NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demo

Hari yang ditunggu untuk pelaksanaan demo akhirnya tiba.

Sejak pagi, halaman kampus sudah dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi yang bersiap turun ke jalan. Spanduk-spanduk besar terbentang di berbagai sudut, berisi kritik dan sindiran tajam untuk pemerintah.

Beberapa mobil bak terbuka berjajar di depan gerbang kampus untuk membawa massa menuju gedung DPR.

Suasana ramai dipenuhi teriakan koordinasi, suara toa, juga gemuruh semangat para mahasiswa.

Aryan tampak sibuk membantu teman-temannya naik ke atas mobil.

“Kak!” Suara yang sangat dikenalnya membuat Aryan spontan menoleh.

“Kia?” Laki-laki itu langsung terkejut melihat Zaskia berdiri tak jauh dari sana dengan wajah pucat dan mata sendu.

“Yan, Kia tuh!” seru Andre sambil menyenggol bahu Aryan.

“Temuin dulu sana.”

“Iya, kita tunggu kok,” sambung salah satu temannya.

Aryan mengangguk cepat lalu segera melompat turun dari bak mobil.

Langkahnya lebar menghampiri Zaskia. “Kamu ngapain di sini?”

Begitu sampai di hadapan istrinya, Aryan langsung menangkap kedua tangan dingin perempuan itu.

“Jangan pergi, please...” suara Zaskia bergetar. “Perasaan Kia enggak enak, Kak.”

Aryan langsung menghela napas pelan. Lagi-lagi firasat itu.

“Di sana aman kok, sayang.” Aryan mengusap lembut kedua pipi Zaskia yang mulai memerah menahan tangis. “Enggak akan terjadi apa-apa sama kakak.”

“Tapi—”

“Kakak janji bakal sering ngabarin kamu.” Aryan menatap dalam kedua mata istrinya. “Dan kakak bakal pulang setelah semuanya selesai. Oke?”

Zaskia menggigit bibir bawahnya. “Kalau gitu Kia ikut.”

“Enggak bisa.” Aryan langsung menggeleng tegas. “Kamu lagi hamil. Kamu gak boleh kecapekan.”

“Tapi Kia takut...”

“Dengerin kakak.” Suara Aryan melembut. “Di sana rame banget. Kakak juga gak sendiri, ada Andre, Kafa, sama Arshaf. Insya Allah aman.”

Zaskia menunduk.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.

Aryan langsung panik sendiri. Ia benar-benar seperti sedang menghadapi anak kecil yang takut ditinggal.

Di sisi lain, Kafa yang sejak tadi membantu mahasiswa lain naik ke mobil tanpa sadar terus memperhatikan mereka.

Dadanya terasa sesak melihat Zaskia menangis karena Aryan.

Karena pikirannya terpecah, beberapa kali ia salah meletakkan spanduk.

“Woi, Kafa! Jangan melamun lo!” seru salah satu temannya. “Bantuin anak-anak naik!”

Kafa menghela napas berat. “Iya.”

Tak jauh dari sana, Giska juga memperhatikan Aryan dan Zaskia dalam diam.

Perempuan itu menunduk pelan. Hatinya kembali terasa nyeri.

Namun kali ini bukan karena kecewa. Melainkan karena ia sadar, Aryan benar-benar mencintai perempuan itu sebesar itu.

“Kia.” Aryan kembali memanggil lembut.

“Yaudah, pergi sana...” ucap Zaskia lirih sambil mengusap air matanya kasar.

“Sayang...” Aryan memegang kedua bahu perempuan itu. “Jangan kayak gini dong. Kakak jadi gak tenang.”

Zaskia terisak kecil.

“Kakak janji bakal jaga diri baik-baik.” Aryan menatapnya penuh kesungguhan. “Kakak janji gak bakal ninggalin kamu. Kakak juga janji bakal pulang cepat.”

Tangis Zaskia pecah pelan. “Kia pegang janji kakak.”

Aryan langsung menghela napas lega. Tanpa pikir panjang, ia menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan erat.

“Makasih ya, sayang.”

Tubuh Zaskia yang hanya setinggi dadanya tenggelam sempurna dalam dekapan hangat itu.

“Aryan!”

“WOI!”

“Malah peluk-pelukan!”

“Buruan berangkat!”

Teriakan teman-temannya membuat Aryan akhirnya terpaksa melepas pelukan.

Ia mengusap pipi Zaskia sekali lagi. “Habis ini langsung pulang ya.”

Zaskia mengangguk pelan.

“Kakak pergi dulu.” Aryan mengecup singkat kening istrinya. “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam...” jawab Zaskia lirih.

Perempuan itu hanya bisa berdiri diam memandangi punggung Aryan yang perlahan menjauh.

Di tengah riuh teriakan massa dan kibaran spanduk, hati Zaskia justru terasa semakin sunyi.

Entah kenapa.

Perasaan takut itu masih belum hilang sedikit pun.

***

Para mahasiswa dari berbagai kampus di Jabodetabek mulai memadati area Gedung DPR RI.

Sepanjang perjalanan menuju gedung tersebut, suara orasi terus menggema tanpa henti. Tuntutan demi tuntutan disuarakan lantang—mulai dari penolakan kebijakan pemerintah hingga desakan hukuman mati bagi para koruptor.

Tak hanya di ibu kota, mahasiswa di berbagai daerah Indonesia pun ikut turun ke jalan melakukan aksi serupa di gedung DPRD wilayah masing-masing.

Jalanan seketika berubah menjadi lautan manusia.

Spanduk-spanduk besar terbentang di mana-mana, berisi sindiran tajam dan kalimat protes untuk pemerintah.

Sementara itu, barisan polisi lengkap dengan tameng dan perlengkapan pengamanan sudah berjaga di depan gedung DPR.

“Turunkan harga pangan!”

“Adili koruptor!”

“Hukum mati koruptor!”

Teriakan demi teriakan menggema bersahut-sahutan memenuhi udara pagi menjelang siang.

Aryan berdiri di atas mobil bak terbuka bersama mahasiswa lain.

Namun di tengah riuhnya suasana, pikirannya justru dipenuhi wajah Zaskia. Wajah sendu istrinya tadi pagi terus terbayang di kepalanya.

Entah kenapa, hati Aryan juga terasa tidak tenang.

“Yan! Diam bae lo!”

Aryan tersentak ketika salah satu temannya menepuk bahunya.

“Heh?” Aryan langsung menoleh.

“Orasi woi, malah bengong!”

Aryan tersenyum tipis. “Iya.”

Ia kemudian kembali fokus, mengambil toa lalu mulai menyuarakan tuntutan bersama mahasiswa lainnya.

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti total karena jalanan sudah terlalu padat dipenuhi massa.

Andre dan anggota BEM lain memutuskan turun untuk bergabung bersama kerumunan mahasiswa.

Di kejauhan, Giska memperhatikan Aryan dengan mata berbinar kagum..Setiap kali laki-laki itu berorasi, rasa kagumnya seakan bertambah besar.

Aryan memang selalu terlihat berbeda saat berbicara tentang keadilan.

Namun senyum tipis di bibir Giska perlahan memudar ketika pandangannya jatuh pada cincin kawin di jari manis Aryan. Dadanya kembali terasa nyeri.

“Aw!” Giska meringis ketika seseorang tak sengaja menyenggol bahunya cukup keras.

“Eh, sorry! Sorry!” Seorang laki-laki buru-buru meminta maaf.

“Iya, gapapa. Santai aja,” jawab Giska sambil membenarkan posisi tasnya.

“Sakit enggak? Gue tadi kedorong orang belakang.”

“Enggak kok. Maklum, lagi rame.”

Baru setelah itu Giska menoleh..“Oh...” perempuan itu sedikit terkejut. “Lo Arshaf kan? Kembarannya Aryan?”

“Iya.” Arshaf mengangguk kecil. “Lo Giska? Sekretaris BEM?”

“Iya. Oh salam kenal ya. Kita sering ketemu tapi nggak pernah ngobrol."

"Iya juga sih. Salam kenal juga."

Giska mengangguk. "Lo sendirian aja? Cowo yang biasa sama lo mana?"

"Kafa maksud lo? Tadi sama dia. Tapi sekarang gue gak tau dia udah kemana." Arshaf kemudian menatap sekitar mencari keberadaan Kafa di tengah padatnya manusia.

Giska ikut memandang kerumunan massa yang saling berdesakan di depan pagar gedung DPR.

Beberapa mahasiswa bahkan mulai mendorong pagar sambil berteriak lantang menyuarakan tuntutan mereka.

“Eh Gis, gue ke sana dulu ya.”

“Oke.” Giska mengangguk. “Hati-hati. Rame banget.”

“Sip.” Arshaf tersenyum tipis lalu menerobos kerumunan sambil kembali ikut berorasi.

Giska memandang punggung laki-laki itu sampai hilang di tengah lautan manusia.

“Giska! Sini!” Salah satu temannya datang menarik tangan perempuan itu menuju tempat yang sedikit lebih aman dari kericuhan.

Sementara itu, di kediaman Zhafran.

Atas permintaan Aryan, Zaskia memilih pulang ke rumah orang tuanya agar tidak sendirian di apartemen selama demo berlangsung.

Begitu tiba, perempuan itu langsung duduk di depan televisi dan menyalakan siaran berita yang menayangkan aksi demonstrasi secara langsung.

Layar televisi dipenuhi gambar ribuan mahasiswa yang memenuhi area DPR.

“Kia, makan dulu yuk.” Ayesha datang menghampiri sambil membawa sepiring makanan.

“Nanti aja, Bun...” jawab Zaskia pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi. “Kia mau lihat Kak Aryan.”

Ayesha menatap layar televisi lalu mengerti.

Perempuan itu akhirnya duduk di samping putrinya.

“Aryan udah ngabarin belum?”

Zaskia menggeleng. “Belum, Bun... Kia jadi khawatir.”

“Doain aja semoga Aryan gapapa.” Ayesha mengusap lembut pundak putrinya. “Di sana Aryan juga gak sendiri. Ada Arshaf sama Kafa. Insya Allah mereka aman.”

“Aamiin...”

Namun meski mengucapkannya, hati Zaskia tetap terasa gelisah.

“Gak tau kenapa,” lirihnya pelan. “Dari semalam perasaan Kia gak enak banget, Bun.”

Ayesha menoleh penuh perhatian.

“Kia takut Kak Aryan kenapa-kenapa waktu demo.”

“Syut...” Ayesha langsung menggenggam tangan putrinya. “Jangan mikir yang aneh-aneh.”

Wanita itu kemudian mengusap lembut perut Zaskia yang masih rata. “Perempuan hamil memang biasanya lebih sensitif. Jadi jangan terlalu dipikirin.”

Zaskia menunduk pelan. “Mungkin...” gumamnya lirih.

“Tapi jangan kebanyakan khawatir ya.” Ayesha tersenyum menenangkan. “Nanti bayi kamu ikut sedih.”

Zaskia menghela nafas pelan seraya mengangguk, ia membenarkan ucapan Ayesha. Belakangan ini memang perasaannya agak sensitif. Ia kerap kali merasa takut Aryan akan meninggalkan dan membiarkannya menanggung fase kehamilan seorang diri. Semoga saja benar juga kegelisahan yang Zaskia tanggung hanya perasaannya saja, bukan firasat yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

***

Waktu terus bergulir, tetapi massa tak kunjung mereda.

Aksi yang awalnya berjalan damai perlahan berubah ricuh ketika para mahasiswa tidak menemukan titik terang dari tuntutan yang mereka ajukan.

Negosiasi yang dilakukan sejak siang bahkan tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.

Para pejabat seolah menutup telinga. Mereka sama sekali tidak memberi izin kepada perwakilan mahasiswa untuk masuk ke ruang paripurna dan berdiskusi secara langsung.

Hal itu sontak memancing kemarahan massa.

Beberapa mahasiswa mulai mendorong pagar pembatas polisi.

Ada yang memanjat pagar. Ada pula yang melempar batu ke arah aparat.

Suasana berubah kacau. Karena massa mulai bertindak anarkis dan sulit dikendalikan, polisi akhirnya menembakkan water cannon serta gas air mata ke arah kerumunan.

“ARGHH!”

Orang-orang berhamburan. Batuk dan teriakan terdengar di mana-mana.

Aryan, Arshaf, dan beberapa mahasiswa lain ikut terkena efek gas air mata.

Mata mereka memerah dan sulit terbuka.

“Semuanya tenang! Jangan anarkis!” teriak Andre sambil terus mencoba mengendalikan massa.

“Yan, lo gapapa?” tanya Kafa panik melihat Aryan yang berkali-kali mengusap matanya.

Aryan mengangguk pelan sambil mengangkat tangan memberi tanda bahwa dirinya masih baik-baik saja.

Kafa lalu menoleh ke Arshaf. “Lo bisa melek nggak?”

“Bisa...” Arshaf batuk beberapa kali. “Masih aman gue.”

Beruntung Kafa sempat menghindar ketika gas air mata ditembakkan ke arah mereka.

Tak lama setelah situasi sedikit mereda, Andre kembali memberi aba-aba.

“MAJU LAGI!” Sorak mahasiswa langsung menggema.

Mereka kembali bergerak maju sambil terus berorasi, menuntut agar pemerintah mau mendengarkan suara rakyat.

Namun hingga waktu terus berjalan, perwakilan mahasiswa tetap tidak diberi izin masuk.

Hal itu semakin memancing emosi massa.

Kericuhan kedua pun terjadi. Kali ini lebih besar.

Meski berkali-kali ditembak water cannon dan gas air mata, para mahasiswa tetap bertahan dan terus mendesak masuk ke area gedung DPR.

Pagar pembatas bahkan nyaris roboh.

Melihat situasi makin tidak terkendali, aparat akhirnya memilih mundur.

Daripada tertimpa pagar yang hampir ambruk, mereka membiarkan massa masuk ke halaman gedung.

Sorak kemenangan langsung menggema.

Tak lama kemudian, salah satu petugas gedung keluar dan menyampaikan bahwa beberapa perwakilan mahasiswa dipersilakan masuk untuk berdiskusi.

Andre, Aryan, dan beberapa anggota BEM dari berbagai kampus langsung ditunjuk sebagai perwakilan.

Di dalam ruang diskusi, suasana jauh dari kata tenang.

“Kami meminta bapak dan ibu sekalian yang mengaku sebagai wakil rakyat untuk menghapus kebijakan yang jelas-jelas merugikan rakyat!” suara Andre menggema penuh emosi.

“Bukankah sila kelima Pancasila berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Lalu kenapa pemerintah justru bersikap seolah tidak peduli pada rakyatnya sendiri?”

Beberapa mahasiswa langsung bersorak menyetujui.

Aryan yang berdiri di belakang Andre membantu menunjukkan poin-poin tuntutan yang harus disampaikan.

“Kami juga meminta agar Suryono dihukum mati!” lanjut Andre tegas. “Karena korupsi yang dia lakukan sudah merugikan negara dan rakyat dalam jumlah besar!”

Perdebatan sengit pun terjadi.

Beberapa pejabat mendukung tuntutan mahasiswa.

Sebagian lain menolak keras.

Suasana ruang rapat memanas selama berjam-jam.

Hingga akhirnya menjelang sore, pihak DPR menyatakan bahwa tuntutan mahasiswa akan dipertimbangkan secara serius.

Kabar itu langsung disambut sorak kemenangan di luar gedung.

Kericuhan perlahan mereda.

“ALHAMDULILLAH!”

“Allahu Akbar!”

“Allahu Akbar!”

“Kalau koruptor itu gak dihukum mati, kita demo lagi!”

“SETUJU!”

“Koruptor harus mati!”

“Koruptor harus mati!”

Sorak mahasiswa terus menggema memenuhi area gedung DPR.

Massa mulai membubarkan diri.

Wajah-wajah lelah kini dipenuhi rasa puas.

Termasuk Aryan.

Begitu keluar dari area gedung, laki-laki itu langsung mengambil ponselnya.

Yang pertama terlintas di pikirannya hanyalah Zaskia.

Ia berjalan sedikit menjauh dari teman-temannya untuk menelepon sang istri.

Sementara Kafa dan Arshaf sudah berada di dekat mobil, membantu mahasiswa lain naik.

Beberapa detik kemudian, panggilannya tersambung.

“Assalamu’alaikum, Kia—”

“Kak! Kakak gapapa kan?!”

Aryan langsung tersenyum kecil.

“Kakak enggak luka kan? Sekarang kakak di mana? Kia liat di berita orang-orang udah bubar. Kakak kapan pulang?”

Zaskia langsung mencecarnya tanpa jeda sampai lupa menjawab salam.

“Salam kakak dijawab dulu, sayang,” goda Aryan lembut.

“Astaghfirullah...” Zaskia langsung meringis malu. “Wa’alaikumussalam.”

Aryan terkekeh kecil.

Kalau perempuan itu ada di depannya sekarang, mungkin pipinya sudah ia cubit gemas.

“Iya, kakak pulang kok.” Aryan berjalan santai menuju mobil. “Ini lagi mau naik mobil. Kamu jangan khawatir, kakak baik-baik aja. Alhamdulillah gak ada luka sedikit pun.”

“Alhamdulillah...” suara Zaskia terdengar lega. “Kia khawatir banget.”

Aryan tersenyum tipis. “Kamu udah sholat?”

“Udah. Kakak?”

“Dzuhur kakak lewat.” Aryan mengusap tengkuknya pelan. “Tadi rame banget, enggak nemu tempat buat sholat.”

“Yaudah nanti diqadha ya.”

“Iya. Habis ini kakak cari masjid dulu buat sholat Asar. Setelah itu langsung pulang.”

“Hm.”

“Kamu pengen apa?” tanya Aryan lagi. “Biar sekalian kakak beliin.”

“Kia enggak mau apa-apa.”

“Yakin?”

“Kia cuma mau kakak pulang...” suara Zaskia melembut. “Terus jemput Kia. Nanti kita bikin mie rebus pakai telur di rumah.”

Aryan tertawa pelan. “Jadi gak sabar pengen pulang. Yaudah kakak tutup ya teleponnya. Assa—”

“Kak tunggu!”

“Apa lagi, sayang?”

“Habis ini chat Kia ya.”

Aryan tersenyum.

“Kita chatan sampai kakak nyampe rumah.”

“Iya iya.” Aryan menggeleng geli. “Takut banget kayaknya kehilangan kakak.”

“Apaan sih!” Zaskia langsung malu sendiri. “Yaudah Kia matiin ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

“Muaaach!”

Aryan langsung terdiam.

Beberapa temannya yang sejak tadi memperhatikan langsung bersorak heboh.

“WOOOO!”

“BUCIN!”

“Balas woi!”

Aryan meneguk ludah pelan sambil menatap teman-temannya yang sudah cekikikan.

“Kakak diem bae tuh!”

“Balas lah, Yan!”

Aryan memejamkan mata sebentar menahan malu.

Sementara di ujung telepon, Zaskia malah tertawa kecil.

“Balas kak,” rengek perempuan itu.

“Hah?”

“Bilang muach juga.”

Aryan langsung menoleh ke kanan kiri.

Andre dan beberapa temannya sudah menatapnya penuh godaan.

“Wih malu dia!”

“Ketua BEM takut bini!”

“Cepetan balas!”

Aryan akhirnya menutup wajah dengan sebelah tangan sambil tertawa pasrah.

“Muaach...” ucapnya pelan.

“ENGGAK KEDENGERAN!”

Aryan langsung melotot ke arah teman-temannya.

Zaskia malah tertawa makin keras di sana.

Aryan akhirnya menggeleng pasrah lalu mendekatkan ponsel ke bibirnya. “Muaach, sayang.”

“HEEEHHHH!”

Sorakan teman-temannya langsung pecah memenuhi suasana.

Sementara Aryan cuma bisa tertawa malu sambil memijat pelipisnya sendiri.

Teman-temannya masih terus menggoda Aryan sepanjang langkah menuju mobil.

Aryan hanya bisa menghela napas pasrah.

Begitu tiba di dekat kendaraan, ia langsung masuk dan duduk di kursi depan, tepat di samping Andre yang bertugas menyetir.

“Kangen berat, Yan?” goda Andre sambil terkekeh.

“Dre, jangan ikut-ikutan deh.” Aryan memijat pelipisnya. “Gue malu, sumpah.”

Andre malah tertawa makin keras. “Ya salah sendiri. Bucin enggak lihat tempat.” Ia menyalakan mesin mobil. “Lo juga tau anak-anak pada jahil.”

Aryan mendengus panjang lalu memilih diam meski dari kursi belakang masih terdengar suara-suara godaan yang membuat telinganya panas.

Mobil perlahan melaju meninggalkan area Gedung DPR.

Kendaraan yang ditumpangi Aryan berada tepat di belakang mobil bak terbuka yang dinaiki Kafa, Arshaf, dan mahasiswa lainnya.

Di bak belakang itu, suasana mulai lebih tenang karena kelelahan usai demo seharian.

Kafa duduk menyender sambil memejamkan mata.

Sementara Arshaf menatap kosong ke arah jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan sore hari.

“Lo haus enggak?”

Arshaf menoleh ketika mendengar suara Giska. “Iya?”

“Lo haus gak?” Giska menyodorkan sebotol air mineral yang masih tersegel. “Gue bawa lebih.”

Arshaf menatap botol itu sebentar. “Terus lo gimana?”

“Gue udah minum. Itu buat lo aja.”

“Thanks ya.”

Giska tersenyum kecil lalu mengangguk.

Arshaf membuka segelnya dan langsung meneguk air itu cukup banyak hingga tersisa setengah botol.

“Kaf.”

“Hm?” sahut Kafa malas tanpa membuka mata.

“Minum enggak?”

Kafa menggeleng pelan.

“Yakin?”

“Iya.” Kafa mengusap wajahnya kasar. “Gue cuma pengen pulang terus tidur, Shaf.”

Arshaf mengangkat bahu lalu menutup kembali botol air mineral itu.

“Capek juga ya,” ujar Giska mencoba membuka obrolan.

“Iya.” Arshaf menghembuskan napas panjang. “Lo tadi sempat kena gas air mata enggak?”

“Enggak. Soalnya gue gak ikut masuk terlalu depan.”

“Iya sih. Bahaya juga kalau lo sampai ikut nerobos. Apalagi lo cewek.”

“Iya.” Giska mengangguk kecil. “Lo tadi kena?”

“Kena.” Arshaf tertawa hambar. “Kalau Kafa enggak. Aryan juga kena tadi.”

“Aryan?”

“Iya.”

“Terus sekarang gimana?” tanya Giska spontan dengan nada cemas.

Arshaf langsung meliriknya sekilas. “Udah gapapa kok.” Ia menunjuk ke arah depan. “Tuh orangnya.”

Giska refleks melihat ke depan.

Dari kaca mobil yang tembus pandang, terlihat Aryan duduk di samping Andre sambil memainkan ponselnya.

Napas lega langsung terlepas dari bibir Giska.

Arshaf yang memperhatikan ekspresi itu mendadak menyipitkan mata..“Lo keliatan khawatir banget.”

Giska langsung salah tingkah. “Hah?”

“Lo suka ya sama kembaran gue?”

Pertanyaan frontal itu sukses membuat Giska tersedak ludah sendiri.

“Apaan sih lo,” bantahnya cepat. “Enggak lah. Gue cuma khawatir karena dia temen satu organisasi sama gue.”

“Baguslah.” Arshaf menyandarkan tubuhnya santai. “Aryan juga udah nikah. Istrinya sekarang lagi hamil.”

Deg!

Jantung Giska terasa seperti disengat sesuatu.

Namun perempuan itu memilih diam.

Tatapannya kembali mengarah ke mobil depan dengan hati yang terasa diremas pelan.

Tiba-tiba—

Dor!

Dor!

Dor!

Suara letusan senjata api menggema keras di jalanan.

Semua orang sontak terkejut.

Beberapa mahasiswa refleks menutup telinga sambil berteriak panik.

“Astaghfirullah!”

“Apa itu?!”

Tak lama setelah suara tembakan terdengar, mobil yang dikendarai Andre tiba-tiba oleng hebat.

Ban belakangnya pecah.

“WOI!” Andre refleks membanting setir.

Mobil keluar jalur dan nyaris menghantam pembatas jalan.

Ternyata tembakan tadi berasal dari sekelompok orang misterius di dalam mobil hitam yang melaju cepat di sisi kanan jalan.

Mereka sengaja menembak ban mobil yang ditumpangi Aryan.

Setelah melakukan aksinya, mobil hitam itu langsung melesat pergi meninggalkan lokasi.

“ASTAGHFIRULLAHALADZIM!” Arshaf langsung berdiri panik di bak belakang. “ARYAN!”

1
Syti Sarah
semoga Aryan cpat sadar dan smbuh .sumpah nyesek bnget 😭😭😭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok ada aksi tembakan sih. bisa panjang nih urusannya
Syti Sarah
ya Allah,semoga kamu gak kenapa2 yan.amiin
syora
astagfirullah ya allah smoga semua slamat dlm lindungnNya
ini pasti slah stu suruhan sikuruptor tuh
ya allah
Anak manis
hrsnya kmu dengerin istrimu aryan
Syti Sarah
psti heboh bnget ni umma zuya 🥰🥰
Syti Sarah
Masya Allah bucin bnget sih Aryan 🥰🥰
Ayu Oktaviana
jodohnya kafa msih unyu unyu😁😁😁😂😂😂
syora
dara nih kyak si onty zura 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh nya kafa masih sd
Syti Sarah
kocak juga nih anak nya Azzam 😂😂
Shabrina Darsih
blm Tau aja kia. uda nikah pasti hbs tuh sm aryan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya nggak papa lah wong yang hamilin kan suami sendiri
nan luxiao
suka banget, dari cerita athar cila, abidzar zuya, azzam aira, sama yang ini selalu seruu banget
Syti Sarah
waah,mmang ya umma zuya absurd nya gak ada lawan.msa anak sndiri di bilang hamil 😂😂
anakkeren
best ,❤️
Anak manis
cakep buat authornya 🥰
just a grandma
seruuu
cutegirl
pokoknya aku sllu menunggu cerita dri author ini
cutegirl
ada ada aja😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!