NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Theo dan Tristan

"Akhirnya kemarahan ayah kemarin bisa ku lewati." batin Theo.

Pagi-pagi itu, Theo sudah langsung datang ke kantornya, mulai memeriksa berkas apa saja yang akan dikerjakan.

Tak lama, ibunya menelpon. Theo menghela napas, lalu menggeser tombol hijau.

"Halo, Ibu? Ada apa? Aku agak sibuk pagi ini—"

"Theo, Sayang! Bagaimana acaramu semalam?" potong Ratna dari telepon dengan nada suara yang sangat khawatir sekaligus penasaran.

"Uang 20 juta dan perhiasan emas yang ibu titipkan lewat Bianca kemarin sudah cukup, kan? Klien besarmu itu tidak jadi membatalkan kontrak, kan?"

Mendengar ucapan ibunya, Theo langsung melongo. Gerakan tangannya yang hendak menyusun berkas seketika terhenti.

"Uang? Perhiasan? Klien semalam?" tanya Theo dengan wajah bodoh.

"Bu, apa maksud Ibu? Aku semalam lembur sendirian di kantor sampai jam satu pagi. Tidak ada jamuan klien, dan aku tidak pernah meminta uang sepeser pun pada ibu!"

Kini giliran Ratna yang terpekik di telepon.

"Lho?! Tapi kemarin siang Bianca menangis di depan ibu saat kami pulang dari mall! Dia bilang kamu menelepon dia karena butuh dana darurat 20 juta untuk menjamu klien penting malam itu juga. Karena ibu panik, ibu langsung berikan uang tabungan dan emas ibu ke Bianca!"

...Dar!...

Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepala Theo.

"Bianca..." desis Theo dengan suara rendah yang sarat akan amarah.

"Bu, nanti aku telepon lagi."

Theo langsung mematikan sambungan telepon, mengambil kunci mobilnya, dan berjalan keluar ruangan.

Siska yang melihat bosnya pergi dengan wajah sekaku es batu hanya bisa menunduk ketakutan, tidak berani menyapa.

...****************...

Setengah jam kemudian, pintu unit apartemen mewah Bianca digedor dengan kasar dari luar.

...Brak! Brak! Brak!...

Bianca yang baru saja selesai memakai masker rambut terlonjak kaget. Begitu dia membuka pintu, tubuhnya langsung terdorong ke belakang karena Theo merangsek masuk dengan wajah yang memerah padam akibat menahan amarah.

"Theo? Kamu kenapa—"

"Di mana uang dua puluh juta milik ibuku, Bianca?!" bentak Theo tanpa basa-basi, suaranya menggelegar di dalam apartemen yang sepi itu.

Jantung Bianca mencelos. Keringat dingin langsung membasahi punggungnya. "Sial, wanita tua itu bermulut ember! Kenapa dia menanyakannya pada Theo secepat ini?!" batin Bianca panik.

Namun, sebagai wanita yang sudah terlatih memutarbalikkan fakta, Bianca tidak langsung menangis histeris. Dia menarik napas dalam, memejamkan mata, lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa dengan lemas.

"Jadi... Tante Ratna sudah cerita?" bisik Bianca dengan suara yang dibuat sedih.

"Jangan berakting di depanku, Bianca! Kamu membohongi ibuku! Kamu menjual namaku untuk memerasnya! Untuk apa uang itu?! Untuk belanja tas lagi, hah?!" ujar Theo, berdiri berkacak pinggang di depan Bianca dengan tatapan amarah.

Bianca mendongak, matanya yang dilapisi air mata buaya menatap Theo dengan pandangan penuh luka dan pengorbanan.

"Untuk belanja? Kamu pikir aku sejahat itu,?!" ucap Bianca, air matanya mulai luruh dengan sempurna.

"Uang itu... uang itu aku gunakan untuk membayar mata-mata yang dulu membantuku menyelidiki kebusukan Zarlin sebelum kalian cerai!" bohong Zarlin, padahal untuk transfer ke Reno kemarin.

Theo mengernyit. "Mata-mata?"

"Iya. Orang itu tiba-tiba datang lagi kemarin dan mengancamku. Dia bilang, dia punya bukti-bukti baru kalau Zarlin sebenarnya sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Falcon Corp dari belakang! Dia meminta uang tutup mulut sebesar 20 juta, kalau tidak, dia akan menjual informasi itu ke pihak lawan!" Bianca berdiri, memegang kemeja Theo dengan tangan bergetar, memberikan manipulasi tingkat tinggi.

"Aku panik, Theo! Aku tidak mau perusahaanmu hancur! Aku mau meminta uang padamu, tapi aku tahu kamu sedang pusing setengah mati karena masalah investor Singapura dan tagihan bank." ujarnya

"Aku tidak mau membebani pikiranmu lagi, Theo! Makanya aku terpaksa berbohong pada Tante Ratna demi melindungi kamu dan Falcon Corp! Aku rela dianggap penjahat, asal kamu dan perusahaanmu aman!" tangis Bianca pecah, tubuhnya sengaja dibuat merosot ke lantai seolah dia adalah korban yang paling menderita demi cinta.

Melihat Bianca yang menangis tersedu-sedu di kakinya sambil membawa-bawa tidak mau menambah pikiran Theo, amarah Theo yang tadinya meluap-luap perlahan mulai tenang.

Ego kelaki-lakiannya tersentuh. Dia merasa Bianca begitu tulus mencintainya hingga rela melakukan hal nekat seperti itu untuknya.

Theo menghela napas panjang, lalu berlutut dan memeluk Bianca dengan erat.

"Astaga, Bianca... kenapa kamu tidak bicara jujur dari awal? Maafkan aku, aku sudah membentakmu."

"Aku cuma takut kamu makin stres, Theo... Aku sayang sekali sama kamu dan Tante Ratna," isak Bianca di dada Theo, menyembunyikan senyum palsu di wajahnya karena berhasil membodohi pria itu lagi.

"Iya, aku paham. Nanti aku yang akan bicara dan meluruskan semuanya pada ibu agar ibu tidak salah paham padamu. Sekarang kamu tenang, ya," bisik Theo lembut, semakin tenggelam dalam jerat manipulasi Bianca.

...****************...

Setelah berhasil meredakan tangis di apartemen Bianca, Theo segera beralih ke urusan yang jauh lebih krusial. Waktu tiga hari yang diberikan oleh ayahnya terus berjalan, dan hari ini adalah hari kedua.

Satu-satunya jalan pintas yang ada di otak Theo adalah meminta bantuan dana dari Avalanka Group, salah satu perusahaan yang rumornya sedang naik daun.

Melalui koneksi lamanya, Theo akhirnya berhasil mendapatkan jadwal pertemuan mendadak dengan sang CEO, Tristan Avalanka.

Siang itu, Theo berdiri di lobi megah gedung Avalanka Group dengan perasaan campur aduk. Gengsinya sebagai CEO Falcon Corp harus dia tanggalkan demi mengemis investasi.

Begitu diizinkan masuk ke ruang kerja VIP di lantai teratas, Theo disambut oleh sosok pria matang berjas formal yang sedang duduk di balik meja kaca besar.

Tristan Avalanka menatap kedatangan Theo dengan pandangan menilai yang sangat dingin dan dianggap rendah.

"Tuan Theo Falcon. Silakan duduk," ujar Tristan, suaranya berat dan berwibawa, tanpa senyuman sedikit pun.

"Terima kasih, Tuan Tristan. Saya sangat menghargai waktu Anda," ujar Theo formal, berusaha tetap terlihat tenang meski dalam hatinya sangat gugup.

Tanpa membuang waktu, Theo langsung memperlihatkan proposal bisnisnya.

"Langsung saja, Tuan Tristan. Falcon Corp saat ini sedang membutuhkan dana talangan darurat sebesar 15 miliar untuk modal jangka pendek akibat penarikan modal sepihak dari investor Singapura kemarin. Sebagai gantinya, kami menawarkan bagi hasil sebesar 25 persen dari proyek perumahan elit kami."

Tristan mendengarkan penjelasan Theo sambil mengetuk-ngetukkan penanya di atas meja. Sudut bibirnya membentuk seringai tipis yang sarat akan ejekan yang tersembunyi.

Tristan teringat akan pesan Zarlin tempo hari di ruang pribadinya, "Kalau Theo datang meminta uang, berikan. Tapi jangan beri dia kemudahan"

"Tawaran yang menarik, Tuan Theo," ujar Tristan santai, menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Tapi bagi hasil 25 persen tidak cukup untuk menutup risiko dari rating kredit perusahaan Anda yang saat ini sedang berada di zona merah Bank Nasional."

Theo tersentak. "Anda... Anda sudah tahu soal itu?"

"Tentu saja. Di dunia bisnis, informasi adalah segalanya," sahut Tristan dingin.

"Saya bisa saja mencairkan dana 15 miliar itu ke rekening Falcon Corp dalam waktu satu jam dari sekarang. Tapi, saya meminta jaminan penuh."

"Jaminan apa?" tanya Theo cemas.

Tristan mengeluarkan selembar draf kontrak baru dari laci mejanya dan menggesernya ke hadapan Theo.

"Serahkan sertifikat kepemilikan gedung utama Falcon Corp dan hak kuasa atas 40 persen saham internal Anda sebagai jaminan tertulis. Jika dalam waktu tiga bulan Anda tidak bisa melunasi dana talangan ini beserta bunganya, seluruh aset tersebut otomatis menjadi hak milik Avalanka Group."

Mata Theo terbelalak. "Ini... ini terlalu mencekik, Tuan Tristan! Itu sama saja saya mempertaruhkan seluruh nyawa perusahaan saya!"

Tristan berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan angkuh.

"Pilihan ada di tangan Anda, Tuan Theo. Tandatangani sekarang dan bawa pulang 15 milar untuk menyelamatkan posisi Anda di depan ayah Anda besok, atau silakan keluar dari ruangan ini dan biarkan Falcon Corp disita oleh bank minggu depan."

Theo menatap lembar kontrak di depannya dengan sedikit gemetar. Ia teringat kemarahan Paulus, ancaman dicoret dari ahli waris, dan rasa malu jika harus bangkrut membayangi wajahnya. Putus asa telah membutakan logikanya.

Dengan tangan yang gemetar, Theo meraih pulpen di atas meja.

"Hanya tiga bulan. Aku pasti bisa memutar uang ini dan menebusnya kembali sebelum tiga bulan," batin Theo menghibur diri, berusaha menolak kenyataan bahwa dia sedang berjalan menuju jurang.

Theo menandatanganinya di atas meterai kontrak tersebut.

Tristan menerima kembali berkas itu dengan senyum kepuasan yang luar biasa.

"Keputusan yang sangat berani, Tuan Theo. Senang berbisnis dengan Anda."

Theo keluar dari gedung Avalanka Group dengan perasaan yang sedikit lega. Setidaknya, uang 15 miliar akan masuk siang ini, dan posisi CEO-nya di depan Paulus besok pagi sudah aman terkendali.

Namun, tepat saat Theo baru saja mendudukkan dirinya di kursi kemudi mobil dan hendak menyalakan mesin, ponselnya bergetar di dalam saku jas.

Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Theo mengernyit, lalu membuka pesan tersebut.

From: Unknown Number

"Bagaimana rasanya mengemis di kaki orang lain demi menyelamatkan harga dirimu yang murah itu, Tuan CEO? Nikmatilah dana talangan itu selagi bisa, karena itu adalah uang muka dari harga yang harus kamu bayar atas sebuah pengkhianatan. Selamat masuk ke dalam sangkar."

...Deg! Deg! Deg!...

Wajah Theo yang tadinya mulai segar seketika berubah menjadi panik. Dia langsung menegakkan punggungnya, matanya bergerak liar menatap keluar kaca mobil, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut parkiran gedung yang luas.

Siapa pengirim pesan ini?! Bagaimana orang ini bisa tahu dia baru saja mengemis dana talangan ke Tristan?!

Theo meremas setir mobilnya dengan jantung yang berdegup kencang. Dia merasa ada sepasang mata tak terlihat yang sedang mengawasinya dari kegelapan, siap menerkamnya hingga hancur berkeping-keping.

1
Mingyu gf😘
jalang teriak jalang, cuijj
Mingyu gf😘
yahh sama lah kayak kalian , sama smaa kotor dan busui
Mingyu gf😘
haha mampus kan lo😆😆
PrettyDuck
mamam tuh bianca sama pacar mokondonya 😆
PrettyDuck
manipulatif level dewa
PrettyDuck
kok kaget??? kamu emang melakukan kdrt. seharusnya gak kaget kalo bekasnya difisum.
PrettyDuck
gausah sok kaya.
PrettyDuck
wkwk pasangan mengenaskan. kalian gak tau aja zarlin itu sapa.
PrettyDuck
buyan bener si hendra 🥲
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙
kenapa bang? selama ini gapernah liat istrimu mengemudi kah?🤭
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙: harusnya kutambahkan 'mantan'
total 1 replies
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan bianca yg bodoh, masih aja mau hidungnya di tarij sama lelaki bo doh itu /Facepalm/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
kunci kesuksesan mu hanya pada zarlin. tapi kamu membuangnya. ya, salah sendiri 🤪🤪
Miu.Nuha
langsung takut dn mengelak 🤭
itu justru malah menguatkan kebenaran...
Miu.Nuha
Iya 🤧
semoga lancar proses perceraiannya !!
Ibu Rasyidd
semangar thorr
Ibu Rasyidd
betul itu zarlin, karna kalau udah di atas pas jatuh beuuhh pasti langsung hancurr
Mommy tulipp
Kalau sang ayah tahu bakal marah besar
Mommy tulipp
Mungkin perempuan yg dimaksud Bik Sumi itu Bianca, makanya dia berpikir tdk mirip dengan foto kalau itu adlh Zarlin
Mommy tulipp
Tristan mengingat semua permasalahan Zarlin
Mommy tulipp
Berarti Paulus tahu tentang keluarga Zarlin yang mempunyai perusahaan ya thor? Yang tdk tahu itu hanya Theo dan ibunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!