Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 pukul yan shong
Yan Shong menggulung kedua lengan bajunya dengan kasar. Wajahnya menggelap saat dia mulai melangkah lebar mendekati Nyonya Mu yang sudah gemetar ketakutan.
"Mas Shong, sudah. Mungkin Kakak tidak sengaja bicara begitu," sela Han Ruo sambil memegang ujung baju Yan Shong. Jari-jarinya hanya menahan sekilas, sengaja membiarkan pria itu lepas dengan mudah.
"Kamu singkirkan tanganmu! Kalau hari ini tidak diberi pelajaran, wanita ular ini tidak akan tahu diri!" bentak Yan Shong sambil mengibaskan tangan Han Ruo pelan. "Kulitnya sudah gatal minta dipukul."
"Mas Shong..." Han Ruo mundur selangkah tanpa niat menahan lagi. "Sudahlah, bagaimanapun aku cuma orang baru di rumah ini. Biar aku saja yang mengalah."
"Mengalah untuk apa?! Dari awal aku cuma mau menikah denganmu! Kalau bukan karena mendiang ayah wanita sialan ini yang mengemis balas budi pada Abah, aku tidak akan sudi menyentuhnya!" kata Yan Shong kejam sambil menunjuk hidung Nyonya Mu.
"Kamu pikir kamu siapa, hah? Berlagak sok berkuasa dengan status istri utama! Suatu hari nanti, aku akan menghapus namamu dari silsilah utama dan menurunkan derajatmu jadi selir!" ancam Yan Shong tanpa memikirkan perasaan istrinya.
Di balik sapu tangannya, sudut bibir Han Ruo langsung terangkat puas. Namun, dia buru-buru menyembunyikannya dan kembali berpura-pura menangis terisak-isak.
Dada Nyonya Mu terasa sesak mencerna setiap kalimat kejam suaminya. Sepasang matanya bergetar hebat karena tidak percaya. "Mas... tega sekali kamu bicara begitu?"
"Memang itu kenyataannya!" Yan Shong maju satu langkah lagi, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Biar kuhajar kamu sekarang, supaya kamu kapok dan tidak berani lagi membuat kekacauan!"
Prok, prok, prok.
Suara tepukan tangan yang ritmis mendadak memecah ketegangan di dalam ruangan. Nara berdiri tegak sambil tertawa kecil, memandang remeh ke arah Yan Shong.
Langkah Yan Shong langsung terhenti. Dia menatap Nara dengan tatapan jengkel sekaligus bingung. "Dasar anak cacat yang kemasukan roh! Apa yang kamu tertawakan?!"
Nara tidak langsung menjawab. Dia justru memegangi perutnya dan tertawa semakin keras, seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia.
"Diam! Apa yang lucu?!" Kesabaran Yan Shong sudah habis.
"Aku cuma menertawakan kebodohanmu," ucap Nara datar. Tawanya langsung lenyap, digantikan oleh sorot mata sedingin es yang menusuk lurus ke arah Yan Shong.
Yan Shong refleks menelan ludah dan mundur selangkah, merasa terintimidasi oleh tatapan itu. Namun, demi harga dirinya sebagai kepala keluarga, dia kembali membusungkan dada dan menunjuk Nara.
"Anak kurang ajar! Minggir kamu, atau kamu juga mau kuhajar sekalian?!" kata Yan Shong kasar.
"Selain melampiaskan amarahmu pada wanita lemah, apa lagi kemampuanmu?" tanya Nara tanpa bergeser sedikit pun. Dia tetap pasang badan melindungi Nyonya Mu yang mencoba menarik ujung bajunya dari belakang.
Nara menatapnya penuh penghinaan. "Selain memukuli istri dan anak, apa kamu punya nyali lain? Apa pria model begini masih pantas disebut laki-laki?"
"Kurang ajar!" Yan Shong yang gelap mata langsung melayangkan tamparan keras ke arah wajah Nara.
"Ara, jangan!" jerit Nyonya Mu histeris, mencoba maju untuk memasang badannya sendiri.
Namun, gerakan Nara jauh lebih cepat. Mengabaikan luka robek di tangan kirinya, tangan kanan Nara dengan cekatan mencengkeram pergelangan tangan Yan Shong yang melayang di udara.
Dengan satu gerakan memutar bahu yang cepat dan bertenaga, Nara memanfaatkan bobot tubuh Yan Shong sendiri untuk membalikkan keadaan.
Gedebuk!
Tubuh kekar Yan Shong terbanting keras ke atas lantai kayu. Detik berikutnya, rumah utama langsung dipenuhi oleh raungan histeris Yan Shong yang melengking tinggi, mirip seperti sapi yang sedang di penggal
Nara berdiri tenang sambil menepuk-nepuk telapak tangannya dengan anggun. Biarpun fisik tubuh ini masih kurus dan lemah, teknik bela diri judo modern yang pernah dipelajarinya terbukti masih bekerja dengan sangat akurat.
"Mas Shong!" teriak Han Ruo histeris. Dia langsung berlari dan berlutut di samping Yan Shong yang terus berguling kesakitan memegangi punggungnya.
Han Ruo mendongak, menatap Nara dengan pandangan penuh ketakutan yang murni. "Kamu... berani sekali kamu memukul ayah kandungmu sendiri?! Ilmu hitam apa yang kamu pakai?!"
Nara melangkah dua langkah lebih dekat, berdiri menjulang di depan mereka berdua. Pandangan matanya begitu dingin dan mengintimidasi saat menatap Yan Shong yang kini menatapnya balik dengan wajah pucat ketakutan.
"Kenapa kalau kupukul? Memangnya dia tidak pantas mendapatkannya?" kata Nara.
"Kalau kamu berani menyentuh Ibuku lagi, aku bersumpah bakal menghajarmu sampai seluruh gigimu rontok berserakan di lantai!" ancam Nara kejam tanpa keraguan sedikit pun.