di atas tikar sambil tertawa lepas menikmati jagung bakar.

"Eh, bentar deh, Mas Adit! Coba liat ke arah jam dua itu!" bisik Zaskia heboh, menyipitkan matanya tajam penuh selidik. "Itu... itu kan punggung mungilnya si Kalea?! Dan cowok raksasa di sampingnya itu... astaga naga! Itu kan Dokter Radit Baskara, jomblo elit legendaris yang kemarin di kafe mengancam seratus delapan puluh juta itu?!"

Aditya ikut menengok bingung. "Siapa, cewek bermata biru yang sering kamu ceritain itu?"

"Iya, Mas! Ayok kita samperin sekarang! Wah, gila sih, katanya pura-pura putus, tapi malam-malam malah kencan merakyat di pasar malam! Absurd banget!" seru Zaskia langsung menarik paksa tangan tunangannya setengah berlari menerobos kerumunan rumput.

Begitu jarak mereka tinggal beberapa meter, Zaskia langsung meledakkan suara cempreng bernada tinggi kebanggaannya yang menggema keras memecah keromantisan malam. "KALEAAA!!! YA AMPUN SAHABATKU YANG GALAK KETAHUAN LAGI PACARAN RAHASIA DI SINI YA SEKARANG?!"

Kalea yang saat itu sedang tertawa mendengar gombalan romantis Radit langsung tersentak kaget setengah mati, refleks tersedak gigitan jagung bakarnya. Jantung wanitanya rasanya mau copot. Kalea mendongak membelalakkan mata birunya sempurna, lalu langsung tersenyum senyuman manis penuh rasa canggung bercampur salah tingkah yang luar biasa hebat begitu melihat wajah absurd sahabat karibnya sudah berdiri di depan tikar lesehan mereka.

"Z-Zaskia?!" gagap Kalea dengan kedua pipi yang langsung merona merah padam laksana kepiting rebus akibat tertangkap basah di bawah lampu remang-remang. "Kenapa... kenapa kamu bisa berkeliaran di pasar malam pinggiran ini juga, hah?!"

Radit ikut menghentikan gerakannya, berdiri dari duduk lesehan jangkungnya setinggi 185 sentimeter dengan ekspresi kaku yang perlahan mencair berganti senyuman tipis menawan, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam secara samar.

Zaskia langsung duduk tanpa permisi di ujung tikar, memasang wajah super jahil menggoda Kalea. "Hahaha! Ya bisalah! Pasar malam ini kan tempat umum, Kalea! Malah harusnya aku yang nanya, kemarin pas di rumah sakit kamu nangis bombay bilang sandiwara kalian bubar jalan gara-gara diusir Mommy Ambarwati, tapi malam ini kenapa malah nempel mesra makan jagung bakar bareng Dokter Radit yang tampan ini, hah?!"

"Zaskia, diam nggak kamu?! Malu-maluin banget sih!" bisik Kalea gemas, memukul lengan Zaskia pakai boneka beruang kutub putih kecil hadiah dari Radit tadi, membuat Radit kembali terkekeh geli melihat tingkah laku malu-malu kucing dari pacar rahasianya.

Aditya melangkah maju, berdiri di samping Radit sambil melemparkan senyuman ramah dan berwibawa khas seorang pendidik. Zaskia yang teringat kesopanan langsung melompat berdiri, menarik kemeja tunangannya. "Eh iya, lupa! Mas Radit yang tampan, Kalea yang galak... kenalin ini tunangan tercintaku, calon suamiku masa depan yang paling sabar sedunia menghadapi ke-absurd-anku, namanya Mas Adit. Pekerjaannya dosen muda hukum, pinter banget loh!"

Aditya tersenyum renyah, mengulurkan tangan kanannya dengan sangat sopan ke arah Radit. "Salam kenal, Dokter Radit Baskara. Saya Aditya Pranata. Zaskia ini di rumah emang sering banget cerita soal kehebatan dan ketangguhan Nona Kalea di hotel, jadi salam kenal untuk semuanya."

Radit menyambut uluran tangan kokoh Aditya dengan genggaman tangan kekarnya yang sangat mantap dan penuh wibawa kepemimpinan seorang Direktur Utama. "Salam kenal juga, Mas Adit. Saya Raditya Evan Baskara. Panggil Radit aja kalau di luar jam kantor biar lebih akrab. Ternyata dunia sempit ya, tunangan Anda ini manajer humas andalan di hotel tempat Kalea bekerja."

"Hahaha, bener banget, Mas Radit," sahut Aditya ramah.

Kalea ikut menjabat tangan Aditya singkat dengan senyuman manis profesionalnya. "Salam kenal ya, Mas Adit. Maaf ya kalau Zaskia ini sering bikin pusing di kampus atau di luar, pembawaannya emang agak kurang waras dari zaman SMA, haks!"

"Heh, Mata Biru! Enak aja dibilang kurang waras!" potong Zaskia merengut manja, langsung melingkarkan lengannya di pinggang Aditya penuh kemenangan egois. "Gini-gini Mas Adit cinta mati loh sama ke-absurd-anku! Iya kan, Mas sayang?"

Aditya cuma bisa tersenyum pasrah sambil mengelus puncak kepala Zaskia penuh kasih sayang dewasa. "Iya, sayang... Mas selalu cinta sama semua paket kepribadianmu."

Pemandangan romantis yang alami dan penuh candaan dari pasangan humas-dosen itu seketika memicu gelak tawa lepas yang sangat renyah dari mulut Radit, Kalea, Zaskia, dan Aditya secara bersamaan. Suasana di atas rumput terbuka di bawah naungan gemerlap bintang malam pasar malam itu mendadak berubah menjadi sangat cair, hangat, dan dipenuhi oleh letupan kebahagiaan batin yang luar biasa nyata. Mereka bener-bener bertingkah kompak laksana aksi double date anak muda zaman sekarang, mengabaikan sejenak fakta kalau hidup mereka sedang dikelilingi badai kehancuran keluarga Wijaya di rumah.

Di sela-sela tawa bersama mereka, Kalea yang sedang memeluk boneka beruang kutub putihnya mendadak menatap lekat ke arah cincin pertunangan perak yang melingkar indah di jari manis Zaskia. Rasa penasaran seorang sahabat karib mendadak mencuat di dadanya.

"Omong-omong, Kia..." tanya Kalea dengan nada suara yang mulai melembut penuh perhatian yang tulus. "Kamu sama Mas Adit kan udah tunangan dari beberapa bulan lalu nih. Kapan rencana kalian bakal resmi melangsungkan akad nikah pernikahan yang sah?"

Zaskia langsung menggelengkan kepalanya perlahan, bersandar manja di bahu bidang Aditya sambil mengulas senyuman bahagianya yang lebar. "Rencananya masih agak lama, Kalea. Insya Allah sekitar satu tahun lagi dari sekarang baru kita naik pelaminan. Soalnya Mas Adit harus selesaiin dulu tugas riset jurnal ilmiahnya di luar kota, dan aku juga masih mau nabung modal nikah mandiri biar nggak ngerepotin orang tua. Santai aja, jalur kita rapi kok."

Aditya mengangguk tegas menyetujui ucapan tunangannya. "Benar kata Zaskia, Nona Kalea, Dokter Radit. Kami sepakat satu tahun lagi biar persiapannya matang secara finansial dan mentalitas hukum rumah tangga."

Mendengar nominal waktu 'satu tahun lagi' yang disebutkan secara kompak oleh pasangan di hadapan mereka, Radit dan Kalea serentak terdiam sejenak. Kedua anak manusia yang status hubungannya saat ini terbelenggu sandiwara rahasia itu kompak menganggukkan kepala mereka saja secara bersamaan dengan gerakan yang kaku, meresapi keheningan yang mendalam di dalam lubuk hati masing-masing. Di dalam benak Radit, satu tahun adalah waktu yang sangat lama, sementara dia sendiri saat ini sedang memutar otak taktik kilat agar bisa secepatnya menghancurkan perjodohan Natasha dan membawa Kalea ke pelaminan secara sah dalam hitungan bulan. Begitu pula dengan Kalea, yang dalam hatinya merenungkan apakah sandiwara rahasianya bersama Radit sanggup bertahan kokoh menghadapi rintangan kejam Mommy Ambarwati selama itu.

"Wah, mantap deh. Semoga seluruh proses persiapannya dilancarkan terus sampai hari H ya, Kia, Mas Adit," ucap Kalea tulus memecah keheningan dengan senyuman manisnya kembali.

"Amin... Makasih banyak ya, Mata Biru kesayanganku! Nah, berhubung kalian lagi asyik berduaan pacaran rahasia di bawah bintang, aku sama Mas Adit pamit duluan ya mau lanjut berburu arum manis merah muda tadi, dadah!" goda Zaskia melambaikan tangannya jenaka, langsung menarik kembali tangan Aditya melangkah lebar meninggalkan area rumput sepi sambil terus tertawa lepas absurd, diikuti lambaian tangan sopan dari Aditya.

Radit menatap kepergian pasangan itu, lalu kembali memutar tubuh jangkungnya menghadap seutuhnya ke arah Kalea. Tangan kekarnya kembali menyusup, mengunci erat jemari tangan mungil Kalea dalam genggaman erat yang hangat penuh getaran asmara yang meluap-luap di bawah saksi gemerlap pasar malam. "Tuh, denger kan, Kalea sayang? Sahabatmu aja nikahnya masih satu tahun lagi. Jadi... kita nggak usah terburu-buru panik sama rintangan luar, fokus aja bangun benih cintamu buat aku di dalam jalinan takdir rahasia kita malam ini. I love you, Kalea..." bisik Radit penuh kelembutan romantis yang manis, menutup pertemuan penuh tawa malam itu dengan jalinan komitmen rahasia yang kian mengunci jiwa mereka masuk ke dalam pusaran petualangan rumah tangga yang dipastikan bakal berjalan semakin berat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!