Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Dunia yang Membunuh Anak Kecil
Malam masih berlangsung.
Hujan turun tanpa henti di luar rumah persembunyian, menghantam atap seng dan jendela tua dengan suara yang membuat suasana terasa semakin mencekam.
Di ruang tengah, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Semua mata tertuju kepada Kael.
Sementara Arda masih berdiri di tempatnya setelah menceritakan apa yang ia lihat beberapa jam sebelumnya.
Marcus Hale.
Nama itu masih menggantung di udara seperti awan hitam yang menolak pergi.
Pria yang telah bekerja untuk Leon Valdarez selama hampir sepuluh tahun.
Pria yang dianggap setia.
Pria yang selama ini tidak pernah dicurigai siapa pun.
Kael berdiri perlahan.
Tatapannya dingin.
Sangat dingin.
"Kalau apa yang kau lihat benar..."
ucapnya pelan.
"Maka kita baru saja menemukan pengkhianat."
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua orang memahami arti kalimat itu.
Jika Marcus benar-benar bekerja untuk Victor Nero, maka sebagian besar musibah yang menimpa mereka selama beberapa bulan terakhir akhirnya memiliki jawaban.
Gudang yang diserang.
Jalur distribusi yang terbongkar.
Lokasi persembunyian yang hampir ditemukan.
Semua itu tidak mungkin terjadi tanpa bantuan orang dalam.
Dan kemungkinan besar, orang itu adalah Marcus.
Malam itu tidak ada yang tidur.
Kael, Ravian, dan Darius berkumpul di ruang kerja hingga lewat tengah malam.
Berbagai dokumen memenuhi meja.
Laporan keuangan.
Data komunikasi.
Catatan perjalanan.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan Marcus diperiksa ulang.
Arda tidak ikut masuk ke ruang kerja.
Namun dari luar ia bisa melihat ketegangan di wajah mereka.
Untuk pertama kalinya sejak kematian Leon, Kael tampak benar-benar terguncang.
Bukan karena musuh.
Melainkan karena pengkhianatan.
"Masih sulit dipercaya."
suara Darius terdengar dari dalam ruangan.
"Marcus bukan orang baru."
"Aku tahu."
jawab Kael.
"Justru itu masalahnya."
Ravian membuka beberapa berkas lama.
"Kalau dia memang bekerja untuk Victor, berarti dia sudah melakukannya cukup lama."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Tidak ada seorang pun yang menyukai kemungkinan itu.
Karena semakin lama Marcus menjadi pengkhianat, semakin besar kerusakan yang telah ia lakukan.
Pagi datang bersama kabut tipis.
Rumah persembunyian terlihat normal seperti biasa.
Namun hanya orang-orang di dalamnya yang tahu bahwa ketenangan itu palsu.
Marcus muncul saat sarapan.
Ia mengenakan pakaian yang sama seperti biasanya.
Ia menyapa beberapa anggota.
Tertawa.
Bercanda.
Dan duduk menikmati sarapannya tanpa terlihat sedikit pun gugup.
Arda memperhatikannya dari seberang meja.
Semakin lama ia melihat Marcus, semakin sulit baginya memahami kenyataan.
Bagaimana seseorang bisa menyembunyikan wajah aslinya selama itu?
Marcus bahkan sempat tersenyum kepadanya.
Senyum yang dulu terasa ramah.
Kini terasa asing.
Arda langsung mengalihkan pandangan.
Sepanjang hari, Marcus diawasi secara diam-diam.
Tidak ada tindakan yang dilakukan.
Kael tidak ingin gegabah.
Ia membutuhkan bukti.
Bukti yang tidak bisa dibantah.
Menjelang sore, bukti itu akhirnya datang.
Ravian memasuki ruang kerja dengan langkah cepat.
Wajahnya tegang.
"Aku menemukannya."
Kael langsung berdiri.
"Apa?"
Ravian meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja.
"Rekening rahasia."
jawabnya.
Kael membaca laporan itu dengan teliti.
Transfer uang.
Jumlah besar.
Dilakukan secara berkala selama berbulan-bulan.
Lebih dari cukup untuk membeli kesetiaan seseorang.
"Siapa pengirimnya?"
tanya Kael.
Ravian menarik napas panjang.
"Perusahaan cangkang milik Victor Nero."
Ruangan langsung sunyi.
Semua keraguan menghilang saat itu juga.
Marcus Hale memang pengkhianat.
Kael menatap dokumen itu lama sekali.
Rahangnya mengeras.
Tangannya mengepal.
Bukan karena marah.
Melainkan karena kecewa.
"Aku yang merekrutnya."
gumamnya.
Darius menatap sahabat lamanya itu.
"Kael..."
"Aku yang membawa dia masuk ke keluarga ini."
lanjut Kael.
"Aku yang meyakinkan Leon bahwa dia bisa dipercaya."
Suara Kael terdengar lebih berat dari biasanya.
Marcus bukan sekadar anggota organisasi.
Ia pernah menjadi bagian dari keluarga mereka.
Dan sekarang semuanya berubah menjadi kebohongan.
Malam harinya, keputusan dibuat.
Marcus harus ditangkap.
Hidup-hidup.
Mereka membutuhkan jawaban.
Sudah berapa lama ia bekerja untuk Victor?
Informasi apa saja yang telah ia jual?
Dan apakah ada pengkhianat lain selain dirinya?
Semua pertanyaan itu harus terjawab.
Namun rencana tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Saat Darius dan beberapa orang menuju kamar Marcus menjelang tengah malam...
Pria itu sudah tidak ada.
Pintu kamarnya terbuka.
Lemari kosong.
Tasnya menghilang.
Dan jendela belakang terbuka lebar.
Marcus telah kabur.
"Brengsek!"
Darius menghantam dinding dengan keras.
Kael langsung memeriksa ruangan.
Tidak ada banyak barang yang tersisa.
Marcus pergi dengan tergesa-gesa.
Namun ia tetap meninggalkan sesuatu.
Selembar kertas kecil di atas meja.
Kael mengambilnya.
Tulisan tangan itu singkat.
Kalian terlambat.
Tatapan Kael langsung berubah.
Marcus tahu.
Ia tahu bahwa mereka telah menemukan rahasianya.
Kurang dari lima menit kemudian, pengejaran dimulai.
Tiga kendaraan keluar dari rumah persembunyian.
Hujan kembali turun saat mereka melaju menembus jalanan gelap.
Darius memimpin di depan.
Mereka mengikuti berbagai petunjuk yang berhasil ditemukan Ravian.
Jejak kendaraan.
Laporan warga.
Rekaman kamera jalanan.
Semua mengarah ke kawasan industri tua di pinggir kota.
Namun saat mereka tiba di lokasi...
Yang mereka temukan hanyalah mobil Marcus.
Kosong.
Pintu pengemudi terbuka.
Mesin sudah dingin.
Tidak ada tanda-tanda perlawanan.
Tidak ada mayat.
Tidak ada Marcus.
Darius berjongkok di dekat kendaraan.
Matanya memperhatikan tanah berlumpur di sekitar mobil.
Ada bekas ban lain.
Seseorang telah menjemput Marcus.
Seseorang yang sudah menunggu.
"Victor."
gumamnya pelan.
Marcus berhasil lolos.
Ketika Darius kembali menjelang subuh, suasana rumah semakin buruk.
Mereka kehilangan satu-satunya kesempatan mendapatkan jawaban.
Namun masalah mereka belum berakhir.
Karena beberapa jam kemudian, seorang informan datang dengan wajah pucat.
Pria itu hampir tersandung saat memasuki rumah.
Napasnya memburu.
"Ada masalah."
katanya.
Kael langsung berdiri.
"Apa lagi?"
Informan itu menelan ludah.
"Pelabuhan Timur."
ucapnya.
"Victor menyerang lagi."
Darius mengumpat pelan.
"Korban?"
Pria itu terdiam beberapa saat.
Seolah kesulitan mengucapkannya.
"Lima orang."
Jumlah itu sebenarnya tidak besar dibanding perang mafia lainnya.
Namun ekspresi informan tersebut membuat semua orang sadar bahwa ini berbeda.
"Sebutkan."
perintah Kael.
Pria itu menunduk.
"Mereka anak-anak."
Ruangan langsung membeku.
Arda merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Anak-anak?
"Berapa umur mereka?"
tanya Elena dengan suara pelan.
"Dua belas."
jawab informan itu.
"Tiga belas."
"Empat belas."
"Lima belas."
Setiap angka terasa seperti pukulan.
Mereka hampir seusianya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
tanya Ravian.
Informan itu menarik napas panjang.
"Mereka bekerja sebagai kurir."
"Membawa pesan."
"Membawa barang."
"Tidak bersenjata."
"Tidak melawan."
Darius mengepalkan tangannya.
"Lalu kenapa mereka dibunuh?"
Pria itu menunduk lebih dalam.
"Victor ingin memberi pesan."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Mereka dibunuh bukan karena berbahaya.
Bukan karena ancaman.
Bukan karena kesalahan.
Mereka dibunuh karena seseorang ingin menunjukkan kekuasaan.
Malam itu Arda tidak bisa tidur.
Ia berdiri di depan jendela kamarnya.
Memandangi kota yang tertutup hujan.
Pikirannya dipenuhi bayangan anak-anak yang tidak pernah ia kenal.
Anak-anak yang mungkin masih memiliki keluarga.
Masih memiliki mimpi.
Masih memiliki masa depan.
Namun kini semuanya telah direnggut.
Arda membayangkan dirinya berada di posisi mereka.
Membayangkan bagaimana rasanya menunggu kematian datang.
Membayangkan ketakutan yang mungkin mereka rasakan.
Dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami dunia yang selama ini berusaha disembunyikan Kael dan yang lainnya.
Ini bukan dunia yang memiliki aturan.
Ini bukan dunia yang mengenal belas kasihan.
Ini bukan dunia yang melindungi anak-anak.
Ini adalah dunia yang membunuh anak kecil.
Dan dunia itu sedang mengejarnya.
Hujan terus turun di luar jendela.
Sementara Arda mengepalkan tangannya perlahan.
Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya malam itu.
Sesuatu yang tidak akan pernah kembali seperti semula.
Bukan ketakutan.
Bukan kesedihan.
Melainkan tekad.
Karena jika dunia ini begitu kejam...
Maka suatu hari nanti ia harus cukup kuat untuk melawannya.
Dan tanpa disadari siapa pun...
Malam itu menjadi awal dari perubahan Arda Valdarez.
Perubahan yang suatu hari akan mengguncang seluruh dunia bawah.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪