NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seharusnya tidak tahu menau

di dalam toko buku tua itu mendadak merayap menjadi lebih berat. Di luar sana, hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang di distrik lama masih berjalan seperti biasa tanpa ada yang berubah, namun bagi Primus, satu baris kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Alaric sudah lebih dari cukup untuk menjungkirbalikkan seluruh analisisnya.

Tiga minggu lagi, di atas kapal Ocean Crown. Pria tua ini bahkan sanggup menyebutkan nama kapal pesiar mewah itu secara spesifik tanpa ada keraguan sedikit pun, padahal informasi mengenai lokasi pesta amal klan Aristokrat merupakan rahasia internal yang super ketat. Sejauh ini, hanya segelintir orang di lingkaran inti klan yang mengetahuinya, termasuk mendiang rencana Hector yang baru saja digagalkan semalam, dan sekarang, pria tua di hadapannya ini.

Primus menautkan jemari tangannya di atas meja jalinan kayu tua, mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap sedatar dinding batu, namun di dalam kepalanya, roda pikirannya berputar dengan kecepatan penuh. Bagaimana bisa Anda mengetahui detail sedalam itu?

Alaric kembali menyunggingkan senyum tipisnya yang sarat akan teka-teki. Aku tahu jauh lebih banyak daripada sekadar nama kapal pesiar itu, Primus.

Bisa berikan saya satu contoh konkret?

Pria tua itu mengangkat cangkir keramiknya, meniup uap teh yang mengepul pelan sebelum menjawab dengan nada kelewat santai. Masalah manipulasi dokumen palsu di Cabang Timur yang sedang kau selidiki bersama Marcus Hayden, pergerakan para penguntit amatir yang membuntuti mobil mewahmu sejak keluar dari restoran semalam, hingga manuver politik keluarga Laurent yang pelan-pelan mulai menarik dukungan finansial mereka darimu.

Untuk pertama kalinya sejak melangkah masuk ke dalam bangunan kuno ini, Primus benar-benar merasakan sensasi waspada yang nyata. Pria tua yang duduk di hadapannya ini sangat berbahaya, bukan karena kepemilikan senjata atau kekuatan fisik yang mengintimidasi, melainkan karena penguasaan informasinya yang terlampau presisi. Dalam dunia spionase, orang yang memegang terlalu banyak rahasia biasanya hanya memiliki dua kemungkinan posisi, menjadi sekutu yang paling berharga, atau justru musuh laten yang paling mematikan. Dan sialnya, Primus belum bisa menyimpulkan Alaric berada di kubu yang mana.

Kau sedang mencoba menakar dan menilai posisiku, bukan? cetus Alaric secara tiba-tiba, seolah-olah ia bisa membaca dengan mudah apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Primus.

Primus tidak berniat membantah maupun membenarkan tuduhan itu. Apakah mengamati lawan bicara termasuk kebiasaan yang buruk di mata Anda?

Sama sekali tidak, pria tua itu tertawa kecil, suara tawa parau yang terdengar hambar. Itu adalah insting dasar yang sangat bagus bagi seorang pemuda yang ingin memiliki umur lebih panjang di tengah lingkaran ular Aristokrat.

Alaric kemudian mengetuk permukaan sampul buku kuno yang masih tergeletak di atas meja dengan ujung telunjuknya. Kau tahu apa yang menjadi kesalahan terbesar sekaligus fatal dari seluruh anggota keluarga Aristokrat yang hidup di generasimu saat ini?

Primus menggelengkan kepalanya perlahan, memilih untuk membiarkan pria tua itu menjelaskan teorinya sendiri.

Mereka semua sudah melupakan esensi dari siapa diri mereka yang sebenarnya, Alaric menjeda kalimatnya, guratan wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius dan dingin. Di era sekarang, klan Aristokrat hanya sibuk saling sikut demi mengejar tumpukan uang, berebut kursi kekuasaan tertinggi, dan menimbun pengaruh di sektor pemerintahan. Padahal, jika kita menarik mundur sejarah ratusan tahun yang lalu, semua kemewahan duniawi itu sama sekali bukan menjadi tujuan utama dari berdirinya klan ini.

Lalu, apa tujuan utama yang sebenarnya?

Alaric menatap lurus ke arah ukiran lambang singa bersayap di halaman pertama buku kuno yang terbuka. Butuh waktu beberapa detik keheningan yang mencekam sebelum ia akhirnya bersuara. Menjaga sesuatu yang sangat sakral.

Primus langsung menangkap sebuah kejanggalan besar dari diksi yang dipilih oleh Alaric. Menjaga sesuatu? Apa objek yang Anda maksud?

Alaric kembali menyunggingkan senyum misteriusnya, menutup buku itu dengan gerakan lambat. Untuk saat ini, isi kepalamu belum sepenuhnya siap untuk menerima jawaban dari pertanyaan itu, anak muda.

Primus menghela napas pendek secara samar. Ia mulai menyadari bahwa pria tua di hadapannya ini tipe orang yang sangat gemar memberikan petunjuk setengah-setengah, sebuah taktik komunikasi yang cukup menjengkelkan bagi seseorang yang menyukai kepastian seperti dirinya.

Beberapa menit setelah obrolan menggantung itu selesai, Alaric perlahan bangkit berdiri dari kursi kayunya, lalu melangkah ke arah sudut area rak buku yang terletak di bagian paling belakang toko. Struktur rak di bagian itu tampak sangat mencolok karena ukurannya jauh lebih masif, kayunya lebih gelap, dan terkesan sudah berdiri kokoh di sana selama puluhan tahun tanpa pernah bergeser satu sentimeter pun.

Pria tua itu mengulurkan tangan kanannya, meraih salah satu punggung buku tebal ber-sampul kulit yang tampak menyatu dengan ornamen rak, lalu menariknya ke arah bawah.

Klik.

Sebuah suara denting dari mekanisme roda gigi besi kuno terdengar bergaung halus dari balik dinding. Primus langsung memusatkan seluruh fokus matanya ke arah sumber suara. Salah satu bagian dari dinding kayu yang dipenuhi deretan buku itu perlahan-lahan bergeser ke samping, membuka sebuah celah sempit yang cukup lebar untuk dilewati oleh tubuh manusia. Itu adalah sebuah akses menuju ruangan rahasia yang tersembunyi dengan sangat rapi.

Alis Primus terangkat sedikit melihat pemandangan tersebut. Tampaknya tempat ini memang benar-benar bukan sekadar toko buku bekas biasa.

Alaric terkekeh pelan melihat reaksi Primus, lalu memberikan isyarat dengan lambaian tangannya agar pemuda itu mengikutinya masuk ke dalam. Tentu saja bukan, mari ikut aku ke dalam jika kau ingin melihat bagian dari sejarah yang sebenarnya.

Setelah menimbang risiko selama beberapa detik dan memastikan tidak ada indikasi jebakan zat berbahaya di sekitar celah pintu, Primus akhirnya melangkah berdiri. Kali ini, rasa penasarannya kembali keluar sebagai pemenang mengalahkan kewaspadaannya.

Volume ruangan yang berada di balik dinding geser itu ternyata jauh lebih luas dan lapuk jika dibandingkan dengan area luar toko buku. Pencahayaan di dalam sini cenderung redup, hanya mengandalkan beberapa lampu pijar berwarna kuning temaram yang menggantung di langit-langit beton, namun intensitas cahayanya masih cukup memadai untuk memperlihatkan seluruh isi ruangan.

Tepat ketika kaki Primus melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan tersembunyi tersebut, langkah kakinya mendadak terkunci rapat di lantai sementaranya. Matanya menyapu dinding beton yang mengelilingi ruangan itu, di mana permukaannya dipenuhi oleh puluhan, bahkan mungkin ratusan lembar foto yang tertata rapi berdasarkan garis linier waktu.

Itu adalah galeri foto dari para anggota keluarga besar Aristokrat dari berbagai lintas generasi. Sebagian besar foto di sisi kiri tampak sangat tua dengan warna monokrom yang mulai pudar, sementara semakin ke kanan, kualitas fotonya tampak semakin modern dan relatif baru. Ada foto para mantan kepala keluarga terdahulu, para kandidat pewaris yang gagal, hingga foto orang-orang asing yang wajahnya sama sekali tidak pernah terdaftar dalam silsilah keluarga resmi di mansion utama.

Namun, ada satu detail mengerikan yang langsung memicu insting waspada Primus. Sebagian besar dari foto-foto yang menempel di dinding itu diberi tanda silang besar menggunakan tinta berwarna merah pekat, seolah-olah penanda itu sengaja digoreskan untuk mengindikasikan status dari subjek foto tersebut.

Apa arti dari semua pajangan foto ini? tanya Primus dengan suara rendah.

Alaric berjalan perlahan, berdiri di tengah-tengah galeri rahasia tersebut sembari menatap dinding beton di hadapannya. Ini adalah visualisasi dari lini sejarah kematian yang sebenarnya di dalam keluarga besar Aristokrat, anak muda.

Primus melangkah mendekat, mengamati salah satu foto lawas yang menampilkan sosok pria muda berusia sekitar tiga puluh tahun yang berwajah tampan dengan setelan jas formal bergaya klasik. Di bagian bawah bingkai fotonya, tertera sebuah label nama bertuliskan: Lucien Aristokrat. Dan tepat di bawah nama itu, terdapat catatan kecil: Meninggal dunia akibat insiden kecelakaan kegagalan rem kendaraan.

Pandangan mata Primus bergeser ke arah foto di sampingnya. Marcus Aristokrat. Catatan bawah: Meninggal mendadak akibat serangan jantung di usia muda. Lalu foto berikutnya lagi, Valen Aristokrat, dengan keterangan: Dinyatakan tewas akibat tenggelam dalam insiden kapal di danau pribadi.

Semakin banyak lembar foto yang ia amati dan baca keterangannya, semakin dalam pula kerutan yang tercipta di dahi Primus. Pola kematian yang terpampang di dinding ini mulai terasa sangat tidak wajar jika hanya ingin diklasifikasikan sebagai sebuah kebetulan murni. Terlalu banyak insiden tragis yang terjadi secara mendadak, terlalu banyak diagnosis medis yang janggal, dan hampir seluruh korban yang diberi tanda silang merah ini memiliki satu kesamaan status yang mutlak, mereka semua adalah para kandidat potensial terkuat untuk menjadi pewaris utama klan pada zamannya masing-masing.

Jadi, sekarang kau sudah mulai bisa membaca benang merahnya, bukan? ucap Alaric dengan suara parau yang terdengar seperti bisikan kematian di ruang sunyi itu.

Primus tidak langsung memberikan jawaban lisan. Matanya masih terus terpaku menatap jajaran foto berdarah tersebut. Konspirasi ini sudah berjalan selama puluhan tahun, bahkan mungkin sudah melewati hitungan satu abad lebih. Pola eksekusinya selalu konstan dan berulang secara rapi dari generasi ke generasi, setiap kali ada seorang calon pewaris berbakat yang mulai menunjukkan taringnya untuk memimpin klan, mereka akan langsung dilenyapkan dari papan catur menggunakan berbagai skenario kecelakaan yang tampak natural. Seolah-olah, ada satu kekuatan tak terlihat yang terus bekerja secara konsisten dari balik kegelapan untuk mengontrol siapa saja yang boleh dan tidak boleh memimpin keluarga Aristokrat.

Ini jelas bukan rentetan insiden kebetulan yang tidak disengaja, ucap Primus akhirnya dengan nada suara yang bergetar dingin.

Tentu saja bukan kebetulan, balas Alaric menegaskan analisis Primus.

Suasana di dalam ruangan bawah tanah itu kembali diselimuti oleh keheningan yang mencekam. Alaric kemudian berjalan lambat menuju ke sudut dinding paling kanan, tempat di mana jajaran foto generasi paling terbaru dipajang. Ia mengulurkan tangannya, mengambil satu lembar foto terakhir yang tampaknya baru saja dicetak dan ditempelkan di sana selama beberapa minggu terakhir.

Begitu Alaric membalikkan posisi foto tersebut ke arahnya, sepasang mata abu-abu Primus langsung menyipit tajam. Sosok manusia yang berada di dalam foto terbaru itu adalah dirinya sendiri, sebuah foto potret yang diambil secara rahasia dari jarak jauh saat ia sedang menghadiri rapat internal klan beberapa waktu yang lalu.

Di bagian bawah foto itu, tertulis nama lengkapnya dengan guratan tinta hitam yang tegas: Primus Valerian Aristokrat.

Namun, bukan label nama itu yang membuat suhu udara di dalam ruangan terasa mendadak anjlok hingga ke titik beku, melainkan satu baris kalimat penjelas yang sengaja ditulis menggunakan tinta merah menyala tepat di bawah namanya.

"Target beeikutnya yang harus di eliminasi"

Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, Primus benar-benar memahami satu hakikat yang fundamental secara utuh. Kompetisi pencarian pewaris resmi yang baru saja diumumkan oleh para tetua keluarganya kemarin lusa, kemungkinan besar hanyalah sebuah topeng permukaan yang sengaja diciptakan untuk memancing keluar mangsa. Karena jauh di balik semua sandiwara perebutan takhta itu, ada sebuah permainan eliminasi yang jauh lebih besar, gelap, dan mematikan yang sedang berjalan di balik layar.

Dan sekarang, suka atau tidak suka, nama Primus sudah tertulis permanen di atas papan permainan berdarah tersebut sebagai target utama.

Bersambung...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!