Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 - MHB
Maya sedang duduk di meja ruang makan dengan kacamata bertengger di hidungnya, dikelilingi oleh tumpukan berkas audit. Seharusnya ia fokus, namun telinganya justru terpasang tajam ke arah ruang tengah, di mana Arka sedang duduk bersila di sofa dengan ponsel yang menempel di telinga.
Namanya Ghea. Mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual yang kecantikannya menjadi buah bibir satu fakultas. Ghea bukan sekadar mahasiswi populer; dia adalah rekan setim Arka dalam kompetisi Startup Inovasi Nasional. Masalahnya, Ghea sepertinya memiliki definisi yang sangat longgar tentang "jam kerja profesional".
"Iya, Ghe... bagian user interface-nya mending pakai warna biru navy saja biar kelihatan elegan," suara Arka terdengar tenang, namun ada nada ramah yang membuat Maya merasa seperti ada semut yang merayap di balik tengkuknya.
"Hahaha, kamu bisa saja. Nggak kok, aku nggak keberatan kamu telepon jam segini," lanjut Arka.
Maya menutup map berkasnya dengan suara yang sedikit lebih keras dari yang diperlukan. 'Nggak keberatan?' batin Maya ketus. 'Dia nggak sadar ini sudah jam berapa? Memangnya kompetisi itu mengharuskan mereka diskusi sambil tertawa centil begitu?'
Maya mencoba membalik halaman dokumennya, tapi matanya hanya menatap barisan angka tanpa makna. Pikirannya sibuk menguliti sosok Ghea. Ia pernah melihat profil Instagram gadis itu—foto-fotonya penuh dengan senyum lebar, pakaian modis yang memperlihatkan bahu, dan tak jarang ada foto Arka yang diambil secara diam-diam dengan caption yang memancing rasa penasaran.
Aku tidak cemburu, Maya meyakinkan dirinya sendiri. Aku hanya merasa terganggu karena suaranya bising. Aku butuh ketenangan untuk bekerja. Ya, itu alasannya.
Namun, saat ia mendengar suara Ghea yang melengking kecil dari speaker ponsel Arka—terdengar seperti sedang merajuk tentang sesuatu—darah Maya mendidih. Ia merasa seperti wilayah kekuasaannya sedang diinvasi. Selama ini, ia adalah satu-satunya wanita di hidup Arka (selain ibunya) yang berhak mendapat perhatian penuh dari pria itu di rumah ini.
"Oh, kamu mau kirim filenya sekarang? Oke, aku tunggu," ucap Arka lagi.
Maya berdiri dengan sentakan. Ia tidak tahan lagi. Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk menarik Arka kembali ke dunianya, bukan dunia mahasiswi bernama Ghea itu. Tapi ia tidak mungkin terang-terangan meminta Arka menutup telepon; itu akan membuatnya tampak seperti istri yang posesif—gelar yang menurut egonya terlalu rendah untuk seorang Maya Clarissa.
Ia masuk ke kamarnya. Di depan cermin, ia menatap dirinya sendiri. Piyama katun biasa dengan motif garis-garis yang ia pakai terasa terlalu... biasa. Ia membuka lemari, jarinya menelusuri deretan pakaian tidurnya. Matanya tertuju pada sebuah silk nightgown berwarna merah marun dengan lapisan lace hitam di bagian dada—kado ulang tahun dari temannya yang belum pernah ia pakai karena dianggap terlalu berani.
Ini bukan untuk merayu, pikir Maya sambil mengganti pakaiannya. Ini hanya agar aku merasa lebih percaya diri saat bekerja. Ya, itu saja.
Maya keluar dari kamar dengan langkah yang sengaja dibuat terdengar berirama di atas lantai kayu. Rambutnya yang tadinya dicepol asal-asalan, kini ia biarkan tergerai menutupi bahunya. Ia sengaja berjalan melewati ruang tengah menuju dapur, tepat di depan posisi duduk Arka.
Arka masih asyik mengobrol. "Iya, Ghe, menurutku konsep itu sudah bagus banget—"
Langkah Maya melambat tepat di depan Arka. Ia berpura-pura mencari sesuatu di rak buku dekat sofa, membuat kain sutra piyamanya berkibar lembut. Ia bisa merasakan tatapan Arka sempat terhenti pada dirinya selama beberapa detik.
Maya tersenyum dalam hati. Kena kamu, Arka.
Namun, kejutan menyusul. Arka justru membuang muka kembali ke ponselnya.
"Ghe? Sori tadi sinyalnya agak putus. Jadi gimana soal presentasinya?" Arka bicara dengan nada yang lebih bersemangat dari sebelumnya. Ia bahkan memutar tubuhnya membelakangi Maya, seolah-olah keberadaan istrinya dengan pakaian tidur yang menawan itu hanyalah angin lalu.
Maya terpaku di depan rak buku. Ia merasa seperti baru saja ditampar oleh kenyataan. Arka sengaja. Ia tahu Arka menyadari keberadaannya. Ia tahu Arka melihat piyama itu. Tapi Arka memilih untuk mengabaikannya.
Maya dengan kesal mengambil sebuah buku secara acak dan berjalan menuju dapur. Ia sengaja menuangkan air ke gelas dengan suara gemericik yang keras. Ia berharap Arka akan menutup telepon dan menghampirinya, mungkin menanyakan kenapa ia memakai baju itu, atau sekadar memujinya.
Tapi Arka tetap di sana. "Hahaha, kamu lucu banget sih, Ghe. Oke, nanti aku cek ya emailnya. Sampai besok di kampus!"
Klik. Telepon ditutup.
Maya berdiri di balik konter dapur, menunggu Arka bicara. Namun Arka justru meregangkan tubuhnya, menguap lebar, dan mulai membereskan laptopnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Maya.
"Capek juga ya hari ini," gumam Arka pada dirinya sendiri, suaranya cukup keras untuk didengar Maya. "Tidur ah, besok harus jemput Ghea pagi-pagi buat bimbingan."
Maya meletakkan gelasnya dengan dentuman keras. "Oh, jadi sekarang kamu sudah jadi sopir pribadinya juga?"
Arka menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan, menatap Maya dengan wajah yang sangat polos—terlalu polos untuk ukuran seseorang yang baru saja melakukan sabotase emosional.
"Lho, Kak Maya belum tidur? Wah, baju tidurnya bagus ya. Tumben pakai yang begitu," ucap Arka dengan nada santai, seolah baru menyadari kehadiran Maya.
"Jangan pura-pura, Arka!" suara Maya naik satu oktav. "Kamu tahu aku lewat di depanmu tadi. Dan kamu sengaja tetap menelepon dia seolah-olah aku ini transparan!"
Arka berdiri, berjalan mendekati konter dapur. Ia menyandarkan kedua tangannya di meja, menatap Maya dengan senyum penuh kemenangan yang ia sembunyikan di balik wajah serius.
"Oh, jadi Kakak lewat tadi itu sengaja biar aku lihat? Aku pikir Kakak cuma mau ambil buku," goda Arka. Matanya berkilat nakal. "Lagipula, Ghea itu rekan setimku, sayang. Kami cuma bahas kompetisi. Kenapa Kakak kelihatannya kesal sekali? Apa... Kakak cemburu?"
"Aku? Cemburu?" Maya tertawa hambar, meskipun jantungnya berdegup tidak keruan. "Jangan terlalu percaya diri, Arka Pradipta. Aku cuma terganggu karena kamu berisik saat aku sedang lembur. Itu saja."
Arka melangkah memutari konter, berdiri tepat di hadapan Maya hingga wanita itu bisa mencium aroma sisa kopi di napas Arka. "Kalau nggak cemburu, kenapa harus ganti baju seseksi ini malam-malam, padahal biasanya kamu cuma pakai daster atau kaus kegedean?"
Maya terpojok. Ia ingin membalas, tapi lidahnya kelu. Ia menyadari bahwa rencananya untuk menggoda Arka justru menjadi bumerang yang mempermalukan dirinya sendiri.
"Ini... ini piyamaku yang paling nyaman!" dusta Maya, meskipun kain sutra itu terasa sangat dingin di kulitnya yang kini memanas karena malu.
Arka tidak tertawa. Ia justru mengulurkan tangan, merapikan anak rambut Maya yang menempel di pipinya. "Dengar, Maya. Sebanyak apa pun mahasiswi yang meneleponku, atau seberapa sering pun aku harus bertemu Ghea di kampus... nggak ada satu pun dari mereka yang bisa bikin aku nggak bisa fokus cuma gara-gara lewat pakai baju tidur."
Maya mendongak, matanya bertemu dengan mata Arka yang kini tampak tulus.
"Aku pura-pura nggak lihat tadi karena aku mau tahu seberapa jauh kamu bakal usaha buat cari perhatianku," bisik Arka. "Dan ternyata... usahamu sukses besar. Aku hampir saja lupa cara bicara sama Ghea tadi."
Maya memukul dada Arka dengan kesal, namun ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya. Rasa kesalnya menguap, digantikan oleh perasaan hangat yang aneh.
"Kamu menyebalkan, Arka. Benar-benar menyebalkan."
"Tapi kamu sayang, kan?" goda Arka lagi sambil tertawa dan berjalan menuju kamarnya. "Selamat tidur, Kak Senior. Jangan mimpiin Ghea ya, mimpiin aku saja."
Maya berdiri diam di dapur, menatap punggung Arka yang menghilang di balik pintu kamar. Ia menarik napas panjang, meraba pipinya yang masih panas. Ia menyadari satu hal malam ini: cemburu atau tidak, ia sudah terjatuh terlalu dalam pada permainan pria yang dulu ia anggap sebagai bocah ini.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡