Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Kegelapan
Ruangan yang mereka bawa Calypsa ke dalamnya adalah gudang lantai satu, di balik rak-rak logam tinggi yang ia lewati setiap malam tanpa pernah memperhatikan bahwa di balik tumpukan peti kayu di sudut paling dalam, ada sebuah ruangan kecil dengan dinding bata yang lebih baru dari dinding di sekitarnya.
Tidak ada jendela. Satu lampu di langit-langit yang cahayanya redup. Sebuah kursi dan meja kecil. Satu kamera di sudut atas yang berkedip merah kecil menunjukkan ia aktif.
Mereka mengambil ponselnya tapi tidak memeriksa saku dalamnya.
Drive itu masih ada.
Calypsa duduk di kursi dan membiarkan keheningan ruangan itu menyelimutinya selama beberapa menit pertama. Bukan karena ia tidak punya yang perlu dipikirkan, justru sebaliknya, terlalu banyak yang perlu ia pikirkan dan ia butuh ketenangan untuk menyusun semuanya dalam urutan yang benar.
Pertama, Cyrus. "Sedang ditangani" bisa berarti banyak hal dan tidak semuanya berarti yang terburuk. Voss jelas membutuhkan Cyrus sebagai kartu yang bernilai, baik untuk dinegosiasikan dengan Dragan atau untuk memastikan anggota lain geng tidak bergerak melawan rencana ini. Itu memberi Calypsa sedikit ruang untuk bernapas karena artinya ia mungkin masih ada waktu.
Tapi sedikit ruang bukan berarti banyak ruang.
Calypsa menatap kamera di sudut atas. Lampu merahnya berkedip dengan ritme yang sangat konsisten, bukan kamera yang dipantau secara real-time, lebih seperti kamera yang merekam untuk ditinjau nanti.
Ia mulai memeriksa ruangan itu dengan sangat tenang dan metodis, bergerak seperti seseorang yang sekadar gelisah dan tidak bisa diam, agar tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mencari jalan keluar.
Meja kecil itu ternyata tidak sepenuhnya kosong. Di bawah salah satu kakinya yang tidak rata, ada sebuah potongan kayu kecil yang digunakan sebagai ganjal. Calypsa mengambilnya dengan gerakan yang sangat kasual dan duduk kembali di kursi.
Di bawah meja, jauh dari jangkauan sudut kamera, jari-jarinya mulai bekerja. Ia menggunakan sisi tajam potongan kayu itu untuk menggores permukaan bawah meja, bukan menulis pesan, tapi menggores sebuah pola yang hanya akan dikenali oleh seseorang yang sudah cukup lama bekerja bersamanya.
Pola yang menunjukkan di mana drive itu ia simpan.
Pola yang menunjukkan nama Voss.
Pola yang menunjukkan bahwa Cyrus perlu ditemukan.
Ia tidak tahu apakah meja ini akan pernah diperiksa oleh orang yang tepat. Tapi itulah satu-satunya jalur yang ia punya sekarang.
Tiga jam berlalu. Tidak ada yang masuk.
Kemudian lima jam. Calypsa makan dari bekal yang ada di dalam saku jaketnya, sepotong coklat kecil yang selalu ia bawa sebagai kebiasaan yang ia ambil dari kebiasaan Apo yang tidak pernah pergi ke mana-mana tanpa sesuatu untuk dimakan.
Ia tidak mengakuinya kepada siapapun, tapi di dalam keheningan ruangan berdinding bata itu, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di gudang Wraithgate berminggu-minggu lalu, Calypsa merasa takut. Bukan takut terhadap apa yang mungkin dilakukan Voss kepadanya. Tapi takut akan sesuatu yang jauh lebih tidak familiar dari itu.
Takut bahwa sesuatu sudah terjadi kepada Cyrus.
Ia duduk dengan punggung bersandar ke dinding dan memeluk lututnya sendiri dalam gelap, mencoba menghitung kemungkinan-kemungkinan secara logis, tapi pikirannya terus kembali ke hal yang sama. Cara Cyrus selalu menyiapkan dua cangkir kopi. Cara ia berdiri di depan peta Aethelgard dalam diam. Cara ia mengucapkan nama Apo dengan nada yang menunjukkan bahwa beban itu tidak pernah benar-benar ia letakkan.
Cara ia berkata aku tahu ketika Calypsa mengatakan ini memperumit segalanya, tanpa terlihat keberatan sama sekali.
Calypsa menekan bagian belakang kepalanya ke dinding bata yang dingin dan menutup matanya.
Jangan, pikirnya kepada dirinya sendiri. Jangan berpikir seperti ini sekarang. Selesaikan dulu yang di depan mata.
Pada jam ketujuh, lampu di langit-langit mati.
Kegelapan total turun seketika.
Calypsa tidak bergerak. Ia mendengarkan.
Suara dari luar ruangan. Langkah kaki, lebih dari satu orang, bergerak dengan cepat. Suara benda yang terjatuh. Kemudian keheningan selama beberapa detik. Kemudian suara langkah kaki lagi, kali ini hanya satu orang, dan ritme langkahnya sangat berbeda dari para orang yang mengawalnya tadi.
Calypsa berdiri dari kursinya, seluruh tubuhnya siaga.
Gagang pintu bergerak.
Pintu terbuka, dan cahaya yang masuk dari luar, meski juga tidak terang, cukup untuk Calypsa melihat siluet orang yang berdiri di ambang pintu.
Bahu yang lebar. Kemeja yang digulung ke siku.
Calypsa sudah sangat mengenal siluet itu.
"Calypsa."
Suara itu adalah suara yang paling tidak dramatis yang pernah Calypsa dengar dalam situasi seperti ini, rendah dan terkontrol seperti biasanya, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana, sedikit lebih berat, sedikit lebih lega, seperti seseorang yang baru saja melepaskan sesuatu yang sudah sangat lama ia tahan.
Calypsa tidak bergerak selama satu detik.
Kemudian dua.
Kemudian ia berjalan ke arah pintu, melewati ambangnya, dan berhenti tepat di depan Cyrus dalam cahaya yang remang di koridor itu. Dari dekat ia bisa melihat lebih jelas, ada memar kecil di sisi rahangnya yang tidak ada tadi pagi, dan kerah kemejanya sedikit tidak rapi dengan cara yang tidak biasanya ia biarkan.
Tanpa berpikir panjang, tanpa menghitung apakah ini adalah keputusan yang bijak atau tidak, Calypsa meletakkan tangannya di sisi wajah Cyrus, ibu jarinya sangat hati-hati menyentuh tepi memar itu.
"Mereka menyentuhmu." ujarnya pelan, bukan pertanyaan.
Cyrus menatapnya dari bawah sentuhan itu. Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi matanya, mata yang selalu Calypsa gunakan sebagai patokan untuk membaca pria ini ketika wajahnya tidak memberi banyak informasi, matanya mengatakan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
"Aku baik-baik saja." ujarnya.
"Itu bukan yang aku tanya." ujar Calypsa.
Sudut bibir Cyrus bergerak naik sangat tipis, nyaris tidak terlihat. Tangannya bergerak ke atas, menutupi tangan Calypsa yang masih di sisi wajahnya, menekannya pelan ke pipinya dengan cara yang terasa seperti konfirmasi atas sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka beri nama secara eksplisit.
"Aku khawatir." ujar Calypsa, dan kalimat itu keluar dengan sangat mudah untuk sesuatu yang biasanya sangat sulit ia akui. "Aku tidak suka khawatir tentang hal-hal yang tidak bisa kikendalikan dari balik layar."
"Aku tahu." ujar Cyrus pelan.
"Jangan biarkan itu terjadi lagi."
Cyrus menatapnya selama beberapa detik dengan cara yang membuat Calypsa merasa seperti sedang dibaca, bukan dengan cara yang membuatnya tidak nyaman, tapi dengan cara seseorang yang ingin memastikan ia benar-benar menyimpan apa yang sedang ia lihat.
"Tidak akan." ujarnya akhirnya.
Mereka berdiri di koridor yang remang itu selama beberapa detik lagi, tangan Calypsa masih di wajahnya dan tangan Cyrus masih menutupinya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang terburu-buru mengakhiri jarak yang sudah sangat tipis di antara mereka.
Kemudian Cyrus melakukan sesuatu yang tidak Calypsa perkirakan. Ia menundukkan kepalanya dan menyentuhkan dahinya ke dahi Calypsa, sangat pelan, seperti seseorang yang butuh satu momen kecil untuk memastikan bahwa semuanya nyata dan tidak ada yang hilang dari yang seharusnya ada.
Calypsa menutup matanya selama satu detik penuh.
Di dalam satu detik itu, semua yang ia tahan selama tujuh jam di dalam ruangan berdinding bata itu, ketakutan yang tidak ia akui dan kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik perhitungan-perhitungan logis, mengendap dengan sangat pelan ke suatu tempat yang tidak lagi terasa seperti beban.
"Ayo kita ke atas." ujar Cyrus akhirnya, suaranya rendah dan sangat dekat di dekat keningnya.
Calypsa membuka matanya dan mundur satu langkah, mengembalikan jarak yang profesional di antara mereka karena di luar koridor ini masih ada pekerjaan yang belum selesai dan orang-orang yang perlu ia hadapi.
Tapi jarinya sempat menyentuh pergelangan tangan Cyrus sebentar ketika mereka mulai berjalan, hanya sebentar, hanya cukup untuk merasakan bahwa ia memang ada dan nyata dan tidak kurang apapun.
Dan Cyrus membiarkannya.
"Voss." ujar Calypsa singkat sambil mulai berjalan.
"Sudah diamankan." jawab Cyrus, berjalan di sisinya. "Anggota lain yang setia sudah mengurus sisanya."
"Kamu tahu dari tadi."
"Aku mulai curiga setelah pesan dini harimu sampai." ujar Cyrus sambil berjalan, suaranya tetap rendah. "Aku berpura-pura masuk ke ruangan dan mengunci pintu dari dalam, lalu keluar melalui jalur lain yang hanya aku yang tahu. Aku butuh waktu untuk memastikan siapa saja yang benar-benar bisa aku percaya sebelum bergerak."
Calypsa memproses itu semua sambil mengikuti langkah Cyrus menuju tangga. "Kamu membiarkan mereka mengurungku?"
Cyrus berhenti sejenak di kaki tangga dan menoleh ke arahnya. Dalam cahaya redup yang masuk dari atas, Calypsa bisa melihat ekspresinya dengan cukup jelas. Ada sesuatu di sana yang tidak ia sembunyikan kali ini, bukan hanya penyesalan profesional atas keputusan taktis yang tidak ideal.
Sesuatu yang lebih personal dari itu.
"Itu hal yang paling tidak aku inginkan tapi tidak punya pilihan lain." ujarnya. "Maaf."
Calypsa menatapnya selama satu detik. Ia melihat memar kecil di sisi rahangnya lagi dari sudut yang berbeda, dan memutuskan bahwa pria ini sudah membayar cukup mahal untuk keputusan itu dengan caranya sendiri.
"Kita bicara tentang ini nanti." ujar Calypsa. "Sekarang, ada yang lebih penting."
Ia merogoh saku dalamnya dan mengeluarkan drive kecil itu, mengulurkannya kepada Cyrus. "Seluruh bukti tentang Voss ada di sini. Dan koneksinya dengan Dragan. Dan lokasi yang belum kita sentuh."
Cyrus mengambil drive itu. Tangannya sempat menyentuh jari-jari Calypsa ketika mengambilnya, dan tidak satu pun dari mereka menarik tangan masing-masing terlalu cepat.
"Sekarang kita naik." ujar Cyrus akhirnya.
Dan mereka naik bersama ke lantai dua yang sudah mulai dipenuhi oleh orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya, untuk mulai merencanakan langkah terakhir, bahu mereka hampir bersentuhan di setiap anak tangga yang mereka lewati, seperti dua orang yang sudah menemukan cara untuk mengatakan banyak hal tanpa menggunakan satu kata pun.