Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
Pagi hari, Rani sudah siap-siap pergi bekerja. Semalam ia tidak bisa tidur karena kepikiran sama sahabatnya. Sudah setengah hari tidak ada kabar dari sahabatnya.
" Rani berangkat kerja dulu Buk"
" Iya Nak, hati-hati di jalan"
" Iya Buk, assalamualaikum"
" Wa'alaikumsalam"
Setelah berpamitan dengan ibunya Rani pun berangkat kerja. Seperti biasanya sampai di depan rumah sahabatnya, Rani memanggil nama sahabatnya.
" Assalamualaikum, Rumi"
Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Ia tidak putus asa, dia memanggil nama sahabatnya lagi.
" Berisik banget sih?!"
" Rumi ada mbak"
" Nggak ada "
" Nggak ada?. Emang Rumi pergi kemana mbak?"
" Mana aku tau dia pergi kemana"
" Mbak itukan saudaranya, masa nggak tau Rumi pergi kemana. Atau kalian mengusir Rumi dari rumah"
" Jaga mulut kamu ya. Aku nggak tau Rumi pergi kemana. Saat aku pulang kerja Rumi sudah nggak ada di Rumah "
" Aku nggak percaya dengan omongan mbak. Kalau sampai nanti siang belum ada juga kabar dari Arumi, aku akan laporkan mbak ke pak kades"
" Kamu pikir aku sembunyikan Rumi!. Apa untungnya bagi aku menyembunyikan anak itu. Kamu itu orang luar, jangan terlalu ikut campur urusan orang "
" Bagi mbak, aku memang bukan orang lain. Tapi bagi Rumi nggak. Aku ini sahabatnya Rumi, keluarganya Rumi"
" Jangan ngaco kamu. Sejak kapan kamu jadi keluarganya Rumi"
" Sejak kalian mengabaikan dan tidak mempedulikan perasaannya"
Anita terdiam mendengar ucapan Rani. Ia tidak menyangka kalau Rani akan lancang berbicara seperti itu.
" Justru kamu yang akan saya laporkan ke pak kades, karena mengganggu ketenangan orang "
" Mbak pegang kata-kata ku, kalau tidak ada kabar dari Arumi sampai siang nanti. Saya akan laporkan mbak dan keluarga mbak ke pak kades "
" Laporkan aja sana!. Kamu pikir aku tau dimana Rumi" kata Anita sambil menutup pintu rumahnya.
Rani tidak akan menyerah begitu saja. Kalau tidak ada kabar dari sahabatnya sampai siang nanti, maka ia akan melapor sama pak kades.
Perjalanan Rani menuju tempat kerja terasa sangat jauh. Kemarin-kemarin waktu sama Rumi, perjalanan terasa singkat.
" Rani, kamu kenapa?. Rumi mana?" tanya buk mandor.
" Rumi nggak berangkat Buk"
" Apa Rumi sakit?"
" Nggak tau Buk"
Ibuk mandor merasa ada yang aneh dengan Rani. Anak itu tidak semangat seperti biasanya.
" Kamu lagi ada masalah sama Rumi?"
" Nggak Buk"
Tangis Rani pun pecah dan membuat orang-orang di sana kaget karena Rani tiba-tiba menangis.
" Kamu kenapa" tanya buk mandor sambil memeluk Rani.
" Rumi, Buk"
" Kenapa dengan Rumi?. Apa terjadi sesuatu sama Rumi?"
Ibuk-ibuk yang lain juga penasaran dengan apa yang terjadi sama Rumi. Mereka tidak ingin terjadi apa-apa sama Rumi.
" Rumi hilang Buk"
Buk mandor dan ibuk-ibuk pekerja lainnya kaget mendengar ucapan Rani.
" Hilang gimana?. Rumi di culik begitu maksud kamu"
" Aku juga nggak tau Buk. Tapi dari kemarin siang nggak ada kabar Rumi. Aku tanya sama mbak Anita, dia bilang nggak tau Rumi pergi kemana"
Buk mandor mencoba menenangkan Rani. Ia juga khawatir dengan Arumi. Karena ia tau Arumi gadis yang baik.
" Aku takut Rumi kenapa-kenapa Buk. Dia nggak punya siapa-siapa diluar sana"
" Kamu tenang dulu ya, nanti kita cari Rumi sama-sama"
Apa yang dikatakan Rani ada benarnya. Arumi tidak punya sanak keluarga diluar sana.
" Ada apa ni Buk?" tanya pak mandor.
" Arumi hilang Pak"
" Hilang gimana maksud ibuk"
" Rani bilang Arumi tidak ada kabar dari siang kemarin "
" Sudah tanya sama keluarganya "
" Sudah, tapi mereka juga tidak tau Arumi kemana "
" Sebentar, bapak telpon pak kades dulu"
Pak mandor segera menghubungi pak kades. Bagaimana pun Arumi salah satu pekerja yang sangat rajin dan juga baik.
Assalamualaikum pak kades.
Wa'alaikumsalam pak Sanjaya, ada apa telpon pagi-pagi.
Saya mau melaporkan kalau salah satu pekerja saya hilang.
Hilang bagaimana maksud bapak.
Arumi anaknya Usman hilang.
Kapan kejadiannya.
Kemarin siang, mungkin sepulang dari acara kemarin.
Bukankah di desa kita tidak pernah ada kasus seperti ini.
Iya Pak, maka dari itu saya minta bantuan pak kades untuk mencari Arumi.
Keluarganya sudah tau Pak Sanjaya.
Sepertinya tidak tau Pak.
Saya akan segera ke tempat bapak untuk meminta keterangan lebih lanjutnya.
Baik Pak, saya tunggu.
Pak mandor menyimpan kembali ponselnya.
" Bapak sudah telpon pak kades, Buk. Mungkin sebentar lagi dia akan datang"
Rani bersyukur memiliki mandor seperti pak Sanjaya. Dia bos yang tidak pernah mengabaikan para pekerjanya.
" Sekarang kamu tenang ya, pak kades akan segera datang"
Rani mengangguk. Ia berharap semoga sahabatnya segera ketemu. Kalau mengharapkan keluarga Arumi pasti tidak bisa. Karena mereka tidak peduli dengan Arumi.
...***...
Pagi hari Arumi dibawa berkeliling rumah sama buk Ranti. Arumi mendengarkan dengan baik penjelasan tentang fungsi ruangan-ruangan yang ada di rumah besar itu.
Sekarang Arumi sudah mengerti fungsi ruangan-ruangan yang ada di rumah besar itu. Ia tidak menyangka kalau ada ruang musik juga di rumah besar itu.
" Sekarang kita ke taman ya, nanti mama akan perlihatkan koleksi bunga mama"
" Iya Ma"
Arumi dan Ranti turun menggunakan lift. Ini pertama kalinya juga Arumi naik lift. Ternyata semua alat di rumah mewah ini canggih-canggih.
Pertama Ranti mengajak Arumi pergi ke kebun sayur. Ranti sangat senang mengenalkan sayur-sayuran yang di tanamnya.
" Semua sayur ini mama yang tanam?"
" Iya, siapa lagi kalau bukan mama"
" Rumi pikir ada orang lain yang mengerjakannya"
" Maksud kamu tukang kebun?"
" Emang tukang kebun ya Ma namanya"
" Iya. Kalau tukang kebun tugasnya merapikan rumput-rumput liar"
Arumi mengangguk tanda mengerti.
" Kamu tau kenapa di rumah ini banyak pohon-pohonnya?"
" Nggak Ma. Emang kenapa Ma?"
" Karena mama ingin hawa rumah ini jadi sejuk, dan juga mama ingin suasananya seperti di pedesaan yang banyak pohon-pohon hijaunya"
Arumi teringat kampungnya. Bukan cuma itu, ia juga teringat sama sahabatnya.
Kamu sedang apa sekarang Ran.
" Kampung halaman Arumi seperti apa?"
" Kampung halaman Rumi sangat indah, Ma"
" Mau kah kamu menceritakan kampung halaman kamu sama mama"
Ranti membawa Arumi duduk di gazebo yang ada di taman. Di sana mereka bisa mengobrol dengan santai.
Arumi pun mulai menceritakan bagaimana kondisi kampung halamannya. Arumi senang menceritakan kampung halamannya pada Ranti.
" Wah, pasti di kampung kamu udaranya sangat sejuk"
" Iya Ma"
" Disana juga ada kebun sayur dan juga buah-buahan. Mama tau rasa buah-buahan di sana sangat manis. Apalagi mangga di sana"
" Mama jadi penasaran dengan kampung halaman kamu. Oh iya apa kamu mau menceritakan keluarga kamu"
Seketika wajah Arumi berubah menjadi murung dan sedih.
" Kalau kamu nggak mau menceritakannya nggak apa-apa "
Arumi bukan tidak mau menceritakan tentang keluarganya. Tapi tidak ada yang ingin ia ceritakan tentang keluarganya. Lebih tepatnya apa mereka bisa disebut dengan keluarga.
To be continued.
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian banyak-banyak 💞 💞
Happy reading guys 🤗🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..