Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Kedalaman Hutan
Keesokan paginya, cahaya matahari mulai menembus celah-celah daun raksasa, menciptakan pola-pola cahaya dan bayangan yang bergerak-gerak di tanah yang tertutup serasah tebal. Suasana di pemukiman penduduk hutan sudah sibuk namun tetap tenang. Berita tentang kehadiran orang-orang asing yang berniat buruk dan rencana tolong-menolong antara penduduk hutan dan rombongan kerajaan telah menyebar ke seluruh penjuru. There was no panic, only a quiet, determined resolve.
Taylor, Elizabeth, dan Kepala Suku Elang Hutan duduk bersama di sebuah bangunan tinggi yang dibangun di atas dahan pohon terbesar, tempat yang digunakan sebagai tempat pertemuan dan pengamatan. Di hadapan mereka terhampar peta sederhana yang digambar di atas selembar kulit kayu, menandai wilayah-wilayah penting, sungai, perbatasan, dan lokasi-lokasi di mana orang-orang asing itu pernah terlihat atau meninggalkan jejak.
"Selama ini, mereka selalu bergerak dalam kelompok kecil, berjumlah lima hingga sepuluh orang," jelas Elang Hutan sambil menunjuk beberapa titik di peta. "Mereka datang dari arah timur, dari luar batas hutan kami. Mereka tidak pernah berani masuk terlalu dalam, karena mereka tahu bahwa semakin dalam mereka masuk, semakin sulit bagi mereka untuk bersembunyi dari pengawasan kami. Namun, beberapa bulan terakhir ini, keberanian mereka semakin bertambah. Mereka mulai masuk lebih jauh, dan mereka terlihat sangat tertuju pada satu wilayah khusus: Dataran Bebatu dan lembah-lembah di sekitarnya. Di sanalah konon terdapat gua-gua tua dan tempat-tempat peninggalan zaman dahulu kala."
Taylor mengamati peta itu dengan saksama. Dia menyadari bahwa wilayah yang ditunjuk itu bukanlah tempat sembarangan. Berdasarkan pengetahuannya tentang sejarah kerajaan, wilayah itu dulunya merupakan pusat peradaban tua yang berdiri jauh sebelum kerajaan ini terbentuk. Dikatakan bahwa di sana tersimpan banyak peninggalan, ilmu pengetahuan, dan mungkin juga kekayaan yang ditinggalkan oleh leluhur. Selama berabad-abad, tempat itu menjadi legenda, dan banyak orang yang tamak atau haus kekuasaan telah berusaha mencarinya, namun hutan yang lebat dan jebakan alam yang keras selalu membuat mereka gagal atau tersesat selamanya.
"Jadi mereka mencari sesuatu yang ada di sana," gumam Taylor pelan. "Dan mereka rela mengambil risiko masuk ke hutan ini, rela menghadapi bahaya alam dan kalian, karena apa yang mereka cari dianggap sangat berharga bagi mereka."
"Dan yang paling mengkhawatirkan," tambah Elang Hutan dengan nada serius, "adalah mereka tampaknya memiliki petunjuk atau peta yang tepat. Mereka tidak berjalan sembarangan. Mereka bergerak lurus menuju tujuan mereka, seolah-olah mereka memegang kunci untuk membuka jalan yang selama ini tertutup bagi orang luar."
Elizabeth yang selama ini diam mendengarkan, kini bersuara lembut namun penuh perhatian. "Jika mereka memiliki petunjuk, berarti ini bukan sekadar penjelajahan biasa atau pencarian harta karun oleh perampok. Ini adalah rencana yang telah disusun sejak lama, mungkin sisa dari kekuatan lama yang dulu ingin menguasai negeri ini. Meskipun para pemimpin mereka telah dikalahkan dan diasingkan, mungkin ada pengikut-pengikut setia mereka yang masih hidup dan masih berusaha mencari cara untuk mengembalikan kekuasaan mereka. Dan mereka percaya bahwa apa yang ada di kedalaman hutan ini adalah kunci untuk mewujudkan keinginan jahat mereka itu."
Pemikiran itu membuat suasana menjadi lebih berat. Mereka menyadari bahwa bahaya yang mereka hadapi di sini mungkin lebih besar dan lebih rumit daripada yang mereka duga sebelumnya. Jika benda atau rahasia yang dicari itu jatuh ke tangan yang salah, maka kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah bisa terancam hancur berkeping-keping.
"Kita tidak bisa menunggu mereka datang lebih jauh atau menunggu mereka berhasil menemukan apa yang mereka cari," kata Taylor dengan tekad yang bulat. "Kita harus mendahului mereka. Kita harus pergi ke wilayah Dataran Bebatu itu, menemukan apa yang sebenarnya ada di sana, mengetahui apa yang mereka cari, dan menghadang mereka sebelum mereka sempat melakukan kerusakan atau mengambil apa pun yang bukan milik mereka."
Elang Hutan mengangguk setuju. "Aku akan mengirimkan orang-orang terbaikku untuk menemani dan memandu kalian. Mereka mengenal setiap jengkal tanah di sana, mereka tahu jalan rahasia, tempat aman, dan juga tempat-tempat berbahaya yang harus dihindari. Namun, aku sendiri tidak bisa ikut. Aku harus tetap berada di sini untuk menjaga keamanan pemukiman dan memimpin rakyatku jika ada bahaya lain yang datang dari arah berbeda."
Maka, disusunlah rencana itu. Rombongan yang akan berangkat ke kedalaman hutan harus kecil, lincah, dan terdiri dari orang-orang yang paling tangguh dan terpercaya. Selain Taylor, Elizabeth, dan Kael, akan ada sepuluh pengawal kerajaan yang paling berani dan sepuluh orang terbaik pilihan Elang Hutan, dipimpin oleh seorang pemuda bernama Rusa Cepat, yang dikenal sebagai pemburu dan pelacak paling ulung di antara penduduk hutan. Hunter pun ingin ikut serta, namun setelah berdiskusi panjang lebar, diputuskan bahwa anak itu akan tetap tinggal di pemukiman, di bawah penjagaan ketat dan pengawasan para tetua. Perjalanan ke sana terlalu berbahaya dan penuh ketidakpastian, dan mereka tidak mau mengambil risiko apa pun terhadap keselamatan anak pewaris takhta itu.
Keesokan paginya, saat kabut tipis masih menyelimuti lantai hutan, rombongan kecil itu berangkat. Penduduk hutan mengantar mereka dengan doa dan harapan, memberikan bekal makanan kering, air, serta obat-obatan dari tanaman hutan yang sangat ampuh. Perpisahan itu terasa mengharukan, karena penduduk hutan ini telah menganggap mereka sebagai saudara sejati, dan mereka tahu bahwa rombongan ini pergi bukan hanya demi kerajaan, tapi demi keselamatan rumah mereka sendiri.
Perjalanan menuju Dataran Bebatu jauh lebih sulit dan berat dibandingkan perjalanan mereka sejauh ini. Semakin jauh mereka masuk ke dalam, semakin liar alamnya. Pepohonan tumbuh semakin rapat dan raksasa, akar-akar besar menjalar di tanah seperti ular raksasa, dan semak berduri menutup hampir seluruh jalan. Namun, berkat keahlian Rusa Cepat dan orang-orangnya, mereka tetap bisa bergerak maju. Penduduk hutan itu bergerak dengan kecepatan dan kehalusan yang luar biasa. Mereka tahu kapan harus menunduk, ke mana harus melangkah, dan bagaimana membuka jalan tanpa merusak alam atau menimbulkan suara yang tidak perlu.
Di sepanjang jalan, mereka mulai menemukan jejak-jejak keberadaan orang lain. Di tempat-tempat yang terbuka sedikit, mereka melihat bekas api unggun yang sudah dingin, sisa makanan, atau potongan kain dan logam yang tertinggal. Di beberapa tempat, mereka melihat bekas tebangan pohon yang kasar dan tidak wajar, atau bekas galian tanah yang sembarangan. Semua jejak ini masih cukup baru, berumur beberapa hari atau bahkan hanya beberapa jam, yang berarti kelompok orang asing itu berada tidak jauh di depan mereka, dan mereka bergerak dengan cepat menuju tujuan yang sama.
"Lihatlah cara mereka bergerak dan bertindak," kata Rusa Cepat dengan nada tidak setuju saat mereka melewati sebuah tempat di mana banyak tanaman dan pohon kecil telah dirusak begitu saja. "Mereka berjalan seolah-olah alam ini adalah musuh mereka. Mereka merusak apa saja yang menghalangi jalan mereka, mereka membuang sampah sembarangan, dan mereka tidak peduli pada keseimbangan. Itulah tanda orang-orang dari dunia luar yang hatinya sudah gelap. Bagi mereka, alam hanya benda mati yang bisa dieksploitasi."
Taylor dan Elizabeth melihat hal itu dengan rasa sedih dan marah. Mereka melihat betapa berbeda cara orang-orang asing itu memperlakukan alam dibandingkan penduduk hutan yang hidup selaras dan penuh hormat. Perbedaan itu jelas dan nyata, menunjukkan siapa yang membawa kebaikan dan siapa yang membawa kerusakan.
Pada sore hari ketiga perjalanan mereka ke dalam, Rusa Cepat yang berjalan paling depan tiba-tiba berhenti dan memberi isyarat diam. Dia menunduk rendah, mengintai ke depan melalui celah-celah daun, lalu kembali menghampiri rombongan dengan wajah serius namun sedikit tegang.
"Mereka ada di depan," bisiknya. "Tidak jauh dari sini, mungkin hanya sekitar seratus langkah. Ada celah lembah di sana, dan di sanalah mereka berkemah. Jumlah mereka sekitar dua puluh orang. Dan dari apa yang bisa kulihat, mereka bersenjata lengkap dan sangat waspada. Tapi yang paling aneh... ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang besar dan berat. Seperti peti-peti atau benda-benda yang mereka angkut dengan susah payah. Dan aku mendengar ada suara-suara lain, suara logam yang beradu dan alat-alat yang bekerja."
Mereka pun bergerak maju dengan sangat hati-hati, melangkah demi langkah tanpa menimbulkan suara sedikit pun, sampai mereka tiba di pinggir tebing rendah yang menutupi pandangan, tempat di mana mereka bisa mengintai ke bawah dengan aman.
Di bawah sana, di sebuah lembah kecil yang dikelilingi dinding batu alam, terlihat jelas kelompok orang-orang asing itu. Mereka berpakaian seragam kasar namun tebal, membawa senjata tajam dan alat-alat yang terlihat seperti alat penggali dan pemecah batu. Wajah-wajah mereka keras, kotor, dan penuh ketegangan. Mereka sibuk mengatur tempat, memasang api unggun besar, dan membongkar barang-barang yang mereka bawa.
Namun pandangan Taylor dan Elizabeth langsung tertuju pada satu hal yang ada di tengah-tengah kelompok itu. Di sana, teronggok beberapa peti besar yang kokoh, dan di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang penampilannya berbeda dari yang lain. Dia berpakaian lebih rapi, meski sudah kotor terkena debu dan tanah, dan dia memiliki aura kekuasaan serta kesombongan yang jelas terlihat. Di sampingnya, tergenggam sebuah benda berkilauan yang bentuknya aneh, sejenis kunci atau simbol kuno yang terbuat dari logam berharga dan batu permata.
"Itu dia," bisik Taylor pelan, matanya menatap tajam ke arah laki-laki itu. "Aku mengenali lencana di bajunya. Dia adalah sisa dari pengikut setia keluarga bangsawan yang dulu berkuasa bersama Lord Marcus. Kami mengira semua pemimpin mereka telah tertangkap atau lari jauh, tapi ternyata ada yang bersembunyi dan menyusun rencana lain di sini."
"Namanya Baron Valerius," tambah Elizabeth dengan suara rendah namun tegas. "Dia dikenal sebagai orang yang paling tamak dan paling terobsesi dengan sejarah dan kekuasaan masa lalu. Dia pasti yang memimpin ekspedisi ini. Dan benda yang dia pegang itu... aku pernah membaca tentang benda serupa dalam buku-buku sejarah kuno di perpustakaan istana. Itu disebut 'Kunci Gerbang'. Konon, benda itu adalah satu-satunya cara untuk membuka jalan masuk ke tempat-tempat tersembunyi yang dibangun oleh leluhur kita ratusan tahun yang lalu."
Pemandangan itu menjelaskan segalanya. Baron Valerius dan pengikutnya tidak hanya mencari harta sembarangan. Mereka memiliki pengetahuan, mereka memiliki alat, dan mereka memiliki tujuan yang sangat spesifik. Mereka berniat membuka tempat tersembunyi di kedalaman hutan ini, mengambil apa pun yang ada di dalamnya, dan menggunakan itu untuk bangkit kembali, menebarkan kekacauan, dan merebut kekuasaan kembali.
Saat mereka masih mengamati, Baron Valerius berbicara dengan suara keras dan penuh semangat kepada anak buahnya, suaranya terdengar samar naik ke atas. "Bersiaplah! Besok pagi-pagi sekali kita akan bergerak masuk ke lembah sebelah. Menurut petunjuk, di situlah letak pintu gerbang utama. Sudah sangat dekat! Segera setelah kita mendapatkan apa yang ada di dalam sana, kekayaan dan kekuasaan yang tak terbayangkan akan menjadi milik kita, dan kita akan mengembalikan kejayaan bangsa kita! Kerajaan bodoh yang dipimpin anak muda itu akan kita hancurkan dengan mudah begitu kita memiliki kekuatan ini di tangan!"
Mendengar itu, hati Taylor dan Elizabeth semakin mantap. Ancaman itu nyata dan berbahaya. Jika mereka membiarkan orang-orang ini melangkah lebih jauh, konsekuensinya bisa sangat fatal.
"Mereka berniat membuka pintu gerbang itu besok pagi," kata Taylor kepada rombongannya, matanya bersinar dengan tekad. "Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kita harus bertindak malam ini atau sebelum matahari terbit. Kita harus menghentikan mereka, merebut kembali Kunci Gerbang itu, dan mengetahui apa sebenarnya yang tersembunyi di sana yang begitu mereka dambakan."
Rusa Cepat dan para pengawal lainnya mengangguk dengan wajah siap bertindak. Mereka semua sadar bahwa saat ini bukan lagi sekadar perjalanan persahabatan atau penyelidikan sederhana. Saat ini adalah saat pertempuran diam-diam, pertempuran untuk melindungi rahasia leluhur, melindungi keseimbangan hutan, dan melindungi kedamaian seluruh negeri.
Di bawah cahaya matahari sore yang mulai redup, yang membuat bayangan semakin panjang dan gelap di antara pepohonan, rombongan kecil itu menyusun rencana mereka. Mereka tahu bahwa musuh mereka bersenjata lengkap dan berbahaya, tapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki keunggulan: pengetahuan tentang hutan, hati yang bersih, dan tujuan yang benar.
Besok pagi, di kedalaman Hutan Timur, di depan gerbang rahasia kuno yang telah tertutup ratusan tahun, takdir akan ditentukan. Pertarungan untuk kebenaran melawan keserakahan akan segera terjadi.